Episode 27

2047 Words
Agra mengerjakan pekerjaannya begitu fokus. Namun, dia sekarang terlihat sudah lelah. Dia memejamkan mata menyenderkan tubuhnya ke kursi empuknya mendongakkan wajah ke atas seraya memijit pelipisnya membuang sedikit penat dari mata juga pikirannya. Saat dia merilekskan pikirannya sebentar. Dia malah tiba-tiba teringat pada saat dia mengobati jidat Wuri. Dia terbayang wajah cantik menawan Wuri yang sangat indah menatapinya merasakan saja dia mengobati lukanya. Agra langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Sekarang dia heran pada dirinya sendiri dan langsung membelalakkan matanya terganggu. "Loh, kok gue malah keinget sama wanita aneh itu," ucap Agra mengerutkan alisnya heran. Dia juga teringat saat Wuri mendekapnya menatapinya saat di pesta seakan sengaja ingin menghipnotisnya. Agra sekarang melotot bingung pada pikirannya sendiri. "Huhh, kenapa aku malah kepikiran dia, haduhh," rengek Agra merasa bingung pada dirinya sendiri. Dia kembali menyenderkan tubuhnya memijit pelipisnya semakin merasa lelah pada dirinya sendiri. Ketika dia sedang mencoba menenangkan dirinya. Terdengar dari luar ada yang mengetok pintu ruangannya. Agra terlihat sedikit kesal. "Ya masuk!" teriaknya. Ternyata dia seorang karyawan biasa berkemeja serta berdasi rapi. Dengan sopannya dia memasuki ruang Agra dan seperti terlihat gugup gemetar. "Ya ada yang bisa saya bantu?" tanya Agra langsung to the poin agar lekas selesai. Pria itu tersenyum lebar merasa gugup juga malu dengan pemimpin utama perusahaannya. "Maaf Pak, ini dari Reyhan katanya tolong minta tangan Ibu Wuri manajer Pak Erdian karena dia ingin Bapak melihat surat kontrak kalian ini sudah selesai dan resmi tinggal tanda tangan dari kalian aja," ucap karyawan itu terlihat berusaha menahan gugupnya gemetar menaruh berkas itu ke meja kerja Agra. Agra mengerutkan alisnya saat mendengar Wuri. "Loh bukannya Reyhan bisa nyamperin dia? Kok malah saya?" tanya Agra seakan tak terima. Dia terlihat malas bertemu Wuri karena terus memikirkan Wuri. Sepertinya dalam lubuk hatinya. Tersirat perasaan mulai menyukai wanita kalem berparas cantik itu. Namun, dia masih tak menyadarinya. "Maaf Pak saya juga gak tau, terimakasih," jawab karyawan pria itu semakin gugup. Agra yang tak tega melihat dirinya akhirnya mendengus pasrah. "Ya udah, makasih ya," jawab Agra menatapnya pasrah seraya mengambil berkas itu dari mejanya. Karyawan itu terlihat sangat senang dan lega sekarang. Dia langsung membungkukkan badannya sopan mengangguk pada Agra. "Baik Pak, saya permisi," izinnya sopan tersenyum. "Iya," jawab Agra membalas senyumnya. Dia lalu keluar terlihat cepat-cepat karena takut. Dia menutup pintu pelan. "Hah! Ngapain gue malah minta tanda tangan dia. Kek fansnya aja gue," gerutu Agra menjenting kertas itu merasa tak terima kesal. Dia terlihat menahan sebalnya dan akhirnya menaruh kertas itu terpaksa ke mapnya kembali. Dia langsung berdiri ingin keluar dari ruangannya untuk menemui Wuri serta Erdian. * Akhirnya dia sampai di perusahaannya Erdian di antar oleh supir setianya. Mobil mewahnya dia parkir di depan. Dia lalu keluar dari mobil dengan gagahnya. Betapa sempurnanya lelaki itu. Dia melepaskan kacamata kotak hitam kecenya di bawah terik matahari yang terang. "Huh, kesiangan lagi gue. Udahlah bodoamat," ucapnya. Dia mulai melangkah memasuki perusahaan besar itu juga dengan percaya dirinya. Semua orang terlihat menghormatinya. Saat dia masuk kebetulan sekali Wuri terlihat ingin keluar. Akhirnya mereka tersenggol satu sama lain. Wuri hampir hilang keseimbangan dan nyaris terjatuh. Namun, ia bisa menahan tubuhnya langsung berbalik mendongak ke arah Agra. Agra refleks memegangi tangannya agar ia tak jatuh. Agra juga terhenti melirik ke arahnya heran. Betapa tak menyangkanya mereka berdua. Ternyata yang di tabrak adalah orang yang sama-sama merasa sebal satu sama lain. Agra langsung melepaskan genggamannya saat menyadari itu Wuri. Wuri juga melotot kesal ke arahnya seraya mengibas tangannya bekas di genggam Agra tadi. Mereka terlihat sama-sama kikuk. Agra mengedipkan matanya. Dia lalu merapikan jasnya sok cool seraya berdeham. "Ekhm! Pas banget. Kagak capek-capek gue ke dalem buat samperin lo," ucap Agra menatapnya malas. Wuri hanya mengangkat sebelah alisnya pada Agra tanda merasa bingung dan malas. "Lo jangan kegeeran. Gue ke sini bukan mau ketemu ama lo. Tapi cuman minta tanda tangan lo buat surat kontrak kerjasama perusahaan Erdian dan gue. Nih," celoteh Agra merasa jengkel padanya menyodorkan kasar kertas itu ke Wuri. Wuri kini hanya ternganga menatapi kertas itu. Agra yang awalnya membuang muka begitu malas menatap Wuri melirik ke arahnya karena Wuri masih belum mengambil surat itu. Setelah Agra meliriknya kesal mengerutkan alisnya. Akhirnya Wuri merebut surat itu dari tangan Agra juga kasar tanda terpaksa. Saat Wuri sudah mulai menandatangani surat itu Agra tersadar karena mereka saling merasa kesal surat itu kini terlihat sedikit kumal karena mereka. Agra membelalakkan matanya seakan syok tersadar karena itu. Wuri juga terlihat selesai menandatanganinya dan menutup pulpennya jengkel seraya melirik Agra menahan geram. "Sudah, ini," kata Wuri menatapnya tajam menyerahkan surat itu kembali pada Agra jengkel kasar. Agra melotot ternganga panik melihat surat itu semakin kumal karena Wuri menyerahkan padanya kasar. "Hey! Ini dah kumal gara-gara lo?!" celetuk Agra. Wuri yang awalnya ingin beranjak saja terkekeh kembali berbalik. Ia terlihat menatapi Agra semakin kesal. "Lo duluan," jawabnya dengan raut wajah menekuk lalu berbalik lagi meninggalkannya tanpa perduli. Betapa ternganganya Agra melihat dirinya yang begitu cuek. "Woy! Heh benar-benar ya! Gue masukin lagi ke map biar gak kumal lagi oke aduh," teriak Agra kesal tetapi Wuri hanya mengacuhkannya seraya memasukkan kembali surat itu ke map cengengesan lalu melirik ke arah Wuri pergi dan melupakannya pergi ke ruang Erdian sedikit gugup. * Setelah Agra selesai mengurus surat kontrak mereka. Dia keluar masih melihat-lihat kalau Wuri ada di dekat sana. "Ke mana ya wanita itu?" tanya Agra seraya memperhatikan sekelilingnya. Agra sekarang penasaran dengan sosok misterius dan aneh seperti Wuri. Wanita itu benar-benar bisa membuat Agra penasaran. Agra tidak menemukannya lagi di daerah perkantoran Erdian. Akhirnya dia memutuskan saja untuk pulang. Namun, ketika dia keluar di depan pos jaga perusahaan. Dia terkekeh saat melihat Wuri ternyata berada di sana. "Stop, stop dulu Pir!" perintahnya pada Supir seraya terus menengok ke luar jendela mobil. Dia lalu membuka pintu mobilnya pelan. Ternyata itu memang benar Wuri. Terlihat dia sedang membantu nenek-nenek tua yang sedang berjualan jagung di pinggir jalan yang sangat memprihatinkan. "Kamu makan dulu ya?" pinta Wuri memberikan makanan siap saji di kantong kresek putih itu pada nenek penjual jagung. "Terimakasih Nak," jawabnya sangat kasihan sampai mengeluarkan air mata. Wuri terlihat memang tak tega dengan para manusia yang lansia juga anak-anak. Mungkin karena ia seorang Peri maka dari itu memang mempunyai perasaan lembut bagaikan malaikat. Wuri terlihat sangat kasihan padanya. "Em Nenek, aku beli ya semua jagungnya, agar Nenek pulang dengan cepat," ucap Wuri sedih menatapi Nenek tua renta itu. "Ya ampun terimakasih Nak, terimakasih," jawabnya tertatih bersujud pada Wuri. Wuri langsung menahannya agar tak menunduk padanya. Nenek itu menangis terharu. Wuri tersenyum lembut padanya. Akhirnya ia mengantarkan Nenek itu pulang dan membantu merapikan tempat jualan Nenek sebelum pulang dan membawa jagung-jagungnya. Begitu tulusnya Wuri membantu Nenek itu berdiri dan menuntunnya berjalan menunggu angkutan. Agra yang memperhatikan semua itu sungguh tak menyangka. Wanita yang selama ini dia anggap begitu aneh ternyata mempunyai hati yang begitu baik dan tulus. Wuri serta Nenek itu akhirnya memasuki mobil yang di pesan Wuri dari online sejak tadi sudah datang. Agra langsung menyuruh Supir untuk mengikuti mereka berdua. * Mereka pun sampai. Betapa prihatin perasaan Wuri saat melihat rumah Nenek itu. Ia membantu Nenek itu duduk di depan pintu. Wuri lalu berbalik dari arah Nenek itu. Ia terlihat ingin menyihir sesuatu. "Aku mohon, berilah barang yang di perlukan oleh manusia tak berdaya ini, agar dia bisa bahagia," pinta Wuri dengan nada rendah agar tak terdengar Neneknya. Terlihat kedua telapak tangannya bersinar dan ia arahkan ke depan. Seketika sekarang sudah banyak tersedia banyak sembako untuk Nenek itu. Wuri tersenyum. Namun, dia berpura-pura kembali ke mobil itu agar Neneknya tak curiga pada kekuatannya. Ia berpura-pura mengambil sembako itu dari mobil sekalian membayarnya. Seketika sembako itu beralih ke tangannya. Ia terlihat keberatan. Dengan langkah tertatih ia melangkah membawa sembako berplastik besar penuh. Agra memarkir mobilnya di samping semak-semak belukar juga pohon di pinggir jalan di seberang rumah Nenek itu. Dia membuka kaca mobilnya memperhatikan Wuri dari kejauhan. "Ini Nek, makanan untuk Nenek. Semoga Nenek suka," ucap Wuri seraya mengasih plastik besar penuh berisi sembako tadi. Ia juga memberikan uang. Nenek itu langsung menangis menolak seakan kaget dengan semua yang Wuri kasih. Wuri tersenyum padanya dan langsung berdiri agar Nenek itu menerima semua yang ia kasih. Ia langsung pergi meninggalkan Nenek yang menangis tak percaya dengan hal itu. Agra terus memperhatikannya yang beranjak pergi. Dia semakin penasaran dengan tingkah Wuri yang memang berbeda dari wanita biasanya. Wuri terlihat bersembunyi di samping rumah Nenek itu agar tak ketahuan Neneknya. Terlihat Neneknya sekarang juga begitu terharu sangat bahagia memeluk sembako serta uang yang lumayan banyak di beri Wuri. Agra yang semakin penasaran Wuri pergi ke mana langsung menyuruh Supir untuk lebih maju ke depan mengintip Wuri sedang apa. Agra mendongak keluar melihat Wuri yang terlihat berdiri di samping rumah Nenek tua renta tadi. Wuri terlihat memejamkan matanya lalu mendongakkan wajahnya ke atas dengan kaki yang rapat. Seketika tubuhnya menghilang dari kaki sampai ujung kepalanya, seluruh tubuhnya di kelilingi cahaya kuning yang melingkar. Sekarang ia sudah tak ada lagi di sana hilang seketika. Betapa terbelalaknya Agra melihat kenyataan di luar nalar dengan mata kepalanya sendiri. "HAH?! KE MANA DIA? LANGSUNG MENGHILANG? APA AKU SALAH LIHAT?! HEH?!" paniknya syok sungguh tak percaya mengeluarkan kepalanya celengak-celenguk sangat kaget. "Bos, dia beneran menghilang," jawab Supirnya yang mengintip juga dari dalam terlihat sedikit takut merinding. Agra melotot benar-benar tak percaya. Dia langsung memasukkan kepalanya kembali juga ikut ketakutan. "Ya sudah, ayo kita balik aja!" perintah Agra. Akhirnya mereka pulang. Agra masih melotot memikirkan Wuri yang barusan dia lihat. Dia benar-benar sungguh tak menyangka masih syok di dalam mobil seraya terus berpikir. "Apa benar dia menghilang? Apa jangan-jangan dia bukan manusia biasa?" tanya Agra sangat penasaran dalam hatinya terus berpikir tak tenang. . Setelah kejadian yang dia lihat tak sengaja kemarin. Dia memutuskan untuk lebih mencari tahu tentang diri Wuri. Sosok apa sebenarnya dirinya. Dia terlihat mondar-mandir tak tenang di kamarnya malam itu. "Aku benar-benar bingung. Kenapa dia bisa menghilang seketika seperti hantu? Apa jangan-jangan...?! Hooh!" ucapnya terus berpikir langsung melotot memonyongkan mulutnya terhenti. "Jangan-jangan dia hantu!" ucapnya ketakutan. Dia langsung melompat ke kasurnya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut konyol. Dia lalu mengintip kembali keluar. "Huuuu," katanya bergidik begitu merinding. Namun, dia kembali duduk. "Atau jangan-jangan, dia siluman juga sama seperti Zanna?!" tanyanya berbicara sendiri terus menebak-nebak. Dia kembali berdiri bangun dari kasurnya bolak-balik tak tenang. * Keesokan harinya Agra memutuskan untuk mengikuti Wuri diam-diam lagi. Setelah dia selesai mengurus urusannya di kantor. Dia langsung pergi sendiri dengan mobil pribadi mewahnya tanpa Supir lagi. Dengan hati-hati dia mengintip Wuri sudah keluar kantor seraya memeriksa jam tangan silver cantiknya. Ia berjalan terlihat buru-buru entah mau ke mana. Agra yang mengintipnya dari samping dinding langsung mengikutinya. Wuri terlihat menunggu taksi argo pesanannya. Agra terus memantaunya di dalam mobilnya. Saat ia menunggu taksinya datang. Ada teriakan seorang anak kecil yang di dengar Wuri. Karena memang ia bisa mendengar sampai 7 kilometer dengan pendengarannya yang tajam itu. Wuri terlihat sedikit kaget mendengarnya, ia lalu mencoba mendengarkannya lagi. "Tolong! Tolong," teriak anak kecil itu. Sepertinya anak kecil itu adalah seorang anak perempuan. Wuri mendengar sangat jelas suara itu. Seperti suara itu tidak terlalu jauh dari tempat ia berdiri. Wuri langsung mencoba menghilang dengan jurus teleportasinya seperti yang Agra lihat kemarin. Namun, ternyata taksi argonya keduluan datang. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menghilang agar manusia tidak melihat dirinya. Ia pasrah menaiki taksi itu dan mencoba ke tempat anak kecil meminta tolong tadi saja. Agra terus mengikutinya dari belakang. Hingga Wuri sampai di tempat di mana ia mendengar teriakan anak kecil. Ia membayar cepat taksi itu. Ia langsung berlari ke arah anak kecil yang ia dengar. Agra yang berhasil mengikutinya sampai ke sana juga ikut turun dari mobil diam-diam. Ternyata sungguh tak di sangka di lihat dari atas loteng anak perempuan itu ingin terjatuh dari lantai 2 gedung belum selesai yang lumayan tinggi itu. Ternyata ia baru saja di dorong oleh temannya yang juga masih kecil tak mengerti hanya bercanda tanpa tahu itu berbahaya. Karena mereka juga panik melihatnya akhirnya ia di tinggalkan sendiri oleh teman-temannya. Betapa kasihannya nasib anak kecil tak berdosa itu. Wuri yang mendongak ke atas melihat itu langsung terbelalak. "Huhuhuu," ia menjerit menangis sangat ketakutan dan terlihat tangan kanannya sudah tak tahan memegangi beton itu dan ia sudah ingin terjatuh benar-benar. Wuri ternganga semakin membelalakkan mata sangat kaget. Agra yang berlari mengikutinya kini juga terdiam seketika melihat pemandangan di atas itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD