"Saga, Ambilin remot dong! Gak nyampe gue."
Dara mengayunkan tangannya, menandakan bahwa jaraknya yang sedang duduk di sofa tengah cukup jauh dengan remot yang diletakkan di samping almari tv.
"Mager. Ambil sendiri."
Dara berdecak. Sebenarnya percuma meminta tolong pada saudara kembarnya itu, ujung-ujungnya dia juga yang bergerak sendiri untuk mengambil remot di dekat almari.
Tak berapa lama terdengar suara mesin mobil ayahnya. Menandakan Wavi sudah pulang. Amira langsung saja menyambut suaminya yang baru saja pulang kerja itu.
"Kamu udah makan?" tanya Wavi setelah Amira mencium punggung tangannya.
"Udah. Kamu mau makan dulu atau mandi dulu?"
"Em, aku ke ruang kerja dulu." Wavi mengangkat kepalanya, mencari sosok seseorang di ruang rengah.
"Saga," mendengar namanya baru saja dipanggil, Saga langsung menoleh ke arah ayahnya yang tengah melonggarkan dasi di ujung sana.
"Nanti ke ruang kerja papa," titah Wavi singkat sebelum kemudian berlalu ke ruang kerjanya.
Ahiya.
Saga hampir saja lupa. Ayahnya pasti ingin membahas soal pernyataan Alea pagi tadi. Saga menghela nafasnya pasrah sebelum kemudian bangkit menuju ke ruang kerja papanya.
Terimakasih Alea, sudah sukses membuat Saga on the way ke dalam sebuah masalah.
Saga membuka pintu ruangan kerja Wavi setelah sebelumnya mengetuk dahulu. Ia kemudian mendekati meja ayahnya, dimana Wavi tengah sibuk berkutat dengan dokumen-dokumen penting itu. Menyadari kehadiran putranya, Wavi spontan mendongakkan kepala.
"Kamu pasti udah tau kan apa yang mau kita bahas?"
Karena dirasa cukup tau, Saga mengangguk singkat.
"Jadi benar, cewek yang tadi pagi ke rumah itu pacarmu?"
Ah, sebenarnya berat mengakuinya. Tapi Saga tetap menganggukkan kepala kaku. "Iya."
Wavi terlihat menghela nafasnya. "Kamu masih ingat kan perjanjian kita?"
Tentu saja. Bagaimana bisa ia lupa dengan perjanjian yang ia buat sendiri? Oh dan dia sendiri juga yang telah melanggar perjanjian itu.
Salahkan saja hatinya yang telah mengambil tindakan begitu saja tanpa berpikir dahulu sebelumnya.
"Ingat."
"Kamu berarti juga tau kalau kamu sudah mengingkari kata-katamu sendiri."
Saga menunduk. "Maaf."
Wavi mendengus. "Bukannya papa ngelarang kamu berpacaran. Tapi kamu sendiri tau kenapa papa bersikap—"
"Iya, Saga tau. Papa tenang aja, gak usah khawatir. Saga juga gak mau, nyusahin...Papa lagi."
Wavi menghela nafasnya. Jujur, ia masih merasa bersalah. Jika bukan karena kelalaiannya dulu, mungkin ia tidak akan bersikap sebegitunya.
"Papa gak pernah ngerasa tersusahkan. Justru papa merasa bersalah, seharusnya bukan kamu yang terbebani sampai saat ini."
Saga menggeleng, menyergah pernyataan ayahnya. "Jangan ngerasa bersalah. Itu bukan salah papa."
Wavi menunduk, memejamkan matanya sejenak. Mungkin, memang bukan Wavi yang salah secara harafiah. Tapi secara tanggung jawab, Wavi merasa telah gagal untuk itu.
"Emm, jadi siapa namanya?" Wavi memicingkan mata, mencoba mengingat.
"Alea."
Wavi manggut-manggut sekilas. "Kalau bisa kamu jangan terlalu melekatkan perasaan sama dia, kamu tau sendiri nanti resikonya seperti apa."
Saga mengangguk. "Iya."
"Yaudah. Nanti malam, undang Alea datang ke acara makan malam keluarga."
Saga refleks mendongak, membulatkan mata terperanjat. Apa dia tidak salah dengar?
"Hah?"
Wavi menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Ya. Undang Alea ke rumah malam ini."
Butuh waktu beberapa detik bagi Saga untuk menyadarkan diri sendiri. Kalau ternyata, berdiri di ruangan kerja ayahnya juga dapat membuatnya sesak napas tanpa aba-aba.
"Tuh kan, apa gue bilang! Bokap lo pasti udah ngerestuin hubungan kita berdua." kikik Alea berbisik, sambil tersenyum percaya diri.
Saat ini mereka tengah mengumpul di meja makan. Seperti yang ayahnya bilang tadi siang, acara makan malam keluarga. Ditambah Alea yang sedang beruntung menjadi tamunya.
Dara menahan tawanya sendiri mendengar celetukan cewek disamping Saga yang kelewat PD itu. "Dia belum tau aja tuh Ga, jurusnya bokap kayak gimana." kekeh Dara sambil berbisik di telinga Saga.
"Em, jadi nama kamu—"
Belum selesai berucap, Alea sudah buru-buru menyambung. "Alea om. Quenella Aleanora."
Wavi menatapnya heran sebelum manggut-manggut seraya ber-oh ria. "Jadi udah berapa lama kamu sama Saga—"
"Seminggu om. Baru sebentar sih, tapi udah kerasa kok." sambung Alea menyengir sok manis.
Dara dan Saga hanya saling menggeleng dengan tingkah laku cewek yang memakai baju santai tapi cukup sopan itu.
Sopan. Hm, tumben.
"Kamu tinggal dimana?"
"Di rumah om. Eh, kadang-kadang di apartemen sih. Hehe."
Wavi mendengus. "Di daerah mana?"
"Ooh, yang jelas dong om. Di cikarang sih."
Wavi hanya manggut-manggut seraya memotong daging sapi panggang di piringnya. Saga bersyukur untung Wavi tidak mempermasalahkan cara berbicara Alea barusan.
"Ini gue udah kek mau ngelamar elo aja dah, ya nggak?" bisik Alea terkekeh, seraya mencolek lengan Saga.
"Kamu cantik banget ya, kayak tante waktu masih SMA." sahut Amira ramah sambil menyodorkan daging ke piring Alea, lalu ke kedua anaknya.
Kalau sudah dipuji begitu, Alea akan dengan sangat bersemangat mengangkat dagunya tinggi.
"Yaaa, kalo kamu pacaran sama Saga, saya akan banyak membatasi kalian. Kalian cuma boleh pacaran sehat aja, jangan kelewat batas. Saya juga gak akan ngizinin kalian sering-sering keluar. Sanggup?"
Alea spontan tertawa receh. "Wuidih, ini berasa saya bakalan bawa kabur anak perawan aja hahaha!"
Semua orang dimeja makan langsung mengalihkam perhatian. Menatapnya takjub sambil mengerjap. Melihat suasana berubah kikuk, Alea spontan terdiam.
"Ya, semua orang tua melakukan yang terbaik untuk anaknya."
Mendengar itu Alea langsung kehabisan kata-kata. Semua orang tua melakukan yang terbaik untuk anaknya. Tapi ia tidak yakin orang tuanya bersikap sedemikian rupa.
Mungkin lebih tepatnya, hanya sebagian orang tua.
"Andai bokap gue juga kayak gitu." bisiknya pelan, namun dapat di dengar oleh Saga disampingnya yang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.
Cowok yang dari tadi cuek itu, kini menatapnya diam-diam. Tanpa sadar merasa simpatis dengan gumaman cewek itu barusan.