Tan Mey

1442 Words
Sepertinya Sag memang brondong renyah dan wangi tak heran banyak para wanita yang tergoda. Melihat Sag seolah seperti pop corn snake berbalut madu, kriuk, manis dan lengket. Membuat otak lawan jenisnya bertraveling ria. “Hallo Sayang, kok sendirian saja.” Sapa seorang wanita cantik. Ia adalah Tan Mey, pemilik Cafetaria. Sag sering datang ke tempat ini, wajar saja jika pemiliknya begitu akrab dengan customer brondong ajib ini. Tapi sepertinya ada hubungan lebih di antara mereka. Entahlah Sag itu apanya Tan Mey. “Halo juga Tan, iya ini sendiri. Tapi ada teman nanti nyusul.” Sag berdiri dengan gagah sambil tersenyum. “Cewek ya.” Tan Mey mulai kepo dan lagaknya yang genit coba menggoda Sag dengan suaranya yang serak-serak basah. Pemilik Cafetaria itu memang cantik dan sexi. Pinggulnya yang aduhai terlihat hot ketika memakai rok yang membentuk bodynya. “Cowok Tan,” sahut Sag. “Oh Cowok. Syukurlah kalau gitu,” sahutnya sambil tersenyum lega. Sag tersenyum sambil geleng-geleng. “Woiiii, kenapa Tan? Lega ya.” “Iya dong.” “Uhhh, masih juga cemburuan.” “Gak juga.” Tan Mey melipat wajahnya. Ada rasa kesal yang disembunyikan. “Ah yang bener,” ucap Sag sambil menatap mata Tan Mey. “Ya ada sih. Tapi masih dalam tahap wajar. Kan Tante sadar, siapa Tante! Kalau kamu ke sini sama temen kamu cowok, ya gak masalah. Tapi kalau kamu kesini sama cewek, kayak waktu itu. Jelas saja Tante sewot.” “Oops, ternyata dulu itu Tan cemburu ya. Sag baru tahu, kenapa baru bilang Tan? Perasaan dulu itu, Tan santai saja. Cuek justru! Eh, ternyata Tan pura-pura ya. Tan akting ya ....” Sag tertawa sambil meledek Tan Mey. Tan Mey menutup mulut Sag dengan duit seratus ribuan. “Hustttt, berisik. Malu tuh dilihat orang.” Tan Mey memperhatikan sekelilingnya, untungnya hanya satu dua orang dari pengunjung yang mendengar tawa Sag. “Iya deh,” ucap Sag. Sag menarik tangan Tan Mey dari bibirnya lalu mencium punggung tangan putih dan mulus itu. “Lihat ini di mana! Masak iya, ngomong kenceng amat.” Meliriknya sambil cemberut. “Keceplosan Tan!” sahut Sag dengan mengelus-elus rambutnya. “Sana kamu tunggu Tan di belakang!” suruh tante Mey. “Lama pasti.” “Gak Sag! Bentar juga beres.” Tan Mey masih sibuk membereskan beberapa file. Sepertinya itu laporan gaji. Tan Mey sedang mempersiapkan pembukuan untuk gaji para karyawannya. “Tunggu Tan saja.” Sah tetap berdiri sambil memperhatikan Tan Mey. “Terserah kamu sih. Duduk sana loh!” “Enggak mau!” “Huhhh, kamu ini susah di bilangin. Dasar manja!” Menatap Sag sebentar lalu kembali ke fokus pekerjaannya. “Masih lama ya?” Sag bertanya, napasnya terdengar suara. Sepertinya mulai jenuh menunggu Tan Mey. “Sabar dong, tinggal dikit lagi. Sag kamu nunggu siapa? Teman kamu ganteng gak sih?” “Iya dong Tan. Apa mau Sag kenalin,” ucap sek sembari menaikan alisnya. Mata Tan Mey terbuka lebar, bibirnya merekah seperti bunga mawar merah. “Ouhh mau dong.” “Ya udah nanti Sag kenalin. Tapi masih satu jam an sampai sini.” “Gak apa-apa. Kita bisa ngobrol dulu. Kamu temani Tan ya, capek banget ini.” “Siap tapi jangan lupa, apa yang tante bilang kemarin ....” Mengedipkan matanya, memberikan kode etik. “Gampang kalau itu. Emangnya seminggu habis. Perasaan Tante kirimnya banyak loh.” “Banyak sih Tan tapi ludes dah.” “Ha! Boros amat sih. Sag kamu pakai buat beli apa? Pasti ganti mobil!” celetuk Tan Mey. Memandang Sag dengan serius, menunggu jawaban dari cowok tampan itu. Sag lagi-lagi tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Pasti ketebak.” “Sag kalau nurutin kendaraan gak ada habisnya! Dua bulan kemarin dah Tan beliin, ini kok ganti lagi sih. Pantes seminggu ini gak nongol, gak ada kabar. Eh taunya lagi jelong-jelong sama mobil baru ya!” ucap Tan Mey, menarik napas panjang. “Bosen Tan!” jawab Sag singkat. “Ya ampun Sag, kamu ini dewasa dikit dong. Umur kamu semakin bertambah, coba dong mikir masa depan. Tan lebih suka kamu nikah deh. Soalnya Tan bakal tenang dari pada lihat kamu kebut-kebutan pakai mobil baru. Tan yakin bentar lagi kamu pingin ganti mobil sport. “Anak muda sekeren ini, wajar kalau gonta-ganti mobil. Toh Sag beli juga gak Cuma pakai duit Tan, pakai duit Sag juga loh.” “Entahlah susah di bilangin.” “Makanya Tan, gak usah bahas mobil. Ganti tema dong,” ucap Sag. Tan Mey agak kesal, karena Sag susah di nasehati. Tan Mey memilih untuk mengalah dari cowok yang baru mau dewasa. Wajar jika Sag selalu keturutan. Maklumlah namanya juga anak tunggal. “Mana temanmu?” tante mengalihkan pembicaraan. “Kena macet dia,” jawab Sag. “Oh. Btw kamu mau ngenalin Tan sama dia kan?” “Tentu dong. Apa sih yang gak buat Tan Mey.” “Baguslah.” “Tapi Tan jangan ngomong kalau sudah kenal Sag.” “Loh! Kenapa?” “Gak enak dong, dikira kita sekongkol!” ucap Sag. “Lah, kan emang kita sekongkol.” “Bukan sekongkol Tan! Ini kan menyusun rencana.” “Oh gitu ya.” “Biar seru Tan.” “Ya udah deh, ngikut.” “Gini Tan, ntar Tan nyamar saja jadi pengunjung cafe. Gimana setuju gak? Kalau iya, mending Tan ganti style yang agak sexi, biar teman Sag suka sama Tan Mey. Tan Mey terlihat girang, ia berdiri dan meninggalkan kursi kerja yang ia duduki sedari tadi. “Ok. Ide yang bagus. Kamu memang cerdas.” “Jelas dong, gak Cuma cerdas tapi ganteng, keren, macho. Huh cewek mana yang gak klepek-klepek sana Sag. “Cewek sederhana yang gak punya money. Mikir kalau mau suka sama kamu, paling pilih mundur perlahan. Secara mau maju gak ada modal, dah sadar diri palingan juga gak masuk kriteria kamu Sag.” “Tumben Tan cerdas, tahu lemahnya Sag.” Sag tertawa keras sampai-sampai beberapa orang melihat ke arahnya. “Ayuk ikut Tan dulu.” Tan Mey mulai risih dan dia mengajak Sag ngobrol di belakang. “Kemana Tan?” Sag bertanya dengan heran tanpa bisa menolak keinginan Tan Mey. “Ikut saja sudah, enak nurut itu menguntungkan dari pada membantah itu merugikan.” Tan Mey, menggandeng tangan Sag dan mengajaknya menuju ruang belakang. “Ok. Tan cantik ....” Sag mengikuti langkah Tan Mey, tanpa ada perasaan takut sedikitpun. Maklumlah mereka berdua sudah sering bertemu dan tentunya sudah saling akrab. “Sag, seminggu gak ketemu tapi kamu tambah ganteng.” “Kalau itu gak usah di omongin. Sag dari lahir emang ganteng Tan.” “Tan serius.” “Sag juga.” “Tan ngeliatin kamu, kok beda ya.” “Beda kenapa Tan?” “Kamu tambah isi. Tuh,” ucap Tan Mey sembari mendongak menatap dahda Sag. “Masak sih! Bukannya kebalik ya,” Sag tersenyum, melirik nakal. Tan Mey memperhatikan dua gunung yang terpompa maksimal. “Kalau ini mah asli, kamu juga tahu.” “Emang yang asli sama engga, bedanya di mana Tan?” tanya Sag dengan senyuman manis menunggu jawaban. “Pas kamu pegang gimana?” Tan Mey bertanya balik. “Pegang,” menatap ke langit-langit sambil berpikir. “Lebih berasa di remas Tan.” “Iya suka-suka kamu! Mau di pegang, mau diremas, mau di peras ataupun mau kamu sedot sampai kempes, terserah kamu. Tapi ini Tan kan lagi nanya sama kamu Sag. Jawab dong.” “Oh iya ya! Kalau waktu itu ... Tan gak melawan jadi enak akunya ....” “Nah loe pernah gak megang, terus melawan?” tanya Tan Mey. “Kalau jaman Sag semua gak ada yang melawan. Pasrah aja Tan, masih polos mungkin ....” “Bukan melawan yang itu Sag tapi pas di pegang itu loh asli apa gak jelas beda Sag. Kalau asli buah tuh, di pegang lembut, enak dan gak bakal nyembul balik dan ngelawan. Tapi kalau yang buah isian ituh tuh, kalau dipegang kenyal dan mental, elastis gitulah. Terbentuk sempurna sempurna, tegak menantang terus. Gitu bedanya gunung asli sama engga asli, Sag.” “Ah Tan bisa aja,” ucap Sag. Ia mengelus keningnya sambil tersenyum. “Beneran! Secara Tan dah apal bentuk mu. Jadi ada perubahan sedikitpun, gak bakal luput dari pengelihatan Tan. Lina tahun lebih Tan kenal kamu, apal seluk beluk cowok seperti kamu. Huhh, dasar kucing Persia." "Ouhhh, kucing Himalaya ini," sahut Sag sambil melirik m***m. Sag memegang bahu Tan Mey dan tersenyum penuh arti. "Jangan mulai deh ...." Tan Mey, melepaskan tangan Sag Ia meraih kunci di sakunya lalu membuka pintu kamar yang berada di belakang Cafetaria. Sag berdiri di depan pintu dengan satu tangan di masukkan ke saku celananya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD