Mencari Keadilan

1006 Words
Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan. Cerita ini ditulis berdasarkan imajinasi penulis.   -------- HARI Sudah malam, tetapi sang suami tercinta tak kunjung pulang. Tidak seperti biasa. Ku coba untuk tetap berpikir positif. Menunggunya pulang sembari melipat baju dan menonton televisi. Hingga tak terasa semua baju telah ku lipat. Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Salam dari depan membuatku langsung berdiri dan menuju ke depan. Sang suami yang ditunggu-tunggu akhirnya pulang. Ku menyuruhnya untuk segera mandi lalu makan malam. Dia pun menurut. Selesai mandi, sang suami pun langsung menuju ke ruang makan. Menyantap sayur bening kesukaannya. Aku pun dengan setia menemaninya. Selesai makan, ia pun bercerita mengapa pulang larut malam tanpa mengabari sama sekalipun. Dia bilang tiba-tiba ada evaluasi mendadak di kantornya. Ini dikarenakan adanya kecurigaan korupsi di Perusahaan. Perusahaan properti yang sudah berdiri sekitar 15 tahun baru pertama kali mengalami kejadian ini. Dikabarkan uang senilai 800juta Rupiah raib. Setelah selesai bercerita kita pun menuju ke kamar untuk tidur. Wajah lelahnya membuatku sendu. Pernikahan kita yang sudah berumur 5 tahun ini tak kunjung mendapatkan anak membuatku sedih. Tetapi suamiku berkata tak apa-apa. Terkadang aku takut jika suamiku berpaling karena aku tak kunjung hamil. Program kehamilan sudah kami lakukan dan kami berdua juga dinyatakan subur tak ada masalah. Tetapi apalah daya Sang Pencipta belum mengizinkan kami memiliki buah hati. - Suara adzan Subuh berkumandang, ku membangunkan suamiku untuk melaksanakan Shalat di Masjid. Sembari menunggunya pulang dari Masjid ku memasakkan dia Nasi goreng untuk sarapan dan sayur kangkung untuk bekal ke kantor. Tak lama terlihat dia yang pulang. Segera ku suruh mandi dan bersiap untuk ke kantor tak lupa menyuruhnya sarapan terlebih dahulu. Mengantarkan dia ke depan sembari memberiku kecupan dikening. Perhatian sederhana yang membuatku semakin mencintainya. Setelah itu Kembali ke dalam dan melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Kegiatan seperti ini tentu tak membuatku lelah tetapi suatu aktivitas yang membuatku sehat daripada tak melakukan apa-apa dan membuat badanku malah terasa sakit. Ku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Telefon rumah berdering, segera ku angkat tak lupa mengucap salam. Ternyata ini telefon dari kantor suamiku. Agak kaget kenapa pihak kantor menelefonku. Suara dari seberang membuatku kaget. Perkataannya tanpa sadar membuat aku menangis dalam diam. Ku dengarkan hingga habis semua yang dia katakan. Setelah telefon tertutup ku menangis sejadi-jadinya. Perasaan campur aduk menghampiriku. Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Bagaimana bisa terjadi Mengapa ini terjadi dengan keluargaku. Ku coba menghentikan tangisanku. Berganti pakaian yang lebih rapi dan menuju tempat yang diinformasikan orang yang melefonku tadi. Menggunakan taksi online ku menuju ke sana. Hingga tak terasa 20 menit berlalu aku sampai di Kantor Polisi. Pasti kalian bingung mengapa aku berada di sini. Ini semua dikarenakan suamiku terdakwa kasus korupsi uang Perusahaan. Suamiku Sungguh suatu kejadian yang tak pernah terbayang olehku. Sambal menangis dia berkata kepadaku kalau dia difitnah, dia sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya bisa menjadi terdakwa dis ini. Bukti yang diberikan perusahaan cukup kuat untuk melaporkan suamiku. Tetapi suamiku tetap mengelak, dia sama sekali tidak berbuat