Belum sempat waktu untuk mereka melarikan diri, Raja Erando sudah mendatangi mereka berdua menarik kedua tangan pangeran yang masih sangat kecewa terhadap dirinya. Raja Erando menghela nafas panjang“aku ketahuan deh.” Bukannya ketakutan karena telah ketahuan berselingkuh, Raja Erando justru terlihat seakan tak terjadi apapun. Marquez dan Niguel membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat
“Maaf atas kelancangan kami sudah melihatmu berselingkuh, ayah."
“Selingkuh?,” Raja Erando tertawa sangat geli ia merangkul pundak kedua anaknya dengan sikap tenang
“Apakah kalian tidak tertarik dengan identitas wanita yang kalian sebut sebagai selingkuhanku itu?.” lanjut Raja Erando membahas mengenai wanita yang sebagai selingkuhannya itu.
“Kami sudah tau ayah, kau berselingkuh dengan wanita yang merupakan saudara lain dari Ratu Katrine.”Niguel melirik ayahnya dengan ekspresi kecewa dan marah
“Dimana Kakak kalian?. Kenapa kalian meninggalkannya.”
Belum lama Erando bertanya, pangeran yang ia cari kini sedang berjalan menuju ke arahnya dengan ekspresi sedikit sedih
“Darimana saja kamu, anakku sayang.”Raja Erando menepuk pundak Alarico
“Aku bukanlah anakmu!!.” Alarico menepis tangan Erando dari pundaknya ia memasang wajah dendam.
“Kakak, kenapa sangat kasar kepada ayah?. Apakah kakak juga sudah tau kalau ayah selingkuh dengan saudara lain dari Ratu Katrine.”
“Tak usah diperjelas juga, anakku.” Raja Erando memegang kepalanya, bersiap menerima makian dari anak pertamanya
“Aku sudah mengetahuinya, wajar kalau kau tidak pernah mengenang ibuku bahkan mengadili dirinya."
Alarico melanjutkan perjalanannya ia kembali ke pemakaman
“Apakah ayah menyembunyikan sesuatu dari kami bertiga?." Tuduh Pangeran Marquez yang langsung di benarkan Raja Erando
“Aku akan menjelaskan apa yang telah aku sembunyikan, tapi tidak sekarang.” Raja Erando bertelak pinggang menghela nafasnya seakan melepaskan beban.
Putri Solana terus memasang wajah cemberut, ia sangat ingin bicara dengan ibunya tapi melihat Ratu Katrine yang sibuk mengurus tamu yang berdatangan dan sibuk berbincang dengan para tamu nya
“Aku ingin segera pergi, maaf tak bisa berlama lama disini Ratu Katrine.” pinta Ratu Alise yang telah melakukan pemotretan serta berdoa untuk kedamaian Ratu Edelweis
“Ah, tunggulah sebentar Ratu Alise. Kita harus membicarakan mengenai gaun dengan merk terkenal itu bukan?.”Ratu Katrine seakan mencari alasan untuk menahan kepergian Ratu Alise meskipun tubuhnya semakin ringkih akibat menahan sakitnya bahkan ia ingin segera pulang tapi karena suatu hal memaksanya untuk tetap berdiri disana bahkan menahan seorang Ratu dengan sifat keras kepala
“tidak, aku ingin pulang saja”
Ratu Katrine semakin tersiksa dengan tubuhnya saat ini, ia berhenti bicara sejenak dan berfikir alasan yang tepat untuk menahan Ratu Alise tak peduli bibirnya yang semakin membiru disaat yang tepat pula Dokter Ganiel datang membantunya
“Ratu Alise, bisakah kita bicarakan mengenai gaun yang akan Ratu tercantik ini gunakan saat pemotretan nanti?.”bujuk Dokter Ganiel menahan Ratu Alise untuk tetap berada disana.
“Oh iya benar, selagi kita disini dan bisa berbincang, pemotretan Ratu tercantik memang sangatlah banyak ,ya."
“Iya benar!.”
Tatapan mata Ratu Katrine seakan mengucapkan terimakasih paling tulus kepadanya yang telah datang untuk membantunya disaat yang paling tepat.Putri Solana terus menatapnya dengan penuh kecewa dan marah, Ratu Katrine melihat anaknya dan merasakan kemarahan anaknya meski mereka berada dijarak yang lumayan jauh.
“Aku muak dan aku kesal!.”
Putri Solana pergi meninggalkan pemakaman dan diikuti Nieva, dari kejauhan Ratu Katrine memperhatikan anaknya pergi dari kerumunan meninggalkan pandangannya dari ibunya.
Raja erando melihat wanita menyeramkan itu berdiri ia terlihat sedang mengumpat dan memberikan isyarat tangan padanya dari kejauhan.
“Marquez, jaga adik-adikmu, aku harus pergi sebentar.”
“Kenapa sih, ayah selalu saja tertarik dengan selingkuhannya itu.” kekesalan dan kecerobohan Niguel mengantarnya pergi mengikuti ayahnya yang berjalan mendatangi wanita menyeramkan itu
“Ayo, kita harus segera pergi."bisik Raja Erando kepada wanita menyeramkan yang terlihat sangat cemas
“Ketahuan!. Wanita menyeramkan, ayah kenapa kau sangat tertarik dengannya dan meninggalkan kami." Niguel menangis ia tak terima melihat ayahnya selingkuh
“Berhentilah menangis nak, tidak ada Raja yang berselingkuh di depan semua rakyat seperti ini.”Raja Erando berusaha menghentikan tangisan Niguel
“Sudahlah, cepat kita pergi sebelum ketahuan."
Putri Solana pergi dengan wajah kesal dan kecewa, ia melewati Pangeran Marquez wajahnya langsung berubah menjadi ramah dan senang
“Ada apa, kenapa kau menangis Putri Solana?." Tanya Pangeran Marquez membuat Putri Solana tersenyum malu
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bicara dengan ibuku tapi lihatlah dia sangat sibuk."
“Bicara saja padaku, aku akan menjadi teman ceritamu.”
Putri Solana tersenyum malu ia sangat senang tapi apa yang ingin ia katakan tidak ada kaitannya dengan pangeran Marquez
“Aku senang kamu menjadi teman ceritaku, tapi apa yang akan aku katakan ini tidak ada kaitannya denganmu. Terimakasih, karena sudah membuatku senang dan melupakan kesedihanku sejenak."
Raja Erando membawa wanita menyeramkan itu menaiki kereta kuda mengantarkan dia pergi menuju kerajaan Rishley secara sembunyi-sembunyi berupaya untuk tidak dilihat masyarakat.
“Maaf aku merepotkan dirimu lagi, kak.” Wanita menyeramkan itu melepaskan tudung hitam yang menutupi wajah cantiknya yang penuh dengan sisi kelembutan
“Mengantarmu menuju kerajaan Rishley bukanlah hal yang merepotkan untukku, tapi yang membuatku kerepotan adalah ketiga pangeran menyebar gosip kalau aku berselingkuh denganmu.”Raja Erando serta wanita cantik itu tertawa terbahak-bahak mereka sangat terhibur menanggapi tragedi yang terjadi
Setelah melepaskan tudung hitam yang menutupi wajahnya, kini ia terlihat sangat cantik memiliki paras yang anggun dan ceria dengan sisi kelembutan di wajahnya.
“Ratu Hanah, ada apa?.”
Ratu Hanah terdiam dengan wajah sedih memandang langit dengan bola matanya yang sedikit berair ia memegang dadanya yang terasa sedikit sakit “Maafkan aku ya, kakak ipar."
“Tidak apa, bagaimana keadaan adikku Ratu Hanah?."
“Eiden baik-baik saja, dia merindukanmu.”
“Tunggulah sampai gerbang waktu terbuka ya, Ratu Hanah.”
Ratu Hanah menutupi wajah sedihnya ia sedikit menangis ia terlihat sangat rapuh“Pasti menyakitkan bagimu, karena hari ini kamu menghadiri pemakaman istri tercintamu,Ratu Edelweis."
“Tidak hanya aku, anakku Alarico yang paling sedih karena melihat pemakaman ibunya dan harus mengingat kejadian paling kelam hingga membuat sifatnya berubah. Dia bukanlah Rico yang berusia lima tahun, sifatnya sangatlah berubah setelah ia melihat tragedi pembunuhan ibunya yang terjadi di depan matanya."
“Tentu, sangat meninggalkan trauma untuknya. Saat itu, usianya masih lima tahun tapi ia dipaksa takdir untuk melihat pembunuhan sosok ibu yang sangat ia sayangi.”
Seketika Raja Erando juga merasakan sakit dan wajahnya terlihat sangat sedih “Rico memendam semua kesedihan dan amarahnya sendiri, meski aku tau kalau ia seringkali meluapkan semua perasaan sedih dan marahnya di dalam kamarnya.”
“Jaga dia dengan baik, meskipun perkataanya kasar karena ia tidak tau apa yang sedang kita rencanakan.”Ratu Hanah berupaya untuk kembali membangkitkan semangat Raja Erando mengenai perjalanan waktu yang sudah mereka rencanakan untuk mengungkapkan masa lalu yang terjadi
“Kita sudah tiba di Kerajaan Rishley, turunlah sebelum orang-orang melihat kita.”
Ratu Hanah segera turun dari kereta ia segera diantar kedalam kerajaan oleh para pembantu kerajaan dan perdana menteri mereka berupaya untuk menutupi kedatangan Ratu Hanah.
“Senang sekali bertemu denganmu Ratu Hanah.”
Perdana menteri kerajaan Rishley memeluk erat tubuh Hanah dengan penuh kebahagiaan dan tangis haru
“aku sangat merindukanmu Ratu Hanah."
Ratu Hanah menangis berada dipelukan seorang perdana menteri yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya, ia benar-benar sangat terharu
“Ada apa ramai-ramai?. Siapa kau!."
Putri Solana melihat Ratu Hanah dari atas hingga bawah ia mengenal wanita yang ia lihat sama dengan wanita menyeramkan yang ia lihat di pemakaman yang berhasil membuat Ratu Katrine menangis didepannya.
“Jadi, kau adalah wanita menyeramkan itu. Sudah kuduga, kau adalah saudara ibuku, duduklah aku akan meminta teh dan camilan untukmu.”
“Berhenti memanggilnya wanita menyeramkan, dia adalah Ratu Hanah."tegas Ratu Katrine memberikan tatapan tegas kepada anaknya ucapannya sedikit keras
Putri Solana membungkukan tubuhnya seraya dengan wajah penuh sesal ia meminta maaf kepada Ratu Hanah atas apa yang telah ia lakukan.
“Maaf, aku sudah bicara lancang padamu Ratu Hanah."
Ratu Hanah segera memeluk erat tubuh Putri Solana dengan senyuman tulusnya hingga membuat Putri Solana merasakan kehangatan, Putri Solana sangat bahagia seakan ia menemukan kehangatan dari seorang ibu
“Putri Solana, masuk ke kamarmu."
Perintah Ratu Katrine yang membuat Putri Solana tersinggung dan kesal, ia segera melepaskan pelukan erat itu ia segera berlari menuju kedalam kamarnya
“Tanpa ibu perintahkan aku juga berniat pergi dari Kerajaan karena lelah dengan ibu yang tidak memiliki waktu untukku."Putri Solana terus bergumam dengan wajahnya yang sangat kesal
Nieva membungkukkan badanyya seraya meminta maaf kepada Ratu Katrine atas kelancangan dan perkataan tidak sopan yang telah dilakukan Putri Solana yang sudah ia anggap sebagai saudaranya “Ibu Ratu Katrine, maaf karena aku gagal mengingatkan Putri Solana untuk menjaga sikapnya dengan baik.”
Tubuh Ratu Katrine semakin melemah ia mengenggam erat saputangan yang terdapat bercak darah diatasnya, ia masih menutupi keadaan tubuhnya yang semakin kritis, sementara Nieva langsung menghampirinya dengan ekspresi sangat cemas dan sedikit panik
“Ibu Ratu, istirahatlah sejenak. Keadaan tubuhmu akan semakin memburuk."
Ratu Katrine tetap tidak ingin dipandang lemah oleh orang disekitarnya, ia menepis tangan Nieva dari pundaknya seraya berusaha terlihat tetap tegar
“Nieva, aku masih ada beberapa masalah kerajaan yang belum selesai. Tolong, jaga Putri Solana sampai ia tertidur.”
“Ratu Hanah, kumohon jaga ibuku dengan baik,ya." Nieva memohon atas penjagaan terhadap Ratu Katrine sebelum ia menemui Putri Solana di dalam kamarnya.
Nieva berlari pergi meninggalkan Ratu Katrine yang berbincang dengan tamu kerajaan Rishley, kedatangan Ratu Hanah memang disembunyikan dari semua rakyat Stefly karena sebuah tragedi masalalu yang membuat semua orang menjadi bungkam dan menyembunyikan musuh didalamnya
“Putri Solana?."
“Masuk saja aku tidak mengunci pintu kamarku."
Nieva masuk kedalam kamarnya, Putri Solana tampak sedang mengemas semua barang-barang untuk ia bawa pergi dari kerajaan Rishley.
“Tuan putri, kemana Anda akan pergi?."
“Entahlah."
“Tetaplah disini, kamu tidak bisa mengabaikan masalah yang mengganggumu Putri."
“Berisik!!,”Putri Solana mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan Nieva yang sejenak membuatnya sangat emosi ia menatap Nieva dengan tatapan penuh kemarahan yang tidak dapat ia sampaikan “Diam aku atau aku usir kau dari kerajaan.”lanjut Putri Solana mengancam Nieva dengan berani
“Baiklah, kalau itu yang bisa menahan tuan Putri untuk tetap berada disini. Aku akan pergi tapi tolong tetaplah disini."
“Untuk apa?!. Kenapa aku harus berada disini sementara ibuku tidak pernah melakukan keadilan untukku.”perlahan kemarahan itu berubah menjadi sendu “tes..tes..tes...”perlahan airmatanya mulai menetes ia tak kuasa menahan kesedihannya
Nieva melihat dengan tatapan heran, “Melakukan keadilan?. Memangnya apa yang membuat tuan Putri harus di adili?”
“Nieva, aku ingin melihat reaksi yang ditunjukan ibuku setelah melihat aku akan pergi dari Kerajaan."
“Ratu Katrine sekarang sedang memiliki banyak masalah, berhentilah untuk membuatnya repot, Solana."
“Aku tidak pergi sungguhan, hanya ingin melihat reaksinya saja."
“apakah kamu tidak tahu kalau kondisi fisik ibu Ratu Katrine sedang sangat kritis?. Bahkan Ibu Ratu menahan rasa sakit yang terus ia rasakan sejak kemarin malam demi mengurus kerajaan, demi dirimu”
Ratu Katrine sedang berbincang dengan Ratu Hanah ia sama sekali masih dapat melupakan rasa sakit yang terus menggerogoti tubuh dan imun kesehatannya
“Ratu Katrine, kembalilah istirahat. Tolong, jangan selalu menyiksa tubuhmu seperti ini”pinta Ratu Hanah menatapnya dengan tatapan memelas
Ratu Katrine membalas tatapan melas itu dengan tatapan acuh ia sama sekali seakan tak mendengarkan apa yang baru saja wanita baik itu katakan, “Aku berjanji akan melindungimu, Ratu Hanah. Demi Kerajaan Rishley aku akan melindungimu."
“aku sama sekali tidak tahu, kalau ibu sedang dalam keadaan kritis. Aku memang anak yang buruk." Putri Solana menangis sesenggukan ia rasanya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang telah ia lakukan terhadap seorang ibu yang bahkan mengorbankan dirinya demi kehidupan Putri Solana agar kerajaan mereka tetap terjaga dengan baik
Ratu Katrine yang masih sanggup untuk berjalan memasuki kamar anak satu satunya, kini berdiri di depan kamar Putri Solana ia melihat anaknya yang terus saja menangis
“Nieva, tolong berikan pelayanan pada Ratu Hanah, biarkan aku yang menghentikan putri yang cengeng itu.”bahkan di detik tubuhnya seakan tidak bisa untuk bertahan ia masih tetap melakukan candaan kepada putri satu satunya yang seringkali salah paham padanya
Nieva yang sudah menyadari hal itu segera pamit untuk meninggalkan kamar memberikan waktu untuk mereka, Nieva kembali segera berlari mendatangi Ratu Hanah “Baik, ibu Ratu."
Ratu Katrine berjalan mendatangi anaknya yang terus saja menangis ia duduk di atas bangku menarik tubuh anaknya dan segera memeluknya dengan erat, pelukan erat dari seorang ibu yang sangat menyayangi. Bahkan, tubuhnya seakan dingin membeku karena mengacuhkan darah yang terus berusaha keluar
“Anakku, maaf aku tidak memiliki waktu untukmu belakangan ini."
“kenapa kamu tak pernah mengatakan padaku kalau kamu sedang sakit, apakah aku sudah tak berarti lagi bagimu?."
“Tidak seperti itu, oh iya lusa nanti kamu akan pergi ke sekolah bukan?. Aku akan mengantarmu khusus untukmu."
“Tapi, sebenarnya pangeran Marquez sudah memintaku untuk pergi dengannya. Aku akan membatalkannya untuk pergi dengan ibu."
Ratu Katrine tersenyum ia menolak ajakan Putri Solana dengan baik dan segera menjiwit pipi anaknya yang bulat menggembul
“pergilah dengan laki-laki yang kau cintai itu, nak. Jangan pikirkan aku."
Putri Solana menatap Ratu Katrine dengan sangat gugup hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya, “aku ingin bertanya beberapa pertanyaan padamu."
“Ada apa, nak?."
“Apakah benar, Ratu Hanah adalah selingkuhan dari Raja Erando?."
Ratu Katrine mengerutkan alisnya dengan heran, “Apa?. Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa yang membuatmu bertanya.-
“Pangeran Niguel yang mengatakannya, benarkah itu ibu?."
“Tanyakan langsung pada Raja Erando, bagaimana?.-
“Baiklah, tapi apakah aku akan di izinkan untuk bertanya seperti itu?."
“Tentu, tanyakan padanya."
Putri Solana merasakan kejanggalan atas pembicaraan dengan ibunya, ia mengerutkan alisnya seraya sangat heran “Ibu, ini aneh. Kenapa aku di izinkan bertanya?."
“Hmm.. karena Raja Erando pasti akan menjelaskan padamu.”jawaban singkat tidak memberikan jawaban yang Putri Solana inginkan, hingga akhirnya ia semakin penasaran dan mencaritahu sendiri jawabannya
“Siapa yang bisa menjelaskan apakah dia selingkuh atau tidak, apalagi dia adalah seorang Raja.”
Katrine tertidur pulas di atas bangku membuat Putri Solana tidak tega untuk membangunkannya
“Baiklah, setidaknya aku bisa bicara dengannya meskipun hanya sebentar dan tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Tapi, aku senang ibu sudah bicara denganku."
Putri Solana mengambil selimut dari dalam lemari pakaiannya ia menyelimuti tubuh Ratu Katrine dan membantunya untuk berbaring dan meletakkan kepalanya di atas bantal.
“Dikatakan ataupun tidak, aku memang menyayangi ibuku."
Nieva membantu Ratu Hanah untuk melipat pakaiannya didalam kamarnya, sementara Ratu Hanah sedang membersihkan ranjang kamar untuknya menginap
“Terimakasih gadis baik”
“Aku sangat rindu denganmu, Ratu Hanah. Secara tiba-tiba kamu dikabarkan meninggalkan Kerajaan Stefly dan meninggal dalam tragedi kelam di Kerajaan Stefly. Betapa bahagianya setelah melihatmu lagi, Ratu."
Ratu Hanah memeluk erat tubuh Nieva, semakin membuat Nieva menangis
“Terimakasih banyak sudah mendukungku selama ini, Gadis baik."
“Aku sudah menganggap dirimu sebagai ibuku juga,Ratu Hanah."
Pintu kerajaan terbuka lebar, seketika terlihat seorang laki-laki dengan kamera ditangannya dia adalah Dokter Ganiel mengunjungi Kerajaan Rishley
“Selamat malam seluruh warga kerajaan Rishley.”sapa Dokter Ganiel seorang dokter yang juga sangat hobi mengambil beberapa rekaman dan foto melalui kamera yang tali tempat Kamera selalu tergantung di lehernya.
Tatapan murka diberikan Ratu Katrine padanya seperti menyimpan dendam yang sangat mendalam ia dia membisu menatapnya dengan tatapan mematikan penuh kebencian
“Ratu Katrine, sahabatku menitipkan obat untukmu padaku."
“kau tidak berhak menyebutnya sebagai sahabatmu, kau hanyalah penghianat dan juga musuh terbesar untukku dan Raja Harvey, kau musuh paling keji bagi kami berdua dan aku akan membalaskan dendam atas pengkhianatanmu kepada suamiku.”
Dokter Ganiel terkekeh “meskipun kalimat yang kau lontarkan sangatlah menyakitkan tapi tatapan matamu tak pernah bicara bohong, biarkan aku menjagamu sebagai istri dari sahabat yang paling aku sayang. Aku bersumpah akan menyelamatkan suamimu karena dia adalah sahabat terbaikku."
“Bohong!!. Selalu saja kebohongan yang kau katakan” Ratu Katrine mendekap mulutnya dengan saputangan ia batuk keras, tubuhnya semakin lemah dan tidak bisa lagi bertahan untuk tumbang, tubuhnya di dekap erat Dokter Ganiel
“Harvey, aku telah bersumpah padamu akan selalu menjaganya selama kau menjalankan rencana pentingmu untuk kedua bagian wilayah negara."
“Ratu Katrine?!." panggil Ratu Hanah yang langsung menunjukan ekspresi sangat kaget setelah melihat Ratu Katrine yang terjatuh di dekapan Dokter Ganiel
“pergi bersembunyi cepat!! Atau dia akan membunuhmu Ratu Hanah!!." perintah Ratu Katrine bola matanya menunjukan ketakutan dan menyimpan kecemasan
Putri Solana yang mengintip dari kejauhan ia sangat heran dengan apa yang ia lihat dan kembali menyimpan pertanyaan didalam hatinya “siapa Harvey? Dan apa hubungannya dengan ibuku