Aleysha mengerejapkan kedua matanya perlahan-lahan. Cahaya lampu yang begitu silau membuat pandangannya buram selama beberapa saat. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali, kepalanya masih terasa pusing dan dadanya masih terasa sesak. Ia berusaha bangun dari tempatnya berbaring, berusaha mengenali keadaan sekitarnya, sekaligus menebak-nebak di mana dirinya berada saat itu.
Renata masuk ke dalam ruang perawatan itu tak lama kemudian, sambil membawa makanan serta obat untuk diberikan pada Aleysha.
"Hai Al, kau sudah bangun?" sapanya, seraya tersenyum.
Aleysha membalas senyumannya, dengan wajah yang masih terlihat lemah.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, beristirahatlah. Kau masih butuh waktu yang banyak untuk memulihkan diri. Tenagamu terkuras akibat emosi yang meledak sekaligus, jadi, kau harus benar-benar beristirahat," saran Renata.
"Saya baik-baik saja, Bu Dokter. Maaf karena saya telah banyak menyusahkan, dan maaf karena saya begitu marah tadi," ungkap Aleysha, penuh penyesalan.
Renata pun memeluknya dengan lembut. Ia mengusap punggung Aleysha agar bisa memberinya rasa nyaman.
"Jangan meminta maaf, Al. Kau berhak marah, karena jika aku yang ada di posisimu tadi, dan El yang terluka akibat perbuatan seseorang tak bertanggung jawab, tentu aku juga akan meledak sepertimu," balas Renata.
Keduanya terdiam, membuat suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya.
"Kau tak pernah cerita sebelumnya, kalau Dion adalah Adik sepupumu," ujar Renata.
Aleysha pun tersenyum kembali.
"Itu karena, keluarga saya dan keluarganya tak akur sejak dulu. Saya dan Dion tidak pernah bertengkar, tapi tetap saja kerenggangan itu sangat terasa di antara kami. Jadi, ketika saya diterima untuk bekerja di GEC, dia sudah meminta pada saya untuk merahasiakan hal itu," jelas Aleysha.
Renata pun terdiam usai mendengar penjelasan Aleysha. Ia meraih semangkuk bubur yang dibawanya, lalu mulai menyuapi Aleysha.
"Ya, aku sudah mendengarnya tadi," Renata mengakui, "El menanyakannya pada Dion, dan aku tak sengaja mendengar."
Aleysha terlihat semakin merasa tak enak, karena masalah keluarganya harus diketahui oleh orang lain. Namun Renata berusaha untuk membuat Aleysha tetap nyaman, ia tak mau wanita itu merasa canggung di depannya.
"Al, setiap manusia memiliki masalah. Hanya saja, terkadang masalah mereka berbeda-beda, dan pemecahan masalahnya pun berbeda-beda. Tapi ada satu hal yang perlu diingat dengan baik ketika kita memiliki masalah dengan seseorang. Yaitu, belajarlah dewasa dan perbaiki apapun masalahnya. Karena kita selalu akan saling membutuhkan selama hidup di dunia ini, terutama dengan keluarga."
Aleysha pun menganggukan kepalanya, pertanda bahwa ia mengerti mengenai apa yang Renata katakan. Rafael membuka pintu ruangan itu, namun memilih tak masuk ke dalam dan hanya berdiri di ambang pintu. Aleysha dan Renata serempak menatap ke arahnya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Rafael.
"Perasaanku baik-baik saja," jawab Renata.
Kedua mata Rafael pun menyipit ke arah Renata.
"Aku tidak menanyakan perasaanmu, aku menanyakan perasaan Aleysha," cibirnya.
Renata pun terkekeh pelan karena berhasil menggoda Adiknya. Aleysha menatap ke arah Rafael.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja, Pak. Insya Allah besok saya akan tetap bekerja," ujar Aleysha.
"Kau yakin? Tidak mau beristirahat saja?" tawar Rafael.
Aleysha menggelengkan kepalanya.
"Saya merasa istirahat saya hari ini sudah cukup, Pak. Insya Allah besok saya sudah bisa bekerja kembali seperti biasa."
Rafael pun menganggukan kepalanya, pertanda bahwa ia mengerti akan keinginan Aleysha. Renata melirik ke arah Adiknya sekilas, di mana ia tahu kalau Rafael sebenarnya datang bukan hanya untuk sekedar bertanya, melainkan juga untuk melihat kondisi Aleysha. Rafael benar-benar tengah mencuri pandang ke arah wanita itu, namun Aleysha tak mengetahuinya, atau mungkin juga dia tahu tapi tak mau menanggapi. Karena seperti yang Aleysha katakan, bahwa ia menganggap Rafael tak lebih dari seorang atasan.
"Dion sudah kusuruh pulang lebih awal. Hidungnya sudah tidak mengalami pendarahan, Renata sudah mengobatinya," ujar Rafael.
"Terima kasih, Pak. Saya sangat menghargai bantuan anda, disaat saya sedang tak bisa melakukannya sendiri," ungkap Aleysha, tulus.
"Itu bukan masalah besar, Aleysha. Jangan sungkan untuk meminta bantuan jika kau memang membutuhkan bantuan," saran Rafael.
Aleysha hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, saat Rafael membeirinya saran. Karena kenyataannya, lidah Aleysha selalu menjadi kelu ketika harus meminta bantuan orang lain dikala ia kesulitan.
Jam menujukkan pukul tujuh malam ketika akhirnya Aleysha diperbolehkan pulang. Rafael dan Renata mengantarnya sampai ke rumah dengan selamat.
"Langsung istirahat ya, Al. Jangan lakukan apapun, langsung saja beristirahat," saran Renata.
"Baik Bu Dokter, saya akan langsung beristirahat seperti yang anda sarankan," balas Aleysha.
"Telepon aku jika ada apa-apa," tambah Rafael.
Renata pun menoleh ke arah Adiknya.
"Kalau ada apa-apa dia akan menelepon Dion, bukan kau!" sindir Renata.
Aleysha hanya bisa tersenyum saat melihat bagaimana kedua kakak-beradik itu terus-menerus berdebat. Ia segera melangkah menuju ke dalam rumah, meninggalkan Renata dan Rafael agar mereka juga bisa pulang.
Ketika mobil milik Rafael telah menjauh, Ayzel pun kembali memantau keadaan rumah Aleysha. Perasaannya sangat tak karuan sejak wanita itu marah dan bahkan menamparnya dengan keras. Dan yang paling tidak Ayzel duga adalah, wanita itu akan pingsan setelah meluapkan kemarahannya.
Jujur saja, ia ingin sekali segera meraih tubuh itu agar tak jatuh ke lantai, jika saja ia tak dihalangi dan diseret oleh sekuriti. Entah mengapa ia merasa begitu tak tega melihat Aleysha yang tiba-tiba hilang kesadaran. Andai ia tahu kalau Dion adalah Adik sepupu wanita itu, maka ia mungkin akan lebih memilih untuk diam saja dan tak memukul. Sayang sekali, ia benar-benar tak tahu.
Drrrttt..., drrrttt..., drrrttt...!!!
Ponsel Ayzel kembali bergetar. Nama Vini tertera pada layarnya, namun ia malas sekali untuk mengangkat telepon itu. Lagipula, entah apa yang akan dia katakan jika Vini menanyakan mengenai Aleysha. Jika Vini tahu betapa paniknya Rafael saat wanita itu pingsan tadi, maka sudah jelas dia akan semakin membenci Aleysha dan berusaha semakin menyakitinya. Sementara, Ayzel tak ingin itu terjadi.
Drrrttt..., drrrttt..., drrrttt...!!!
Ponselnya terus saja bergetar tak berhenti, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo."
"KAU KEMANA SAJA, HAH??? KENAPA TIDAK MENGANGKAT TELEPONKU???" teriak Vini, frustrasi.
"AKU SEDANG MENGAWASI ALEYSHA, SEPERTI YANG KAU MINTA, SIALAN!!! BERHENTI TERIAK-TERIAK, KARENA AKU BUKAN KACUNGMU!!!" balas Ayzel, tak kalah nyaring.
Vini sungguh tak menduga kalau Ayzel akan membalasnya sampai sekasar itu. Selama ini, Ayzel selalu bersikap lemah lembut padanya. Tak pernah sekalipun dia berbuat kasar pada Vini. Namun kali ini, pria itu sangat berbeda, pria itu tak lagi sama.
"Kau..., kenapa kau membentakku?" tanya Vini, lirih.
Ayzel mencoba mengatur nafasnya yang naik-turun karena luapan emosinya yang sejak tadi tertahan.
"Karena kau yang memulainya! Kau bisa bertanya baik-baik, tapi kau malah memutuskan berteriak-teriak seperti orang kesetanan! Jadi jangan tanya kenapa aku membalasmu! Renungkan sikap gilamu itu, baru kau bicara lagi padaku!" tegas Ayzel, lalu segera memutus sambungan teleponnya.
PRAKKK!!!
Pria itu melempar ponselnya ke sembarang tempat karena merasa kesal. Ia menyandarkan kepala untuk membuat dirinya rileks setelah meluapkan emosi pada Vini. Kedua matanya kembali menatap ke arah rumah milik Aleysha. Ada rasa sesal yang begitu kuat di dalam d**a Ayzel, karena akibat dari ulahnya yang memukul Dion, Aleysha harus melewati hari yang berat.
"Sungguh, aku tak pernah sama sekali berniat menyakitimu," batin Ayzel.
* * *
Rafael menghempaskan tubuh ke atas sofa di ruang kerjanya. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat berulang-ulang kali setelah tiba di rumah sendirian. Tatapannya nyalang ke arah langit-langit, menatap gemerlap lampu kristal yang menghiasi ruangan itu. Dadanya terasa sesak, saat mengingat apa yang ia bicarakan dengan Dion saat Aleysha tengah diberi perawatan di rumah sakit.
Flashback On
"Aleysha adalah Kakak sepupumu? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal? Kenapa?" tuntut Rafael.
"Aku tak bisa memberitahumu," balas Dion, tetap tenang.
Rafael mendorong tubuh Dion hingga merapat ke dinding, kedua tangannya mencengkram kerah jaket yang tengah Dion kenakan. Dion menatapnya tanpa merasa takut sama sekali.
"Apa maksudmu? Kenapa kau tak bisa memberitahuku, bahwa kau adalah Adik sepupunya Aleysha?" Rafael terus menekan.
Dion menggenggam tangan Rafael yang masih mencengkram kuat kerah jaketnya, lalu menyentakkannya dengan kuat sehingga terlepas. Ia menatap tajam ke arah mata Rafael.
"Kalau aku mengatakannya padamu, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan kembali menghidupkan kedua Orangtua Aleysha yang sudah kau bunuh?" tanya Dion, kejam.
DEG!!!
Rafael terpaku di tempatnya dengan tubuh bergetar hebat, setelah mendengar apa yang Dion ucapkan. Sekujur tubuhnya mendadak dingin, seakan ia baru saja kehilangan semua sel darah merah dari dalam tubuhnya.
"A..., apa..., apa yang kau katakan?" tanya Rafael, terbata-bata.
"Iya Rafael Maurinho! Dia adalah putri dari kedua pengasuhmu yang kau bunuh saat kau masih kecil dulu! Dia..., Aleysha Anggraini, yang kau renggut kebahagiaannya tanpa kau tahu selama ini!" balas Dion, tegas.
Tubuh Rafael melemas, ia tersungkur ke lantai dan berlutut sambil dipenuhi perasaan bersalah dalam hatinya.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahumu sejak awal? Apakah kau akan menyingkirkannya agar dia tetap tak tahu apa-apa? Apakah kau akan menolak memperkerjakannya? Apakah kau tahu bahwa kau juga lah yang telah merenggut butik yang disewanya, demi keinginanmu membangun sebuah departement store di tengah kota! Apa itu yang akan kau lakukan?" cecar Dion.
"Tunggu dulu! Tunggu dulu, Dion!" potong Rafael.
Dion masih menatapnya dengan kejam.
"Bukankah dia ditinggalkan oleh Ibunya? Bukankah dia ditelantarkan oleh Ibunya?" Rafael sungguh ingin tahu.
Dion kembali mendekat ke arah Rafael hingga jarak mereka menjadi begitu dekat, ketika ia membungkuk untuk menyamai Rafael yang sedang berlutut.
"Aku dan keluargaku yang mengarangnya, untuk menutupi semua hal yang terjadi karena dirimu! Wanita yang Aleysha anggap sebagai Ibunya adalah Ibuku! Kami tak punya jalan lain selain membohonginya, agar dia tak mencari-cari tahu tentangmu dan juga perbuatanmu pada Almarhum kedua Orangtuanya!" jawab Dion, geram.
Rafael kembali terdiam dalam perasaan bersalah terhadap Aleysha.
"Tapi aku bisa apa, serapat apapun aku yang berusaha menutupi kenyataan dari Aleysha, nyatanya Allah tetap tidak tertidur! Allah sendiri yang mengantarkan langkah Aleysha ke kantormu untuk melamar pekerjaan, dan Allah sendiri yang menuntunmu untuk menerimanya karena dia mampu membuatmu merasa nyaman dengan kesabarannya! Jadi katakan padaku, apakah Aleysha akan tetap bertahan di sampingmu jika dia tahu kalau kedua Orangtuanya meninggal dunia karena ulahmu, dan Almarhum Ayahmu adalah pelaku yang menutup-nutupi segalanya dari semua orang?"
Dion mundur beberapa langkah ke belakang, menjauh dari sosok Rafael yang masih begitu terpukul dengan kenyataan yang kini menghampiri pria itu. Ia bersandar di dinding dan mencoba kembali mengontrol emosinya yang sudah terlanjur meledak akibat desakan Rafael terhadapnya.
"Aku..., aku menyesal," ungkap Rafael.
"Ya, sudah seharusnya kau menyesali semua itu! Kalau kau tidak melakukan kebodohan, maka Aleysha takkan hidup sebatang kara seperti sekarang!" geram Dion.
Rafael menatapnya. "Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Yang harus kau lakukan sekarang adalah tetap diam, dan biarkan semua berjalan seperti biasanya. Karena jika Aleysha sampai tahu kebenarannya, maka sudah jelas dia akan membencimu seumur hidupnya," jawab Dion.
"Dan apakah hal itu akan mengubah kenyataan yang terjadi di masa lalu? Dan apakah semua akan tetap baik-baik saja seperti yang kau katakan, jika aku menikahinya nanti?"
Dion pun terdiam. "Tidak usah berpikir terlalu jauh, Aleysha belum tentu bisa mencintaimu seperti kau mencintainya!"
Flashback Off
Rafael pun bangkit dari sofa yang tengah ia duduki, berjalan menuju mushala kecil yang ada di ruang kerja itu lalu berlutut di atas sajadahnya dengan wajah yang telah basah oleh airmata.
"Ya Allah, apa yang sudah kulakukan selama ini? Bukannya aku menebus dosa-dosaku, tapi aku malah menyembunyikannya dan berpura-pura tak terjadi apapun. Seharusnya aku mencari tahu segalanya, seharusnya aku tahu kalau mereka memiliki seorang putri. Seharusnya..., seharusnya aku... ."
Rafael tak mampu melanjutkan kata-katanya sendiri. Dadanya begitu sesak dengan kenyataan dari masa lalu yang ia coba untuk tutupi. Semua kesalahan, semua kebodohan, dan semua kecerobohannya saat itu telah membawanya pada hari ini. Hari di mana ia akhirnya tahu, bahwa kedua pengasuhnya yang meninggal dunia itu memiliki seorang putri yang hidupnya begitu malang akibat dari keserakahannya.
"Bagaimana..., bagaimana caranya aku harus menghadapi kenyataan ini, Ya Allah? Apakah aku harus kembali menutupi segalanya, ataukah aku harus mengakui segalanya, pada Aleysha?" Rafael terisak penuh sesal, " aku mencintainya..., bisakah Engkau menjamin bahwa dia tidak akan membenciku jika tahu tentang kebenarannya?"
* * *
Dion menatap Ibunya yang kini menangis setelah ia menceritakan semua yang terjadi pada Aleysha tadi. Wanita itu merasakan penyesalan yang dalam, akibat dari kebohongan yang ia rancang sendiri demi uang suap dari Almarhum Ayah Rafael Maurinho. Kala itu, ia benar-benar membutuhkan uang yang banyak untuk biaya perawatan suaminya yang sakit, sehingga membuatnya gelap mata dan melupakan apa arti kemanusiaan.
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Farah.
Dion terdiam selama beberapa saat.
"Temuilah Aleysha, Bu. Tolong," pinta Dion.
"Dan Ibu harus mengatakan apa padanya? Kau tahu sendiri, Nak, Ibu tidak bisa menghadapinya berlama-lama. Melihat wajahnya membuat Ibu terus mengingat Almarhum Paman dan Almarhumah Bibimu," ujar Farah, seraya kembali terisak.
"Maka seharusnya Ibu tidak menerima uang suap itu! Seharusnya Ibu tidak menutup mata atas kejadian yang menimpa Paman dan Bibi!" bentak Dion, frustrasi.
"Tapi Ibu membutuhkan uang itu, Dion! Ibu harus membayar biaya perawatan Ayahmu saat itu!" balas Farah, tak kalah keras.
"Lalu apa yang Ibu dapat? Apakah Ayah bertahan hidup karena Ibu mendapatkan uang itu dan membayar biaya perawatannya? Apakah Ayah masih ada bersama kita sekarang? Tidak, Bu! Ayah meninggal hanya dalam hitungan jam sejak Ibu menerima uang suap itu! Dan hasilnya adalah, kita menelantarkan seorang bayi perempuan yang seharusnya kita lindungi, dan bahkan Ibu membuat skenario lain yang membuatnya harus bertahan hidup meski sebatang kara!"
Dion meluapkan semua yang selama ini ia pendam di dalam hatinya. Ia merasa sudah tak sanggup lagi menjalani hidup yang penuh dengan.kebohongan, hasil karya dari Ibunya sendiri.
"Apakah Ibu tahu, apa yang diucapkan Aleysha saat aku terkena pukulan hari ini?"
Farah menoleh ke arah putranya dan menatapnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan pada Adik sepupuku? Siapa kau? Kenapa kau memukulnya sampai dia terluka seperti itu? Aku Kakaknya, dan aku tak pernah melukainya sedikit pun!" Dion mengulang apa yang Aleysha katakan siang tadi.
Farah pun tersungkur di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sakit luar biasa.
"Kadang, tanpa kita sadari, kita telah melukai orang lain demi meraih apa.yang kita inginkan. Dan itu, adalah kesalahan."
* * *