Chapter 1
Hujan rintik-rintik sore itu membasahi trotoar kampus. Jalanan becek, mahasiswa berlarian mencari tempat berteduh, sementara Alea masih duduk di salah satu kursi panjang di depan gedung arsitektur, memelototi layar ponselnya. Matanya sudah merah karena seharian dipakai membaca lowongan kerja paruh waktu yang terasa makin mustahil.
"Asisten toko fotokopi... gajinya 1jt kecil banget. Waiter kafe? Shift malem. Babysitter? Kayaknya aku bisa pingsan duluan sebelum anaknya nangis," gumamnya kesal.
Alea menarik napas panjang. Beberapa helai rambutnya menempel di pipi basah karena udara lembap. Ia menyandarkan kepala ke tembok, menutup mata sejenak. Di kepalanya hanya ada satu hal: uang.
Adiknya, Nara, baru masuk SMA bulan depan. Biaya daftar ulang, seragam, dan buku sudah menumpuk di meja rumah kontrakan. Sementara gaji dari kerja sambilan menggambar desain kecil-kecilan tidak pernah cukup.
"Kalau kayak gini terus... bisa-bisa aku harus berhenti kuliah dulu," keluhnya pelan.
Notifikasi ponsel bergetar. Sebuah iklan dari forum mahasiswa muncul di grup aplikasi. Judulnya membuat Alea spontan duduk tegak.
"Dibutuhkan Pacar Palsu. Bayaran Tinggi. Syarat: Rahasia, Tanggung Jawab, Tidak Baper."
Alea menatap layar lama sekali.
"Pacar... palsu?" ia mengulang pelan, seakan memastikan ia tidak salah baca.
Matanya langsung tertuju pada kalimat berikutnya:
"Durasi kontrak: 1 tahun. Bayaran: Rp 20 juta per bulan."
Jantung Alea berdegup keras. Dua puluh juta? Per bulan?! Itu lebih dari cukup bukan hanya untuk biaya adiknya, tapi juga cicilan rumah kontrakan mereka.
Namun, bagian berikutnya membuatnya merinding.
"Identitas pemberi kontrak akan dijelaskan saat pertemuan. Lokasi: Hotel Grand Lux, lounge lantai 2, besok pukul 19.00."
Alea menggigit bibir. Ini gila. Siapa orang yang bisa bayar segitu hanya untuk pura-pura punya pacar? Mafia? Om-om kesepian? Atau... pikirannya liar.
Ia menutup ponsel cepat-cepat, lalu menepuk pipinya sendiri. "Jangan aneh-aneh, Le. Nanti malah diculik terus dijual ke luar negeri."
Namun, saat hujan makin deras dan ponselnya kembali menampilkan notifikasi tagihan listrik yang belum dibayar, pikirannya kembali ke angka itu: dua puluh juta.
---
Malam Berikutnya
Alea berdiri kikuk di depan pintu kaca Hotel Grand Lux. Ia mengenakan blus putih sederhana dengan celana hitam. Rambut panjangnya dikepang samping, dan wajahnya hanya dipoles bedak tipis.
"Ya Tuhan, apa aku kelihatan kayak orang yang siap diperdagangkan?" gumamnya panik sambil menatap bayangan di pintu.
Perutnya melilit, ingin balik badan, tapi kakinya seperti dipaku. Bayangan adiknya-wajah ceria Nara yang merengek minta seragam baru-berkelebat di kepalanya. Itu cukup jadi alasan untuk melangkah masuk.
Lounge hotel tampak elegan. Lampu gantung kristal berkilau, karpet merah tebal, suara musik piano lembut mengalun. Alea meremas tali tasnya erat-erat.
Seorang pelayan mendekat. "Selamat malam, Nona. Apa Anda Alea?"
Alea terkejut. "Eh, iya... saya Alea."
"Silakan, tamu Anda sudah menunggu di sana." Pelayan menunjuk ke sebuah meja di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan kota yang ramai.
Alea berjalan dengan langkah ragu. Saat pandangannya jatuh ke sosok yang duduk di sana, napasnya tercekat.
Seorang wanita berambut hitam panjang, rapi, dengan setelan jas hitam elegan, duduk sambil menatap layar tablet. Wajahnya tajam, anggun, dan dingin, dengan tatapan fokus khas orang berkuasa. Alea mengenali wajah itu.
Astaga. Itu... Renata Ardelia.
CEO muda yang sering muncul di majalah bisnis, pemimpin perusahaan arsitektur ternama Ardelia Design Corp.. Alea bahkan pernah menjadikan karya desain Renata sebagai bahan presentasi tugas kuliah.
"Silakan duduk." Suara Renata datar, namun tegas.
Alea hampir menjatuhkan tasnya. Ia duduk perlahan, menunduk sopan. "Sa-saya... nggak nyangka kalau..."
Renata menutup tabletnya, menatap Alea lurus. "Tidak nyangka kalau orang yang memasang iklan itu saya?"
Pipi Alea merona. "I-iya. Saya kira..." ia menelan ludah. "...saya kira semacam penipuan."
Renata tersenyum tipis, tapi lebih terlihat seperti senyum mengejek. "Kalau penipuan, saya tidak akan mengundang Anda ke sini dengan terang-terangan. Dan tidak akan menawarkan bayaran sebesar itu."
Alea menelan ludah lagi. "Tapi... kenapa saya?"
Renata bersandar di kursi. "Karena Anda mendaftar."
Jawaban singkat itu membuat Alea hampir tersedak udara. Ia ingin protes, tapi Renata melanjutkan.
"Saya butuh seseorang yang bisa memainkan peran pacar di depan publik. Kakek saya sedang berusaha menjodohkan saya dengan putra rekan bisnisnya. Saya tidak tertarik. Jadi satu-satunya cara adalah menunjukkan bahwa saya sudah punya pasangan."
Alea diam. Dalam hati, ia masih tak percaya sedang bicara dengan Renata Ardelia secara langsung.
Renata menatapnya lekat-lekat. "Saya sudah mempelajari profil Anda. Mahasiswi arsitektur, pintar, nilai bagus, dan tidak punya catatan kriminal. Juga butuh uang."
Alea tersentak. "Bagaimana Anda tahu-"
"Saya punya tim riset. Itu pekerjaan mereka," potong Renata cepat.
Alea menutup mulut, bingung antara takut atau kagum.
Renata lalu mengeluarkan sebuah map hitam dari tasnya. Ia meletakkannya di atas meja. "Ini kontraknya. Durasi satu tahun. Bayaran dua puluh juta per bulan. Aturan tertulis jelas di dalamnya."
Alea membuka map itu dengan tangan gemetar. Ada beberapa poin besar yang langsung menarik matanya:
1. Harus hadir di acara keluarga, bisnis, atau publik sesuai permintaan Renata.
2. Tidak boleh membocorkan hubungan kontrak kepada siapa pun.
3. Tidak boleh jatuh cinta.
Alea spontan mendengus saat membaca poin terakhir. "Tidak boleh jatuh cinta? Serius?"
Renata mengangkat alis. "Saya tidak ingin drama murahan. Ini murni bisnis."
Alea menutup map itu, menghela napas. Ini gila. Seratus persen gila. Tapi dua puluh juta per bbulan
Renata mengambil map itu kembali, matanya sedikit melunak. "Mulai sekarang, panggil saya Renata saja. Dan jangan pernah berpikir ini permainan. Kita sedang membuat kesepakatan serius."
Alea mengangguk kecil. "Baik... Renata."
bersambung....