Episode 25

2034 Words
"Sshaa!!" Zanna mendesis hebat melawan Piton itu sangat marah. Ia langsung mencoba membalas amukan Piton dan... "BRUAKHH!!!" Tempat itu bergetar hebat seakan ada gempa yang datang. Kini mereka terlihat bergulat hebat. Ternyata Piton itu pintar dan berhasil menghindari patokan Zanna yang mematikan. Piton itu mendesis pelan dan tanpa di sangka dia lebih pintar di banding Zanna. Dia kini berhasil melilit kepala Zanna dengan lilitan kuatnya itu. Dia terlihat merayap santai seakan menatap Zanna tajam seraya terus mengeluarkan lidah bercabang mengerikannya. Zanna kini terlihat kaku tak bisa bergerak. Namun, saat Piton itu kembali ingin menyerang Zanna. Zanna langsung memukulnya dengan ekornya kuat dan menyemburkan api besar dari mulutnya. Kini terlihat ular Piton itu terbakar hidup-hidup. "SSSHAA!!!" Dia terdengar mendesis kuat seakan kesakitan. Namun, siapa sangka ternyata yang terlihat dia kebal dengan kobaran api Zanna. Dia memang bukan ular biasa. Dia langsung menampar kepala Zanna dengan kepala bulat sedikit gepengnya hingga Zanna terhenti mengeluarkan semburan api mematikannya. Akhirnya Zanna dia lepaskan kasar hingga Zanna terpental terhempas ke tanah begitu keras. Dia kembali mendirikan badannya tegak seakan memperlihatkan pada Zanna bahwa dia tidak bisa di lawan dan lebih hebat dari Cobra. Entah kenapa Zanna yang sebenarnya raja dari segala ular itu malah terlihat kalah sekarang karenanya. Dia mendesis sangat gagah begitu mengerikan seperti itu. Zanna langsung berubah wujud menjadi seperti manusia dan sekarang terlihat tubuhnya sudah banyak terluka sampai mulutnya mengeluarkan darah sedikit di sudut mulutnya. "Ughh," ucap Zanna menahan sakit menutup sebelah mata mencoba bangkit kembali. Zanna memang orang yang pantang menyerah juga sedikit emosian. Ia terlihat tidak menyerah. Ular Piton itu tanpa aba-aba kembali menyerangnya cepat. Ia terlihat serius menatap tajam ke depan seraya terus berusaha bangun dan langsung berbalik cepat menahan kepala besar Piton mengerikan itu. "SSHAA!!" Piton itu membuka mulutnya begitu lebar seakan siap menyantap wujud Zanna yang seperti manusia itu karena kecil. "ARRGH!" teriak Zanna terus berusaha menahan kepalanya kewalahan mengerutkan alisnya sangat merasa tak tahan. Zanna langsung sekuat tenaga menarik kepalanya dan berhasil mengangkatnya tinggi langsung ia melempar ular begitu besar itu lumayan jauh dan terhempas hebat ke tanah. Zanna memang makhluk yang begitu kuat bahkan ular sebesar dan sekuat itu ia bisa angkat dan melemparkannya keras. Kini mata Zanna terlihat menyala berubah jadi mata aslinya yang mengerikan. Ia terlihat sangat geram dan marah menatap Piton yang terlihat masih tergeletak di tanah bekas ia hempas begitu kuat tadi. "URRGH!" geram Zanna sangat dendam sampai matanya semakin menyala mengerikan dan pupil matanya semakin memanjang mengerikan. Ia terus menatap tajam sangat terlihat marah pada Piton itu. Wajah serta badannya juga kini terlihat bersisik kuning emas tua seakan benar-benar marah ingin mengubah dirinya kembali menjadi wujud aslinya yang mengerikan itu. Seketika semua badan serta wajahnya kembali bersisik kuning dan terlihat Piton itu kembali mengarah padanya ingin menyerang. Zanna langsung mengeluarkan lidah bercabangnya juga ke arahnya tanda menantang. Saat Piton itu mulai merayap cepat ke arahnya. Zanna langsung berubah kembali menjadi wujud ular Cobra besar kini mereka kembali bergelut. Terlihat Zanna benar-benar merasa marah sekarang, ia semakin terlihat ganas dan mengerikan terus mencoba mematuk dan menampar Piton itu begitu brutal. Piton itu jug terlihat tak mau kalah. Meski Piton itu sekarang terlihat kewalahan karena mencoba menghindari bisa yang mematikan dari Zanna. Dia langsung berusaha melilit tubuh Zanna kembali karena meski dia tak mempunyai bisa seperti Zanna tetapi Piton memang mempunyai kekuatan melilit yang sangat kuat. Setelah berkali-kali merasakan pukulan brutal dan hajaran Zanna dia berhasil melilit kembali tubuh Zanna. Dia langsung membuka mulutnya lebar ke hadapan Zanna dan mencoba langsung melahapnya. Namun, Zanna terlihat dengan cepat mengubah wujudnya lagi menjadi ular yang sangat kecil sehingga Piton itu gagal untuk melahapnya akhirnya ia berhasil keluar dari lilitan kuat Piton dari sela-sela tubuh Piton besar itu karena ia merubah wujudnya yang awalnya sangat besar menjadi sangat kecil. Piton itu kembali menegakkan kepalanya seakan terheran karena melihat Zanna menghilang seketika dari dirinya. Kini dia terlihat marah besar. Entah ke mana Zanna pergi. Sepertinya Zanna juga melarikan diri karena kekuatannya yang mungkin sudah sekarat dan mengamankan saja Permata yang ia bawa. Piton itu kini terlihat sangat marah terus mendesis keras membuka mulutnya lebar. Tak di sangka ternyata Zanna memang benar-benar melarikan diri. Ia berlari tertatih-tatih sampai tersungkur tersandung batu. Ia terlihat menjerit ingin menangis. Namun, terus mencoba bangkit dan berlari dengan wujud seperti manusianya menghindari Piton itu. Namun, tak di sangka terlihat Piton itu merayap cepat di belakangnya mengejar dirinya. Betapa melototnya Zanna saat melihat ke arah belakangnya. Ia langsung mencoba berlari sekencang-kencangnya menghindari Piton itu dan akhirnya ia berlari secepat kilat dengan kekuatannya langsung menghilang dari tempat itu entah ke mana. Namun, sepertinya ular itu juga tak kalah mempunyai kekuatan sihir seperti Zanna. Dia terlihat semakin cepat juga merayap seakan tidak seperti ular biasa pada umumnya. Kini Zanna sudah tepat berada di pintu samping kuil tadi. Ia terus berusaha agar berhasil masuk kuil itu meski tidak bisa jalan depan. Ia terlihat sedikit senang dan lega. Namun, tiba-tiba saat ia berlari mulai melangkah menaiki tangga kuil.. "SSST!" Piton itu langsung tegak menjulang menghadap Zanna menantangnya seraya terus membuka mulutnya. Betapa terbelalaknya mata serta mulut Zanna begitu kaget dan tak menyangka dengan hal itu. "Huh!" jerit Zanna merasa sangat kaget sampai ia mundur dan nyaris terjatuh hilang keseimbangan menatap ular itu melotot. Piton itu terlihat semakin marah membuka mulutnya perkasa mengarahkan lidah besar bercabangnya pada Zanna. Zanna terlihat lumayan kewalahan sekarang. Ia langsung mencoba menghindarinya saja dan menerobos Piton itu dengan tubuh kecil manusianya. Namun, ia berhasil di lilit kembali dengan ular Piton itu dengan wujud manusianya. "HUUKH!" sesak Zanna tak bisa berkutik sekarang karena di lilitnya begitu kuat. Zanna terus menggoyangkan tubuhnya agar melepaskan lilitannya namun semua nihil. Piton itu mendesis keras lalu langsung melahap Zanna yang melotot melihatnya. Kini tubuh Zanna benar-benar sudah dia telan. Terlihat dia mulai melahap kaki Zanna juga sampai Zanna benar-benar masuk ke dalam dirinya. Dia terdiam sejenak. Sepertinya dia merasa kenyang atau apa. Dia terlihat benar terdiam di sana. Entah kenapa, dia malah tidak langsung pergi. Hal yang sangat tidak terduga terjadi. Ternyata Zanna tidak tewas begitu saja. Seketika tubuh ular Piton itu mengeluarkan cahaya dari dalam dirinya. Setelah cahaya itu semakin terang seketika... "DUAR!!" Tubuh ular Piton itu kini meledak dan hancur seketika. Dagingnya berhamburan ke mana-mana sampai dinding kuil sekarang terkena muncratan darah dari Piton raksasa yang meledak tadi. Ular Piton itu kini tak tersisa sedikitpun. Terlihat cahaya yang begitu menyilaukan sampai kuil it sekarang terang menderang karenanya. Cahaya itu kini mulai memudar kembali setelah ular Piton itu benar-benar hancur tak bersisa. Ternyata cahaya itu adalah diri Zanna. Kini ai terlihat berdiri tegak kembali di sana. Ia menatap ke arah ke mana meledaknya ular Piton tadi. Zanna mendongak angkuh sangat geram terus menatap ke arah di mana daging-daging ular Piton yang meledak ke depan. Ia terlihat sangat puas dan dendam sampai ter engal menatap tajam ke depan. Di tangan kanannya terlihat Permata Mahanagrana itu masih bercahaya. Ternyata kekuatan dari Permata itulah yang membantunya dan membuat kekuatannya semakin bertambah sampai sudah berada di perut Piton. Zanna kini benar-benar terlihat sangat hebat, rambut panjang hitamnya yang sangat indah terlihat bergelombang di terpa angin. Angin seolah-olah mendukung kemenangannya. Lonceng di kuil itu juga berbunyi. Zanna benar-benar tak bisa di tandingi. Ia terlihat terus menatap arogan sampai matanya sedikit berubah menjadi ular bercampur dengan mata wujud manusianya. Ia benar-benar siluman yang sungguh kuat. Kini tatapannya mulai datar memandang ke depan seraya terus mendongak tanda begitu puas dengan kemenangannya. Ia lalu melirik Permata itu dan mengeladahkannya di hadapannya. Ia tersenyum miring tanda bangga pada dirinya sendiri lalu langsung berbalik ke arah dalam kuil dan melangkah melanjutkan bertapanya untuk mengembalikan Permata itu seperti Guru Brah perintahkan. **** Wuri terlihat terus berusaha untuk mencoba menghubungi keberadaan bola kehidupan. Namun, tetap saja ia masih tidak bisa memprediksi di mana sebenarnya bola kehidupan berada. Ia terlihat letih sekarang. Akhirnya ia memutuskan untuk memulihkan kekuatannya dulu agar bisa mencoba menghubungi bola kehidupan kembali. Ia keluar dari tempat yang absurd tak di rawat itu. Manusia memang tidak bisa melihatnya di sana dan saat ia keluar dari tempat itu barulah ia menampakkan diri menghilangkan sihirnya. Ia terhenti sejenak seraya memandangi telapak tangannya termenung. "Kenapa aku selalu tidak bisa mencari keberadaan bola kehidupan?" tanyanya dalam hati merasa sangat sedih pada dirinya sendiri juga kecewa. Namun, ia terlihat masih belum menyerah. Ia lalu menatap tajam ke depan percaya pada dirinya bahwa ia memang akan menemukan kembali bola kehidupan. "Tapi aku yakin, aku pasti tidak akan sia-sia berada di sini dan pasti menemukan kembali bola kehidupan. Aku harus membuat para Peri tak kecewa pada diriku," ucap Wuri meyakinkan dirinya. Ia lalu menarik nafas dan melanjutkan langkahnya. Wuri lalu berjalan-jalan tanpa tujuan entah ke mana sampai ia berjalan ke masuk ke sebuah lapangan futsal terbuka yang berada di taman itu. * "Woy over woy ever!!" teriak Agra sangat serius bermain futsal. Ternyata Agra lah yang sedang bermain futsal di taman itu karena dia ingin membuang jenuhnya saat bekerja dan sudah bosan dengan hal mewah. Dia bermain bersama teman baiknya yang berada di sana. Agra lalu membawa bola dengan lihainya bagaikan atlet bola hebat lalu menendangnya kuat ke arah gawang dan mencetak gol sempurna. "YEAA!!!" teriaknya bersorak sangat gembira seraya mengepal tangannya semangat sangat girang. Teman-teman langsung tertawa menepuk bahunya merasa bangga. Terlihat para musuhnya lesu karenanya. Mereka kembali bermain. * Wuri terlihat memandangi ke dalam lapangan futsal itu merasa heran. Namun, bola yang berbentuk seperti bola kehidupan miliknya langsung mengalihkan perhatiannya. Ia langsung melotot berhenti dan membuka pagar kawat rapat itu mencoba mengintip. Betapa melototnya ia saat melihat bola itu di tendang-tendang keras oleh mereka. Wuri langsung mengira bahwa benda itulah bola kehidupan yang ia cari selama ini tanpa tahu bahwa benda itu adalah benda yang sudah biasa ada di bumi. "BOLA KEHIDUPAN!" serunya melotot sungguh tak percaya merasa sangat senang. Terlihat lawan Agra membalas mencetak gol pada mereka. Wuri yang melihat bola itu semakin mereka tendang ke sana-kemari sangat geram. "Kenapa, kenapa mereka merusak bola kehidupan seperti itu!" geram Wuri tak terima. Mereka terlihat kembali bermain. Wuri langsung menatap mereka kesal lalu mencoba menarik bola itu memejamkan matanya mengeluarkan sihirnya. Tangannya mulai mengeluarkan cahaya biru muda dan langsung ia arahkan ke bola itu serius. Tanpa mereka sadari bola itu bergeser cepat sendiri sampai Agra terjatuh dan mengira teman di sampingnya mengambil bola. "PRIIT!!" Wasit meniupkan peluit melihat Agra jatuh. Wuri yang terlihat kaget langsung melotot mencoba mengintip gagal menarik bola itu ke dirinya. "Aduh! Lo hati-hati dong," kesal Agra kesakitan memegangi kakinya. "Ya maaf Gra gua gak sengaja," jawabnya juga merasa bingung. Wasit langsung memapangkan kartu kuning. Mereka terlihat terdiam sekarang. Agra mencoba bangun kembali menahan sakitnya. Wuri yang melihat mereka seperti itu merasa takut. Ia berbalik bersembunyi agar tak ketahuan. "Astaga apa yang aku lakuin, untung mereka gak nyadar kalau aku yang narik bolanya," gumam Wuri dalam hati merasa menyesal sendiri mendengus mengerutkan alisnya. Namun, saat ia kembali mengintip baru tersadar ia bahwa lelaki yang terjatuh tadi adalah lelaki yang pernah mengganggunya di kantor maupun apartemen. Betapa terbelalaknya matanya menyadarinya. Ia langsung bersembunyi kembali di balik batang pohon yang ada di dekat pagar kawat rapat itu. Tanpa ia sadari mereka semua sudah selesai bermain dan kelompok Agra kalah karena tadi. "Yahh kalah deh kita," ucap Feri teman Futsal Agra lesu. "Yah gak papa men, cuman permainan kok," jawab Agra seraya mengacak pinggang mengatur nafasnya. Mereka lalu bersalaman laki dan bubar. Kini Agra terlihat sendiri seraya membetulkan tali sepatunya menaikkan kakinya di atas kursi. Wuri yang mendengar mereka tak bersuara lagi penasaran dan langsung mengintip kembali. Sekarang ia melihat bola itu tengah berada di pinggir lapangan tanpa ada manusia lagi. Wuri terlihat tersenyum membelalakkan matanya sungguh tak meyangka karena kebetulan bola futsal mereka tadi berwarna putih polos semuanya. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari kegirangan menghampiri bola futsal tadi tanda menyadari masih ada Agra yang membetulkan tali sepatunya di kursi dekat sana. Wuri sudah tepat di depan bola. Ia langsung mengambil bola futsal itu. Agra terkekeh saat mendengar ada orang berlari ke arah lapangan. Dia akhirnya menengok ke belakang kembali dan betapa ternganganya dia saat melihat ada seorang wanita berpakaian kalem dengan celana lejing hitam serta baju kaos putih berjaket rajut sweater cardigan kalem berwarna cream berambut panjang indah. Wuri langsung memeluk bola futsal itu dengan polosnya seraya tersenyum. Agra langsung berbalik ke arahnya melihat terheran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD