Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan. Cerita ini ditulis berdasarkan imajinasi penulis
---
MENGAYUH Sepeda dengan santai, Lydia menyusuri jalan di pedesaan. Sawah hijau yang terbentang luas terlihat sangat menyejukkan.
“Pagi Pak, Bu” Sapa Lydia ketika ia tak sengaja berpapasan dengan warga desa yang bekerja di sawah.
Suara gemercik air sungai membuat Lydia berhenti lalu turun dari sepeda. Berjalan mendekat ke arah sungai kecil nan jernih. Lydia memasukkan tangannya ke dalam air. Tak lupa, ia juga memasukkan kakinya ke dalam air. Rasa dingin menyeruap ke kulitnya. dirasa sudah cukup Lydia pun bergegas untuk pulang. Ia harus membantu kakak lelakinya mencari rumput untuk sapi dan kambing di rumahnya.
Sesampainya di rumah, Pandu, kakak lelaki Lydia tampak sudah di depan dengan sepeda di sampingnya.
“Lama sekali kamu, dari mana saja?” Tanya Pandu ketika Lydia mendekat ke arahnya.
“Keliling desa aja bang” Ucap Lydia
“Ya sudah sekarang kita cari rumput” Ucap Pandu yang dibalas anggukan oleh Lydia.
Mereka mengayuh sepeda masing-masing dengan Pandu yang berada di depan. Ini dikarenakan Lydia baru pertama kali akan mencari rumput jadi tidak tahu tempatnya. Dan Lydia juga masih beberapa hari saja sejak kedatangannya ke desa. Jadi Lydia hanya ingat beberapa jalan saja.
Lydia awalnya memang asli desa, ketika sudah lulus SD, dia diajak bibi dan pamannya ke kota untuk menempuh Pendidikan yang lebih baik. Hingga ia lulus SMA, Lydia memutuskan untuk pulang ke desa sejenak. Ingin berlibur sejenak.
Pandu sebagai seorang kakak, ketika Lydia akan dibawa ke kota ia sangat sedih. Ia akan berpisah dengan saudara satu-satunya. Ia sebenarnya tak berharap jika Lydia harus ke kota. Tetapi karena ia ingin adiknya mengenyam Pendidikan yang bagus akhirnya ia merelakan. Saat itu Pandu baru saja lulus SMA ingin melanjutkan Pendidikan ke jenjang kuliah tetapi beberapa kali tidak lolos. Ia akhirnya memutuskan untuk beternak sapi dan kambing bersama Abahnya. Kadang ia juga menjadi guru les untuk anak SD dan SMP, terkadang ia juga bekerja sebagai kuli bangunan. Pandu sekarang sudah berumur 24 tahun. Ia harus memikirkan kehidupannya ke depan bagaimana. Padahal Abahnya sudah mewariskan peternakan ke pada Pandu. Tetapi Pandu merasa ia tidak berhak dan ia ingin sukses dengan caranya sendiri meskipun ia hanya lulusan SMA.
Hingga tak terasa Pandu dan Lydia sampai ke tempat biasa Pandu mencari rumput. Mereka memarkirkan sepeda mereka di dekat pohon. Lalu mendekat ke arah rerumputan yang luas. Ah iya Pandu hampir lupa dengan mesin pencacah rumputnya yang ia titipkan di rumah Pakdenya yang dekat dari tempat ia mencari rumput.
“Dek, tunggu di sini dulu, Abang mau ke rumah Pakde ambil mesin pencacah rumput dulu” Ucap Pandu
“Baiklah bang”
Pandu pun bergegas ke rumah Pakde. Butuh waktu sebentar untuk ke sana. Tampak ramai di rumah Pakdenya. Pandu pun langsung menuju ke belakang untuk mengambil mesin. Tak sengaja ia berpapasan dengan Danu, sepupunya yang seumuran dengannya
“Assalamualaikum Dan” Pandu yang melihat Danu langsung memberi salam.
“Waalaikumussalam, mau ngambil mesin ya Pan?”
“Iya Dan, rumput dirumah sudah menipis, sekalian ngajak Lydia jalan-jalan”
“Oh iya tadi aku dibilangin Ibu kalau Lydia sudah pulang. Apa dia tak ingin melanjutkan kuliah Pan?” Tanya Danu
“Lydia katanya ingin melanjutkan kuliah, tapi tidak untuk tahun ini, ia ingin pulang ke rumah dulu”
“Oalah, Ya sudah kalau begitu, aku mau masuk dulu ya Pan, ada teman-temanku yang datang dari kota” Ucap Danu setelah itu berlalu dari hadapan Pandu.
Terkadang Pandu merasa iri dengan Danu yang bersekolah ke Kota dan mendapat pekerjaan yang baik. Andaikan dulu ia juga ke kota, mungkin saja bisa sesukses Danu. Tapi semua telah berlalu ia tak ingin menyesali semua. Yang terpenting ia harus membahagiakan orang tua dan juga adik tercintanya.
“Abang kok lama sih, aku sudah menunggu dari tadi, dan hari juga sudah mulai siang” Ucap Lydia sebal karena Pandu yang terlalu lama mengambil mesin pencacah rumput.
“Abang minta maaf, ini abang tadi beli es air kelapa” Ucap Pandu sembari menyerahnya es air kelapa yang langsung disambut oleh Lydia.
“Yaudah abang ambil rumput dulu. Kamu tunggu di sini saja, kalau tidak duduk saja di dekat pohon besar di depan sana daripada kepanasan” Ucap Pandu lalu mencoba menghidupkan mesin.
Setelah 20 menit berlalu akhirnya Pandu selesai dengan tugasnya. Ia langsung membawa satu demi satu karung ke dekat sepedanya. Tentu Pandu tidak mungkin membawa karung rumput dengan sepeda. Bisa-bisa ia harus bolak-balik kalau menggunakan sepeda. Mengeluarkan ponselnya ia menelepon kang Dadang, orang yang bekerja membantu mengelola peternakan. Pandu menyuruh kang Dadang untuk dating kemari dan tak lupa membawa pick up.
Kalian pasti penasaran mengapa Pandu tidak langsung membawa pick up. Ini dikarenakan setelah mengambil rumput ia ingin bersepeda santi dengan adiknya lalu makan di warung.
“Abang sudah selesai?” Tanya Lydia yang sekarang sudah berdiri di dekat Pandu.
“Sudah, barusan aku menyuruh kang Dadang untuk kemari” Ucap Pandu
Tak lama kemudian datanglah Kang Dadang dengan pickup biru milik Abah. Pandu segera membantu mengangkat karung-karung tersebut ke pick up. Sekalian mesin pencacah rumput miliknya. Sebenarnya mengapa mesin tersebut bisa berada di rumah Pakdenya, ini dikarenakan waktu itu Pandu lupa membawa pulang mesin tersebut. Akhirnya ia meminta tolong Pakdenya untuk mengambil mesin dan menitipkan di rumah Pakdenya sementara waktu.
Rasa capek melanda Pandu, Lydia yang mengetahui itu mengajak Pandu untuk pulang ke rumah. Ia bisa melanjutkan jalan-jalan nanti sore atau besok.
“Bang pulang saja yuk, abang terlihat lelah” Ucap Lydia
“Habis makan di warung Mbok Iyah ya kita pulang, abang merasa lapar” Ucap Pandu yang dibalas anggukan oleh Lydia.
Mereka pun menaiki sepeda dan menuju ke warung yang dimaksud oleh Pandu. Warungnya tidak terlalu jauh dari tempat mengambil rumput tadi.
Sesampainya di warung, mereka memarkirkan sepeda di dekat pohon. Lalu masuk ke dalam warung.
“Kamu mau pesen apa?” Tanya Pandu kepada Lydia yang tampak bingung memilih apa
“Nasi uduk aja deh bang sama es teh” Ucap Lydia setelah berpikir cukup lama
“Mbok, nasi uduknya 2 sama es tehnya juga 2 ya” Ucap Pandu memesan kepada Mbok Iyah, pemilik warung lalu mencari tempat duduk
“Iya le sebentar ya”
Mbok Iyah dengan cekatan mengambil nasi dan lauk pauknya. Lalu membuat 2 es teh. Berjalan mendekati Pandu dan Lydia menyerahkan pesanan mereka. Setelah itu berlalu untuk melayani pelanggan yang lain.
Dengan lahap mereka memakan nasi uduk, hingga tak terasa milik Pandu sudah habis. Meminum tehnya lalu memperhatikan adiknya makan. Terlihat nasi milik Lydia tinggal setengah.
“Abang kenapa sih lihatin aku makan” Ucap Lydia agak kesal, karena ia memang tidak suka ketika ia makan ada yang memperhatikan.
“Enggak papa, suka aja abang lihat adik abang yang cantik ini” Ucap Pandu terkekeh sembari mengacak rambut Lydia yang membuat si empunya merengut.
Setelah Lydia menghabiskan nasinya, mereka pun pulang. Pandu pun juga ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak, karena nanti sore ia harus ke peternakan.
---
“Pan, habis ini ke rumah Pakdemu ya kasih ini” Ucap Umi sambil menyerahkan bingkisan kepada Pandu.
“Setelah Pandu shalat Ashar ya Umi” Ucap Pandu lalu mengambil air wudhu.
Setelah selesai menunaikan ibadah, Pandu pun mengambil motor matic miliknya lalu berpamitan dengan Abah Dan Uminya. Lydia yang mengetahui Pandu akan pergi mencoba untuk ikut.
“Bang aku ikut yaa” Ucap Lydia kapa Pandu
“Baik, kamu bawakan bingkisan ini” Ucap Pandu sembari menyerahkan bingkisan yang tak ia ketahui isinya kepada Lydia
“Siap bos” Lydia dengan sigap mengambil bingkisan tersebut
Mereka menaiki motor lalu melaju menuju rumah Pakde. Semilir angin sore membuat Lydia kedinginan. Padahal ia sudah mengenakan pakaian panjang.
Tak berselang lama mereka sudah sampai di rumah Pakde. Memarkirkan motor lalu menuju ke depan pintu
Tok tok tok
“Assalamualaikum Pakde” Ucap Pandu sambil mengetok pintu.
Sebenarnya pintu rumah Pakdenya terbuka sedikit. Tetapi tentu saja ia tak mungkin langsung masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumussalam”
Tak berselang lama ada yang menjawab salamnya. Ternyata Budhe Andin, istri pakde.
“Loh Pandu sama siapa ini? Oh iya masuk dulu” Ucap Budhe Andin
“Ini Lydia Budhe, masa budhe lupa” Ucap Pandu sedikit tertawa
“Oh ya ampun, udah segede ini ya Lydia” Ucap Budhe sambil memeluk Lydia
Lydia membalas pelukan budhenya tak lupa tersenyum.
“Budhe ini tadi disuruh Umi mengasihkan ini, tadi Pandu lupa nanya apa isinya” Ucap Pandu seraya memberikan bingkisan kepada Budhe Andin.
“Owalah ini roti kukus. Tadi Budhe minta tolong bikinin ini, Menantu budhe lagi ngidam pengen roti kukus tapi budhe gabisa bikin. Umi mu itu sangat pandai membuat roti kukus” Ucap Budhe Andin
“Yasudah Budhe kami pamit pulang dulu” Ucap Pandu lalu berdri dari duduknya
“Loh kok langsung pulang, ini budhe belum suguhin minum loh sampe lupa”
“Gapapa budhe tidak perlu repot-repot, Yasudah kamu pulang dulu ya Budhe Assalamualaikum” Ucap Pandu
“Waalaikumussalam” Ucap Budhe lalu mengantarkan mereka ke depan. Tetapi suara teriakan lelaki dalam rumah membuat Budhe Andin Kembali masuk ke rumah
Pandu dan Lydia menuju ke arah motornya. Ketika ia akan menyalakan motor. Mata Pandu tertuju ke satu titik
Cantik
Itu adalah kata yang terpikirkan oleh Pandu ketika melihat seorang wanita dengan rambut sebahu.
Senyuman terpancar di bibir wanita ketika berbicara dengan wanita lain yang ia ketahui adalah menantu Budhe Andin. Pandu menatap lekat ke arah wanita itu hingga tak tersadar mata mereka bertemu. Tatapan mereka bertemu dan terkunci beberapa detik ketika wanita itu mengalihkan pandangan mereka.
“bang abang, kok diem aja sih malah ngelamun dipanggil dari tadi juga” Ucap Lydia yang menyadarkan dirinya.
“Gapapa, ayo kita pulang” Ucap Pandu lalu melajukan motornya menuju rumah mereka.
---
Hingga malam menjelang Pandu masih memikirkan wanita itu. Tak terasa bibirnya tersenyum ketika mengingat kejadian tadi sore. Ia ingin mengetahui siapa wanita itu. Ingin mengenal lebih dalam dengan wanita cantik itu.
Apakah sekarang ia merasakan cinta pada pandangan pertama. Ia tak tahu. Yang pasti sekarang jantungnya berdebar-debar. Ia pun memutuskan untuk segera tidur. Tak lupa memasang alarm untuk ia bangun tahajud. Pandu sering ketiduran hingga ia lupa menunaikan ibadah shalat tahajud makanya ia memasang alarm.
Ia berdoa kepada Sang Pencipta, jika memang wanita itu adalah jodohnya maka dekatkanlah, jika tidak maka jauhkanlah karena Pandu juga tak mau berharap banyak.
NOTE : UNTUK CERPEN "SEPENGGAL KISAH PANDU" AKU SUDAH BUAT CERITA DENGAN JUDUL "PANDU"