4-Tertutup?

964 Words
"Turunin gak?!" Saga mulai risih dengan berontakan Alea yang terus memukul-mukul punggungnya saat ia memilih berhenti di dekat belakang toilet. Sesuai permintaan, Saga melonggarkan pelukan dan membiarkan cewek itu turun. Alea melotot sejenak ke arah Saga, sebelum kemudian menampar cowok itu tiba-tiba. "Loh kok gue kena tabok?" ringis Saga seraya mengelus-elus pelan pipinya, dengan wajah polos. "Ya elo kenapa ikut campur? Urusan gue sama tu anak belum selesai!" hardik Alea galak hendak berbalik menuju ke kantin lagi. Tidak ingin membiarkan cewek itu menuju masalah, Saga buru-buru menarik tangannya. Membuat cewek itu menghadap kembali ke arahnya. "Jangan," Alea menempis tangan Saga kesal. "Terus menurut lo gue harus diem aja gitu? Ngeliat itu anak nginjek-nginjek gue? Ngata-ngatain gue?" Saga mengelus telinganya yang dirasa akan segera bermasalah akibat terus mendengar suara cewek itu yang melengking tinggi dari tadi. "Lo ngomongnya jangan teriak-teriak bisa? Besok-besok kuping gue dirawat di THT ini." "Bodo!" Alea berniat pergi, namun lagi-lagi Saga tahan. "Kenapa sih?" protes Alea sebal. "Gue mau lo tanggung jawab dulu." Tukas Saga santai, dengan ekspresi datar khasnya. "Lo udah bikin baju gue basah." Saga menurunkan tatapan, menunjukan seragamnya yang basah akibat terkena air berwarna oren itu. Alea ingat kalau ia sempat tidak sengaja menyiram Saga dengan air tadi. Tapi apakah itu penting untuk saat ini? Alea lantas melipat tangan di atas perut, mengangkat dagu tinggi tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Oh. Berapa yang harus gue bayar untuk ganti rugi? Lo tinggal sebutin nominalnya." Saga menatap Alea datar, tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran cewek itu. Lantas ia pun menggeleng. Alea salah jika cowok itu mengharapkan uang darinya. "Gue gak butuh uang lo. Gue cuma mau minta permintaan maaf dari lo." Alea menatap cowok itu tidak percaya. Hanya itu? "Canda lo ya? Daripada gue ngurusin elo, mendingan gue urusin masalah gue yang belum selesai tau gak!" Kali ini Alea benar-benar berbalik hendak pergi, dan Saga pun tak berniat untuk menahan tangannya lagi. "Apa lo emang udah gak punya hati lagi ya?" namun kalimat Saga barusan sukses membuat langkahnya seketika berhenti. "Lo bertingkah seakan-akan lo ngebenci semua hal yang ada di dunia." Tanpa Saga minta, Alea membalikkan badannya sendiri. Menghadap cowok itu datar. "Lo gak ngerti apa-apa." Saga hanya menatapnya datar, memilih untuk mendengarkan curahan cewek itu saja tanpa bersuara. "Orang kayak lo gak bakalan ngerti gimana rasanya disudutkan, diabaikan, dibenci sama semua orang. Kehidupan lo pasti tenang-tenang aja kan?" Jika Alea berpikir demikian, maka cewek itu salah. Justru kehidupan Saga tidak setenang yang cewek itu tudingkan. Kehidupan mana sih yang berjalan mulus sesuai keinginan? "Kalo lo emang mau maaf dari gue, oke gue minta maaf. Dan lo gak perlu ikut campur urusan gue lagi, urusin aja masalah lo sendiri." final cewek itu sebelum kemudian melangkah pergi. Meninggalkan cowok itu di belakang toilet seorang diri. Ikut campur? Yang benar saja. Saga kembali mengingat bagaimana cewek itu selalu membawanya masuk ke dalam masalah yang Alea perbuat. Justru seharusnya cewek itu berterima kasih padanya, karena telah menyelamatkan dia dari ancaman masuk BK. Tapi kenapa cewek itu malah marah? Oke, anggap saja kali ini Saga yang bodoh. Karena sudah berniat membantu cewek itu. Biasanya ia selalu menghindar dan tidak ingin peduli dari masalah-masalah sejenis itu. Tapi kali ini ia malah peduli? Itu sungguh bukan seorang Sagara Xaviero seperti biasanya. "Kasian banget sih. Tunggu bentar, ya." Saga mendongak, melihat ke arah luar koridor. Dimana ada seorang cewek yang tengah mendongak ke atas pohon besar di hadapannya. Saga ikut melirik, ternyata ada seekor kucing yang terjebak di atas sana. Cewek itu berniat memanjat, namun nampaknya cewek itu tak begitu pandai dalam hal memanjat. Sebelum membiarkan cewek itu terjungkang ke belakang, Saga bertindak cepat dan segera menyambut pinggangnya. Menahan tubuhnya. "Eh?" Saga baru menyadari ternyata cewek itu adalah Alea. Sama sepertinya, cewek itu sempat tersentak. Namun buru-buru menjauh, mengembalikan kembali citranya yang anggun dan angkuh seperti biasa. "Ternyata hati lo gak sepenuhnya tertutup." sahut Saga seraya tersenyum manis. "Biar gue aja," Setelah sukses memanjat dan berhasil membawa kucing itu turun, Cowok tinggi itu mengelus bulu kucing itu lebut sebelum kemudian menyodotkannya kepada Alea. Alea menetralisirkan salivanya tanpa memandang ke arahnya. "Turunin aja ke tanah," Saga terkikik pelan sebelum kemudian menurunkan kucing itu ke tanah. Entah kenapa, tampaknya Alea tengah menyembunyikan jiwa baiknya agar tidak kentara. Saga mendecak sambil menggeleng. "Muna banget dia pus," Alea tidak menggubrisnya, justru semakin meninggikan dagunya angkuh. Sampai kemudian matanya menangkap sosok Gavin dan Ayana di ujung lorong. Membuat emosinya spontan membuncah seketika. "b******k," umpat Alea seraya menghentakkan kaki sebelum kemudian berniat menghampiri mereka. Saga yang cepat memahami situasi segera menahan lengan Alea. Kali ini mencengkeram lengannya lebih kuat agar cewek itu tidak bisa menempisnya. "Mau lo apa sih?" Alea menggeram kesal. "Kenapa doyan nyari ribut sih?" Berbeda dengan Alea yang tengah dilanda emosi, Saga justru bersikap tenang. "Menurut lo gue diem aja gitu ngeliat mereka mesra-mesraan di depan mata gue?" Alea melirik sekilas Gavin yang tampak tengah memeriksa Ayana khawatir. Mungkin berkaitan dengan aksi perkelahian kala jam istirahat tadi. "Gue gak rela ngeliat mereka bahagia, Ga! Gue bakalan ngacauin mereka." Saga menahan lengan Alea lagi tatkala cewek itu bersikeras menghampiri Gavin dan Ayana kembali. "Lo gak perlu ngelakuin itu," Alea menolehkan kepala menatap ke arah Saga. "Ada cara lain yang bisa dilakuin tanpa perlu balas dendam," timpal cowok itu kemudian. "Maksud lo?" Alea menatap Saga dengan tatapan penuh tanda tanya. Saga sendiri tidak yakin dengan solusinya. Lagi dan lagi, ia merasa seperti bukan dirinya sendiri. Tapi rasa ingin membantu cewek itu juga cukup kuat saat ini. Saga lantas menatap Alea sejenak. Sebelum kemudian kembali bersuara. "Gue bakal bantuin lo buat move on dari mantan lo itu. Dan pelan-pelan ngelupain dia." Alea mengangkat sebelah alis bingung. Tidak mengerti. Cowok itu menghela nafas sejenak, sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya kembali setelah meyakinkan diri sekali lagi. "Pacaran sama gue." Saga menteralisirkan salivanya sejenak. "Jadi pacar beneran."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD