Ayzel masih berdiam di mobilnya sambil mengawasi rumah Aleysha yang alamatnya telah ia dapatkan dengan mudah melalui orang suruhannya. Rumah itu sangat sederhana, berukuran kecil, namun sangat asri ketika dipandang. Cat dindingnya berwarna putih gading, di sekitarnya di kelilingi oleh bunga berwarna-warni yang begitu terawat. Tampilannya begitu menyejukkan mata siapapun yang memandangnya.
Jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, namun tak ada sedikitpun tanda-tanda kalau pemilik rumah itu akan segera keluar untuk beraktifitas. Ayzel menyesap kopinya yang sudah mulai mendingin perlahan-lahan. Segigit croisant ia nikmati dalam ketenangan memandangi rumah sederhana itu, hingga tak lama kemudian, terlihatlah pintu rumah yang terbuka.
Sosok Aleysha keluar dari dalam rumahnya, seraya mengunci pintu dan bahkan memeriksanya berulang-ulang. Ayzel mengawasi Aleysha, dan tanpa ia sadari, seulas senyuman tercetak dengan jelas di wajahnya kala sosok Aleysha berbalik, berjalan menuju ke arah pagar. Kecantikannya begitu memukau, penampilannya yang sederhana terlihat sangat mewah, benar-benar melengkapi pesonanya yang begitu kharismatik.
"Luar biasa, dia lebih cantik daripada apa yang kulihat dalam foto kemarin!" puji Ayzel, apa adanya.
Wanita itu terlihat menghentikan sebuah taksi, lalu masuk ke dalamnya. Ayzel pun buru-buru menstarter mobilnya untuk kembali mengikuti ke mana perginya Aleysha hari itu. Ia menjaga jarak aman, agar sopir taksi tak menyadari kalau ada yang mengikuti kendaraannya di belakang. Ayzel tentu tahu betul akan hal itu, sehingga ia tak mau mengambil resiko ketahuan oleh target yang sedang diawasinya.
Taksi yang Aleysha tumpangi berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Ayzel melihatnya membayar ongkos perjalanan, lalu bergegas berjalan ke arah pintu masuk. Usai memarkirkan mobilnya, Ayzel pun dengan cepat mengejar langkah Aleysha yang ternyata menemui seorang wanita di salah satu foodcourt. Ia segera mengambil salah satu tempat duduk kosong yang pas untuk memperhatikan kedua wanita tersebut.
"Maaf karena saya agak terlambat datang, Bu Dokter," ujar Aleysha, merasa tak enak hati.
Ayzel memasang telinganya baik-baik untuk menguping pembicaraan antara Aleysha dan temannya.
"Tidak masalah Al, aku tahu kalau kau harus melaksanakan shalat dhuha terlebih dahulu sebelum keluar rumah," balas Renata.
Aleysha terlihat terkejut, Ayzel tersenyum melihat wajah terkejutnya yang begitu menggemaskan.
"Bagaimana Bu Dokter bisa tahu kalau saya harus melaksanakan shalat dhuha terlebih dahulu, sebelum keluar rumah?" tanya Aleysha.
Renata terkekeh pelan.
"Karena El selalu melakukannya setiap hari di rumah, dan kau adalah wanita yang satu tipe dengannya. Jadi, tentu saja aku bisa menebak apa yang kau lakukan di pagi hari," jawab Renata, jujur.
Aleysha pun tersenyum setelah mendengar jawaban dari Renata. Pesanan makanan dan minuman mereka sudah datang, Aleysha terlihat segera meminum jus jeruk yang dipesannya.
"Aku dengar kau adalah seorang desainer, apakah itu benar?" tanya Renata.
Aleysha mengangguk pelan seraya tersenyum, namun di wajahnya tersirat sebuah rasa kecewa yang berusaha sekali untuk dia sembunyikan dari orang lain. Renata menyentuh tangan Aleysha dan menggenggamnya.
"Aku tak bermaksud menyinggungmu, sayang. Aku tahu kau mungkin kecewa dengan keadaan, tapi percayalah di setiap jalan yang kita lalui, pasti ada hikmah yang terselip di dalamnya. Hari ini mungkin kau kehilangan impianmu, tapi di lain hari, Allah mungkin akan mengembalikan impian itu sekaligus membuatnya menjadi lebih besar dari yang sebelumnya," Renata berusaha menghibur Aleysha sebisa yang ia mampu.
Aleysha pun mengangguk seraya menyeka airmatanya yang hampir jatuh membasahi pipinya. Ia kembali tersenyum, dan kali ini penuh rasa haru.
"Terima kasih Bu Dokter, terima kasih atas dukungannya. Saya sangat menghargai hal itu," ungkap Aleysha.
Renata pun ikut tersenyum.
"Sudah tugasku, untuk menghibur seorang teman yang mau berbagi denganku. Kita berteman, bukan?"
Mereka berdua tertawa pelan satu sama lain. Aleysha pun mengangguk penuh semangat.
"Ya, Bu Dokter, kita berteman," jawab Aleysha.
Mereka keluar dari foodcourt setelah selesai menghabiskan pesanan makanan. Keduanya berjalan di tengah pusat perbelanjaan itu tanpa menyadari kalau mereka sedang diikuti dari belakang. Ayzel tetap menjaga jarak, agar Aleysha ataupun temannya tak merasa curiga.
Mereka masuk ke sebuah toko yang menyediakan berbagai macam jenis kain. Aleysha terlihat begitu antusias, Ayzel tersenyum melihat antusiasme wanita itu. Antusiasme yang berbeda dan tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Sekarang katakan padaku, kain mana yang bagus untuk kujadikan gaun sederhana? Aku berencana memakainya saat pesta ulang tahun GEC, nanti," ujar Renata.
Aleysha pun segera menatap ke sekelilingnya untuk mengamati semua jenis kain yang tersedia. Renata melihat betapa observatifnya Aleysha, sehingga kini ia tahu mengapa Rafael sangat menyukai keberadaan wanita itu di sekitarnya.
"Bagaimana jika kita padukan bahan Maxmara dan Woolpeach? Akan saya gunakan bahan Woolpeach untuk bagian atas, dan diberi hiasan renda yang sederhana. Tujuan saya menyarankan bahan Woolpeach adalah agar gaun yang nanti Bu Dokter pakai tidak terasa panas, dan mampu menyerap keringat agar tidak terjadi ketidaknyamanan. Di bagian bawah akan kita gunakan bahan Maxmara, sebagai ekor gaun agar terlihat lebih mewah," jelas Aleysha mengenai sarannya.
Renata begitu takjub akan penjelasan yang Aleysha utarakan. Ia belum pernah menemukan seorang desainer yang bersedia memberi penjelasan detail seperti yang Aleysha lakukan. Kini, ia tak bisa menutupi rasa kagum akan bagaimana cara kerja Aleysha yang luar biasa.
"Baiklah, aku akan mengikuti apapun saranmu. Kau ahlinya, dan aku hanya akan mengikuti," balas Renata, seraya tersenyum senang.
Aleysha pun membalas senyuman Renata, lalu mulai memilih beberapa warna untuk dipadukan agar serasi. Renata melihat-lihat koleksi renda yang indah di toko tersebut, dan secara tak sengaja melihat sosok Ayzel dari pantulan salah satu cermin toko. Renata tentu saja mengenalinya, ia ingat betul sosok dalam foto yang Dion berikan pada Rafael, ketika mendapati Vini yang berselingkuh.
Buru-buru, Renata mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rafael. Perasaannya sudah tidak enak sekarang, dan ia tak punya pilihan selain menghubungi Adiknya.
Rafael meraih ponselnya di atas meja, acara televisi yang sedang ditontonnya pun segera ia matikan setelah melihat nama Renata pada layarnya.
"Assalamu'alaikum. Hai Ren, tumben kau menelepon dihari libur? Ada apa?" tanya Rafael.
"Wa'alaikumsalam. Dengarkan aku baik-baik, El, ini darurat!" jawab Renata, berbisik.
Rafael pun mendengarkan baik-baik.
"Oke, ada apa? Apa yang darurat?"
"Pria itu..., pria yang berselingkuh dengan Vini... ."
Rahang Rafael mengeras seketika saat mendengar tentang sosok itu lagi.
"Dia mengikuti Aleysha dan aku di pusat perbelanjaan. Aku curiga, kemungkinan Vini menyuruhnya untuk mengikuti Aleysha, El," jelas Renata.
"Kau di mana? Aku akan datang!"
Usia mendapat detail dari Renata, Rafael pun segera meluncur menggunakan mobilnya, sendirian. Ia memacu kecepatannya agar bisa sampai tanpa berlama-lama. Ia tak ingin pria itu menargetkan Aleysha sekarang. Ia tak mau kejadian masa lalu kembali terulang.
Renata terus merapati Aleysha agar tak menjauh darinya. Ayzel tak curiga sama sekali dan malah menganggap itu sebagai hal biasa di antara sesama teman. Hingga tak lama kemudian, Rafael datang dan merangkul Kakaknya dengan cepat. Ayzel terkejut luar biasa saat melihat sosok pria itu.
"Assalamu'alaikum Aleysha, bagaimana hari ini? Ku dengar kau akan membuat satu gaun untuk Renata, apa itu benar?" tanya Rafael sambil menyapa.
"Wa'alaikumsalam, Pak. Itu benar, saya akan membuatkan satu buah gaun untuk Bu Dokter," jawab Aleysha.
"Pilihlah warna lainnya, buat juga satu gaun untukmu sendiri. Kalian berdua harus hadir di acara pesta ulang tahun GEC, dan wajib untuk tampil dengan cantik," perintah Rafael.
Renata pun segera menarik tangan Aleysha untuk kembali berbelanja.
"Ayo..., El yang akan membayar semuanya hari ini!" ajak Renata dengan cepat.
Rafael pun terkekeh saat tahu kalau Renata tak menyia-nyiakan kesempatan emas kali itu. Mata Rafael menatap ke arah cermin dan melihat sosok Ayzel dengan jelas. Pria itu masih saja mengikuti sosok Aleysha, hingga Rafael meyakini kalau apa yang Renata katakan tadi adalah benar. Vini pasti menjadi dalang di balik kemunculan laki-laki sialan itu.
Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dion sambil terus berpura-pura tak tahu kalau Ayzel sedang memperhatikannya. Ayzel pun mencibir dari kejauhan.
"Dasar pria bodoh! Masih saja dia bersikap sama seperti dulu. Mengurus bisnis di saat wanita yang seharusnya dia perhatikan ada di sampingnya!"
Aleysha dan Renata telah selesai berbelanja, Rafael pun mematikan ponselnya lalu menyambut kedua wanita itu kembali.
"Jadi, kita akan ke mana sekarang?" tanya Rafael.
"Toko sepatu! Aku harus mencari sepatu yang cocok untuk gaunku nanti," jawab Renata sambil berjalan lebih dulu dari Rafael dan Aleysha.
Rafael kembali terkekeh pelan, ia menatap ke arah Aleysha yang hanya tersenyum sambil diam berjalan di sampingnya.
"Belilah juga satu untukmu, Aleysha," ujar Rafael.
"Ah..., sebaiknya tidak Pak Rafael. Saya belum menerima gaji bulan ini, dan saya tidak bisa memakai uang tabungan untuk membeli barang yang bukan kebutuhan pokok. Lagipula, saya masih punya sepatu yang lama, di rumah," balas Aleysha.
Rafael terdiam selama beberapa saat. Ia tak pernah berpikiran seperti yang Aleysha lakukan, di sepanjang hidupnya. Semua yang ada di dalam kehidupannya sangatlah mudah, tinggal tunjuk dan akan langsung menjadi miliknya. Tak perlu bersusah payah mengumpulkan uang, tak perlu memikirkan apakah tabungan sudah bertambah, dan bahkan tak perlu bertanya harga saat berbelanja. Semua bisa ia jangkau dengan mudah, namun tidak begitu bagi Aleysha.
"Aku mohon Aleysha, belilah satu sepatu untuk dirimu. Jangan kecewakan Kakakku, dia tidak suka jika berbelanja dengan teman, tapi hanya dia yang membeli. Jangan pikirkan berapa harganya, aku yang akan membayarnya untukmu. Kau hanya perlu membuat Kakakku senang hari ini," pinta Rafael, agar Aleysha tak menolak dan tak tersinggung.
Aleysha pun mengerti apa yang Rafael maksud, lalu dengan cepat mengangguk untuk menyetujui apa yang Rafael pinta padanya. Mereka memasuki galeri sepatu terbaik, di mana pada galeri tersebut hanya orang-orang pemilik blackcard saja yang bisa masuk ke sana.
Ayzel tertahan di pintu masuk galeri. Ia tak diberi izin karena tak memiliki blackcard. Dion muncul tak lama kemudian dan menunjukkan blackcard-nya pada penjaga. Sebelum masuk, ia menoleh ke arah Ayzel beberapa saat dan seakan-akan berusaha mengenali siapa pria yang ada di sampingnya itu.
"Kau..., Ayzel Faruq, 'kan?" tanya Dion sambil mengerenyitkan keningnya.
Wajah Ayzel tentu saja memucat seketika, ia tak menduga kalau Dion - bawahan setia Rafael - akan ikut datang ke pusat perbelanjaan itu.
"Kenapa berdiri di sini? Kau tidak masuk ke dalam?" Dion masih berpura-pura tak tahu.
"Maaf sekali Tuan Dion Ahmed, pria di samping anda tak memiliki blackcard sehingga tidak bisa masuk ke dalam galeri," jelas penjaga.
Dion pun ternganga selama beberapa saat lalu mulai tertawa setelahnya.
"Ya ampun Ayzel, sudah berapa lama kau menjadi gundik seorang Nyonya Vini Indira Larasati? Lima..., atau enam tahun, kalau aku tidak salah ingat. Dan kau masih saja tak diberi apapun oleh Nyonyamu itu? Bukankah setiap malam kau selalu melayaninya? Bukankah sangat keterlaluan kalau dia sampai tak bisa memberimu blackcard untuk masuk ke tempat-tempat mewah?" ejek Dion, tepat sasaran.
Rahang Ayzel mengeras luar biasa, kedua tangannya mengepal dengan erat. Ingin rasanya ia memukul wajah Dion pada saat itu juga, namun ia tak mau lebih malu lagi di depan umum.
Dion mendekat untuk mempersempit jarak di antara mereka.
"Saranku..., mengemislah di kakinya sekalian. Siapa tahu dengan begitu, kau akan mendapatkan semua yang bisa menjamin hidupmu," bisik Dion, tepat di telinga Ayzel.
BUGH!!!
"Astaghfirullah!!! Dion!!!" teriak Aleysha saat melihat Dion yang terkena pukulan.
Wanita itu berlari keluar galeri dan segera membantu Dion berdiri sekaligus menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Rafael dan Renata menyusul langkah Aleysha dengan cepat. Aleysha pun menoleh ke arah Ayzel dengan wajah memerah karena marah.
"Apa yang kau lakukan pada Adik sepupuku??? Siapa kau??? Kenapa kau memukulnya sampai dia terluka seperti itu??? Aku Kakaknya, dan aku tak pernah melukainya sedikit pun!!!" cecar Aleysha, dengan suara bergetar luar biasa.
Ayzel pun terpaku di tempatnya saat mendengar apa yang Aleysha tekankan. Ia tak menduga, kalau Dion adalah Adik sepupu wanita itu. Renata mendekat dan mencoba merangkul Aleysha, Rafael menghalangi tatapan Ayzel ke arah Aleysha dengan tubuhnya.
"Kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau mengikuti kami?" cecar Rafael.
Aleysha menatap ke arah Rafael sambil tetap mengurus hidung Dion yang masih berdarah.
"Apa Bapak mengenal orang ini?" tanya Aleysha
"Ya, aku mengenalnya. Dia laki-laki b***t yang meniduri tunanganku dan aku sendiri yang mendapatinya di hotel saat mereka sedang berzina!" jawab Rafael, dengan suara yang menunjukkan kalau dirinya merasa geram pada Ayzel.
Aleysha menutup mulut dengan tangannya karena merasa terkejut atas apa yang Rafael katakan. Ayzel menyeringai tepat di hadapan Rafael dan Aleysha.
"Itu karena kau tidak bisa memperhatikan tunanganmu dengan baik, t***l!" seru Ayzel, "kalau kau bisa memberinya perhatian dan kehangatan, dia tidak mungkin berselingkuh di belakangmu! Kau terlalu sok alim hingga tak mau menyentuh atau menidurinya! Jadi, apa salahnya jika aku menjadi yang pertama mencicipi tubuhnya?" ejeknya.
Rahang Rafael kembali mengeras, ia benar-benar geram dengan tingkah Ayzel yang sangat tak tahu malu.
PLAKKK!!!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Ayzel. Rafael, Renata, dan bahkan Dion pun terpana selama beberapa detik saat hal itu terjadi. Mereka sama sekali tak menduga, kalau Aleysha akan menampar pria itu.
"Tutup mulutmu!" bentak Aleysha, "jangan pernah menghina atasanku seakan-akan dia telah melakukan dosa padamu! Kau yang telah merusak hidupnya! Kau adalah pembawa masalah! Jadi tolong, pergi jauh-jauh dari Pak Rafael dan bawa semua kesialanmu itu!" usir Aleysha.
Penjaga keamanan pun segera menyeret Ayzel agar menjauh dari mereka semua. Aleysha pun terjatuh di lantai setelah mengeluarkan semua kemarahannya atas apa yang terjadi.pada Dion. Tubuhnya lemas, Rafael panik melihatnya, namun tentu tak bisa melakukan apapun karena ia bukan mahram bagi wanita itu. Renata dan Dion pun segera meraihnya dengan cepat sebelum Aleysha benar-benar hilang kesadaran.
"Tolong bawakan semua barang belanjaan kami ke alamat rumahku. Kami harus segera ke rumah sakit," pinta Rafael.
"Baik, Pak Rafael," jawab pegawai galeri.
Rafael mengambil alih kemudi, agar Dion bisa ikut duduk di belakang dan menjaga Aleysha. Renata telah menghubungi rumah sakitnya agar segera menyiapkan ruangan untuk Aleysha sebelum mereka tiba di sana.
"Bertahanlah Aleysha, tetaplah sadar," batin Rafael, dipenuhi kecemasan.
* * *