7-Mogok

840 Words
Mungkin Alea sudah terbiasa mendapatkan gelar cewek gila atau over nekat yang melekat. Seperti kali ini, nekat berhadapan langsung dengan ayah Saga yang semua orang pun tau seperti apa seramnya, dan dengan percaya dirinya mengenalkan diri sebagai pacar anaknya. Sangat hebat, bukan? "Halo om! Kenalin, saya pacarnya Saga." Wavi membuka mulut kaget dengan raut wajah berkerut-kerut. Lalu melirik Saga yang berdiri di samping pilar, meminta penjelasan lewat tatapan mata. Daripada makin ribet, Dara langsung mendekati Wavi. Mengalungkan tangannya di lengan ayahnya itu. "Pa, ayo cepet berangkat! Entar telat nih," Wavi melirik Dara sekilas, lalu mengangguk. "Saganya sama saya aja ya om!" usul Alea beringsut maju seraya memamerkan gigi-gigi polosnya, memelas. Wavi menaikkan alis. Belum sempat menjawab, lelaki itu sudah keburu ditarik Dara masuk ke dalam mobil. Kalau terlalu lama bisa panjang urusannya. "Iya, iya. Bawa aja sana! Ayo pa! Entar keburu bel lho." Saga mengacak rambut frustasi. Entah bagaimana bisa ada spesies macam Alea di dunia ini. Dengan gaya menjengkelkannya, cewek itu malah menaik-naikkan alis seraya melipat tangan di perut merasa bangga. Saga mendengus pasrah sebelum kemudian bergerak keluar menghampiri mobil Alea yang terparkir di depan pagar. "Sebagai pacar yang baik, hari ini gue yang nyetir." Saga hanya melihatnya sekilas seraya mengitari mobil. Duduk di kursi penumpang. "Aduh, udah deh. Jangan bete gitu dong mukanya." Saga hanya melirik Alea malas. Lalu memutar bola matanya acuh. "Puji gue kek! Yaampun Alea cantik banget pagi ini, eh enggak deng, Alea emang cantik kok setiap hari. Gitu kek." Saga tak merespon. Hanya melihat burung-burung yang sedang mencari makan di luar jendela. Saat melihat mobil Wavi, Alea lantas melambaikan tangannya pada Wavi yang melewati mobilnya sambil tersenyum sok akrab. "Bokap lo aja sampe terpesona sama kecantikan gue! Liat deh, sampe speechless gitu ngeliatin gue!" Terpesona bagaimana? Jelas sekali Wavi memandangnya aneh sejak cewek itu memasuki kawasan rumahnya tadi. Justru sepertinya Saga akan segera mendapatkan masalah sebentar lagi. "Gue yakin deh, bokap lo pasti udah ngerestuin hubungan kita." Alea menaik-naikkan alis, seraya tersenyum antusias. Saga hanya melirik cewek yang tidak pernah memakai seragam dengan benar itu dengan tatapan aneh. Memilih tidak bersuara. "Ih. Lo kayaknya emang berbakat ngacangin anak orang dah." "Gak jalan? Nungguin ocehan lo keburu pagar sekolah ditutup pak satpam ini." ketus Saga dingin. Alea malah menarik sudut bibirnya, membuat Saga bergidik ngeri. Seraya memasang kembali kacamata gayanya, Alea mulai menarik pedal mobil. "Santai deh, santai. Seorang Quenella Aleanora itu ahli dalam balap-membalap you know. Jadi lo selow aja." Saga tak menggubris, hanya menghembuskan nafas malas. Menyadari mobil Alea yang dari tadi tidak kunjung hidup, Saga menoleh. "Kok gak jalan-jalan?" Alea masih berusaha menekan gas, namun mobilnya tidak kunjung hidup-hidup. Baik Saga maupun Alea saling bertatap-tatapan. Oh lebih tepatnya Alea yang menatap Saga sambil menyengir tanpa dosa. Yap benar. Mobil Alea ternyata mogok. "Haaahhh??!! Seriusan lo ngajakin gue naik angkot? Yang bener Ga?!" Saga tidak menggubris, hanya memilih masuk ke dalam angkot dan duduk di bangku yang kosong. "Terserah lo mau naik atau enggak." Walaupun malas dan enggan, Alea tetap naik dengan wajah cemberut masam. Angkot tiba-tiba bergerak, membuat Alea yang duduk disamping om-om berbadan tambun yang hanya memakai kaos singlet dekil sontak terhuyung ke depan. Refleks mencium aroma-aroma tak sedap dari balik lengan om-om itu. "Hwaaa! Astaga! Sagaaa," rengek Alea melapor tak lupa menutup hidung. "Bau!" bisiknya kemudian seraya menunjuk om-om disebelahnya dengan lidah. Saga menjitak kepala cewek itu menegur. Bagi saga, tidak baik berkata buruk apalagi kepada orang yang lebih tua. "Jangan ngomong gitu." "Gara-gara lo sih! Kenapa ngajak gue naik angkot? Kita kan bisa naik taxi atau naik grab gitu kek." sungut Alea sebal. Suaranya yang cempreng dan berisik membuat orang-orang di dalam angkot melirik ke arah mereka. "Apa kata dunia coba? Seorang Quenella Aleanora naik angkot—" Saga tidak lagi mendengarkan gerutuan cewek itu. Justru ia sedang gelisah sekarang. Memikirkan alasan yang tepat seperti apa yang harus ia utarakan kepada ayahnya. Pada intinya dia sudah melanggar perjanjian. Dan semua itu bocor karena cewek nekat yang ada disampingnya ini. "Al," Alea langsung berhenti menggerutu. "Kenapa seyeng?" Saga sempat menatapnya heran, melihat cewek yang bisa dengan mudahnya berubah manis padahal barusan dia sedang mengomel-ngomel tidak jelas kepadanya. "Mendingan lo turun aja deh. Malu gue bawa elo ke dalam angkot." "Ih Saga mah!" Alea menepuk lengan Saga sambil tertawa. "Gak ada gombalan yang lebih romantis gitu?" Saga mendelik, lalu beralih menatap hal lain. Melihat respon Saga yang cuek membuat Alea semakin bersemangat mengusik cowok itu. Cewek itu kemudian melingkarkan tangannya di lengan Saga, menyandar di bahunya. "Gapapa deh. Selagi naik angkotnya bareng Saga, gue seneng kok--- E-EH-EH!" GDEBUGH! "AAW!" Angkot tiba-tiba berhenti. Alea refleks terhuyung ke bawah. Orang-orang di dalam angkot spontan melirik cewek itu sambil menahan tawa. "Apaan lo pada liat-liat? Cantik gue? Iya, tau. Astaga kacamata gue!" Alea buru-buru menggapai kacamatanya yang terlempar ke bawah tangga angkot. Sialnya, kacamatanya sudah keburu terpijak. Oleh om-om tambun yang tadi duduk di sebelahnya. Alea mengerjapkan mata menetralisirkan apa yang baru saja terjadi. "Kaca-mata-gue-dipijek... HWAA KACAMATA GUEEE!!!" Diam-diam, Saga menahan tawanya seraya sesekali melirik cewek yang tengah menatap miris kacamatanya itu dari tempat duduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD