Malam itu, Alea hampir tidak bisa tidur. Kontrak hitam dengan tanda tangannya masih tergeletak di meja belajar kecil di kamar kos. Lampu kamar temaram, kipas angin berderit pelan, dan otaknya terus berputar dengan pertanyaan yang sama: Apa aku baru saja menjual hidupku?
Ia mengingat kembali tatapan Renata di hotel tadi. Tatapan yang tajam, penuh wibawa, seakan bisa menembus semua topeng orang. Alea menutup wajahnya dengan bantal.
“Dua puluh juta per bulan, Le. Itu bukan mimpi. Itu nyata. Kalau kau mundur, kau gila,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun setiap kali mengingat poin terakhir kontrak—“Tidak boleh jatuh cinta”—Alea justru semakin resah.
Mana ada aturan aneh begitu? Kalau aku jatuh cinta beneran gimana? Apa aku kena denda? Atau malah dibuang ke luar negeri? pikirnya dramatis.
---
Keesokan Siang
Alea mendapat pesan singkat dari nomor tak dikenal.
“Datang ke Ardelia Corp. Lantai 20. Jam 13.00. – R”
Alea nyaris menjatuhkan ponselnya. Ardelia Corp?! Itu gedung megah di pusat kota yang selama ini hanya ia lihat dari luar.
Dengan seragam kuliah seadanya, ia datang setengah jam lebih awal. Security yang berjaga langsung menanyakan identitas. Begitu menyebut namanya, Alea hampir tidak percaya ketika ia langsung diberi akses masuk.
Lift berhenti di lantai 20. Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan besar dengan jendela kaca tinggi dan panorama kota. Di tengahnya ada meja kayu mahal dengan tumpukan berkas.
Renata berdiri di sana, mengenakan kemeja putih sederhana tapi tetap terlihat berkelas. Rambut hitamnya diikat rapi.
“Kau tepat waktu,” ucapnya datar.
Alea menunduk canggung. “Ehm… iya. Saya… sudah di sini.”
Renata menunjuk kursi di depannya. “Duduk. Kita perlu membahas aturan kontrak dengan lebih rinci.”
Alea duduk pelan, menegakkan punggung. Jantungnya berdetak cepat.
Renata mengambil map yang sama dengan semalam. “Kontrak ini mengikat. Tapi untuk memastikan, aku ingin mengulang beberapa poin penting.”
Alea mengangguk, menyiapkan diri.
Renata mulai menyebutkan:
1. Durasi kontrak satu tahun.
“Selama periode ini, kau harus hadir kapan pun aku membutuhkannya. Baik acara keluarga, pertemuan bisnis, atau publikasi media. Jika kau tidak bisa hadir tanpa alasan jelas, kontrak otomatis batal.”
2. Kerahasiaan absolut.
“Tidak ada seorang pun yang boleh tahu bahwa hubungan ini palsu. Termasuk keluarga, sahabat, bahkan adikmu.”
Alea spontan terlonjak. “N-nara juga nggak boleh tahu?!”
Tatapan Renata menusuk. “Apa kau ingin adikmu jadi bahan gosip? Atau diikuti paparazi?”
Alea terdiam. Bibirnya bergerak tanpa suara.
3. Batasan pribadi.
“Aku tidak akan menyentuhmu tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan di depan publik. Tapi sebaliknya, kau harus siap untuk berpegangan tangan, berpelukan, atau bahkan berciuman—jika keadaan menuntut.”
Alea hampir tersedak ludahnya. “C-ciuman juga?!”
Renata menatapnya tanpa ekspresi. “Kau pikir media akan percaya hanya dengan senyum dan tatapan mata? Tidak. Kadang harus ada adegan dramatis.”
Pipi Alea memanas. Ia meremas ujung roknya. “Tapi itu… berarti—”
“Berarti kau harus siap,” potong Renata dingin.
4. Larangan jatuh cinta.
Renata menyandarkan tubuh ke kursi. “Aturan terakhir, dan yang paling penting: jangan jatuh cinta padaku.”
Alea menggigit bibir. “Kenapa aturan itu penting sekali?”
Renata menatapnya lama, seolah menimbang apakah perlu menjawab atau tidak. Akhirnya ia berkata pelan, “Karena hubungan bisnis tidak boleh bercampur dengan perasaan. Perasaan hanya akan merusak kesepakatan.”
Suasana hening. Alea merasakan d**a sesak, meski ia sendiri tidak tahu kenapa.
---
“Jadi,” Renata melanjutkan, “kau masih mau lanjut?”
Alea menggenggam tangannya sendiri. Aku bisa mundur sekarang. Tapi… Nara… biaya sekolah…
Ia mengangkat kepala. “Saya… lanjut.”
Renata menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum tipis. “Bagus. Besok malam makan malam keluarga. Kau akan jadi pacarku di depan mereka.”
“B-besok?!” Alea hampir berdiri dari kursinya.
Renata mencondongkan tubuh. “Kau keberatan?”
Alea cepat-cepat menggeleng. “Tidak… cuma… saya belum punya baju formal.”
Renata berdiri, mengambil ponselnya. “Ikut aku.”
---
Butik Mewah
Lima belas menit kemudian, Alea sudah berdiri kaku di dalam butik paling mahal di pusat kota. Gaun-gaun elegan berderet, harga tiap potongnya mungkin sama dengan biaya kontrakannya tiga bulan.
“Silakan pilih,” ucap Renata singkat.
Mata Alea melebar. “A-apa? Tidak, tidak… saya tidak mungkin—”
Renata menatapnya tajam. “Kau harus tampil sempurna. Itu bukan permintaan. Itu keharusan.”
Alea terdiam. Ia mencoba beberapa gaun dengan wajah pasrah. Pelayan butik sibuk membantu, sementara Renata hanya duduk di sofa, menatap tablet.
Saat Alea keluar dari ruang pas dengan gaun biru tua selutut, Renata akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya tajam, menelusuri Alea dari ujung kaki hingga kepala.
Alea merasa wajahnya panas. “K-kalau ini… gimana?”
Renata tidak menjawab langsung. Ia berdiri, melangkah mendekat, lalu merapikan pita kecil di pinggang gaun itu. Jarak mereka begitu dekat, Alea bisa mencium aroma parfum Renata yang lembut tapi tegas.
“Lumayan,” gumam Renata akhirnya. “Itu yang kau pakai besok.”
Alea menunduk, jantungnya berdebar tak karuan.
---
Di perjalanan pulang, Alea tidak bisa berhenti memikirkan kejadian di butik tadi. Bagaimana tatapan Renata seakan mampu membuatnya membeku. Bagaimana tangan dingin wanita itu menyentuh pinggang gaunnya dengan begitu alami.
Kenapa aku malah deg-degan? Padahal ini cuma kontrak.
Sampai di kos, ia menatap gaun biru yang kini tergantung di lemari. Malam besok, ia akan duduk di meja makan keluarga besar seorang CEO terkenal, berpura-pura sebagai pacarnya.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya ampun, Alea… apa yang kau masuki ini sebenarnya?”
bersambung......