10-Pemenang Taruhan

1059 Words
"Panas banget, ya ampun." Alea mengeluh untuk yang kesekian kalinya. Seraya memutar-mutar kipas portablenya ke sekitaran leher. Merasa kegerahan. "Lo sih Al, kebanyakan dosa." sahut Luna asal sambil meminum es nya. Alea tak menggubris, hanya mendelik singkat ke arah cewek yang juga sedang mengipasi diri itu. Anggi yang juga sedang duduk bersama mereka tak terlalu memperdulikan. Hanya sibuk bermain dengan sosial medianya seraya menggerakkan buku tulis entah milik siapa untuk mengipasi dirinya sendiri. "Keren juga ya! Gue baru liat dia main basket. Tapi ternyata auranya keluar banget gila!" "Hooh! Lo pada tadi liat ga? Ternyata dia macho juga! Absnya-astaga! Meleleh gue!" "Yaampun, beruntung banget dah si Alea bisa pacaran sama dia." Ketiga cewek yang sedang fokus berkipas tadi spontan menoleh ke sumber suara. Alea langsung berdiri seraya bersedekap, mendekati teman sekelasnya yang sedang bergosip ria itu. "Siapa?" tanya Alea kepo. Diikuti dayang-dayangnya yang menyusul di belakang. "Hah?" "Yaa, yang kalian omongin tadi." Kinar, teman sekelasnya tadi lantas manggut-manggut seraya membulatkan mulut. "Cowok lo. Tuh, lagi pada heboh di lapangan." "Yaps, lagi tanding basket tuh sama mantan lo. Beruntung banget ya lo Al, direbutin sama cowok-cowok ganteng." timpal Diana menyahuti, dengan nada iri yang tidak terlalu kentara. Alea menaikkan alis, agak kaget. Bukan saja karena Saga yang ternyata benar-benar membuktikan ucapannya. Tapi juga karena tau ternyata Gavin, mantannya itu, yang menjadi lawan tandingan Saga. Gavin itu rajanya basket. Jadi kemungkinan Gavin yang menang itu 80%. Alea lantas menaikkan sudut bibirnya yakin. Sepertinya, dialah yang akan segera memenangkan pertaruhan itu. "Gais," Alea menggerakkan jari. Memberi isyarat kepada kedua temannya untuk segera pergi menuju lapangan basket. Benar rupanya. Di lapangan basket benar-benar heboh. Alea bahkan sempat menutup telinganya sendiri. Merasa risih dengan teriakan cempreng para siswi ketika para pemain basket itu tidak sengaja memperlihatkan roti sobeknya. Alea mendengus malas. Namun tetap mempertahankan senyum devilnya seraya menikmati pertandingan. "Siapa yang lebih unggul?" tanya Alea pada salah satu siswa seraya bersedekap angkuh. Sudah sangat yakin akan kemenangannya. "Masih Gavin yang mimpin. Tapi mereka sama-sama kuat sih." Alea semakin menarik sudut bibirnya naik. Sudah pasti. Dia yang akan memenangkan pertaruhan itu. Betapa menariknya memikirkan apa-apa saja yang akan ia minta pada Saga nanti. Lebih ekstrem daripada biasanya, tampaknya boleh juga. "Three point!!!" "WAW! SAGA KEREN BANGET!" "SAGAAAA!!!" Alea spontan membulatkan mata, sekaligus menciutkan senyum. Melihat bagaimana wasit meniup peluit serta Saga yang memamerkan senyuman tanda kemenangan membuat lutut Alea melemas seketika. Dia baru saja kalah taruhan. Itu artinya, dia harus menuruti tiga keinginan Saga. Oh, yang benar saja? Saga tersenyum licik setelah menghampiri Alea di pinggir lapangan. Mengangkat tiga jarinya kemudian dengan nafas yang masih terengah-engah. "Tiga permintaan. Inget? Tiga. Permin-taan." Saga menaikkan alis menggoda Alea. Membuat Alea membuka mulutnya tidak percaya. Baru saja Alea hendak berkomentar, tepat ketika Dara yang tiba-tiba muncul dan langsung menarik Saga pergi dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Alea dengan raut wajah cengo yang kentara. "Tadi aja sok-sokan nagih hutang. Sekarang ninggalin gue sendirian. Maksudnya apa woi?" "Udah ketularan gila lo, Ga." Yang diajak bicara tidak menjawab. Hanya suara deruan nafas yang terengah-engahlah yang mengisi keheningan di atas rooftop ini. "Kalo bokap tau, bisa mampus lo." celetuk Dara lagi, tidak melirik ke arah Saga yang tengah menyandar pada tembok dibawah bangku yang ia duduki. "Segila-gilanya gue, sebenernya masih gila elo sih. Udahlah diem-diem nyimpen peralatan gym di bawah kasur. Suka main basket subuh-subuh pas bokap lagi tidur. Kalo dipikir-pikir masih mendingan gue sih yang suka ngeyoutube diem-diem." Sama seperti tadi, yang diajak bicara tidak menjawab. Dara lantas menurunkan tatapan melirik ke arah cowok itu. "Udah mendingan?" Dengan sekali lagi menetralisirkan pernafasannya, Saga mengangkat wajah. "Masih dikit sesak." Dara turun dari bangku. Menjongkok di depan kaki Saga yang sedang selonjoran tanpa mengenakan sepatu. Membantu memijit ujung jempol Saga untuk membantu meredakan sesak nafasnya. "Lo beneran lagi love sickness kayaknya, Ga." Saga yang memejamkan mata dengan kepala yang masih menyender pada tembok tertawa garing. "Bukan mabuk cinta yang bikin orang-orang ngelakuin hal gila. Tapi tujuan orang-orang untuk mendapatkan sesuatu itu yang bikin orang-orang jadi ngelakuin hal gila." Dara mencibir. "Dih, bilang aja lo udah beneran naksir sama Alea." Saga mengendikkan bahu. "Naksir, belum berarti jatuh cinta. Lagian, gak ada yang namanya jatuh cinta kayak yang di drama korea yang lo tonton itu. Ekspetasi beda sama realita. Imajinasi gak bisa lo jadiin pedoman sepenuhnya dalam memahami perasaan lo sendiri." "Ih udah ah. Gak ngerti gue lo ngomong apaan." Saga menoleh ke arahnya, seraya tersenyum jail. "Bilang aja lo kesindir." Dara yang sebal langsung melempar kaki Saga kesal. Membuat Saga meringis sekilas seraya mencoba berdiri pelan-pelan. "Lo mau kemana? Udah enakan? Masih sesak gak?" Saga tak menjawab, memilih berlalu pergi seraya menunjukan tangannya yang membentuk oke tanda ia sudah baik-baik saja. Cowok yang bajunya masih belum dirapikan itu menarik sudut bibir naik begitu melihat sosok itu. Langsung saja menyergap seraya merentangkan tangannya ketika Alea terlihat berusaha kabur. "Tiga. Permintaan." ingat Saga lagi seraya tersenyum simpul. "Hah? Apaan yah? Kok gue gak inget? Halu kali lo ahaha." Saga hanya menatapnya datar. Membuat Alea terpaksa berhenti tertawa receh. "Iya dah iya. Oke, apa permintaan pertama lo? Jangan susah-susah ya, gue gak mau kalo susah-susah." Saga langsung tersenyum senang. Tentu saja, dia sudah menyiapkan permintaan pertamanya sejak kemarin. Ia lantas ikut-ikutan melipat tangan diatas perut seperti gaya Alea. Dengan smirk jailnya, Saga berjalan mendekati Alea. Membuat Alea tersudut pada tembok dan menatapnya tanpa rasa takut. Tapi kalau boleh jujur, jantungnya terasa tidak enak sekarang. "Gue mau lo-" Saga sengaja memajukan wajahnya, sesekali menggoda cewek itu. Memang hanya Alea saja yang bisa menggoda Saga? Entah bagaimana bisa, Alea refleks meneguk salivanya sendiri. Ketika tatapan mata Saga menatapnya intens tidak seperti biasanya. "A-ap-pa?" "Jangan-" Saga sengaja berbisik, agar tidak ada orang lain yang mendengar. "Suka grepe-grepe gue suka-suka lo. Dan jangan cium-cium gue seenaknya. Gue juga gak mau lo pegang-pegang gue, risih." Alea langsung melotot. "Ih! Mana bisa gitu! Terus kita pacarannya ngapain aja d-" "Gak boleh nolak." tekan Saga datar. Ia menjauhkan tubuhnya. Lalu tersenyum manis. "Ih! Datar banget dong masa-masa pacaran kita? Serius aja lo Ga-" "Gue jemput lo nanti malam." "Hah?" Saga mengangguk polos. "Yaa gue mau ajak lo jalan. Gak mau ya?" Alea menatapnya sedikit heran. Tumben sekali? Tapi tentu saja, Alea tidak akan menolak. "Ya maulah!" Saga tersenyum simpul, lalu mengingatkan Alea sekali lagi sebelum kemudian benar-benar pergi tanpa memudarkan garis senyum di wajahnya. "Siap-siap sebelum jam tujuh! Lo lama aja sedetik, gue langsung pulang." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD