bc

Janji Tiga Sahabat

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
BE
family
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
campus
city
like
intro-logo
Blurb

Tiga sahabat telah bersama sejak kecil, melalui tawa, air mata, dan mimpi yang mereka bangun bersama. Mereka percaya bahwa persahabatan mereka tak akan tergoyahkan, tak peduli seberapa keras hidup menguji mereka. Namun, luka masa lalu perlahan menguji janji yang pernah mereka buat.

chap-preview
Free preview
Bab 1 : FAJAR : Petualangan Tanpa Rencana
Matahari hampir tenggelam di balik bukit, meninggalkan jejak warna jingga keemasan di langit kota kecil mereka. Angin sore menerpa lembut, membuat dedaunan di sekitar taman kota bergemerisik pelan. Di atas pagar pembatas taman, gue—Fajar, yang dengan santai mainin ponsel gue, Raka yang sibuk mengikat ulang tali sepatunya, dan Naya yang mengayun-ayunkan kakinya sambil memeluk boneka alpukat raksasa di pelukannya. "Hari ini gila banget," kata Naya, matanya berbinar-binar. "Kita cuma mau beli es krim, tapi malah nyasar ke karnaval misterius yang bahkan kita nggak tahu ada." Raka terkekeh, menyenggol bahu Naya. "Nyasar? Itu lo doang. Gue sama Fajar udah tahu dari awal, cuma pura-pura biar Lo nggak panik." Gue, yang sejak tadi lebih banyak diam, akhirnya tertawa. "Udahlah, Kaa. Ngaku aja kalau tadi kita juga bingung cari jalan keluar." Ekspresi Raka berubah seketika. "Eh, iya sih…" katanya sambil menggaruk kepala, lalu pura-pura batuk untuk menutupi rasa malunya. Btw, itu kebiasaan Raka tiap kali dia ngerasa malu. Kita bertiga memang sudah terbiasa saling meledek. Bukan karena ingin menjatuhkan, tapi karena kita bertiga tahu, di balik semua lelucon ini, ada ikatan persahabatan yang nggak tergoyahkan. Sejak kecil, kita sudah selalu bersama. Gue, si pemikir yang selalu punya ide cerdas dan strategi dalam permainan, bukan self proclaim ya, tapi nyata. Raka, si pengambil risiko yang nggak bisa diam, yang kadang buat gue salut dan pengen tahu isi otak dia apa, juga dia selalu membuat segalanya lebih seru. Dan satu lagi Naya, si ceroboh yang meskipun sering merepotkan, selalu membawa tawa dalam kelompok kita. Dulu, kita bertiga tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Kita tumbuh dengan bermain petak umpet di lapangan kecil di belakang rumah Gue, bersepeda sore-sore hingga larut, dan membangun "markas rahasia" di bawah pohon mangga di dekat rumah Raka. Markas itu sekarang sudah hilang, tapi kenangan tentangnya tetap tersimpan di hati mereka. Dulu, kita pernah berjanji bahwa kita akan terus bersama selamanya, apa pun yang terjadi. Saat itu, kita masih kelas empat SD dan merasa seakan-akan dunia hanya milik kita bertiga. Sekarang, kita sudah duduk di bangku SMA, dan meskipun banyak hal berubah, satu hal tetap sama—kita masih bersama. *** Hari ini awalnya hanya akan menjadi hari biasa. Kita bertiga hanya ingin membeli es krim di warung langganan dekat sekolah, tetapi entah bagaimana, kita malah tersesat di festival kecil yang digelar di taman kota. Festival itu penuh dengan lampu warna-warni, musik ceria, dan tawa anak-anak kecil yang berlarian membawa balon. Ada berbagai permainan khas karnaval, dari lempar gelang, memancing bebek plastik, sampai komidi putar tua yang sedikit berderit saat berputar. "Aku mau naik itu!" seru Naya, menunjuk ke komidi putar dengan semangat. Raka mengangkat alis. "Serius? Kayak bocah banget." "Tapi seru, kan?" Naya bersikeras. Guee, yang sejak tadi hanya tersenyum melihat tingkah mereka, akhirnya ikut berkomentar, "Yaudah, sekalian nostalgia masa kecil." Dan begitu saja, kita naik ke komidi putar seperti tiga anak kecil yang kembali ke masa lalu. Naya tertawa keras saat angin menerpa wajahnya, sementara Raka berpura-pura bosan padahal diam-diam menikmati suasana. Gue, seperti biasa, lebih suka mengamati dua sahabat gue daripada terlibat langsung dalam kegilaan mereka. Setelah puas berkeliling festival, kita mencoba berbagai permainan. Dari semua permainan yang kita ikuti, yang paling mengejutkan adalah ketika Naya menang lomba lempar gelang dan mendapatkan boneka alpukat raksasa sebagai hadiah. "Aku masih nggak percaya aku menang," katanya sambil memeluk si Alpukat erat-erat. "Biasanya kan aku tuh ahli kalah." "Kayaknya abang penjaga kasihan sama kamu," kata Gue dengan nada menggoda. Naya mendelik. "Hei! Aku menang karena skill, tahu!" Raka tertawa paling keras. "Skill apa? Skill ngerepotin kita?" Meskipun sering diledek, Naya tahu kedua sahabatnya ini, bangga padanya. Kita bahkan membantunya membawa boneka itu sepanjang perjalanan pulang, meskipun Raka terus menggerutu soal betapa beratnya boneka tersebut. *** Malam mulai merayap perlahan. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menciptakan pendaran hangat di jalanan. Kita kembali duduk di pagar taman kota, menikmati sisa-sisa senja yang perlahan memudar. Gue mengeluarkan ponsel dan mengambil foto kita bertiga dengan latar belakang langit ungu-kemerahan. "Jadi, kapan kita ngulangin petualangan absurd kayak gini lagi?" tanya Raka, masih setengah tertawa. "Besok?" Naya langsung menjawab tanpa ragu. Gue tersenyum tipis. "Nggak harus besok. Tapi yang jelas, selama kita masih bareng, pasti bakal selalu ada hari-hari kayak gini." Kita bertiga saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa bareng. Terkadang, kebahagiaan nggak perlu direncanakan. Terkadang, momen terbaik dalam hidup justru datang dari kejadian yang nggak terduga. Dan bagi kita bertiga, persahabatan ini adalah petualangan yang nggak akan pernah berakhir. *** Malam semakin larut, tapi kita bertiga belum beranjak dari taman kota. Suasana semakin sepi, hanya ada suara jangkrik dari semak-semak dan sesekali suara motor melintas di jalan utama. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kuning redup, membuat bayangan kita memanjang di trotoar. "Gue nggak pengen pulang," gumam Naya, masih mendekap boneka alpukatnya. Gue melirik jam di ponsel. "Udah jam sembilan, Nay. Kalau kita nggak pulang sekarang, besok pagi pasti kena ceramah." "Yaelah, lo kan anak baik-baik. Gue sama Naya udah kebal," seloroh Raka, menguap lebar. "Lagipula, kapan lagi kita bisa santai begini? Besok udah Senin, udah ada tugas, kuis, dan PR dari Pak Surya." Kita bertiga kompak mengeluh. Pak Surya, guru matematika kita, dikenal karena hobi memberi tugas dadakan. Gue, memang cukup pintar dalam pelajaran itu, dan Raka juga Naya sering kali andalkan contekan dari gue. "Besok kita belajar bareng, ya?" tanya Naya penuh harap. "Artinya lo bakal minta contekan gue lagi," balas gue, menatapnya curiga. Naya tertawa kecil, tidak menyangkal. "Ya, kan, belajar bareng namanya! Saling membantu gitu loh." Raka tertawa keras. "Naya, lo nggak bantu apa-apa selain gangguin kita belajar." "Eh, tapi tanpa gue, pasti kalian stres sendiri!" Kita tertawa, sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Jalanan sudah lebih sepi dari biasanya, dan udara malam mulai menusuk. Saat kita berpisah di persimpangan menuju rumah masing-masing, Gue menatap dua sahabat gue dengan senyum kecil. Kita memang sudah beranjak remaja, tapi rasanya masih seperti dulu—seperti saat kita masih berlarian di sekitar kompleks, mengejar kupu-kupu atau bermain petak umpet hingga langit berubah gelap. Gue berharap, bagaimanapun keadaan berubah, mereka akan selalu seperti ini. *** Hari Senin datang lebih cepat dari yang mereka harapkan. Seperti biasa, Naya terlambat dan masuk kelas dengan napas terengah-engah, sementara Gue dan Raka sudah duduk santai di kursi kita. "Telat lagi," gumam Gue tanpa perlu menoleh. Naya menjatuhkan diri ke kursinya di sebelah kita. "Hampir ditangkap Pak Satpam, untung aku lari lebih cepat dari dia." Raka tertawa. "Muka lo mirip maling ayam pasti." "Yaelah, yang penting gue masuk sebelum bel," kata Naya, menyender di mejanya dengan wajah kelelahan. Pelajaran berlalu dengan cepat, hingga akhirnya tiba di jam istirahat. Kita bertiga berkumpul di kantin, duduk di sudut yang biasa kita tempati. "Nih, soal kemarin," kata Gue, menyodorkan buku catatan gue ke Raka dan Naya. "Gue udah selesain tugasnya, kalau mau nyontek, silakan." Naya langsung menyambar buku itu dengan girang. "Fajar, kamu memang penyelamat hidupku!" Raka mengangkat alis. "Gue juga dong?" "Ya, lo juga. Tapi lo lebih sering bikin masalah daripada menyelamatkan gue." Obrolan kita terus mengalir santai, hingga tiba-tiba Raka mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto lama. Itu foto kita bertiga saat masih SD, duduk di bawah pohon mangga di dekat rumah Raka, dengan pakaian penuh lumpur setelah bermain hujan-hujanan. "Ingat ini nggak?" katanya sambil tertawa. Naya langsung tertawa keras. "Ya ampun! Ini waktu kita main lumpur di sungai belakang rumah Fajar, kan?" Gue menggeleng sambil tersenyum. "Dan kita kena marah habis-habisan sama ibu kita masing-masing." Kita bertiga sejenak terdiam, mengenang masa kecil yang terasa begitu bebas. Saat itu, tidak ada tugas sekolah yang menumpuk, tidak ada kekhawatiran soal masa depan, hanya ada kita bertiga dan dunia kecil yang terasa luas. "Lucu ya," gumam Raka tiba-tiba. "Dulu kita selalu bilang mau berteman selamanya. Tapi kalau dipikir-pikir, nanti kita bakal kuliah, kerja, mungkin ada yang pindah kota, siapa tahu kita nggak sering ketemu lagi." Suasana tiba-tiba berubah hening. Naya menggigit bibirnya, tampak berpikir, sementara gue menatap kosong, seakan gue ga pernah memikirkan hal ini akan terjadi suatu hari nanti. "Aku nggak mau kepisah dari kalian," kata Naya akhirnya. "Serius, aku nggak bisa bayangin hari-hari tanpa kalian berdua." Gue menatap dua sahabat gue dengan serius. "Tapi kan, kita tetap bisa temenan walaupun nggak selalu bareng. Persahabatan itu bukan soal seberapa sering kita ketemu, tapi seberapa kita masih peduli satu sama lain." Raka tersenyum kecil. "Bener juga sih. Tapi tetap aja, rasanya aneh kalau nanti kita nggak bisa jalan-jalan absurd bareng kayak kemarin lagi." "Makanya, kita nikmatin aja momen-momen sekarang," kata Gue. "Biar nanti, saat kita lihat ke belakang tuh sadar, kalau masa-masa ini yang terbaik di hidup kita." Kita bertiga saling bertatapan sebelum akhirnya tersenyum bersama. Mungkin kita tidak bisa selamanya bersama seperti dulu, tapi satu hal yang kita tahu pasti—persahabatan kita tidak akan berubah. Dan selama kita masih memiliki satu sama lain, akan selalu ada petualangan-petualangan baru yang menunggu di depan. ---

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.6K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.0K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.4K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.3K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
13.0K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook