11-Fear

1137 Words
"Sumpah, jahat banget lo Ga." Mungkin ini sudah ke berapa ratus kalinya Alea menggerutu. Jadi Saga memilih untuk fokus pada bacaannya saja. "Parah lo emang, parah." Saga lantas mendengus, lalu menoleh ke samping sisi. Mendelik ke arah cewek yang memakai mini dress selutut dengan full make up yang terlihat natural namun menawan. "Jadi gue yang salah?" Tanya Saga membuka suara. Lelah juga mendengar celotehan cewek itu sejak tadi. "Yaiyalah! Kenapa lo gak bilang kalo kita mau jalannya ke perpustakaan heh semprul?! Kalo tau gitu kan gue gak bakalan pake pakaian kayak gini! Malu tau gak sih gue diliatin sama orang-orang. Untung gue cantik kan—mmmph." Alea menilik jari telunjuk Saga yang membungkam mulutnya. Lalu mengikuti ke arah pandang Saga menuju sebuah note bertuliskan dilarang berisik yang membuat Alea langsung memanyunkan bibir. Pasalnya, Alea sudah menghabiskan waktu yang lama hanya untuk mempoles diri. Membongkar-bongkar lemari pakaian hanya untuk memilih pakaian yang bagus untuk jalan dengan Saga. Tapi ternyata cowok yang memakai baju kaos dengan celana jins hitam itu malah membawanya ke perpustakaan. Apakah ini termasuk penipuan? "Lo bilang kita mau jalan! Tapi kok malah ada disini hah? Lo mau nipu gue ya? Ish. Parah banget lo. Kesel gue. Ah. Ngambek gue." Saga mengembalikan buku bacaannya ke tempat awal. Lalu bergerak memilih buku bacaan lain, tentang teknologi. "Ini kan termasuk jalan juga." "Iya. Jalan-jalan keliling perpustakaan! Gak romantis banget lu mah." gerutu Alea kesal. Namun detik berikutnya cewek itu malah menaikkan sudut bibirnya jail. "Eh, tapi perpustakaan bisa jadi tempat yang romantis juga sih." Bahkan tanpa melihat, Saga sudah sukses dibuat Alea bergidik. Apa Alea membawa aura-aura dunia lain ya? Cewek itu lalu melangkah-langkah kecil mendekati punggung Saga. Untuk kemudian berjinjit berencana menempelkan dagunya pada bahu Saga. Tersenyum cringe. "Inget! Permintaan pertama gue." Alea langsung menciutkan senyum dan menjauh. Hampir saja ia lupa dengan taruhan itu. Kalau begini kan, ia tidak bisa menggoda Saga lagi. Padahal menggoda cowok itu sudah menjadi hobi favoritnya sekarang. "Ck. Yaudah, kalo gitu habis ini kita jalan ke tempat lain ya! Kemana kek," Bukannya langsung menjawab, Saga malah putar arah dan berlalu melewatinya. "Udah terlalu malem. Kita pulang aja." Alea menggertak, seraya menggeram sebal. Lalu kemudian dengan sengaja menyundul pelan bagian belakang Saga dengan kaki. Membuat Saga spontan menatapnya dengan mulut yang terbuka. Cewek itu menyeringai puas. "Nendang gak masuk dalam perjanjian ya." kikik cewek itu kemudian sebelum berlalu melihat-lihat isi perpustakaan. Melihat Saga yang mengeluarkan kunci dari dalam saku setelah keluar dari perpustakaan, Alea spontan tersenyum licik dan langsung menyambar kunci itu dari tangan Saga. Buru-buru kabur ke mobil dan langsung saja masuk ke kursi penyetir. "Al, turun." "Gue yang nyetir." jelas Alea ketika Saga menatapnya dari balik pintu. "Cepet-cepet! Naik! sebelum gue tinggal nih lo." Saga mendengus malas. Padahal itu mobilnya, tapi kenapa jadi Alea yang mengancam dirinya untuk ditinggal? Namun Saga pasrah saja kemudian. Memilih duduk di kursi penumpang dan membiarkan cewek itu yang mengambil alih kemudi. "Pulang ya, jangan kemana-mana." Alea hanya tersenyum centil seraya mengedipkan sebelah mata sebelum kemudian menarik pedal mobil. Tertawa iblis dalam hati. Tentu saja, siapa juga yang ingin langsung pulang ke rumah? "Al, ayo pulang." Saga tidak bosan-bosannya membujuk cewek itu agar pulang bersamanya. Alea memang mengangguk. Tapi bukannya pulang, cewek itu malah memesan lebih banyak lagi minuman. Membuat Saga menjatuhkan kepala lemas kewalahan. "Coba dulu diminum ini! Enak loh! Lo pasti gak pernah coba kan? Ayo minum-minum! Hihihi." bujuk Alea seraya menyodorkan gelas wyne-nya. Mata cewek itu sudah mengawang. Bisa Saga pastikan cewek itu sudah mabuk sekarang. "Gua gak minum. Ayo pulang," Alea merengek sambil menggeleng. Menepuk-nepuk bahu Saga dengan kontrol diri yang sudah hampir hilang. "Lo pulang aja sendiri. Gue mau disini." Alea lalu bergerak turun dari booth. Memilih menikmati dentuman live musik di lantai dansa. Saga melirik jam tangannya, sudah menunjukan pukul sebelas malam. Saga lantas mencari sosok Alea yang tengah menari ria di lantai dansa. Lantas membulatkan mata ketika mendapati seorang pria yang  kelihatan hendak menyentuh Alea. Saga buru-buru turun, mendorong pelan pria itu agar menjauh dari Alea. "Dia pacar gue." ketus Saga membuat pria itu lantas pergi. Saga melirik Alea sekilas lalu menarik cewek itu untuk segera pergi dari nightjar ini. Alea memberontak dan menepis tangan Saga. Memilih untuk menuju ke mobil seorang diri. Cara jalan cewek itu sudah oleng-oleng, dengan matanya yang sudah tidak terbuka sempurna. Melihat Alea yang hampir saja terhuyung, Saga langsung dengan sigap menangkap pinggul cewek itu. Menjaga kembali keseimbangannya. Alea tiba-tiba tertawa receh. "Lo nyentuh gue duluan! Hahaha, Saga udah berani yaa ihihi." Cewek itu menepuk-nepuk lengan Saga menggodanya, dengan mata yang sudah mulai menerawang entah kemana-mana. "Lo udah mabuk berat." Alea menggeleng. "Gua gak mabuk! Hehehe." cewek itu tertawa aneh lagi kemudian. Setelah memikirkan sekali lagi, Saga langsung saja meletakkan sebelah tangannya di bawah tumit Alea. Mengangkat tubuh cewek itu untuk langsung dibawa ke mobil. Mengacuhkan cewek itu yang sesekali meraba-raba pipinya. "Gue gak mau pulang ke rumah!" racau cewek yang sudah duduk di kursi penumpang itu. "Terus mau kemana?" Saga kewalahan. Jujur saja, ini baru pertama kalinya ia berurusan dengan orang mabuk. "Apartemen." rengek Alea. "Gue mau ke apartemen." "Apartemen lo dimana?" Alea menunjuk ke arah asal. Lalu tertawa sendiri. "Disana? Eh disana! Dimana-mana hahaha." Saga mengacak rambutnya frustasi dengan sebelah tangan yang tidak menyetir. Percuma saja bertanya dengan orang yang sedang mabuk. Yang ada dia tidak akan mendapat jawaban yang benar. Tiba-tiba saja Alea menyodorkan sebuah kunci apartemen ke paha Saga. Membuat Saga melirik sekilas. Dikunci apartemen itu terdapat gantungan kunci. Berupa nomor apartemen, lantai berapa, dan alamatnya. Entah bagaimana bisa begitu, tapi sepertinya Alea sudah was-was jika suatu hari ia sedang mabuk dan merengek ingin pulang ke apartemen. "Eh lo jangan muntah ya!" titah Saga ketika tidak sengaja melihat cewek itu yang kelihatan mual. Alea malah tertawa sendiri. Kalau sudah begini Saga hanya akan panik terus jadinya. Ditambah lagi ketika melihat lampu lalu lintas yang berubah merah, Saga semakin mendecak frustasi kemudian. "Al?" Mendengar tidak ada suara lagi, Saga menoleh. Ternyata cewek itu sudah tidak sadarkan diri. Saga meliriknya sekilas. Sebelum kemudian tersentak kaget ketika melihat ada bunyi desiran kecil di tepi jalan. Seseorang sedang membakar sampah. Melihat apinya yang membara, seketika membuat Saga keringat dingin. Tangannya gemetar, nafasnya bergemuruh. Pandangannya seolah terkunci pada api itu. Bahkan ketika lampu merah sudah berganti warna ia pun tidak sadar. Membuat orang-orang yang di belakangnya sempat membunyikan klakson menyuruhnya jalan. Tapi Saga masih tidak bergerak. Tubuhnya seolah kaku. Tidak bisa berbuat sesuatu. Hingga ia merasakan bahunya ditindih seseorang. Kepala Alea menyandar di bahunya. Membuat Saga tersentak sadar dari bayangan-bayangan menyeramkannya. "Berisik banget," keluh cewek itu dalam keadaan tidak sadar. Saga menghembuskan nafasnya pelan, menenangkan diri. Menggerakkan sebelah tangannya kemudian untuk menjaga kepala Alea agar tidak jatuh. Sebelum menarik pedal dan memijak gas kembali. Tanpa menyadari kalau ternyata ada mobil lain yang memperhatikannya diam-diam dari seberang jalan. Menangkap semua ketakutan yang dialami cowok itu barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD