Violeva datang ke butik pukul sepuluh pagi, memakai jins abu-abu dan atasan ruffle yang memamerekan bentuk bahunya—model baju yang tidak disukai Alan, riasan tebal di sekitar mata dan rambut berponi. Juga kacamata coklat tua bertengger di area leher baju.
“Gimana bisnisnya sama Mas Aldi, Bu?” tanya Maya lebih membuka topik, mencari obrolan lain.
Oh, iya Reynaldi. Vio baru ingat kalau Zia sempat mengancamnya jika laki-laki bayaran itu datang untuk menemuinya sekali lagi. Memangnya apa yang terjadi dengan kencan pertama mereka? “Nggak gimana-gimana, nanti saya tanyain ke dia perkembangannya.”
“Oh, gitu.” Maya tiba-tiba berbalik. “Bu, ingat gak pas Maya bilang ada klien keren, selebgram atau selebriti gitu yang mau pakai gaun kita?”
Vio mengangkat wajahnya, samar-samar mengingat soal itu, Maya pernah memberitahunya. “Kenapa memang?”
“Maya handle sendiri kan, seperti kata Ibu. Jadi, beliau udah pesan dan keep gaun slip charmeuse sutra yang warna putih gading itu. Maya simpenin buat beliau fitting ke sini nanti.”
“Oh, gitu.” Violeva mengangguk-angguk. Seingatnya, Beauty Gown sering kedatangan para klien hebat, jadi selebgram kata Maya ini tidak dianggap hal besar olehnya. “Ya udah, saya pergi dulu ya, May? Ada yang harus diurus sebentar.”
Violeva pamit dan keluar dari butik setelah memastikan pegawainya menyiapkan apa saja yang harus ia bawa ke Manado nanti malam. Beberapa gaun dan accecories saja yang akan dibawa handcarry, sisanya dikirim melalui ekspedisi. Setelah ini, rencananya adalah ke tempat service ponsel kemarin, berharap ponselnya bisa dipakai lagi tanpa harus beli yang baru, lalu menyambangi Mina di tempat kerjanya, sebelum ia menemukan serentet pesan berturut yang dikirim oleh Priska dan Zia di saat yang hampir bersamaan.
Priska & Zia : Vio, tolong titip Arvin.
Kelihatan sekali kalau Zia mengkopi tulisan itu dari Priska dan mengirimkannya pada Vio. Bagus sekali memang, keduanya.
***
Dalam kurun waktu dua puluh menit setelah meninggalkan butik, berjibaku dengan kemacetan Jakarta Selatan yang tidak manusiawi, akhirnya Vio memarkirkan mobilnya di depan lobi Casa Grande, rumah tinggal para sahabatnya. Ia tidak bersedia masuk ke parkiran di basement karena itu artinya harus naik lift, berputar-putar dan membuang tenaga—sedangkan perutnya masih sangat nyeri.
Jadi, setelah berkomunikasi dengan Zia, yang menjadi pengasuh sekaligus sopir antar jemput Aru hampir tiap kali anak itu ketinggalan bus jemputan sekolah, memutuskan untuk bertemu di lobi. Hari ini Priska lembur, dan Zia ada pertemuan dengan klien pentingnya, sedangkan ayah kandung Arvin entah di mana rimbanya, Vio tidak ingin tahu dan tidak mau bertanya.
“Apin, duduk di carseat.” Vio segera menyongsong dua orang itu begitu mobilnya berhenti, mengambil tentengan dari tangan Zia, lalu menyiapkan carseat yang tersedia di bagasi belakang.
“Tapi aku mau es krim.” Tidak ada yang gratis di dunia ini, ternyata. Bahkan saat membujuk anak kecil sekalipun.
“Arvin masuk,” perintah Zia tegas dan di luar dugaan, Arvin memajukan bibirnya beberapa centi sebelum masuk ke mobil dengan patuh. Duduk di kursi belakang, memenjarakan diri di carseat bayi yang terpasang di sana.
“Gue titip anaknya Priska,” kata Zia menginterupsi. “Tangan lo kenapa?”
Berapa kali orang-orang bertanya soal tangannya hari ini?
“Kecelakaan kerja lah biasa.” Vio berkilah, merujuk pada tangannya yang sekarang dibalut perban. Ia malu memamerekan memar keunguan itu dan membuat orang-orang nantinya berasumsi.
“Emang di butik lo ada mesin las? Atau benda tajam?”
“Eh, ya nggak juga. Kan bisa kena gores hanger, kena patahan manekin, kejatohan tiara punya lo. Lumayan itu sakitnya.”
“Jadi yang mana satu?” Zia melipat tangannya di d**a, Vio mengernyit. “Itu luka kena apaan?”
Violeva lupa kalau bicara dengan Zia tidak bisa sembarang mangap begitu saja. Zia bukan Mina yang akan mendengarkannya seperti lebah berdengung, tapi menjawab jujur pada Zia juga bukan keputusan yang tepat saat ini. “Gue berangkat dulu.”
“Dia belum snacking time,” Zia memperingatkan sebelum pergi. “Waktunya nyisa sepuluh menit lagi.”
Sial. Violeva mengumpat kecil saat Zia tersenyum usil kepadanya sambil menunjukkan jam tangan beserta waktu yang Arvin miliki untuk makan snack sore ini. Arvin adalah pengidap sugar bugs, dimana ia punya porsi makan, waktu makan, dan komposisi makan sesuai anjuran dokter. Priska tidak peduli pengasuhnya Arvin nyaris gila dengan semua peraturan atas anjuran dokternya itu. Ini juga salah satu alasan kenapa Vio tidak mau punya anak. Ia tidak mau seperti Priska yang repot setengah mati mengurus manusia kecil ini.
***
Ketika Alan sampai di rumah malam itu, yang ia dapati adalah kerusakan yang cukup mengejutkan. Bantal-bantal sofa ruang tengah berserakan di lantai, vas bunga kesayangan Vio berpindah di atas lemari perabot yang tinggi, tidak bertengger di meja seperti biasa, dan saat melanjutkan langkahnya ke dapur, di sana terlihat lebih kacau lagi. Mungkin sebenarnya tidak berlebihan, tapi bagi Alan yang biasa melihat rumah itu tertata setiap hari, ini cukup membuatnya heran. Alan pikir, Violeva sedang marah dan melemparkan benda-benda itu.
“Udah, Ka.” Alan mendengar suara istrinya hampir merengek dengan ponsel yang ia jepit di sebelah bahunya, sementara tanganya sibuk mengaduk sesuatu dalam panci dan tangan yang lain, berbalut perban putih. “Gue udah pakai jatah screentime-nya dua puluh menit, sekarang dia lagi berendam air hangat.” Vio diam sebentar. “Pake air hangat, Priska! Nggak bakal masuk angin! Iya, nanti gue suruh Alan beli kayu putih di minimarket.”
Alan tersenyum kecil melihat istrinya memijit pelipis, ia sangat ingin bertanya dan melihat memar di tangan perempuan itu. “Kan jam tujuh tuh makan malam, nah .. habis itu apa lagi? Harus gue ajak main apa? Alan? Oh, iya juga, kok nggak kepikiran, ya?”
Sepertinya memang sedang ada tamu kecil yang berkunjung ke rumah ini, mengingat Vio terus-terusan bertelepon dengan menyebut nama Priska. Alan berjalan meninggalkan Vio yang masih sibuk dengan sesuatu di pancinya, tidak menyadari kehadiran seseorang. Alan ke kamar mandi, ia bisa melihat tamu kecil itu tengah memencet pump di bagian atas botol sabun mandi sampai isinya nyaris habis semua, membuat perutnya geli bukan main, ia bisa mendengar teriakan Violeva bergaung bahkan sebelum memergoki anak itu melakukannya. Sejenis attention warning yang sudah terprogram di kepala.
“Halo, Arvin.” Bocah yang dipanggil itu menoleh dan ini adalah kesempatan Alan untuk mengambil botol sabun di tangannya, menyembunyikan benda itu di ujung bathub. Mencoba menyelamatkannya dari omelan Violeva.
“Aunty Vio!” teriaknya di luar dugaan.
“Iya gue tahu! Iya udah paling bener emang Zia jagain dia, gue emang payah!” Alan tertawa kecil mendengar istrinya masih mengobrol dengan Priska di telepon, kali ini ia berjalan menuju kamar mandi. “Apa, Apin?”
“Ini ada Om Ironman.”
