Malam MInggu

726 Words
Cerita ini ditulis berdasarkan imajinasi penulis. Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan   Drttt drrt… Suara Ponsel menghentikan aktivitas Sashi sejenak, terlihat pesan Whatapps dari Susan, temannya yang mengajak dia kerja freelancer bareng. Sebenarnya freelancer bisa dikerjakan secara individu. Tapi teman dekatnya mengajak, ia juga tak ada alasan untuk menolak selagi itu hal positif. Mereka saling bertukar ide untuk membuat portofolio terlebih dahulu. Strategi pemasaran yang pas dan lain sebagainya. Mempunyai teman yang seperti Susan, membuat Sashi lega karena ia berpikir semasa kuliah ini dia akan kesulitan mencari teman. Bahkan temannya pun bisa dihitung dengan jari saja. Setelah selesai berdiskusi, Sashi membuka laptopnya. Ia teringat untuk melanjutkan tulisannya yang sempat terhenti karena ia belum menemukan ide. Ahh tak lupa ia mengambil secangkir teh dan beberapa camilan yang menemaninya menulis cerita. Jam dinding menunjukkan pukul 1 siang. Ia punya banyak waktu untuk menulis sebelum berkencan dengan Dion, orang yang menjadi kekasih Sashi sejak dua bulan yang lalu. Memikirkan Dion membuat Sashi menemukan ide untuk ceritanya. Ia pun menuangkan semua yang ada dipikirannya. --- Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan Sashi hanya bisa menulis 5 lembar saja. Ahh tidak apa-apa, bisa dilanjut besok kalo ada ide lagi. Batin Sashi Setelah itu Sashi ingin mandi, tetapi karena perutnya tiba-tiba keroncongan, ia pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Di dapur tersedia soto ayam, Salah satu makanan favorit Sashi. Ia mengambil sedikit nasi tetapi ayam suir yang banyak, tak lupa sambal yang banyak lupa. Sashi memang suka makanan pedas. Bahkan ia tak ada kapok-kapoknya setelah muntah-muntah karena makanan yang ia beli sungguh pedas. Ia mengira pedasnya akan biasa saja karena sebelumnya pernah makan makanan tersebut. Satu piring masih membuat ia lapar. Ia pun memutuskan untuk mengambil makan lagi. Dasar Sashi memang rakus. Bahkan ia melupakan soal kencannya dengan Dion dan yang pasti nanti ia akan makan lagi waktu malam. Padahal ia sudah bersusah payah menurunkan berat badan selama 2 bulan. Tetapi karena godaan makanan, ia sampai khilaf berkali-kali. Ahh kalau khilaf mah gak mungkin berkali-kali. Memang Sashinya aja yang bandel. Dion pun juga tidak masalah selagi Sashi sehat-sehat saja. Setelah dirasa sudah kenyang, Sashi pun mencuci piring kotornya lalu segera membersihkan diri, Shalat, dan akan melanjutkan menulis lagi. Sashi terlalu fokus menulis hingga tak memegang ponselnya yang ternyata ada pesan dari Dion 30 menit lalu yang mengatakan ia otw rumah Sashi. Ketika Sashi tau ada pesan, ia pun langsung mengganti bajunya dan berdandan sedikit. Untung saja Dion belum sampai rumahnya. Tapi tumben Dion belum datang, biasanya tidak sampai 30 menit Dion sampai di rumah Sashi. Merasa heran, Sashi pun mencoba menelepon Dion. Beberapa kali tidak diangkat oleh Dion. Hingga bunyi motor yang familiar bagi Sashi terdengar. Ia pun memutuskan untuk ke depan. Dilihatnya Dion sambal membawa sesuatu yang dibungkus kresek hitam. “Maaf ya lama, tadi beli martabak dulu” Ucap Dion sambal menyerahkan martabak kepada Sashi yang langsung disambut oleh Sashi. “Ah beli martabak dulu ternyata, aku udah nungguin dari tadi, ditelfon ga diangkat juga” Ucap Sashi sedikit kesal. “Yaudah jalan sekarang yukk keburu malem nanti” “Oke bentar naruh ini sama pamitan dulu” Sashi dan Dion pun berpamitan. Ayah Sashi berpesan agar pulang jangan terlalu malam yang disanggupi oleh Dion. --- Menyusuri jalanan dengan motor, melihat ramainya kota ketika malam Minggu datang. Dion memutuskan untuk mengajak Sashi makan Bakso terlebih dahulu. Dingin malam membuat Dion ingin makan makanan yang hangat-hangat sambal minum teh anget. Menyantap bakso dengan lahap hingga tak tersadar ada noda menempel di pipi Sashi. Dengan sigap Dion pun mengambil tisu dan membersihkan pipi Sashi. “Makan bakso begimana sih bisa sampe belepotan di pipi, kek anak kecil aja” Ucap Dion sambal mengelap pipi Sashi. Yang dibalas cengiran oleh Sashi dan ia pun lanjut makan lagi. Selesai makan, Dion mengajak Sashi ke taman. Duduk di salah satu bangku dan menatap langit malam. Sayangnya bintang-bintang tidak terlalu terlihat. Dion menggenggam tangan Sashi. Lalu Sashi bersandar dibahu Dion. Berbincang-bincang tentang hari ini dan bersenda gurau. Hingga pukul 10 malam, Dion pun harus mengantarkan Sashi pulang ke rumah. Kalau tidak ia bisa disidang oleh Ayah Sashi. --- Terima kasih semuanya yang sudah menyempatkan untuk membaca cerita pendekku. Jika ada salah kata, aku mohon maaf dan koreksinya Semoga kalian suka dengan ceritaku. Terima kasih.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD