Canggung

1460 Words
Violeva baru sampai ke rumah saat langit sudah gelap sekali, padahal dia memulai perjalanan untuk pulang saat warna langit masih biru bertabur awan putih. Jakarta selatan memang punya tingkat kemacetan di atas rata-rata. Kalau kata Zia, bisa membuat orang-orang istigfar dan mengingat Tuhan. Kata Mina, bahkan bisa membuat orang-orang lupa dengan umurnya. Hilang ingatan dan jadi sangat kekanakan, marah-marah, stres di jalan. Biasanya, Vio tidak pernah stres, ia suka kehidupan seperti ini. Capek, sibuk, macet-macetan, dan segala mobilitasnya yang tinggi. Namun hari ini berbeda, dia stres, tangannya sakit, agak berdenyut dan bagian perut bawahnya juga nyeri, mungkin akan datang bulan sebentar lagi, membuatnya sepanjang jalan tidak bisa tenang, ia terganggu oleh banyak hal. Harusnya Alan sudah pulang pukul segini, bagaimana baiknya mereka memulai break? Mereka belum memulai komunikasi apa pun sejak pagi, tidak secara lisan ataupun via surel seperti hari-hari lain. Dan Vio juga baru saja mengantarkan ponselnya ke tempat service, semoga masih bisa diperbaiki. Sayang sekali karena umurnya baru beberapa bulan kalau Vio harus ganti dan membeli ponsel baru. Lagi pula yang ia pikirkan adalah, aplikasi itu. Apakah log in di ponsel lain tetap bisa menghubungkannya dengan Ares? Kurang ajar sekali pemikiran ini.  “Udah pulang, Vi?” Violeva mendapati suaminya duduk di kursi makan ketika ia sampai ke rumah dan berjalan dengan kantong-kantong belanjaan menuju dapur, Alan masih memakai kemeja kerja, memegangi ponsel di tangannya, dia memang kecanduan bermain game online. “Iya,” jawab Vio canggung. Lelaki itu membalasnya dengan senyum, senyum yang sama canggungnya. Lalu Vio mulai menata barang yang ia bawa. Kantong-kantong berisi bahan masakan mentah dan dua kotak masakan matang untuk makan malam. “Aku bantu beresin belanjaan.” “Iya,” jawab Violeva singkat, bingung harus bagaimana lagi. “Makasih,” sambungnya tanpa melihat Alan lagi. “Tangannya, Vi.” Mereka berdua refleks melirik ke pergelangan tangan Vio yang agak bersemu keunguan hari ini, memang nyeri, Vio mengakuinya. Tapi tidak pernah terpikir kalau akan jadi seperti ini juga. Ia benar-benar terlihat seperti korban kekerasan, padahal Alan tidak sengaja melakukannya. “Nggak apa-apa,” ujar Vio sembari menarik tangannya menjauh. “Ayo, aku obatin. Mau dikompres? Dipakein pain killer?” “Nggak usah, Alan.” Vio menghalau suaminya untuk menjauh. Luka itu masih berbekas, seperti luka di hatinya, butuh waktu untuk sembuh lagi. Jadi sebisa mungkin jangan diotak-atik dulu. “Ini nggak apa-apa deh, beneran.” Ia meyakinkan Alan, meskipun tahu itu gagal. Atmosfer ini tidak bisa dipungkiri. Sekalipun keduanya mencoba bersikap seolah tidak ada apa-apa, tapi udara canggung di antara terasa kental sekali. Seperti bau bangkai yang menusuk hidung. Violeva melihatnya, tatapan kecewa dan khawatir itu, bercampur aduk dari sorot mata Alan. Dan ia memutuskan berbalik, mengambil apa saja untuk dikerjakan.  “Al,” panggil Vio saat beralih ke penanak nasi yang isinya tinggal setengah dan sudah kering. Mengambil sisanya dan berniat memasak nasi yang baru. “Aku mau ke Manado beberapa hari.” Dia mengumumkan, mencari topik bicara yang baru. “Ada apa?” Alan berbalik cepat, dia terperanjat. Masalahnya, mereka belum memutuskan apa pun, kan? Kenapa Vio terburu-buru sekali? “Mau buka cabang. Bukan sih, sementara cuma mau pake garasi di rumah Mama buat butik yang baru.” Violeva memang punya wacana untuk membuka Beauty Gown kedua di Manado, kampung halaman Mamanya. “Titip salam buat Mama kalau gitu.” “Iya,” jawabnya lega. Lalu Vio kembali sibuk dengan penanak nasinya yang susah dibersihkan, sedangkan Alan memandangi perempuan itu dengan berbagai perasaan aneh di dadanya. Dia masih berjongkok di depan kulkas untuk menata bahan makanan yang harus disimpan. Perempuan, kalau sudah diam seperti itu, bukankah artinya tidak peduli lagi? Kenapa Vio tidak mengomel melihat Alan belum berganti pakaian? Apakah break memang seperti ini? “Vi,” panggil Alan pelan. Tidak tahu sebenarnya harus bicara apa, tapi dia merasa harus bicara pada istrinya. “Hm?” “Jangan ke mana-mana, ya?” Violeva menolehkan kepala. “Maksudnya?” “Selama belum ada keputusan apa pun, jangan pergi ke mana-mana. Jangan pergi dari sini, jangan sembunyi di tempat Zia.” Violeva berbalik untuk melihat seperti apa wajah laki-laki yang barusan berkata seperti itu kepadanya. Tidak ada unsur bercanda di sana—di matanya, tidak seperti Alan yang biasanya. “Iya,” jawab Vio, urung untuk tertawa. Walaupun, kalau diingat-ingat, tiap kali ia dan Alan bertengkar dulu, Vio pasti lari ke Casa Grande dan menginap di rumah Zia. Mengganggu hari-hari sahabatnya yang tenang, tidur berdesakan dengan Mina, membuat mereka bergadang karena Alan bisa sangat dramatis meneriaki namanya di pintu depan. Bukan lagi Zia yang akan mengumpat Alan, bahkan Priska di unit sebelah akan keluar dari kamarnya dan membawa pentungan untuk mengusir lelaki itu. Vio ingin tersenyum saat mengingatnya, tapi dia urung. Kenangan itu bisa jadi sangat menyakitkan kalau sekarang dia tetap mencoba kabur ke sana dan Alan tidak lagi melakukan hal yang sama. Itu menakutkan untuknya, memikirkan itu saja membuat Vio merinding. Dia takut untuk mengetahui sejauh mana perasaan Alan telah luntur kepadanya. Kalau sekarang aku ke sana, kamu bakal kejar aku lagi atau enggak, Al? Kamu bakal bujuk aku pulang, kan?   ***   Violeva terbangun tengah malam, atau malah sudah lewat tengah malam. Ia jarang tidur cepat, tapi hari ini rasanya melelahkan sekali, Vio membersihkan rumah sebelum tidur dan memasak sedikit untuk sarapan agar nanti tinggal dihangatkan sebentar, tidak membiarkan Alan melakukan semuanya, tidak lagi. Saat sedang break seperti ini, harusnya mereka berhenti untuk saling bergantung satu sama lain. Seperti Alan yang kelihatan sudah makan malam sendiri tanpa menunggunya pulang. Alan? Tunggu, ke mana Alan? Vio melihat tempat tidur di sebelahnya kosong dan … dingin. Tidak seperti bekas ditiduri orang. Apa Alan belum tidur sampai sekarang? Dia main game di depan? Padahal Vio sudah tidur memepet ke ujung agar sebisa mungkin tidak bersentuhan dengan suaminya secara tidak sengaja, disaat seperti ini. Maka ia berusaha menghindari hal itu terjadi karena Alan bisa saja risih. Ruang tengah gelap semua. Vio melangkah keluar dan berjalan menuju ruang tamu, yang ternyata sama gelapnya. Lalu mengintip ke luar jendela, sepi tidak ada siapa-siapa. Jadi, Alan ke mana? Vio membuka pintu dan berjalan cepat ke garasi, tidak, mobil Alan ada di jajaran paling depan, dihalangi oleh mobilnya. Alan tidak keluar tanpa membawa mobil, dan ini ... jam berapa? Ke mana dia? Vio gemetar, memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia kembali masuk ke rumah dan berlari ke kamarnya lalu menekan tombol dial untuk menghubungi suaminya. I'm a sucker for you You say the word and I'll go anywhere blindly Vio mendengar suara lagu Jonas Brother—ringtone ponsel Alan mengalun samar di telinga. Yang berarti, benda itu ada di rumah ini. Lalu pemiliknya? Alan jarang sekali— hampir tidak mungkin meninggalkan benda itu. Dia keluar lagi dari kamar, masih tetap menghubungi Alan dan berjalan ke arah suara lagu. “Halo?” Suara Alan yang mengangkat panggilan bertepatan dengan Violeva membuka pintu kamar belakang. Kamar yang paling dekat dengan dapur dan kamar mandi di rumah ini. Alan—suaminya, tidur di sana. Dengan kasur single sederhana yang bahkan tidak dibungkus sprei layak pakai. “Vi?” Ia menyapa. “Ada apa telepon malam-malam?” Vio tersentak dan langsung menurunkan ponsel yang masih menempel di telinga, hatinya ... nyeri. Mereka sedang tidak bertengkar, tapi kenapa rasanya lebih aneh daripada itu? Apa break berarti pisah ranjang juga? Apakah tidak bisa tetap tidur sekamar dan tidak saling mengganggu saja? “Kamu tidur di sini?” tanya Violeva, pada akhirnya. “Iya.” Aku takut kamu terganggu. “Oh ...” Kenapa? “Kenapa, Vi?” Kamu kangen? “Enggak, aku kira ke mana.” “Ada yang bisa aku bantu?” Mau ngajak aku pindah ke kamar kita? “Nggak ada, Al. Kamu tidur lagi aja, aku balik ke kamar ya.” Violeva menutup pintu, meninggalkan suaminya di kamar itu. Alan mungkin ingin melakukan yang dia suka, seperti tidur terpisah misalnya. Tapi Alan harusnya bilang dulu, kan? Kenapa Alan tidak bilang? Kalau dia bilang, Vio tidak akan mencarinya tengah malam buta seperti sekarang, seperti orang kehabisan akal. Ia tidak akan memintanya untuk tetap tinggal. Jadi, minimal bilang saja dulu, kan? Vio tidak akan memaksa Alan tidur di kamar yang sama. Malam ini, air matanya tumpah lagi. Dia merindukan Ares, orang yang kemarin-kemarin selalu ada untuk diajaknya bicara, bahkan tentang Alan sekalipun. Apakah ini balasan untuknya karena sempat meminta Ares pergi ketika hubungannya dengan Alan sedang tenang? Atau mungkin dia yang diam-diam mengumpat dan mendoakan agar Vio bertengkar lagi dengan Alan agar kemudian bisa kembali padanya? Vio tidak tahu. Ares sempat mengisi kekosongan itu beberapa waktu yang lalu, saat hubungan Vio dan Alan memburuk. Meskipun belum pernah bertemu, tapi perasaannya tetap hangat saat membaca pesan-pesan yang dikirimkan lelaki itu. Perhatian-perhatiannya, pujian-pujiannya, yang tidak disebutkan oleh Alan waktu mereka sedang renggang. Violeva sadar, dia terlalu serakah dan menginginkan banyak perhatian dan kasih sayang. Jadi kali ini, bolehkah Vio mencarinya lagi? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD