Dion terus mengawasi tindak-tanduk Rafael yang begitu gelisah, meskipun dia hanya duduk di sofa sejak tadi. Wajahnya menunjukkan ekspresi patah hati mendalam sejak pria itu mendengar penolakan dari mulut Aleysha. Kini, Dion-lah yang terkena imbasnya dan tak bisa pulang karena harus mendengarkan semua keluh kesah Rafael.
"Apa salahku? Aku bahkan tak pernah berbuat buruk padanya selama ini," ujar Rafael.
Dion segera membalas kata-kata Rafael di dalam hatinya.
"Tak pernah berbuat buruk padanya? Lalu siapa manusia yang selalu saja membuat Aleysha berlari-lari dari gedung bertingkat hanya demi menyambut kedatanganmu, di kantor?"
Rafael kembali menatap keluar jendela.
"Aku bahkan tak pernah merusak suasana hatinya ketika dia sedang bekerja," tambah Rafael.
Dion mengerenyitkan keningnya.
"Lalu siapa manusia yang sering membuat Aleysha menarik nafas dalam-dalam hanya untuk menyabarkan diri ketika harus menghadapi mood-mu yang terus saja berubah-ubah?" sahut batin Dion.
"Apa salahku, Dion? Apa salahku?" rajuk Rafael, sambil melempar-lempar bantal sofa yang ada di sekelilingnya ke sembarang arah.
Renata datang tepat disaat kekacauan dalam rumah itu mulai kembali terjadi. Dion tersenyum ke arah Renata sambil memeragakan bahasa tubuh yang sedikit-banyaknya berarti 'aku tak sanggup lagi menghadapi bayi besar itu!'. Renata pun ikut tersenyum ke arah Dion dan membalas bahasa tubuh pria itu dengan sangat bijaksana.
"Bersabarlah," pesannya.
Membuat Dion kembali mengucapkan sumpah serapah yang panjang, namun hanya di dalam hatinya.
Renata mendekat ke arah pusat kekacauan yang sedang terjadi, lalu menatap wajah Rafael yang terlihat begitu frustrasi.
"Wajahmu tidak terlihat tampan sekarang," ujar Renata.
Rafael pun terlonjak dari posisinya.
"Apakah mungkin Aleysha menolakku karena aku tidak terlihat tampan, tadi sore?" tanya Rafael, penuh dengan harapan.
Renata pun segera menepuk keningnya dengan penuh rasa lelah akibat kebodohan Adiknya. Entah mengapa, Rafael selalu saja tak menyadari kalau terkadang wanita tak mempedulikan ketampanan, kekayaan, ataupun popularitas.
"Berhentilah, El, cukup," pinta Renata, yang ikut frustrasi.
"Kenapa? Kenapa aku harus berhenti?" Rafael tak mengerti.
Renata duduk di sampingnya setelah menyingkirkan bantal-bantal sofa yang berserakan. Rafael menatap Kakaknya dengan serius.
"El, dengarkan aku baik-baik," Renata menggenggam tangan Rafael, "ada kalanya kita tidak bisa memiliki apa yang kita mau dengan mudah. Kita harus bersusah payah terlebih dahulu, untuk bisa meraih apa yang kita mau, tapi itu pun terkadang masih belum menjamin kalau kita akan mendapatkannya."
Rafael terdiam. Dion mengamati ekspresi pria itu sekarang, setelah mendapat pengertian dari Renata. Semua tiba-tiba menjadi hening, tak ada satupun yang berani membuka suara.
"Tapi aku menginginkannya," desis Rafael.
"Kau menginginkannya karena apa, El? Apakah karena dia baik hati, penyabar, dan tak pernah melawan perintahmu?" Renata ingin tahu.
"Karena aku merasa nyaman saat bersamanya," jawab Rafael, "karena aku merasa nyaman saat melihatnya, dan hatiku tenang saat dia ada di dekatku."
Kini Dion melirik ke arah Renata, ia ingin tahu bagaimana tanggapan wanita itu atas jawaban yang diberikan oleh Adiknya.
"Aku bukan Ayah, Ren, jika itu yang kau takutkan. Aku bukan sosok itu, sama sekali bukan."
Suara Rafael kembali mendingin seperti biasanya, hingga membuat Dion merinding seketika.
"Bukan itu maksudku, El. Aku tidak pernah mencoba membanding-bandingkan dirimu dengan sosok Ayah kita. Aku hanya ingin tahu, apa alasannya sehingga kau begitu menginginkan Aleysha? Apakah salah jika aku ingin tahu apa yang Adikku rasakan?"
Rafael kembali terdiam, Renata kini mendekat untuk memeluk tubuh Adik kesayangannya dengan erat.
"Sampai aku mati, El, tidak akan pernah satu kali pun aku membanding-bandingkan dirimu dengan sosok itu. Kau adalah Adikku, kau adalah orang yang berbeda," janji Renata, sepenuh hati.
Rafael mengangguk seraya membalas pelukan Renata dengan erat.
"Aku hanya ingin memiliki kesempatan untuk kembali memperbaiki apa yang pernah patah di dalam hatiku. Karena aku pernah merasakan patah, sepatah-patahnya, maka kini aku hanya akan jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya pada pilihanku yang terakhir," ungkap Rafael, jujur.
Renata menganggukan kepalanya.
"Ya, aku tahu bahwa kau akan seperti itu. Aku percaya padamu, El. Aku tidak meragukanmu sama sekali," balas Renata.
Dion bernafas lega, karena pada akhirnya Rafael tahu bahwa dirinya benar-benar harus berlabuh. Ia membuka ponselnya untuk melihat apa kegiatan Aleysha malam ini melalui story w******p. Aleysha terlihat membagikan foto berisi beberapa warna kain, disertai caption pada foto tersebut.
Kain sutra tafeta. Entah yang mana akan kupilih.
Dion tersenyum beberapa saat, sebelum akhirnya mengirim balasan dari story yang sedang dilihatnya.
Orange..., kau akan terlihat seperti jeruk.
Dion kembali menyimpan ponsel ke dalam saku jas yang masih dikenakannya. Renata telah beranjak ke dapur untuk membuat makan malam. Rafael ternyata telah memperhatikan Dion sejak tadi saat masih melihat ponselnya.
"Siapa yang kau hubungi malam-malam begini?" tanya Rafael.
"Aleysha..., aku melihat story w******p-nya dan memberinya sedikit pencerahan," jawab Dion, jujur.
Mata Rafael membola seketika saat mendengar jawaban dari Dion yang begitu apa adanya.
"Apa???"
Renata terlonjak di dapur saat mendengar suara Rafael yang meninggi.
"Kau punya nomor w******p-nya selama ini???" Rafael benar-benar terlihat tak percaya.
Dion pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum salah tingkah.
"Aku bahkan berteman di akun f*******:, Twitter, dan juga i********:-nya, Pak," balas Dion.
"Apa???"
Sekali lagi, Renata kembali terlonjak di dapur karena kaget akibat suara Rafael yang semakin meninggi.
"Berikan ponselmu padaku, ambil ponselku sebagai gantinya," pinta Rafael, sambil berusaha merebut ponsel milik Dion.
Dion pun segera berusaha mempertahankan ponselnya dengan sekuat tenaga. Ia tak mau Rafael berhasil mendapatkan ponselnya dengan cara yang begitu mudah.
"Maaf Pak, aku tidak bisa memberikannya pada Bapak. Ponsel ini milikku, dan tidak akan menjadi milik Bapak," ujar Dion.
Rafael tak mau berputus asa.
"Bertahanlah..., aku akan mulai menjalankan saran Kakakku yang sudah dia sebutkan tadi, bahwa kita harus bersusah payah terlebih dahulu, untuk bisa meraih apa yang kita mau!" seru Rafael.
Kedua pria itu akhirnya saling memperebutkan ponsel hanya karena perkara nomor w******p beserta akun media sosial lainnya yang dimiliki oleh Aleysha. Renata sampai terheran-heran melihat tingkah keduanya saat keluar dari dapur sambil membawa semangkuk lasagna.
"Aku yakin sekali, ini bukan konsep bersusah payah yang aku maksud, tadi!" geram Renata, dengan suara pelan.
* * *
Seorang pria berjalan menuju sebuah ruangan, di mana seorang wanita telah menunggu kedatangannya di sana, sejak tadi. Pria itu tersenyum penuh pesona kala sang wanita menatap ke arahnya.
"Hai sayangku, apakah kau merasa rindu sehingga memanggilku ke sini?"
Vini masih menatapnya dengan datar.
"Tutup mulutmu, Ay! Aku sudah tidak ingin mengungkit yang pernah terjadi di antara kita enam tahun yang lalu!" tegas Vini.
Ayzel menyeringai dengan tampan seraya membuka kacamata hitamnya.
"Kau boleh melupakannya, tapi bekasnya tetap takkan menghilang dari dirimu, sayang. Kau tak bisa mengelak kalau aku adalah pria pertama yang mencicipi tubuh indahmu itu, dan berhasil membuatmu menikmatinya," ujar Ayzel, sangat santai.
"Cukup Ay! Aku bilang cukup!"
Ayzel mengangkat kedua tangannya dan menuruti apa yang Vini inginkan. Ia pun duduk di sebuah sofa berwarna maroon sambil membuka sekaleng minuman soda yang tersaji di atas meja.
"Aku ingin kau mencari tahu dengan lengkap mengenai seorang wanita bernama Aleysha Anggraini. Jangan ada satu informasi pun yang terlewat mengenai dirinya," perintah Vini.
Ayzel memperhatikan sosok wanita yang ada di dalam foto dari tangan Vini. Aleysha terlihat begitu anggun di dalam foto itu dengan gaun sutra berwarna peach berhias renda-renda putih di beberapa bagian. Hijab yang dikenakannya juga menjadi nilai tambahan bagi kecantikan alami yang wanita itu miliki.
"Hmm..., dia sangat cantik," puji Ayzel, tanpa melebih-lebihkan.
Vini pun berbalik untuk memastikan kalau Ayzel benar-benar sedang memuji sosok Aleysha di dalam foto itu. Seketika ia menjadi semakin geram, karena tak hanya perhatian Rafael saja yang teralihkan, Ayzel pun begitu. Ia pun bergegas merebut foto itu dari tangan Ayzel dengan kasar.
"Hei..., ada apa denganmu?" tanya Ayzel, yang tampak kaget dengan kelakuan brutal Vini.
"Jangan memuji-mujinya di depanku!!!" bentak Vini, dengan sangat keras.
Ayzel mengerenyitkan keningnya penuh rasa heran.
"Ada apa denganmu, Vin? Apa yang begitu salah di hidupmu, sehingga kau harus begitu marah hanya karena aku memujinya?"
"Dia adalah penyebab diriku dipermalukan oleh Rafael Maurinho, kemarin! Wanita sialan ini, adalah sekretaris sekaligus calon istri dari Rafael! Rafael bahkan dengan berani membanding-bandingkan aku dan wanita itu di depan semua bawahanku! Aku membencinya, Ay, dan aku tidak mau kau memuji-mujinya di depanku!"
"Tapi kenyataannya dia memang lebih cantik dari dirimu. Aku pria normal, dan tentu aku tahu mana yang berkualitas dan mana yang tidak," ejek Ayzel.
Vini semakin merasa marah. Ia meremas-remas foto Aleysha dan melemparnya ke lantai untuk diinjak-injak. Ayzel berhasil memprovokasinya dengan sempurna, sehingga Vini benar-benar murka sekarang.
"Tidak ada yang boleh membanding-bandingkan aku dengan wanita rendahan itu!!! Aku tidak mau dibanding-bandingkan dengan dia!!! Dia tidak sederajat denganku!!! Dia hanya sampah, yang harus segera kusingkirkan agar bisa kembali memiliki Rafael Maurinho!!!" teriak Vini, membabi buta.
Nafas Vini naik-turun akibat emosi yang menguasainya. Ayzel bangkit dari sofa, lalu berjalan untuk kembali meraih foto Aleysha yang sudah tak berbentuk seperti tadi, dari lantai. Ia meluruskan foto itu kembali dan melihat sosok Aleysha sekali lagi.
"Oke, aku akan mencari tahu tentangnya," Ayzel akhirnya menyetujui apa yang Vini mau.
Pria itu kemudian berbalik untuk pergi keluar dari ruangan Vini. Setelah menutup pintunya, ia kembali menatap foto Aleysha yang masih dipegangnya.
"Dasar jalang tak tahu diri! Tentu saja Rafael Maurinho akan membanding-bandingkan dirimu dengan wanita anggun nan cantik ini. Siapa kau, sehingga ingin derajatmu terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan calon istri yang Rafael pilih?" cibir Ayzel.
Flashback On
Pesta ulangtahun GEC yang ke-38, tahun 2014.
Acara malam itu terselenggara begitu meriah. Selain untuk merayakan ulangtahun GEC, acara itu terselenggara untuk merayakan hubungan kekeluargaan antara kedua Orangtua Rafael dan juga kedua Orangtua Vini sebagai pemilik B&Z Corp. Rafael dengan bangga menggandeng Vini - yang masih berstatus tunangannya - dan memperkenalkan wanita itu kepada para kolega bisnisnya. Vini terlihat sangat cantik malam itu, namun senyum di wajahnya terlihat sangat penuh dengan keterpaksaan.
Ayzel memperhatikannya dari jauh sambil menikmati minuman yang disajikan oleh para pelayan. Vini terlihat semakin muram dan tak lagi tersenyum saat Rafael mulai kembali fokus membicarakan bisnis dengan para koleganya. Wanita itu mulai menjauh perlahan dari Rafael, dia melangkah menuju ke lantai dua, tempat terletaknya balkon terbuka gedung itu. Ayzel mengikuti langkahnya perlahan agar tak ada yang melihatnya. Ia mendekat setelah berhasil menyusul langkah Vini.
"Apa yang dilakukan seorang wanita cantik sendirian di sebuah balkon terbuka?" tanya Ayzel, berbasa-basi.
Vini pun menoleh dengan cepat saat mendengar suara pria itu. Ia tersenyum menawan, penuh dengan godaan bagi Ayzel untuk beranjak semakin dekat ke arahnya.
"Menghindari suasana penuh kebosanan yang selalu dibawa oleh tunanganku, itulah yang kulakukan," jawab Vini.
"Ah..., jadi kau adalah sosok yang kurang diperhatikan oleh tunanganmu sendiri?"
Vini membiarkan Ayzel menatapnya dari jarak yang sangat dekat.
"Kurang lebih, seperti itu," balas Vini.
"Dia tunanganmu, tapi mengapa sepertinya kau terlihat tidak menyukainya?" pancing Ayzel.
"Itu karena kami hanya dijodohkan demi upaya penyatuan dua keluarga besar, dan juga dua perusahaan besar. Jangan tanya bagaimana perasaanku pada Rafael, jujur saja, hubungan kami sangat hambar. Dia pria yang memegang teguh prinsip islami, bahwa tidak ada hubungan intim antara wanita dan pria sebelum pernikahan. Dia menyatakan dengan sangat jelas di hadapanku, bahwa dia tidak mau berzina! Cih! Sok alim sekali dia! Bahkan kau bisa lihat sendiri hasil dari betapa alimnya seorang Rafael Maurinho terhadap gaun yang kupakai malam ini! Beruntung dia tak memintaku memakai hijab."
Vini menunjukkan gaun panjangnya yang besar, dan tak membentuk pada tubuh indahnya. Wanita itu mengejek prinsip Rafael dengan begitu enteng, seakan-akan sikap Rafael yang mempertahankan kesucian calon istrinya adalah kesalahan besar. Bahkan wanita itu menunjukkan kalau dia tidak suka jika Rafael terlalu taat terhadap apa yang ditetapkan oleh agama Islam.
Ayzel pun menyodorkan gelas minuman miliknya pada Vini, menawarkan untuk minum satu gelas berdua secara tidak langsung. Vini pun menyambutnya, ia benar-benar meminum minuman yang Ayzel tawarkan dari gelas yang sama. Ayzel pun tersenyum saat tahu kalau Vini menyambut uluran tangannya.
"Apakah Rafael takkan marah jika tahu kalau tunangannya yang cantik ini berbagi minuman di gelas yang sama dengan pria lain?" goda Ayzel.
Vini tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Ayzel dengan begitu menggoda.
"Dia akan marah, tapi hal itu hanya akan terjadi jika dia tahu. Selama dia tidak tahu apa-apa, maka aku dan kau bisa berbagi minuman di gelas yang sama, berbagi makanan di sendok yang sama, dan bahkan berbagi kehangatan di ranjang yang sama," jawab Vini, sambil menyeringai licik.
Ayzel pun menyeringai penuh daya tarik di mata Vini. Sejak itulah, mereka mulai menyulut bara di belakang Rafael.
Flashback Off
Ayzel kembali menyeringai saat mengingat momen di mana kebersamaannya dengan Vini baru saja dimulai. Sayangnya, wanita itu mencampakkan Ayzel ketika hubungan gelap mereka akhirnya diketahui oleh Rafael. Vini akhirnya dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan study di sana, sekaligus untuk menutupi rasa malu keluarganya atas kelakuan buruk putri mereka satu-satunya.
Kini, setelah enam tahun berlalu, dengan mudahnya Vini mengabaikan kehadiran Ayzel seakan-akan pria itu ada hanya untuk menjadi kacungnya saja. Ayzel tentu merasa sangat geram, terlebih alasan Vini mengabaikannya adalah karena kini Rafael akan segera menikahi seorang wanita, yang sudah jelas derajatnya lebih tinggi daripada Vini.
"Lihat saja Vini, akan kuperlihatkan padamu bagaimana penderitaan yang sesungguhnya," gumam Ayzel, sambil menatap foto Aleysha dengan lembut.
* * *