Seketika Shia terbelalak mendengar ucapan Surti. Bagaimana mungkin pembantu yang ia kenal lembut bisa mengeluarkan kata-kata yang mengejutkan. "Astaga, Surti ...." "Kenapa?" tanya Surti seolah tidak paham dengan ucapan Shia. "Kamu masih waras, kan?" Shia bertanya balik. "Justru sangat waras untuk menghadapi dua benalu," jawabnya. "Nyebut ...." Shia menepuk pelan punggung Surti. "Habisnya mau bagaimana lagi mengatasi dua benalu di rumah Mba," kata Surti. "Masih ada jalan tanpa harus melakukan yang kamu katakan tadi. Amit-amit loh," lanjut Shia. "Saya juga sakit hati ketika dapat perlakuan yang tidak baik," ujarnya. "Meskipun seperti itu ... jangan sampai kamu jadi ngikutin hal yang gak bener," lanjut Shia. "Kecuali saya gak punya etika atau jahat ke mereka, bolehlah mereka bala

