Karina membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan gelisah. Meski malam sudah menua, tapi mata enggan tertutup. Raga dan pikirannya seolah tak merasa lelah, terlebih kepalanya dipenuhi bermacam-macam spekulasi dan kecemasan berlebih. Sang suami yang baru selesai dengan tugasnya, masuk ke kamar berharap bisa memejamkan mata barang sejenak. Punggung lelaki itu terasa berat karena kurang istirahat selama masa persiapan pembukaan kedai. Sebenarnya, Ilham tak kalah gelisah akan hari esok. Tetapi melihat kekasihnya tak bisa tidur, mendadak kekuatan mengayominya timbul dan itu berhasil membuat dirinya menepiskan ketidaknyamanan diri. Dengan satu tarikan bibir ke kanan dan kiri secara bersamaan, Ilham membelai rambut Karina. “Belum tidur, Sayang? Pasti kepikiran besok kan?” “Iya

