Menenangkan Diri

1480 Words
Violeva tiba di Manado pagi sekali karena ia menggunakan penerbangan dini hari, mengejar harga tiket yang masuk akal di jam itu. Ia sendiri yang mengantar Arvin ke apartemen Priska, menyimpan mobilnya di basement Casa Grande dan pergi ke bandara saat tengah malam dengan travel minibus. Karena perkataan Alan semalam, Vio sangat kesal sampai tidak pamit padanya untuk pergi. ”Paitua dang bagemana kabar? Ada bae-bae jo?” (suami kamu bagaimana kabarnya? Baik-baik aja, kan?) Mama seperti biasa, akan menanyakan keadaan menantu kesayangannya paling duluan sebelum bertanya kabar anaknya sendiri. “Baik, Ma. Alan sehat.” Vio menjawabnya tanpa mau membahas lebih. “Priska, Mina, Zia, bagemana? Mama rindu bayinya Priska.” Violeva terkekeh mendengar kata bayi itu, sekarang Arvin sama sekali bukan bayi. “Baik, semuanya sehat.” “Kak, lihat yang ini.” Varrel menginterupsi obrolan Vio dengan mama. “Ini Makeup artist hits di Manado, kata teman kampusku.” Ia menunjukkan layar ponselnya, terpampang sebuah akun perias pengantin dengan followers ribuan orang. “Sama yang ini satu lagi.” Varrel menunjukkan yang lainnya. “Bagusan yang tadi sih.” Vio bergumam. “Tapi harus coba dirias dulu biar tahu mana yang lebih oke. Coba hubungi dua-duanya, Dek. Kita jadi klien dulu, minta dirias untuk besok siang.” “Maksudnya gimana?” Bocah itu tampak bingung. “Kalau minta dirias semua besok, kan muka kakak cuma satu, masa mau dirias dua kali? Apa jangan-jangan punya muka dua?” “Kurang ajar!” Vio memelintir kulit paha adiknya sampai anak itu mengaduh sambil tertawa geli. “Udah pesan aja keduanya, nanti yang dirias satu Kakak, satunya—” “Mama besok ada rapat pulang sekolah.” Harapan Vio satu-satunya justru musnah. “Kamu aja kalau gitu.” Vio mengisyaratkan petunjuknya pada satu-satunya lelaki di sana. Varrel tersedak udara sambil pura-pura meringis, padahal Vio tahu kalau adiknya itu tidak akan keberatan memakai riasan di wajah asal ada uang pelicinnya. “Oke, tapi aku mau Hp baru sebagai imbalan.” “Boleh, tapi berhenti kuliah, ya? Ke laut aja sana cari ikan.” Varrel tertawa mendengar jawabannya.  “Eh, Alan telepon Mama nih, ada apa, ya?” Suara mama menginterupsi pembicaraan mereka dan setelahnya Vio hanya mendengar mamanya bicara pada Alan. Entah membahas apa yang jelas pasti menanyakan kedatangan Vio kemari tentu saja, dan ia dengan ganasnya meninggalkan Alan pergi tengah malam, membawa Aru tanpa berpamitan. Vio masih tidak terima kenapa Alan memintanya berhenti memasak, dan juga pindah kamar tanpa izin ataupun kesepakatan. Baginya, break di sini berarti harus introspeksi dan memperbaiki kesalahan dan kelalaian kecil sehari-hari. Seperti Vio yang sering terpaksa tidak menyiapkan makanan karena terlalu sibuk mengurus calon pengantin, terlalu menikmati Alan yang meringankan banyak pekerjaan rumah, dan lain sebagainya, ia ingin memperbaiki itu semua di masa tenggangnya ini. Vio harus mencari tahu jawaban apakah benar dengan melakukannya? Atau justru merasa tidak nyaman dan tertekan? Tidak ada yang tahu kalau tidak mencoba, tapi Alan menghalaunya untuk berhenti. Apa dia sudah tidak membutuhkan Vio lagi? “Vi, ini Alan mau bicara.” Tiba-tiba saja mama mengangsurkan ponselnya. “Halo.” “Vi, sampai rumah jam berapa semalam?” Alan bisa ya, pura-pura baik dan seolah tidak terjadi apa-apa di depan mama seperti ini? “Bukannya Mama udah jawab tadi?”  Violeva mengabaikan wajah terkejut dari mama dan adiknya. “Aku tutup, ya.” Sambungan telepon itu diputus secara sepihak dengan mama di hadapannya yang siap memuntahkan kuliah tujuh minggu dan serentet ceramah lain, Vio tidak ingin mendengarkannya sekarang. Ia segera bergegas untuk membuka gaun-gaun yang dibawanya dan meletakkan mereka semua di lemari kaca yang sudah tersedia di garasi. “Vio,” panggil mama dengan nada yang berbeda, tepat seperti yang sudah ia duga. “Duduk dulu, kita bicara.” “Udah siang, Ma. Mama harus ngajar, kan? Nanti pulang sekolah kita ngobrol lagi.”   ***   Dion: Lo di mana, Bos? Gue udah nyampe dari tadi nih. Alan bangun dari posisinya setelah membuka pesan dari Dion. Pengantin baru itu kekeuh mengajaknya bertemu dan bicara karena hal kemarin lalu. Sedangkan Alan sedang tidak bernafsu untuk bicara dengan siapa pun, duduk di kedai kopi favoritnya, atau melakukan hal yang biasa ia lakukan. Ia meminta Dion datang ke kantor sebagai gantinya. Meskipun perasaannya sendiri sedang tidak baik hari ini. Pagi tadi, Alan menggebrak desk sampai keyboard wireless di sana terpental dan jatuh mengeluarkan bunyi berisik. Itu semua karena Violeva pergi tanpa pamit padanya, Alan pikir hanya mengantar Aru dan akan kembali lagi, tapi ternyata dia tidak muncul sampai pagi dan terang benderang. Pergi ke Manado tanpa bilang, juga tidak memberinya kabar. Gemar sekali membuat orang khawatir. Sampai siang, Adrian dan kawan-kawannya di workstation menjauhi Alan dan bahkan tidak mengajaknya makan siang bersama. “Lama bener, dari mana sih?” Dion menyambut begitu Alan masuk ke lobi. Memilih untuk tidak menjawab protes itu membiarkan dan Dion mengekorinya menuju ke lift, Alan melirik rekannya itu dengan tatapan segaris. Ia dan Dion sangat dekat sejak dulu, sampai Vio pernah mencurigai keduanya sebagai homoseksual dan alasan Alan menikahinya hanya untuk menutupi status gay mereka berdua. Dulu, pikiran Violeva pernah seliar itu. “Gue ada kerjaan, bikin headline perusahaan. Kontennya dari kita, tanpa mitra.” Alan memulai obrolan sambil menyalakan komputer di desk. Meminta Dion datang di hari cuti bulan madunya ke kantor adalah ide bagus, beberapa pekerjaan yang belum sempat di-handle Adrian bisa dilimpahkan kepadanya, sebagai bentuk kompensasi karena sudah membuat kerusuhan kemarin lalu antara Alan dan Vio. Kemudian, Alan melempar tablet kerjanya pada Dion dan langsung ditangkap oleh lelaki dengan sebelah tangan. Bekerja dengan Alan memang dituntut untuk punya refleks yang baik. “Gila, demi minta maaf gue dikasih kerjaan begini pas masih cuti.” Dion menggerutu, sambil menerima tablet dari Alan dan membaca bahan mentah konten dengan seksama. Di sini, posisi Dion adalah writer content, sama seperti Adrian dan lebih senior beberapa bulan. “Siapa suruh lo lebay banget ngechat gue sama Vio. Belom dapet jatah ya lo?” Dion meringis. “Sumpah, gue nggak nyangka lo sama Vio sampe perang badar gitu. Sekarang gimana, Bos? Gue mesti ketemu sama Vio apa gimana?” Alan menghindar. “Diem aja udah.” “Lo masih berantem sama dia?” Dion malah balik bertanya. “Enggaklah,” elak Alan buru-buru. “ “Dia cerita semua,” kata Dion dan jangan aneh kalau Violeva memang suka berterus terang sampai sebegitunya, seolah ia bahagia kalau sudah membuat lawannya merasa tidak enak karena diserang perasaan bersalah. “Dia bilang semuanya. Lo tau gak, gue berasa gila bikin lo sama dia sampe berantem, ngerusak barang, mencederai hubungan teman ...” “Makanya lo gausah lebay!” “Gue kira dia marah waktu itu. Gara-gara gue sama Lisdian gak mau diajakin staycation di hotel.” Alan melipat tangannya di d**a, dan berdiri sambil menyandarkan sedikit tubuhnya ke kubikel di samping Dion. Dia menggeleng-gelengkan kepala. “Lo kayak baru kenal sama si Vio kemaren sore aja. Parah!” “Ya habis dia kayak yang marah, pake bilang-bilang, ‘ntar laki gue jadi supir dong!’ kan gue gak enak gitu, gue sama sekali gak pernah nganggep lo supir atau manfaatin lo.” “Ya kalo lo sama istri lo duduk di kursi penumpang sementara gue yang nyetir namanya emang supir, g****k! Salahnya di mana sih?” Sebenarnya Alan tidak perlu mengumpat sekasar itu karena ia yang paling tahu kalau pemicu pertengkarannya kemarin dengan Violeva bukan karena Dion saja, atau mungkin lebih tepatnya bukan karena Dion. Ia hanya sedang stres dan banyak tekanan sampai melampiaskan semuanya pada Vio di saat yang tepat, saat emosinya terakumulasi dan Alan meledak-ledak, hanya karena Vio salah bicara pada Dion saja. Timingnya yang salah. Dan sekarang Vio pergi dari rumah tanpa bilang-bilang, Dion orang yang tepat dijadikan sasaran kemarahan Alan selanjutnya. “Sial.” Dion mengumpat pelan, “Iya deh udah gue emang lagi sensian kemaren.” Alan tertawa melihat wajah menyedihkan dari sahabatnya itu, segera melupakan ledakan amarahnya barusan. “Gue udah minta maaf sama Vio, tapi gak tau dia beneran maafin atau enggak. Lo tau kan, lewat chat gitu bisa aja orang bohong atau gimana?” “Dia ke Manado.” “Lo serius nggak ada apa-apa sama dia?” Ada kilat khawatir di mata Dion, dan sepertinya ia akan buru-buru menyiapkan sesajen untuk ritual sujud sembah mohon ampun pada Ndoro Violeva. “Enggak.” Alan tetap menyangkal. “Dia mau buka butik baru kan di sana. Ntar Sabtu gue nyusul.” Kali ini memutuskan untuk berbohong. Dion mengangguk-angguk. “Lain kali kalo mau ada perlu sama dia telpon aja, biar gak salah paham. Chatting gituan kan kita suka gak ngerti gimana ekspresi dan intonasi orang yang diajak ngomong tuh, apalagi udah kejadian gini. Jadiin pelajaran aja.” “Iya, siap, Bos.” Dion menyetujuinya dengan patuh, tanpa membantah. “Gue ... minta maaf, ya?” “Jijik banget gue.” Alan tertawa sambil bergidik. “Kerja lo kalo mau dimaafin.” “Iya ... iya, gue kerjain.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD