5-Resmi

815 Words
"What?! Sumpah lo, Al?!" pekik Luna histeris. Alea baru saja menceritakan tentang Saga yang mengajaknya berpacaran saat di depan pohon tadi. Saat ini, ketiga gadis cantik itu sedang duduk mengumpul di dalam kelas. Biasalah, jam kosong. "Tapi bagus dong. Itu artinya lebih mudah buat lo bales dendam sama Ayana." timpal Anggi memprovokasi. Kalau sudah membawa urusan balas dendam, Alea langsung bersemangat melanjutkan perbincangan ini. Alea melipat tangannya di atas perut seraya tersenyum miring. "Yaps, gue bahkan udah ngebayangin gimana ekspresi itu anak kalau tau gue beneran resmi jadian sama Saga." Alea dan Anggi saling berhigh-five merasa sepemikiran seraya tertawa licik. "Mmm tapi ya, kayaknya Saga juga bisa digunain deh, Al. Buat ngebagusin citra lo lagi." Sahut Luna kemudian sambil menumpang tindihkan sebelah kakinya diatas lutut. Alea serta Anggi spontan mengalihkan fokus ke arah cewek itu. Seraya mengerutkan kening bingung. "Istilahnya gini, Saga udah ngerentangin tangannya buat lo. Nah ya udah. Tinggal lo rengkuh aja dia. Dan bikin dia jadi susah lepas sama lo." Jelas Luna lagi. Alea hanya mengangkat sebelah alisnya bingung. Masih belum mudeng. Luna mendengus. "Intinya lo harus balik lagi kayak Quenella Aleanora yang dulu, Al. Yang berbakat mempermainkan, bukan dipermainkan." ujar cewek yang rambutnya di ombre warna pink itu meyakinkan. Alea masih menimang-nimang kalimat cewek itu seraya memiringkan kepala bingung. "Maksud lo, gue harus nyakitin dia kayak Gavin nyakitin gue gitu?" Luna lantas mengangguk mengiyakan. Membuat Alea seketika bingung menanggapi apa. "Gue setuju sama Luna. Lo emang perlu membersihkan nama lo Al. Gara-gara Gavin, nama lo sebagai Queen in power di sekolah kita jadi tercoreng. Udah banyak mulut yang bilang lo jadi bucin semenjak pacaran sama Gavin. Kita sebagai sahabat lo, harus ngebersihin gosip sampah itu." sahut Anggi menimpali, turut memprovokasi. Bola mata Alea melirik ke arah lain, menimang lebih seksama ujaran kedua sahabatnya. "Tapi gue rasa, Saga terlalu baik buat dipermainin." Kedua temannya hanya memberikan tatapan meyakinkan sekali lagi yang hanya di balas tatapan datar dari cewek itu. Alea memajukan tubuhnya sedikit, sebelum kemudian mengangkat kedua sudut bibir penuh arti. "Tapi sedikit bermain sama dia, kayaknya bakalan jadi permainan yang menyenangkan." Saga tersentak kaget ketika menyadari kehadiran Alea yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan kelasnya. Meniliknya lurus, dengan kedua tangan yang terlipat manis di atas perut. "Anjir, udah main diapelin aja lu Ga." bisik Zian sesekali melirik Alea terpesona. Tentu saja, laki-laki mana yang tidak tertarik jika disuguhkan pemandangan seindah cewek itu? "Gue mau nyelesain urusan kita yang tadi." sahut Alea dingin tentunya kepada Saga sekaligus menjelaskan kedatangannya. Saga melirik datar cewek yang memakai seragam tidak benar itu sejenak. Sebelum kemudian melirik teman-temannya lagi. "Kalian ke kantin duluan aja." Setelah teman-temannya yang lain sudah pergi, barulah Saga dan Alea kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda. Alea lantas menatap Saga intens kemudian. "Gue setuju sama tawaran lo. Gue mau jadi pacar lo." Saga pikir ada hal lain yang lebih penting ingin disampaikan oleh cewek itu. Ternyata hanya itu. Jadi cowok itu pun hanya manggut-manggut singkat seraya ber-oh ria. "Oke," Alea berjalan agak maju, mendekat.  "Ngomong-ngomong, kenapa lo nembak gue? Lo suka sama gue?" Dengan jujur, Saga menggeleng. "Enggak." Alea melotot. Lalu untuk apa cowok itu bersikap manis dan mengajaknya berpacaran jika ternyata tidak ada perasaan? Alea tertawa sinis. "TERUS NGAPAIN LO NEMBAK GUE SAEPUL?!" sungut Alea galak. Saga menutup kupingnya, meringis. "Gue Saga, bukan Saepul." sergah Saga polos. "Lagian gue pikir itu cara yang lebih rasional ketimbang lo harus ngamuk-ngamuk gak jelas kayak orang gila karena pacar lo diambil orang." sambung cowok itu santai kemudian. Iya santai. Terlalu jujur bahkan. Alea menghela nafas kemudian. Sepertinya dia harus mengontrol emosinya mulai dari sekarang. Paling tidak, dia harus terlihat sebagai Alea yang manis di depan Saga. Agar cowok itu lebih mudah jatuh cinta kepadanya. "Serah lo lah. Intinya kita pacaran." Saga mengangguk menyetujui sebelum kemudian beranjak hendak pergi. Menyusul teman-temannya ke kantin, mumpung waktu istirahat kedua masih belum habis. Melihat Saga yang hendak pergi, Alea buru-buru menahan tangannya. "Kok pergi sih?" "Gue pikir udah?" Alea mendelik. Namun kemudian menarik sudut bibirnya ketika tidak sengaja melihat Ayana yang ternyata tengah memperhatikan mereka berdua dengan wajah sendu. Membuat cewek itu semakin bersemangat melakukan permainannya. "Peresmian kita belum selesai," Saga menaikkan alisnya bingung. Tepat ketika Alea berniat memajukan wajahnya mendekat. Sadar, Saga buru-buru menjauh. Sebelum cewek itu berhasil melakukan hal gila kepadanya. "Lo ngapain?" panik Saga, seraya menatap Alea was-was. "Mau nyium lo lah." "Doyan banget sih asal nyium. Enggak. Gue gak mau." elak Saga tidak setuju. Jangan lupakan kalau Saga adalah tipikal manusia risihan yang tidak suka disentuh orang lain. Karena aksinya gagal, Alea memberengut. Namun tiba-tiba tersenyum licik kemudian. Mengalihkan pandangannya ke belakang pundak Saga, berniat mengelabuhi cowok itu. "Eh Dara?" Seperti dugaannya Saga menoleh ke belakang pundak. Dan ketika kembali menoleh, Alea langsung menempelkan bibirnya dengan bibir cowok itu. Sesaat ia menikmati keterkejutan Saga karenanya, sebelum kemudian menarik senyum penuh kemenangan. "Mulai hari ini, lo dan gue, udah resmi jadi pasangan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD