"Kadang yang memperjuangkan diawal, suka berubah jadi yang diperjuangkan pas diakhir."
Alea melangkah dengan malas setelah sebelumnya melihat ada mobil fortuner ayahnya yang terparkir di samping rumah. Ia bahkan melengos santai, berusaha tidak memperdulikan Yudha–ayahnya–dan Aldo–adik laki-lakinya– yang tengah menonton tv ketika melewati ruang tengah.
"Buat masalah lagi kamu?"
Suara Yudha yang jelas menegur dirinya membuat Alea spontan menghentikan langkah. Menggerling malas sebelum kemudian memandang ke arah Yudha yang tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari tv.
"Kata siapa?"
Yudha terdengar mendengus. "Kamu pikir saya tidak tau? Resti sendiri yang cerita."
Oh tentu saja. Ada banyak anak teman ayahnya yang berstatus sebagai tukang ngadu yang satu sekolah dengannya. Alea bahkan sudah dapat menebak duluan sebelum mendapat jawaban.
Alea mendengus sinis. Cukup muak dengan manusia yang doyan ember macam itu.
"Seenggaknya Alea gak sempet masuk BK." Jawab cewek itu sekenanya.
Yudha tiba-tiba mematikan tv. Meletakkan remotnya ke atas meja. Mungkin lebih terkesan membanting.
"Oh. Bangga kamu? Sudah membuat nama saya buruk di depan teman-teman saya. Merasa benar kamu?" Kali ini Yudha menatapnya tajam, menunjukkan wajah tidak suka yang kentara.
Kedua tangan Alea disamping sisi lantas mengepal. Menahan gejolak amarah dalam dirinya yang membara.
Sejujurnya Alea tidak suka keadaan ini. Kondisi dimana ia berada di titik paling rendah, yang selalu berhasil membuat ia merasa terpuruk. Ketika tidak ada satu orang pun yang bersikap sedikit saja peduli kepadanya.
"Buat apa saya masih menganggap kamu sebagai anak jika kelakuanmu saja seperti anak yang tidak dididik orang tua?"
Alea tersenyum tipis. "Emangnya ayah pernah peduli?" sarkasnya. Sukses membuat urat leher Yudha timbul seketika.
"Kamu!" geram Yudha seraya menunjuk Alea penuh peringatan.
"Ayah gak perlu khawatir. Alea bisa mengurus diri Alea sendiri."
Yudha mendengus sinis. Mengalihkan pandangannya, bersikap acuh seperti biasanya. "Terserah. Lakukan sesuka hati kamu. Saya tidak akan peduli."
Hati Alea mencelos. Sebegitu tertutupkah hati ayahnya kepada dirinya?
Tanpa mendengar apapun lagi, Alea segera melengos pergi. Menukar tas sekolahnya dan mengambil beberapa lembar uang merah di dalam kamar. Melangkah keluar lagi untuk memilih pergi. Setelah sebelumnya sempat melihat sejenak ayah dan juga adiknya yang benar-benar terlihat tidak peduli.
Saga seketika membuka matanya. Deru nafasnya memburu, seperti baru saja berlari keliling lapangan seratus putaran.
Lagi dan lagi.
Mimpi yang selalu berhasil membuatnya insomnia. Kadang terjaga setiap malam. Saga bahkan tidak yakin ia berhasil tidur delapan jam tadi malam. Tidak heran lagi sebenarnya, memang siklus yang sama setiap malam.
Cowok itu lantas mengambil ponsel di atas nakas, melihat adanya 50 notifikasi pesan line dari Alea. Saga sempat mengernyit heran entah darimana cewek itu bisa mendapatkan id linenya. Detik berikutnya ia pun mendengus malas. Sepertinya, memilih berpacaran dengan Alea adalah pilihan yang salah.
QueenAl
Add|Block|Report
Yesterday
QueenAl : hi zeyenk❤
QueenAl : gabut bgt tau gasii gw:(
QueenAl : seyenk
QueenAl : seyeng!
QueenAl : seyenggg!!!
QueenAl : udh tidur loe ya?!-,
QueenAl : tau gasi taditu tb tb ada kecoa terbang di apart gw!1!1
QueenAl : bayangin aj gw lg make masker tb" dia nongol kek tamu gk diundang
QueenAl : kan masker gw auto retak tuh!1!1:'(
QueenAl : ga?
QueenAl : sagaaa
QueenAl : Bales gak!
QueenAl send you a sticker
Today
QueenAl : Pagi syg
QueenAl : Aduh baru sehari udh kgn akutu<3
QueenAl : Jd gasabar deh ihikkk❤❤
Saga hanya membaca beberapa pesan dari Alea namun tidak berniat membalasnya. Cowok itu kemudian menggaet handuk disisian pintu, untuk bergegas ke kamar mandi.
Melihat pintu kamar mandi yang tertutup serta suara shower yang sedikit terdengar, bisa dipastikan Dara sedang menguasai kamar mandi saat ini.
Oh my my my
Oh my my my
Nanana na na nananananana boy with looove
Oooooowooo oowowowooo
boy with loovee...
Saga menggerling malas mendengar nyanyian Dara di dalam kamar mandi yang lebih terdengar seperti orang lagi teriak maling. Cowok itu lantas menggedor pintu tak sabaran.
"Dar! Lo mandi apa nyinden sih? Nungguin lo konser keburu jam tujuh ini." sungut Saga protes.
"Gue tuh lagi persiapan duet sama calon suami gue tau! Ganggu aja deh."
Saga menghembuskan nafas sabar. "Gue matiin juga ni lampu kalo lo gak keluar juga!"
"Dih. Sabar kali. Kayak gak tau aja legenda cewek yang kalo lagi mandi itu lama."
"Nggak." jawab Saga acuh.
"Udah deh, mendingan lo balasin dulu sana chat si nenek lampir itu. Dari tadi malem asik ngeting-ting-ting-ting terus tau gak."
"Hp gue selalu disilent." Koreksi Saga. Detik berikutnya cowok itu spontan mendelik curiga. "Eh, Lo meriksa-meriksa hp gue ya?!"
Dara kelimpungan di dalam kamar mandi, lantas pura-pura menyanyi saja.
Lets kill this love! Yeyeyeyeye. Rampampampampampampaaaam
Melihat tingkah laku saudaranya yang menyebalkan itu membuat Saga memutar bola matanya 360 derajat. Lantas memilih mematikan lampu kamar mandi jahil sebelum kemudian melepaskan tawanya ke udara.
"SAGAAA!!! GELAAAPP!!!"
"Dara sama Saga pamit Ma!" beritahu Dara setelah selesai mengikat tali sepatunya.
Saga baru saja keluar dari dalam rumah dengan tas yang tersampir di bahu ketika mendengar suara klakson mobil dari luar pagar. Baik Saga maupun Dara sama-sama terpelongo. Memperhatikan sesosok cewek dengan kacamata stylish yang rambutnya bertebaran saat diterpa angin tengah melenggok santai menghampiri mereka. Sesekali melambai tangan sok kenal pada penjaga dan tukang kebun yang sedang bekerja.
"Widih, gila Ga! Tu cewek nekat amat emang." sikut Dara, dengan niatan menggoda Saga.
Dengan kepercayaan diri yang kelewat tinggi, Alea kemudian menurunkan letak kacamata orennya. Memandang Wavi yang baru saja keluar dari dalam mobil sembari tersenyum sok akrab. Membuat Wavi dihadapannya lantas menilik cewek itu bingung.
"Halo om! Kenalin, saya pacarnya Saga."
Dan seketika itu pula, Saga baru bisa mengakui, kalau berpacaran dengan Alea, benar-benar bisa membuatnya sesak napas setiap hari.