Vio dan Alan berserobok tatap, ada kilat geli di matanya dan Alan bisa melihat Vio mengulum senyum sambil menatapnya dengan tatapan lega. Lalu ia menurunkan ponsel, mematikan sambungan telepon itu tanpa berpamitan. “Ini suaminya Aunty.” Vio memperkenalkan Alan untuk ke sekian kalinya pada Arvin. “Masa Apin lupa?”
Anak itu menggeleng. “Aku lupa mau manggil namanya aja.”
“Ini Om Alan.”
Arvin mengerjap-ngerjap, menoleh pada Alan. “Hai, Om Alan,” sapanya sambil mengulurkan tangan yang licin dan berbusa, mengajak lelaki di hadapannya berjabat tangan.
“Hai, Arvin. Mau main sama Om?”
“Om bisa jadi Ironman, nggak?” Alan mengangguk. “Oke, kalau gitu.”
Bersamaan dengan itu, Alan harus merelakan bajunya basah diguyur air shower oleh Arvin. Tidak mau memperpanjang, Alan menerima pakaian Arvin yang Vio sodorkan. Sepasang piyama lengan pendek dengan gambar kartun cloud bread yang digandrungi anak-anak di televisi, membuat Alan menyunggingkan senyum hangat. Kelak, ia juga ingin punya anak, Alan akan punya anak, kalau Violeva sudah siap dan bersedia melahirkan bayi untuknya.
“Al, habis makan malam kan kita paling punya waktu sampai jam sembilan, Arvin harus diajak main dulu. Tapi nggak tahu deh diajak main apa, tadi aku biarin dia main tornado dan lihat semua kekacauan ini.”
Alan terkekeh mendengar curhatan istrinya. “Aku suka rumah Aunty Vio, rumahnya bagus!” Arvin tiba-tiba mengoceh yang membuat Vio mau tidak mau tertawa geli. “Aku boleh nggak bawa Mama Piska ke sini?”
“Mama Piska?” tanya Alan heran.
“Iya, Om. Mama Piska itu mamanya aku.”
Semua orang juga tahu, Alan membatin sambil tertawa geli. Tapi pertanyannya adalah, kenapa harus Mama Priska? Kenapa bukan mama saja? “Boleh, nanti bawa Mama Priska ke sini, ya? Tinggal sama Om dan Aunty Vio di sini.”
Arvin tersenyum dan mengangguk. “Om ganti baju dulu.”
“Kok ke sana, Om?” Arvin mencegat langkahnya pergi. “Kamar Aunty di sana,” tunjuknya pada pintu kamar utama di rumah mereka. “Om Alan sama Aunty nggak bobo bareng kayak Papa Ayan sama Mama Piska?” Alan dan Vio saling berpandangan untuk beberapa saat, lalu mengisyaratkan dengan dagunya kalau Alan harus ganti baju di kamar mereka.
Sekitar jam delapan lewat empat puluh sembilan, Arvin bersandar di pangkuan Alan. Di tangannya ada sebuah buku dengan sampul keras yang berjudul, The origin of my name yang halaman akhirnya terbentang di hadapan mereka. “... Nah, jadi itulah asal mula nama Arvin.” Alan mengakhiri sesi membacanya dan nyaris menutup buku kalau tangan Arvin tidak menahan lembar itu lagi.
“Jadi ... nama aku bukan dari onde-onde ya, Om?” Alan terkekeh, ia melirik Vio di sisi sebelah Arvin yang lain sambil tersenyum.
“Bukan,” jawab Alan dengan sabar. “Nama Arvin itu artinya—”
“Sahabat untuk semua orang.” Violeva menimpali, hingga Arvin menoleh ke arahnya. “Jadi, Mama Priska waktu hamil Arvin kayak mamanya si O di buku itu, merasa bahwa anaknya akan jadi sahabat. Makanya bayi Mama Priska dikasih nama Arvin.”
“Oh, gitu.” Arvin mengangguk-angguk. “Mama Piska nggak pengen makan onde-onde?”
“Seingat Aunty sih, enggak.” Vio terlihat seolah mengingat-ngingat. “Mama Priska pengen makan cokelat mahal waktu hamil Apin.”
“Kenapa aku nggak dikasih nama cokelat aja?” Mereka bertiga tertawa dan Arvin meminta Violeva untuk bergeser lebih dekat. Merapatkan telapak kakinya dengan telapak kaki Alan agar ia bisa menyempil di tengah-tengah, entah untuk apa maksudnya. Lalu ia meringkuk di celah itu, menjadikan lengan Alan sebagai bantal dan lama kelamaan, cahaya di matanya meredup sampai ia tidak bersuara lagi. Tidur pulas dengan perut kenyang dan badan yang hangat karena berada di tengah-tengah pasangan suami istri ini. Satu menit setelah itu, Alan mendengar Violeva mengembuskan napas beratnya. Ini pasti hari yang melelahkan untuk Vio.
“Kata Priska,” bisiknya pelan. “Arvin butuh dua jam buat fase deep sleep. Jadi, kamu diam aja di sini, kelonin dia. Aku mau beres-beres.”
“Arvin nginap?”
“Nanti jam sebelas malam aku antar. Priska lagi lembur, kasihan.”
Violeva bergerak bangun, mulai mengemas buku-buku anak hard cover yang berserakan dihamburkan Arvin. Buku itu, seingat Alan adalah hadiah dari sepupunya Vio. Ada sekitar dua puluh buku anak dengan sampul keras dan memiliki judul yang beragam, katanya anak-anak sekarang harus dibacakan buku sejak baru lahir agar menjadi generasi melek literasi.
Itu semua adalah hadiah yang diberikan pada Vio ketika mereka mengadakan syukuran empat bulanan kehamilan pertamanya. Ada juga beberapa barang bayi yang lain, termasuk carseat yang selalu disimpan Vio dalam mobil, khawatir jika Arvin sesekali menumpang—seperti sekarang. Dulu, mereka hampir punya anak, andai saja janin itu bertahan dalam perut Violeva.
Alan melirik seseorang yang kini tidur beralaskan lengannya dan meringkuk untuk mencari kehangatan. “Vi, ditinggal aja. Kamu mandi dan siap-siap tidur. Biar aku yang beresin semua dan antar Arvin pulang.”
Violeva menoleh kepadanya setelah berhasil mengumpulkan sebagian buku, kalau tidak salah lihat, Alan mendapati mata istrinya memerah. “Aku ikut ngantar Arvin.”
“Iya,” jawab Alan pelan. “Mandi aja sekarang.”
“Aku mau masak buat sarapan dulu.”
“Nggak usah, Vi.” Alan melihat Vio mengucek matanya. “Nggak usah masak buat aku, nanti aku siapin sendiri.”
“Apa ini ada hubungannya dengan kita yang lagi break?” Violeva meletakkan buku-buku itu hingga beberapa jatuh berdebum di sebelahnya tanpa terlihat peduli pada Arvin yang mungkin terganggu. “Jadi ini alasan kenapa kamu pindah kamar diam-diam?”
Apa Alan salah lagi sekarang? Menafsirkan ketidaknyamanan mereka—apalagi sebelum Arvin ada di sini, sebagai tanda bahwa ia harus menjaga jarak, adalah kesalahan?
“Aku kira ya, break itu memang kita jaga jarak dulu, introspeksi. Bukannya malah makin mencederai hubungan kita. Bukan dengan pindah kamar tiba-tiba tanpa bilang, nyuruh aku berhenti melakukan tugas sebagai istri ...” Vio terengah menahan tangisnya saat mengatakan itu semua. Matanya yang sudah bengkak, entah akan jadi seperti apa lagi. “Tapi oke, kalau kamu maunya gitu.” Ia meneruskan setelah membanting buku terakhir yang dipegangnya lalu berjalan ke luar kamar.
Maksud Alan bukan begitu, bukan ingin makin mencederai hubungan mereka. Bukan makin ingin menjauh dari Violeva, bukan tidak ingin lagi dilayani makan olehnya. Alan hanya khawatir istrinya lelah dan jujur saja, merasa tidak nyaman tetap diurusi dan diperlakukan dengan baik padahal mereka sedang dalam fase untuk melanjutkan hubungan atau tidak.
Bukankah harusnya mereka mulai jalan dan hidup masing-masing? Dari yang ia baca di internet, break tandanya seperti itu. Meskipun Alan tidak seratus persen rela melakukannya. Baginya mungkin cukup untuk pindah kamar beberapa waktu, mengurus urusan pribadi masing-masing, dan hidup tidak saling mengganggu satu sama lain. Ia tidak paham break seperti apa yang diinginkan Violeva sebenarnya.
***