Menang Banyak

1345 Words
“Dasar brondong.” "Jangan meledekku seperti itu. Aku sudah dewasa Umur Sag sama Tan gak selisih terlalu jauh. Jadi jangan panggil Sag brondong!" "Widih, keren kata-katanya." Tan Mey meraup wajah Sag dengan tangan kanannya. “Ih Tan. Ini tangannya bau mem ....” Sag tidak meneruskan kata-katanya, ia hanya tersenyum sambil mengendus tangan wanita yang ada di depannya. “Buruan ambilkan bra Tan di lemari.” “Siap bos.” Sag membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah lemari. “Mau yang warna apa?” Sag pura-pura bertanya sambil senyum-senyum mengamati bentuk cd yang kecil dan sexi. Hanya muat bagian tengah tanpa ada kain untuk bagian belakang pinggulnya. Memilih model yang menarik hasrat kelaki-lakiannya. Sag mengambil bra sepasang dengan cd berwarna hitam. “Itu yang warna biru aja.” “Oh ini,” kata Sag. Menyentuh bra yang tidak ia sukai. Mengambilnya lalu menyelipkan lagi ke bagian bawah dari tumpukan bra. “Iya itu, paling atas.” “Ok.” Sag menjulurkan lidahnya sambil menahan tawa. Tindakannya itu memang kekanak-kanakan. Bisa-bisanya Sag berpikir untuk menyembunyikan bra biru milik Tan Mey. “Ya udah bawa sini.” “Yapz.” Sag segera menutup pintu lemari. Membawakan sepasang br yang sudah ia pilih. Bukan sesuai keinginan Tan Mey. “Mana?” Tan Mey berbicara dari kamar mandi. Ia berjongkok sambil mengambil bra yang jatuh. Lalu mencantolkan di dekat pintu. “Nih.” Sag memasukkan satu tangan dan menyerahkan bra kepada Tan Mey. Sag terkaget ketika tangannya menubruk gundukan daging yang mengembang. “Aduh, Sag.” Tan Mey berteriak sambil menunduk kesakitan. “Tan!” Sag spontanitas ia membuka pintu kamar mandi yang tidak di kunci. Memegang gunung yang tanpa sengaja di tonjok Sag. “Sakit Sag.” Meringis kesakitan. Tak usah heran dengan Tan Mey. Dasar Tan Mey juga suka manja sama brondong tampan ini. “Sorry.” Sag yang kaget dan bingung, spontanitas memegang gunung itu sambil mengelus dan meniupnya. “Kenapa di tonjok?” “Gak nonjok kok.” “Buktinya ini.” “Sag juga gak tahu, tadi siapa yang suruh Sag mengambil bra. Siapa suruh tangan Tante gan keluar terus menangkap. Main suruh aja, sini, sini.” “Tadi kan lagi ngambil bra yang jatuh, jadi Tan masuk. Makanya gak hiraukan kamu.” “Berarti bukan salah Sag.” “Ah kamu ini mau lari dari tanggung jawab.” “Loh kok bawa-bawa tanggung jawab. Emangnya Sag menghamili Tan, kan gak Tan.” “Heh, malah becanda.” “Serius Tan, Sag tegang banget ini. Gemetar ini.” “Kamu tega.” “Ke balik! Justru Tan yang tega gitu sama Sag.” “Loh kok balik nuduh.” “Sag normal Tan!” “Kemarin normal, kalau sekarang gak tahu!” celetuk Tan Mey. Meringis menahan sakit tapi juga enak. “Sama saja, gak ada yang berubah. Malah ini seminggu Tan, terpenjara.” “Dasar!” Tan Mey, menahan sakit sambil menatap Sag dengan kesal tapi juga gemas. “Sag juga sakit Tan, sesek banget. Sumpah gak nyaman duduk.” Sag tidak nyaman berjongkok, akhirnya duduk di bawah bersama Tan Mey. Sag tetap bertanggung jawab untuk meringankan sakit Tan Mey. Bagaimana pun Sag yang salah karena tangannya menghantam gunung cantik itu. “Ahh, usstt sakittttt.” Tan Mey meringis sambil terduduk di bathtub. “Fufffhh, fuuffhhh.” Sag ikut berjongkok sambil terus meniup gunung mulus itu. “Kenapa di tiup. Emang kamu kira ini lilin," celetuk Tan Mey. Ia memukul depan tubuh bidang Sag. "Wow, galak." "Kamu sih yang bikin Tan jadi seperti ini.'' Menjambak jambak rambut Sag, hingga membuat Sag tersungkur kedepan. Tan Mey. Sag tidak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya terjengkang. Keduanya terjatuh kedalam bathtub. Sag yang tersungkur akhirnya mencium dadanya Tan Mey (dahda maksudnya itu ya tanpa ‘h’sengaja di tulis seperti ini, supaya gak dikasih bintang sensor sama editor) Tubuhnya menindih Tan Mey. “Aku bingung loh Tan, spontanitas ini. Terus aku ginikan biar gak sakit. Di tiup udah, di elus juga udah. Terus gimana lagi ya? Jadi bingung Tan," ucap Sag sambil berada di atas Tan Mey. “Aduhhhh, kaki mu juga nyangkut mem.” “Loh, kan gak sengaja.” “Menang banyak kamu.” “Rejeki berarti," sahut Sag. “Habis nonjok atas terus menindih bawah. Enak banget sih. Kamu ini pasti dah berencana mau seperti ini. Pasti kamu mau memanfaatkan kesempatan dalam kelonggaran,” ujarnya. “Gak longgar, masih sempit kok,” sahut Sag sambil menatap mata Tan Mey. Keduanya terdiam, saling pandang. Sepertinya mereka berubah menjadi manusia normal. Merasakan magnet negatif dan positif. Seketika gunung Tan Mey yang sakit mendadak sembuh. Gunung itu justru terlihat kokoh, keras dan menantang apa saja yang di depannya. Sag menatap bibir Tan Mey. Ingin melumatnya dengan lahap. Namun Sag tidak berani lancang, itu sebelum Tan Mey memberikan sinyal ok. “Berat kamu ya,” kata Tan Mey. Si brondong yang tadinya kekanak-kanakan seperti anakan angsa, kini berubah menjadi kucing anggora. Ini bisa bahaya jika keduanya tetap berada di posisi saling tindih. Bisa berabe jika lama-lama berada di atas bathtub. Tempat yang sengaja di desain Tan Mey, biar terlihat nyaman untuk relaksasi. Si brondong terus bermetamorfosis, bukan dari kepompong menjadi kupu-kupu, melainkan dari brondong snacks berubah menjadi anak angsa, lalu berubah menjadi kucing anggora. Paling terakhir dari adalah Sag menjadi macan yang siap menerkam mangsanya. “Sag kamu gak nongol seminggu dah tambah berisi.” “Ehhhmm,” jawab Sag pelan. Sag merasa tidak berdaya, menahan dahaga. Dia merasa lemah ketika keinginannya belum tercapai. Hanya bisa menahan dengan napas yang tak beraturan. Semakin lama semakin terdengar, ngos-ngosan seperti sedang di buru menjangan. “Sag kamu harus nikah. Pikir masa depan kamu. Cari wanita yang cantik dan berkelas.” Tan Mey menatap mata Sag sembari memegang pergelangan tangan. Mengelus pelan leher belakang Sag. “Kenapa tidak Tan duluan yang menikah. Biar ada laki-laki yang menjaga.” “Apa kamu lupa, dulu dulu Tan pernah bilang apa?” “Tan tidak ingin menikah.” “Iya.” “Jika Tan mau, sudah dari dulu kita menikah kan.” “Sag kamu tahukan, jika Tan punya prinsip yang tidak ingin di tentang oleh siapapun.” “Sag tahu! Bukankah Tan juga tahu, jika Sag selalu menghargai prinsip Tan. Sag gak pernah memaksa Tan untuk menikah sama Sag. Tapi Tan, kadang Sag juga merasa bersalah. Mencintai tapi tidak bisa bersatu dalam pernikahan yang seutuhnya.” “Iya Sag, kami tahu Tan punya phobia. Tan sangat takut dengan komitmen. Tan mengalami hal menakutkan di masa lalu. Itu masih terbayang sampai sekarang.” “Sag tahu Tan, makannya Sag gak ingat memaksakan kehendak. Sag ngalir hubungan kita yang seperti ini. Sejak kelas dua SMA, Sag sudah akrab sama Tan. Sag di ajarin banyak hal. Tahu sendiri Sag malas belajar dan akhirnya kenal Tan Mey terus jadi guru les Sag." "Semua itu tidak sengaja dan Tan mana nyangka bisa jatuh cinta sama kamu. Tan sebenarnya minder Sag," curahan hati Tan Mey. "Sag juga gak nyangka bisa merasakan nyaman sama Tan Mey. Jangan merasa minder, Tan wanita yang anggun dan bisa memberikan kenyamanan. Dulu berteman, lalu bersahabat dan berlanjut jadi cinta. Sungguh nyaman seolah mendapatkan sosok ibu, kakak dan juga kekasih. Sag tumbuh dewasa karena Sag di ajarin banyak hal, akhirnya bisa bekerja dan mempunyai hasil." Sag menyentuh wajah Tan Mey. Mencium keningnya. Memeluk dengan erat seolah tidak ingin melepaskan istri sirinya ini. Pernikahan di bawah tangan menjadi pilihan Sag karena tidak ingin salah melangkah. Meskipun awalnya memang sangat susah untuk mengajak Tan Mey komitmen. Tan Mey memang benar-benar ketakutan hidup satu atap dengan laki-laki. Kehidupan masa lalu yang kejam, membuat Tan Mey agak susah untuk menerima laki-laki dalam kehidupannya. Untungnya Sag laki-laki yang sudah Tan Mey kenal dengan sangat baik. Wajarlah jika Tan Mey merasa nyaman dengan laki-laki muda ini. Meskipun pernikahan mereka tidak kuat secara hukum tapi mereka tidak memiliki kekhawatiran. Tan Mey akan melepaskan Sag untuk wanita yang akan dinikahi. Itulah kesepakatan yang telah Tan Mey lakukan bersama Sag. Atas kesepakatan itu Sag dibebaskan untuk mencari wanita yang ia sukai. Tan Mey tidak akan pernah melarang Sag untuk mendapatkan kebahagiaan dan kebebasan di masa mudanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD