Hari ini adalah peringatan kematian Ratu Edelweis, seluruh rakyat kerajaan Rishley sedang berduka, menghadiri pemakaman Ratu Edelweis yang terawat sangat rapih dan cantik dengan bunga yang harum dan cantik diatas batu nisan. Tak hanya rakyat Kerajaan Rishley saja yang datang, seluruh kerajaan di wilayah Barat juga menghadiri pemakaman untuk memperingatkan hari kematian adik kandung Katrine, Ratu Edelweis.
“Nieva, kita sambut tamu lainnya yuk.” ajak Putri Solana mengenggam tangan Nieva mengajaknya pergi untuk menghampiri kerajaan Stefly yang baru saja datang, mereka berdua berjalan menghampiri ketiga pangeran Stefly yang baru saja datang
“Hai, Putri Solana”sapa Pangeran Marquez memberikan senyuman menyapannya.
Putri Solana tersenyum dengan pipi merona merah ia terus menggaruk pelipisnya dengan sangat canggung, tak berani untuk menatap laki-laki yang ada didepannya
“Apakah rambutmu gatal, Putri Solana?” Ledekan Pangeran Niguel membuat Putri Solana semakin dibuat malu ia menjadi kesal dan langsung memukul Pangeran Niguel
“Diamlah!.” Kesal Putri Solana ia kembali menjaga sikapnya agar tetap anggun.
Nieva terus menatap kedua mata Pangeran Alarico seakan menantangnya untuk menyapannya lebih dahulu
“Sudah sangat lama tidak bertemu ya,Nieva” tatapan menantang itu berhasil membuatnya menang membuat seorang laki-laki dengan sikap tak peduli yang ia miliki menyapannya duluan
Sapaan itu membuat Nieva tersenyum menyeringai tergambar jelas tatapan marah yang ia berikan meminta sebuah kejelasan dari hubungan mereka berdua.
“Nieva, tunggu!” Alarico tak tinggal diam, ia tak mau kehilangan wanita yang sangat ia sukai untuk kedua kalinya lebih baik ia mengalah didalam tantangan yang diberikan kekasihnya.
Pangeran Niguel terlihat sangat ketakutan setelah mendapati matanya melihat seorang wanita dengan tudung hitam untuk menutupi wajanya berjalan masuk ke dalam pemakaman
“Kakak, lihatlah itu wanita yang menyeramkan itu” Pangeran Niguel merengek takut
Melihat tingkah Niguel yang ketakutan itu membuat Putri Solana dan Pangeran Marquez ikut menoleh ke arah yang menjadi alasan adiknya itu ketakutan, mereka melihat seorang wanita dengan gaun hitam panjang yang menutup seluruh tubuhnya bahkan tangan hingga kakinya,serta tudung hitam yang menutup wajahnya.
Putri Solana bersikap dengan sangat tenang “Tenang saja. Dia adalah kerabat dekat ibuku.” Jelasnya, Putri Solana yang tertawa melihat Pangeran Niguel yang masih dalam ketakutan
“Kerabat ibumu kenapa harus menutupi seluruh tubuhnya dengan kain hitam seperti itu?” Tanya kekasihnya yang merasakan kejanggalan setelah mendapati matanya melihat wanita tersebut
“Itu adalah gaun yang panjang dan ia menutupi wajahnya dengan tudung, dia memang seperti itu”jawab Putri Solana meskipun ia sama sekali tidak pernah menemui wanita yang berhasil menjadi bahan perbincangan mereka
Melihat kekasihnya yang seolah biasa saja menanggapi wanita misterius itu membuat Pangeran Marquez berpikir kalau kekasihnya mengetahui banyak informasi mengenai wanita misterius itu“Apa kau tau dia berasal dari Kerajaan mana?. Aku tidak pernah melihatnya”
“Ibu Ratu Katrine tidak banyak bicara padaku, jadi dia hanya mengatakan kalau ia adalah kerabat ibuku itu saja.”jawabnya dengan singkat berbohong demi membuat suasana tidak nyaman itu cepat berlalu.
“Ibu Ratu Katrine, apakah dia sosok Ratu yang galak?.”pertanyaan Niguel memanglah selalu keluar dari topik pembicaraan
“Tidak, tapi aku saja yang tidak mau banyak bicara padanya.”Putri Solana kembali membohongi dirinya ia tidak ingin terus terbawa kedalam kesepian yang semakin membuatnya sedih
“Kenapa, dia kan ibumu.”
“Apa kau pernah bicara banyak dengan ibu Ratu Alise?.”Putri Solana yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Niguel membuatnya kembali pertanyaan yang menurutnya sulit untuk dijawab
Niguel terkekeh “tidak,” ia segera mengakhiri pembicaraan dengan kembali ke bahasan topik “Lihatlah, wanita seram itu memeluk ibu Ratu Katrine.”
“Mereka terlihat sangat dekat, ya. Tidak biasanya, ibuku sama sekali tidak mau dipeluk oleh siapapun tapi kenapa ibuku mau dipeluk bahkan dengan sangat erat olehnya, seperti seorang saudara saja.”
“Apa jangan-jangan, ibumu memiliki saudara lainnya yang diasingkan karena terlibat masalah?.” Praduga Pangeran Marquez semakin membuat Putri Solana menjadi penasaran, ia segera mendatangi ibu Ratu Katrine yang menangis di depan wanita menyeramkan itu
“Maafkan aku menyela pembicaraan kalian berdua, ibu bisakah kita pergi sebentar?” Pinta Putri Solana mengenggam tangan ibunya mengajaknya untuk pergi menghindari wanita yang masih menjadi misteri untuk mereka bertiga
“Putriku, bisakah menunggu sebentar?. Ibu harus-“
Putri Solana memotong kalimat pembicaraan ibunya “Kumohon, ibu.”Putri Solana menatap ibunya dengan tatapan memelas
Wanita menyeramkan itu memegang pundak Ratu Katrine “Dia sangat membutuhkanmu, Ratu Katrine.”
Setelah mendengar suara wanita menyeramkan itu, membuat Putri Solana sontak bertanya pertanyaan yang sedikit menyinggung perasaan
“Jadi kamu bisa bicara ya.”
Wanita menyeramkan itu menepuk pundak Putri Solana terdengar suara tawanya, ia kembali menjadi sangat serius setelah memegang pundak Putri Solana
“Jadilah seorang Putri yang baik, ya.” Amanah yang diberikan oleh wanita yang bahkan ia tak mengenalnya membuatnya terus mengingat amanah tersebut, wanita itu berhasil membuat Putri Solana mendengarnya dengan baik
Wanita menyeramkan itu segera pergi berjalan meninggalkan pemakaman
“Apa yang ingin kamu bicarakan, Putriku?.”
“Siapa dia bagi ibu?.”
“Maksudnya?, Aku tidak mengerti anakku.”
“Siapa wanita menyeramkan itu?.”
“Wanita menyeramkan?.” Sontak Ratu Katrine tertawa sangat geli mendengar anaknya memanggil wanita yang terlihat dekat dengannya sebagai wanita menyeramkan
“Ibu, berhenti tertawa dan jawab pertanyaanku.”
Belum sempat menjawab, Nieva segera datang dan mengenggam tangan Putri Solana ia berhasil membawanya pergi
“Kita harus menyambut tamu yang lainnya, Putri Solana.”
Mereka berjalan pergi meninggalkan Ratu Katrine yang segera di hampiri Ratu Alise untuk mengucapkan bela sungkawa padanya atas kematian saudaranya.
“Kenapa kamu mengacaukan pembicaraan aku dengan ibuku, kita baru saja memulai pembicaraan panjang.”
“Aku janji kamu akan bicara dengannya sepulang dari pemakaman.”
Marquez dan Niguel mengikuti kemana arah pergi wanita menyeramkan itu, perjalanan mereka terhenti setelah wanita tersebut berhenti didepan Raja Erando
“Kenapa kamu berhenti kak?.” Bisik Pangeran Niguel yang sudah salah paham dengannya
“Diamlah, dan lihat ke depan.”
Mereka berdua sangat bingung dan tersentak setelah melihat adegan membingungkan, wanita menyeramkan itu berpelukan dengan seorang laki-laki yang mereka sebut ayah.
“Ayah selingkuh dengan wanita menyeramkan itu, kak?!."
Marquez menatap mereka berusaha untuk tidak memiliki pemikiran buruk terhadap ayahnya, “Tidak mungkin, aku sangat yakin ayah memiliki alasan atas apa yang baru saja ia lakukan.”