Nyatanya yang Vio lakukan seharian justru menyibukkan diri di garasi mobil yang mereka sulap untuk jadi butik barunya. Ia menyusun gaun-gaun, membeli beberapa manekin, mulai mewawancarai calon pegawai yang akan bekerja di sini nanti dan sederet hal lain. Menyibukkan diri sampai lupa pada seseorang yang ia tinggalkan di Jakarta, sampai Vio lupa mengabari teman-temannya dan tidak curiga sama sekali kenapa obrolan grup mereka jadi sangat sepi akhir-akhir ini. Biasanya grup unfaedah itu ramai dengan ocehan bersahut-sahutan, beberapa curhatan, sedikit umpatan, gibahan, hingga selingan kajian hijrah untuk muslimah.
Ke mana Priska? Terakhir ia hanya menitip salam pada mama dan meminta oleh-oleh apa pun yang bisa Vio bawa, sedangkan Mina hanya membalas pesan satu kali dan Zia justru sama sekali tidak muncul. Apakah terjadi sesuatu di sana? Dan di antara tiga orang itu, siapa yang paling tepat untuk ditanyai?
“Kak Vio, aku liburan UTS mau main ke Jakarta, ya? Kangen sama Abang.” Tiba-tiba saja Varrel muncul di hadapannya. Vio berhenti beraktifitas, duduk di sofa ruang tengah sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
“Ini masih di sini,” gumam Vio pelan, mengabaikan adiknya. Di meja kecil sudut ruang tengah, ada foto pernikahannya dengan Alan. Sudah tiga tahun rupanya, tapi rasanya sudah sangat lama sekali Vio tidak sebahagia itu dengan Alan. Seolah-olah foto itu hanya ilusi optik.
“Iya dong, kan Bang Alan kesayangan Mama. Jadi foto Abang disimpan di sini.”
“Ini foto ada muka guenya juga, monyong!” Violeva mencubit pelan lengan adiknya.
Varrel tertawa. “Kakak itu pelengkap aja, kayak bawang goreng di nasi tumpeng,” katanya jahil. “Kakak sama Abang lagi marahan, ya?”
“Ha?” Violeva terkejut mendengar pertanyaan yang mirip pernyataan itu.
“Marah sama suami itu wajar, Vi. Namanya manusia, gak ada yang sempurna. Suami bukan Tuhan, kok. Tapi sambil berpikir, diingat-ingat lagi kebaikannya. Kebaikan Alan sama kamu itu banyak, lho. Masa hilang semua hanya karena beberapa kesalahan?”
Mama kali ini entah muncul dari sebelah mana, dan Vio malas sekali mendengarkan ceramahnya yang delapan puluh persen selalu memihak Alan. Ia tidak pernah didengar, apalagi dibela. Mama selalu saja memaklumi tiap kelakuan buruk Alan, tiap kekurangannya.
“Gimana kalau dia selingkuh?” tanya Vio tiba-tiba, sengaja memancing ibunya dengan pertanyaan sejenis ini. Jenis masalah dan kesalahan yang pernah membuatnya trauma, Vio ingin tahu apakah mama akan diam saja jika anaknya mengalami hal yang serupa seperti yang dulu beliau rasakan? Diselingkuhi oleh papanya?
“Vi, besok pulang dulu, ya? Biar Mama urus butik dibantu Varrel sama Nala. Selesaikan dulu masalah dengan Alan, jangan pergi ke mana-mana.”
“Aku tanya,” ujar Vio menekankan. “Gimana kalau Alan selingkuh? Kalau Mama jadi aku, apa yang bakal Mama lakukan?”
Mama duduk di sebelahnya kali ini, terlihat berpikir meski Vio tahu betul apa yang dipikirkannya. Apa benar mama rela membiarkan anak perempuannya hidup terus seperti ini? Kerja keras banting tulang sendiri, membiayai mertua dan suami juga ... diselingkuhi?
“Mama suruh Alan ke sini hari Sabtu, kalau kamu gak bisa pulang besok.”
Sial. Vio mengumpat dalam hatinya, kenapa mama selalu bisa membuatnya mati kutu dan menuruti kata-katanya? Entah itu dengan cara halus ataupun kasar. “Mama gak percaya Alan bisa seperti itu soalnya.”
“Aku juga nggak percaya mendiang Papa bisa seperti itu ke Mama,” ujar Vio membalasnya.
****
“Papa!” Violeva menjerit histeris ketika sosok lelaki gagah yang selalu berpakaian dinas setiap pagi itu harus terbujur kaku di hadapannya siang ini, sepulang sekolah. Ia meraung-raung ketika diberitahu berita duka ini lewat BBM dari tantenya dan segera bergegas pulang diantar oleh Mang Endang, bersama Priska, Zia dan Mina. Mereka bersamanya, menangis di dekatnya. Memeluk Vio, memeluk mama dan mengusapi kepala Varrel yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Papa terkena serangan jantung, lalu meninggal karena terlambat ditangani.
“Papa ... bangun ... tolong ...” Violeva menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu sekali lagi. Tangannya gemetar saat menyentuh tubuh dingin ayahnya, orang yang selalu ia idolakan sepanjang hidupnya. Orang yang tidak pernah marah meski Vio harus mendapat peringkat tiga terbawah di kelas, tidak peduli bahwa keluarganya berlatar belakang para pendidik. Papa adalah orang yang tidak pernah meremehkannya.
“Vio janji, Pa ... ujian kali ini Vio mau rajin belajar, nggak akan bikin Papa malu lagi. Tolong bangun ...”
Priska menarik Vio ke belakang dan memeluknya erat, dia membisikkan kata-kata yang mendadak tidak dapat Vio cerna. Ia tidak ingin mendengar apa-apa selain suara berat papa yang menyebut namanya, yang selalu bilang bahwa Vio adalah anak gadisnya yang paling cantik di dunia. Tidak peduli baju seragamnya sudah berbentuk apa, Vio melepaskan diri dari Priska dan menubruk jasad ayahnya lagi.
“MAS DAMAS!”
Sampai suara itu muncul dan membuat Violeva dengan yang lainnya refleks menoleh. Seorang wanita berusia akhir dua puluhan menjerit keras sebelum akhirnya menubruk jasad di hadapan mereka. Ia menangis meraung-raung dan meratap, seolah papa adalah orang yang sangat berharga untuknya. Dan Violeva terdiam menyaksikan tangisannya hingga melupakan air matanya sendiri. Terlalu terkejut, terlalu asing dengan keadaan di hadapannya sekarang. Perempuan ini ... siapa?
“Pergi kamu dari sini!” Adik papa yang tertua muncul di hadapan mereka dan menghardik wanita itu untuk menjauh, tapi ... Vio mendengar suara tangisan lain. Dua bocah kecil menangis meraung-raung sambil menggapai-gapaikan tangan mereka, menginginkan ibunya.
“Mbak tolonglah, aku juga berhak berduka. Aku istri Mas Damas juga, dan mereka berdua anak kandungnya. Anakku yatim, Mbak! Tolong kasihani kami juga.”
Seperti ada palu besar yang memukul kepala Violeva. Pernyataan wanita itu kontan saja membuat suasana menjadi lebih memilukan daripada sebelumnya. Vio melihat Mama tergeletak lunglai yang disambut jeritan para saudara dan pelayat, sedangkan dirinya sendiri tiba-tiba lemas tidak berdaya. Pasrah saat Priska, Zia dan Mina menyeretnya dari sana.
“Vi ... lo yang sabar ya.” Priska dengan air mata yang berserakan di wajahnya tampak sangat jelek, ia memegangi bahu Vio yang gemetar, ketakutan, kewalahan, mengalirkan kekuatan yang sebenarnya juga tidak ia miliki. Setiap kematian mendadak selalu menyebabkan luka yang berbeda, yang lebih menyakitkan daripada kematian karena sakit parah, meskipun keduanya sama-sama menyakitkan, ditambah lagi dengan skandal memalukan yang harus terkuak di hari yang sama. Violeva terlalu muda untuk dihadapkan pada masalah seberat ini. Semua orang tahu bagaimana hari berduka yang sedang diresapinya berubah menjadi petaka. “Kita bertiga ada di sini, buat lo.”
Vio berani bersumpah ia tidak merasakan feeling apa pun selain papa yang biasanya banyak bicara saat sarapan pagi, hari ini tidak. Papa diam saja, tidak mengajak siapa pun bicara. Apakah itu bisa disebut pertanda? Kenapa papa memberi pertanda yang rancu dan menyedihkan seperti itu? Tidak ada kata-kata terakhir untuknya.
“Gue tahu lo pasti sedih,” sambung Mina dengan suara tertahan. Dan tidak ada lagi yang bicara setelahnya karena Zia merentangkan tangan untuk meminta Priska juga Mina melakukan hal yang sama, mengelilingi Violeva dengan pelukan mereka dan menangis lagi bersamanya. Sekarang, dua dari mereka tidak lagi punya ayah. Vio dan Mina jadi anak yatim, tapi gadis itu lebih beruntung karena ayahnya tidak wafat dengan meninggalkan aib.
“Aku berhak atas harta bendanya! Anak-anakku berhak mendapatkan warisan!”
Detik itu, setelah kedatangan wanita itu, Vio tidak lagi mengharapkan papanya bangun seperti keinginannya semula. Ia memandang jasad itu penuh penyesalan, menyesal karena baru saja menangisinya. Menyayangkan tiap tetes air mata yang ia buang sia-sia untuk seorang pengkhianat seperti papanya. Lebih baik begitu, pengkhianat lebih baik tidak perlu ada lagi di dunia ini, karena buat apa hidup kalau untuk menyakiti hati mama saja. Hari itu, Violeva merasakan luka yang amat dalam dan tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Tidak akan. Ia pikir begitu.
***