Selama di perjalanan Kirana hanya diam dan terus memandang ke arah Agni. Bukan tak tau, tapi Agni hanya tak ingin menjelaskan. Setelah sampai di rumah, Kirana langsung masuk tanpa mengatakan terima kasih seperti biasanya.
Agni memandang punggung yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Punggung yang kini tengah naik turun karena tengah menangis. Ya, Kirana menangis karena tak mengerti apa yang di sampaikan oleh pak bosnya.
Kirana memasuki rumah minimalis yang ia beli dari tabungannya selama ini. Kirana duduk menyandarkan punggung lelahnya di sandaran sofa berwarna hitam di ruang tamunya. Kembali mengingat dan mencoba mengartikan apa yang di ucapkan oleh Agni.
“Dasar orang gila!” hanya itu yang Kirana ucapkan di malam melelahkan ini.
Malam berlalu, dan pagi pun menyambut Kirana. Seperti biasa dia berangkat ke apartemen Agni jam lima sebuh, sebelum lelaki itu bangun. Menyiapkan segala keperluan Agni, dari pakaian sampai dokumen yang di butuhkan lelaki itu.
Setelah menyiapkan semuanya, Kirana membangunkan Agni yang masih terlelap.
“Pak, sudah pagi!” Kirana langsung membuka tirai tebal yang menghalangi sinar mata hari pagi masuk kamar Agni.
Tanpa berkata, Agni langsung bangun. Duduk dan bersandar pada kepala tempat tidurnya. Kirana menyodorkan air hangat pada Agni. Sudah seperti seorang istri yang cekatan, Kirana segera menyingkap selimut tebal yang menutupi lelaki itu.
Merapikan tempat tidur Agni, di lanjut menyiapkan baju untuk lelaki itu kenakan. Tak lupa memilihkan sepatu dan jam tangan atau cincin yang akan di gunakan oleh lelaki itu.
Agni memang suka dengan aksesois cincin yang di kenakan di jari telunjuk dan juga jari manisnya. Setelah itu Kirana yang sudah rapi dari subuh pun menyiapkan sarapan sederhana untuk Agni.
“Ini yang aku suka dari kamu. Semua kau kerjakan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga,” kini Kirana memasangkan dasi pada lelaki tinggi ini.
“Terima kasih pujian anda pak,”
Masih dengan memasangkan dasi milik Agni, kedua orang itu di kagetkan oleh kedatangan Galuh Ajeng.
“Kalian, tinggal bareng?” Tanya Galuh Ajeng melihat apa yang di lakukan oleh keduanya di dalam kamar Agni.
“Mama! Kenapa masuk tanpa ketuk pintu dulu?” kaget Agni.
“Kalian ini!” Galuh Ajeng mendekati kedua orang yang terlihat canggung.
“Permisi, saya akan menyiapkan sarapan tambahan,” pamit Kirana mengusir rasa canggungnya.
“Tunggu Ran, ini mama bawa sarapan buat Agni. Mama gak tau kamu di sini juga, jadi maaf…” ucap Galuh Ajeng dengan tatapan menggoda.
Sedangkan orang yang di goda malah menundukkan kepala. “Angkat kepalamu!” seru Agni.
“Baik pak,” Kirana pun langsung mengangkat kepala dan membusungkan d**a persis seperti intriksi Agni sebelum-sebelumnya.
“Jangan terlalu keras sama Kirana. Nanti dia lari, kamu sendiri yang menyesal,” tutur Galuh Ajeng dengan mengusap d**a bidang sang putra.
“Baik ma. Sekarang katakan, buat apa mama datang ke sini pagi-pagi sekali?” Tanya Agni menuntun wanita tersayangnya itu ke ruang makan.
“Mama kangen, mama kesepian tinggal di rumah itu sendirian. Agni,” rengek Galuh Ajeng untuk membujuk putra keduanya.
“Mama, masalah ini sudah berkali-kali kita bahas.” pungkas Agni.
“Ya lah. Kalian, kapan menikah?” tanya Galuh Ajeng.
Brup,
Huk,
Agni menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Sedangkan Kirana tersedak roti yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
“Kenapa kalian ini?” Galuh Ajeng bingung untuk menolong siapa.
“Mama, aku dan Kirana masih baru pengenalan,” jelas Agni.
“Pengenalan sama jalannya bayi?” tuduh Galu Ajeng.
“Memangnya, jalannya bayi itu punya nama. Nyonya?” tanya Kirana polos.
“Buakan kenalan nama, tapi kenalan saling mengunjungi. Agni mengunjungimu,” jelas Galuh dengan bahasa yang di buat sesopan mungkin.
“Tapi pak Agni gak pernah berkunjung di tempatku, Nyonya,” jawab jujur Kirana.
Sedangkan Agni hanya menutup mukanya karena malu dengan pembahasan sang mama.
“Terus, kamu ada di sini untuk apa?” Tanya Galuh.
“Melayani pak Agni,” jawab Kirana.
“Bisa stop bahas hal ini, tidak?!” Agni sudah kepalang malu dengan pembahasan di pagi yang berantakan ini.
Namun Kirana hanya santai menanggapi pertanyaan sang Nyonya, karena tidak tau apa yang di maksud.
Kirana dan Agni berangkat kerja dengan menggunakan mobil yang sama, setelah Galuh Ajeng pulang.
“Kirana, kita sudah sangat-sangat terlambat hari ini.” Agni melihat betapa takutnya Kirana saat Agni mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Tapi gak dengan ngeprank malaikat juga kali, pak!” ucap Kirana asal dengan bahasa yang biasa di gunakan dengan reka kerja yang lainnya.
“Hahaha, ini baru yang namanya hidup. Kirana,” gelak tawa yang tak pernah di dengar oleh Kirana, kini terdengar sangat merdu.
Lesung pipi yang di tampakkan oleh lelaki itu membuat Kirana tak bisa berpaling pada hal lainnya.
“Jangan menatapku seperti itu, nanti kau jatuh cinta padaku,” Agni melirik Kirana yang tersenyum menatapnya.
“Biarkan aku menikmati keindahan Tuhan, sebelum aku di jemput para Malaikat,” ucap polos Kirana.
“Hahaha, kau bisa menikmati wajahku sepuas yang kau mau. Kirana,” ucap Agni yang baru saja memarkir mobilnya tepat di depan gedung miliknya.
“Tapi, aku gak bisa melihat ini,” dengan berani Kirana menyentuh lensung pipi sang bos.
“Kalau kau mau, kapan pun aku berikan. Hanya buatmu,” goda Agni.
Kedua orang yang datang di jam sepuluh pagi itu mengundang banyak tanya dari para karyawan. Pasalnya Agni yang hampir tak pernah tersenyum, kini dia memasuki kantor dengan senyum manisnya.
“Sepertinya, semalem diservice ni sama itu sekertaris pribadi,” ucap salah satu pagawai yang tak suka dengan Kirana.
Kirana mendengar apa yang di ucapkan oleh pegawai itu, bukannya marah. Dia malah santai dan menganggapnya angin lalu. Ya, itu karena dia tak sekali mendengar hal itu.
Kirana gini sama bos, Kirana gitu sama bos. Dan pemilik senyum manis itu tak menghiraukan atau lebih tepatnya tutup kuping, tutup mulut dan tutup mata. Memang itu yang seharusnya di lakukan oleh wanita itu.
Masuk ke dalam lift yang hanya mereka berdua, membuat Agni bebas berbicara.
“Jangan dengarkan apa yang mereka katakan,” ucap Agni datar.
“Tenang lah, aku tak sebaper itu,” Jawab Kirana.
“Bagus, itu baru wanitaku,”
Keduanya keluar dari lift dan menuju ke ruangan Agni. Melepas jas yang di kenakan lelaki itu, adalah tugas Kirana. Di lanjut dengan membacakan agenda sehari untuk Agni.
“Baik pak. untuk makan siang, karena tak ada janji di luar saya ijin untuk makan di luar,” ijin Kirana.
“Ya, pergilah temui sahabatmu itu,” senyum mengembang di bibir Kirana ketika Agni membahas Bima secara tak langsung.
“Sepertinya kau bahagia sekali akan bertemu dengan dia?” tanya Agni yang mempertanyakan senyuman manis itu.
“Karna kami selalu gagal untuk makan siang atau pulang bersama,” kejujuran dari Kirana memang tak di ragukan lagi.
“Apa kau menyukai lelaki itu?” selidik Agni.
“Mana ada?” ucap Kirana kaget dengan pertanyaan Agni.
“Wajahmu merah, senyumu manis,” terang Agni.
“Ah, blash on saya ketebelan pak,” jawab Kirana memegangi pipinya yang mengira perona pipinya terlalu menyala.
“Ya, ya. Tapi aku ingatkan sama kamu. Di depan mama kamu itu kekasihku,” ucap Agni mendikte.
“Ah, maksud bapak?” kali ini Kirana memang tidak mengerti apa yang di maksud oleh bosnya.
Agni berjalan mendekati wanita yang kini sedang berdiri tak jauh dari mejanya. Duduk di meja kerjanya, tepat di depan Kirana. Agni memperjelas pernyataannya barusan.
“Aku akan membayarmu lebih, untuk berpura-pura menjadi kekasihku di hadapan mama,”
“Aaaaaahhh, iya. Terima kasih pak! Berapa saya akan di bayar untuk saya menjadi artis?” Tanya Kirana yang sepertinya mengerti apa yang di maksud lelaki itu.
“Berapa pun aku bisa memberikannya untukmu, aku malas kalau harus di jodohkan sana sini,” ungkap Agni.
“Baik lah. Dan lagi pak, kalau memberi pernyataan yang logis sedikit. Saya baru bekerja di sini sekitaran satu tahun lebih dikit, terus sisanya bapak pacaran sama siapa?” Tanya Kirana yang mengingat kejadian semalam di restoran.
“Maksudnya?” kali ini Agni yang tak paham dengan apa yang di ucapkan Kirana.
“Bapak mengakui saya sebagai kekasih selama satu tahun setengah….”
“Ah, iya. Ya sudah jangan di ingatkan masalah itu, sepertinya mama juga tak paham masalah itu,” pungkas Agni.
Kirana pun kembali ke ruangannya dan bekerja seperti biasanya.