jahat seperti itu, bisa saja itu dimanipulasi. Di depannya aku pun juga hanya bisa menangis, cukup kaget dengan semua ini. Ingin sekali ini hanya mimpi saja atau memang dimanipulasi oleh pelaku yang asli. Suamiku menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu. Dia juga sudah meminta tolong kepada temannya untuk membantu membersihkan namanya. Ya Tuhan aku berharap ini memang benar dimanipulasi oleh pelaku. Aku tidak sanggup kalau memang dia benar-benar seorang koruptor. Aku tak langsung pulang ke rumah. Sekarang aku menuju ke rumah mertua untuk mengabari apa yang terjadi hari ini. Ibu mertuaku sangat terpukul dengan berita yang aku sampaikan hingga membuatnya pingsan. Ayah mertuaku dengan sigap membawa sang istri ke kamar. Ayah mertuaku juga menenangkanku, ia juga tak percaya jika anaknya tersandung kasus korupsi. Bersama rekannya, ayah mertuaku mencoba mencari bukti untuk mengeluarkan suamiku dari kasus ini. Hari sudah malam, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku duduk termenung di kamarku. Beranjak dari kasurku, aku menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Shalat dan berdoa kepada Sang Pencipta agar semua masalah segera terpecahkan. Ia sangat ingin tidur memeluk suaminya lagi. --- Sudah 1 minggu berlalu semenjak suamiku menjadi terdakwa, belum ada juga titik temu. Berbagai bukti dikumpulkan. Beberapa mengacu kepada suamiku. Aku berharap semoga status terdakwa tidak berubah menjadi tersangka. Setiap harinya aku rutin mengunjungi suamiku, terkadang bersama dengan ibu mertua. Handphone ibu mertuaku berdering, beliau berkata telefon dari suaminya. Aku mempersilahkan beliau untuk mengangkat telefon lalu mengobrol dengan suamiku. Tak lama datang ayah mertuaku bersama pengacara sambal membawa bukti-bukti yang membuktikan suamiku tidak bersalah. Semoga bukti ini kuat untuk membebaskan suamiku. Persidangan akan dilaksanakan padah hari Sabtu. Tiga hari dari sekarang. Ku selalu menguatkan suamiku dan berdoa semoga semua segera selesai. --- Hari Sabtu pun telah tiba. Persidangan akan dimulai pukul 10.00. Kulihat jam tanganku, waktu kurang 15 menit lagi sidang akan dimulai. Aku sangat gugup sekali. Semoga hasilnya menunjukkan kalau suamiku tidak bersalah. Persidanganku dimulai. Aku tidak terlalu mendengarkan apa yang dibicarakan di ruang sidang. Hanya saja aku menatap sendu ke arah suamiku. Tatapan kami pun bertemu. Dia tersenyum kepadaku, ku balas senyumannya. Tak terasa persidangan pun mencapai titik temunya. Suamiku dinyatakan tidak bersalah. Pelaku sebenarnya ternyata ada teman dekat suamiku sendiri. Sangat tidak terduga karena temannya itu terlihat sangat baik. Ku hampiri dia, kupeluk dia sambil menangis. Dia menenangkanku dipelukannya, berkata kalau ini sudah berakhir. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang. Sesampai di rumah ku suruh suamiku untuk mandi dan makan. Tubuh suamiku terlihat lebih kurus, aku sangat tidak tega melihatnya. Perusahaan tempat suamiku bekerja mengirimkan surat permintaan maaf karena salah menangkap orang. Dan tetap menawarkan bekerja di sana. Ini juga dikarenakan suamiku bekerja dengan kompeten. Aku bersyukur setelah ini dia tidak kesusahan untuk mencari pekerjaan. Suamiku berkata, dia akan lebih berhati hati bergaul dengan orang agar tidak menjerumuskan dia ke masalah yang besar. --- Terimakasih semuanya yang sudah menyempatkan untuk membaca cerita pendekkuu. Jika ada salah kata, aku mohon maaf dan koreksinya Semoga kalian suka dengan ceritaku. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD