“Hey, kenapa lo nggak cerita sih kalau deket sama Daru Han.” gadis yang memiliki rambut bondol. Wajahnya cantik dan ia begitu antusias pagi ini. Seperti mimpi ia bisa satu meja dengan Daru Han.
“Kan udah gue bilang, kalau gue satu kelas sama Daru.” bangga Brillia pada ketiga temannya. “Ya nggak Daru?”
Daru mengangguk pelan, sembari memberi senyumnya.
“Daru semester depan mau ambil makul apa aja? Biar gue bisa samain, kali-kali bisa satu kelas sama lo.” gadis yang memakai jaket lepis menyahuti.
“Tapi kan semester depan masih ambil paket dasar. Nggak bisa lah.” Brillia menyahut. Sistem di kampus ini memang begitu, untuk dua semester yang ada hanyalah paket sehingga kelasnya tidak terpisah.
“Eh, tapi Daru capek nggak sih, setiap hari syuting. Mana masih kuliah pagi lagi. Hebat banget.”
“Makanya, gue selalu kagum. Selamat ya Ru, lo masuk dalam kriteria idaman gue.” gadis berambut bondol seperti tanpa ragu-ragu mengatakan hal itu. Padahal Daru saja tidak tahu nama mereka semua.
Daru menoleh ke Brillia, memberikan kode bahwa ia tidak nyaman. Namun Brillia seakan tidak mempedulikan itu dan melanjutkan obrolan dengan teman-temannya, dengan heboh layaknya para gadis berkumpul yang pasti.
Daru menghela napas, hal ini sudah keluar dari perjanjian mereka. Katanya, cuma traktir bakso, tapi ini kenapa ia malah dijajakan kepada teman-temannya. Daru tidak masala harus mentraktir keempat gadis ini, tapi masalahnya tidak nyaman dari cara mereka memperlakukan Daru membuatnya tidak nyaman.
Daru yang saat itu seperti gula dirubung semut hanya bisa mengangguk. Sebenarnya ia cukup tidak nyaman dielu-elukan sebegitunya di depan mereka. Apalagi jika hanya membahas ketampanan dan betapa terkenalnya ia, makin tidak nyaman. Berbeda dengan yang ia rasakan ketika di pasar, di sana ia merasa dihargai sebagai aktor, dengan lakonnya yang membuat siapa saja terpukau.
“Gue boleh kan manggil lo cuma Daru, kayak orang-orang?” gadis yang mengenakan jaket lepis mendekat. Gadis itu memang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip.
“Boleh lah, kan emang nama gue Daru.” jawab Daru sembari menahan risihnya. Meskipun ia tidak nyaman, ia harus menutupinya. Bukankah itu sama saja dengan mencoba mendekat ke lingkungan.
“Wah, hebat. Gue temenan sama Daru. Kenalin gue temennya Brillia, nama gue Anggi!” serunya setelah mendapat persetujuan dari artis.
“Gue-gue Siska!” sahut gadis bondol itu.
“Kalau gue Elina. Gue temen SMAnya Brillia.” gadis yang sejak tadi banyak diam ikut-ikutan memperkenalkan diri.
“Hai Anggi, Siska dan Elina.” Daru memberikan lambaian pelan kepada ketiga gadis itu. Setelahnya, mereka langsung berteriak heboh, seperti tidak kuat untuk menompang badannya sendiri. Mereka tersenyum lebar dengan kenikmatan luar biasa. Padahal kan cuma di sapa doang.
“Boleh nggak, gue ngerekam ini!” seru Siska tanpa mempedulikan bahwa ini sedang ada di tempat umum. Kantin kampus tiga! Tanpa ketiga gadis itu heboh pun, mereka sudah jadi banyak tatapan karena ada Daru di sana.
Sepertinya Daru harus melambaikan tangan ke kamera. Daru yang introvert begitu tidak nyaman dengan hal ini. Ia mencari ide untuk keluar dari kandang macan ini. Apakah ia harus menghubungi Yara? Tapi nanti jika ada Yara banyak orang yang salah paham dan bikin Yara kena bumerang lagi.
“Eh, Daru. Emang bener kalo lo lagi deket sama Yara?” Anggi mendekatkan wajahnya, ingin tahu dengan kebenaran dibalik postingan minggu lalu. Bagaimanapun banyak orang yang belum tahu dengan informasi yang simpang siur itu.
Daru menelan ludahnya, apakah ia akan menjawabnya dengan jujur.
“Lo kenal Yara, Nggi?” Brillia segera menyahuti.
“Kenal lah, satu fakultas juga tahu kok. Kan sejak awal dia udah diisukan dekat sama Daru Han.” jawab Siska samtai. “Gimana sebenarnya?” tanyanya lagi.
“Mereka nggak ada apa-apa kok. Itu cuma kerjaan hatters aja. Lo tahu kan, kalau artis pasti punya resiko dengan hubungan sosialnya.” sahut Brillia bijak. Mendengar itu Daru langsung menoleh ke Brillia tidak percaya. Ternyata Brillia tidak selamanya buruk.
“Iya juga ya, wah gue malah kasian sama Yara.” Elina menyahut.
“Tenang aja, semuanya sudah aman kok.” jawab Daru menenangkan.
“Untungnya Bri, lo nggak kena berita itu juga.” Siska menatap khawatir ke arah teman dekatnya. Jadi bahan gosip itu memang bener-bener nggak enak dan ketiga teman Brillia itu tahu dengan benar. Diam-diam Daru menghela napas lega.
“Gue baik-baik aja koook!” sahut seseorang dari arah belakang. Itu Yara, ia mendengar percakapan itu ketika dia berjalan menuju meja Daru.
“Iya, Yara happy-happy aja.” timpal Braga. Ia merangkul teman sekelompoknya.
Rangkulan itu langsung ditolak oleh Yara dengan bercanda. “Heh, gue baru aja digosipin sama Daru ye. Lo mau nambah gosip lagi.” mendengar itu semua orang tertawa, termasuk Daru yang menganggap kedua temannya itu pahlawan. Apalagi Braga, paling tidak, Daru nggak sendirian di sini, sebagai jantan.
“Boleeh dong, ditraktir artis jugaaa.” celetuk Braga yang kini mengambil duduk di samping Daru.
“Ya udah pesen aja nggak papa. Habis ini kita kan nggak ada kelas.” sahut Daru santai. Seperti menjadi orang yang berbeda. Daru lebih ceria dengan datangnya Braga dan Yara, tidak sekaku tadi.
“Asiiiik!” seru Yara yang kini duduk di samping Braga.
“Lo kenapa ke kantin sama cewek-cewek nggak bilang?” bisik Braga tepat di bahu Daru. Mereka sudah cukup akrab untuk menjadi dua teman dekat.
Daru tersenyum miring, membalas Braga tak mau kalah. “Sengaja gue ambil sendirian, lo aja udah sama Yara.”
Braga menyeringai tidak percaya. Perkembangan Daru untuk menjadi manusia sosial sudah lumayan, bahkan bisa menimpali ucapan-ucapan nakal itu.
“Kalian ada apa ke sini?” tanya Brillia kepo. Sebenarnya dia juga cukup terusik dengan datangnya manusia yang tidak diharapkan. Tapi karena masih sebagai teman, dia nggak mungkin sejelas itu untuk mengatakan perasaan terganggunya.
“Gue mau bahas konsep kelompok. Daru orangnya susah diajak buat nugas, makanya dikerjain jauh-jauh hari.” Braga menyahuti dengan santai. Sebenarnya itu alibi. Tapi yang pasti itu bisa menjadi alasan yang baik agar Daru tidak merasa nyaman.
“Iya! Iya, gue beberapa minggu ke depan nggak bisa. Gue mau ada syuting iklan.” sahut Daru memperkuat alasan.
“Wah merasa spesial gue bisa tahu kesibukan artis.” seru Siska. Padahal itu cuma alibi, tapi kenapa mereka menanggapi hal itu dengan berlebihan.
“Jadi gimana? Kapan kita mau ngerjain?” celetuk Yara. Ia sejak tadi diam menyimak obrolan ini.
“Besok libur kan? Gimana kalau ke lokasi syuting gue aja?”
“Oke setuju.” sahut Braga cepat.
“Gue syuting jam 11. Kalian bisa datang, nanti alamatnya gue kirim.”
“Gue jemput lo ya Ra!” Braga menoleh ke Yara. Yara memberi jempol setuju.
Melihat obrolan singkat itu, keempat gadis itu menyimak dengan iri. Seperti mereka ingin ikut menjadi kelompok Daru biar bisa bertemu di lokasi syuting. Pasti benar-benar menyenangkan.
“Guee pengen ikuuut.” Brillia menahan napasnya.
“Kenapa sih gue harus satu kelompok sama Kevin segalaaa.” keluhnya. Ia pikir kelompok dengan siapapun sama saja. Tapi, ketika satu kelompok dengan Daru terasa begitu menyenangkan.
“Gue pengen satu kelas sama Daruuu.” Siska ikut berseloroh.
•••
Handaru jangan lupa datang ya. Aku tunggu.
Siapa sih yang nggak berdebar-debar dapat pesan kayak gitu. Apalagi dari seseorang terkenal dan didamba banyak orang. Yara sejak tadi senyum-senyum diboncengkan oleh Braga. Banyak kupu-kupu yang beterbangan di dadanya.
Pukul 11.00, ketika Daru mengaba-aba untuk pergi syuting, mereka juga sudah siap. Braga sudah parkir di depan rumah Yara dan bersiap untuk menyambut ratu di kelompoknya. Alamat sudah dikirimkan dan mereka sudah menyiapkan peralatan yang akan digunakan, yaitu laptop dan buku catatan.
“Wangi bener nih!” Braga berseloroh di depan. Yara sendiri yang dibonceng hanya tersenyum malu. Entah dengan kekuatan apa ia bisa berdandan begitu rapi. Berbeda sekali dengan pertemuan kemarin dengan Mita. Karena bagi Yara, ia ingin memberikan yang terbaik untuk sosok yang spesial. Entah dengan parfum dan sedikit riasan tipis. Tujuannya adalah lokasi syuting, ia tidak mungkin datang hanya dengan hoodie dan wajah seadanya.
Sesampai di lokasi syuting, Yara terpana dengan hiruk pikuk aktivitas di sana. Braga juga, ia terpana pada aktris-aktris cantik yang berseliweran di depannya. Keluar dari mobil pribadi mereka dengan wajah polos tapi begitu cantik. Jadi seperti ini suasana tempat syuting, semua orang sibuk dan memukau.
Seseorang menghampiri Yara dan Braga, penampilannya sederhana. Seorang laki-laki berusia 30 tahun yang mengenakan kaos hitam dan topi. Yara dan Braga saling pandang, apakah ini asisten Daru?
“Mau jadi Cameo ya?” tanyanya. Yara dan Braga tercengang. Mereka kaget karena pertanyaan itu diluar dugaan.
“Bukan-bukan Mas!” sahut Braga cepat.
“Terus mau ngapain ke sini?”
“Eee… kita temennya Daru Han. Iya Daru Han.” Yara menambahkan.
Crew itu menatap mereka berdua ragu. Seperti tidak yakin dengan ucapan mereka. “Kalian bukan fans kan? Mohon maaf kita nggak bisa masukin fans ke sini. Takutnya ganggu.” crew itu berbalik. Ingin meninggalkan mereka berdua yang kebingungan.
“Paaaak, eh Mas! Saya temennya Daru loh beneran!” Yara berteriak, ingin mencegah crew tersebut pergi. Yara takut jika tiba-tiba tidak diijinkan untuk masuk ke lokasi syuting.
Braga menahan Yara. “Udah Ra, jangan gitu.”
“Jangan gitu gimana! Jelas-jelas kita dilarang.” sungut Yara.
“Ya udah nggak usah diladenin. Tuh Daru turun dari mobil!” Braga menolehkan wajah Yara. Menuju seseorang yang sedang keluar dari mobil, dengan satu perempuan dewasa yang juga turun dari mobil.
“Daruuu!” seru Braga. Braga menarik Yara untuk mendekat ke temannya.
“Eh kalian udah sampe.” Daru ikut menyapa. “Sorry ya, gue agak telat, tadi macet.”
Kak Hana sedikit mengerutkan alisnya kepada dua orang yang sebaya dengan Daru. “Temenmu?” tanyanya pada adiknya.
“Iya, tadi aku udah bilang kan. Kalau Sasan juga mau nugas. Boleh kan?” Daru menoleh ke Kak Hana. Sebenarnya ia memang belum meminta ijin untuk mengerjakan tugas di lokasi syuting.
“Bisa sih, tapi kalau break aja ya. Selama kamu syuting, temenmu nggak boleh ganggu.” sahut Kak Hana dengan bijak.
Braga dan Yara menegang. Mereka semakin takut jika ternyata itu hanya mengganggu aktivitas Daru dan mereka akan pulang sia-sia.
“Iya, Sasan tahu. Tapi mereka boleh ikut masuk kan?”
“Boleh. Nanti kakak carikan tempat duduk buat mereka.” jawab Kak Hana dengan ramah. Jawaban itu membuat kedua manusia itu bernapas lega. Sungguh repot sekali berteman dengan artis. Selain sulit diajak berinteraksi, juga sulit untuk mencari waktu. Benar-benar sibuk banget.
“Yuk masuk.” Daru mengajak dua temannya. Yara dan Braga mengangguk, mereka berjalan mengekori Daru dan Kak Hana. Yara begitu kaget melihat tempat istirahat Daru yang begitu spesial. Begitu teduh dan benar-benar seperti orang penting. Itu wajar saja, Daru menjadi pemeran utama di sini, semua orang fokus ke dirinya.
Daru duduk, langsung dihampiri oleh dua orang yang bersiap mendandaninya. Braga dan Yara hanya seperti cecunguk, bingung mau ngapain. Terlebih Yara, ia semakin merasa mustahil bisa dekat secara khusus dengan Daru. Melihatnya diperlakukan seperti orang penting membuatnya semakin kecil.
Apa pantes, gue naksir sama orang segede dia?
“Ini, kalian bisa duduk di sini.” Kak Hana mempersilahkan mereka. “Kenalin saya Hana, kakak sekaligus manajernya Daru Han.”
“Saya, Yara kak, teman sekelasnya Daru. Ini Braga.” Yara mewakili perkenalan. Ia begitu kagum dengan sosok Kak Hana yang cantik dan penyabar itu. Rambutnya yang diikat itu nampak memberikan citra elegan dan kemandirian. Kenapa Kak Hana tidak ikut jadi artis saja?
Yara dan Braga duduk dengan diam. Braga sendiri juga masih belum bisa petakilan di sini. Jika biasanya ia memperlakukan Daru seperti teman dekat, di sini ia tidak bisa sembarangan. Bisa-bisa jika Braga melakukan kesalahan, dua staff itu akan melirik tajam ke arahnya, atau bahkan lebih jahat yaitu mengusirnya.
“Kalian udah makan?” celetuk Daru tanpa menoleh.
“Belum.” jawab Yara dan Braga bersamaan.
“Mau gue pesenin makan gimana? Kalian mau makan apa?”
“Nggak usah Ru. Kan kemarin lo udah traktir kita.” tolak Braga halus.
“Nggak papa, jangan sungkan. Gue juga belum makan siang soalnya.” jawab Daru tanpa penolakan. ‘
Yara diam-diam memandang Daru dengan kagum. Bagaimana ia berperilaku masih saja baik. Bahkan perhatian-perhatian kecil yang Daru beri membuat hati siapapun hangat. Ia bersyukur bisa begitu dekat dengannya. Benar-benar pemuda idaman, baik secara wajah dan perilaku, semua keseimbangan itu ada.
Dalam diam kepalanya berputar ingatan-ingatan terakhir bersama Darum bagaimana tingkahnya yang manis dan ucapan Mita yang memintanya untuk maju. Masih seperti mimpi, bisa masuk fase PDKT dengan Daru adalah sebuah hal yang mustahil. Namun apakah itu akan berjalan lancar. Apakah semudah itu bisa jatuh cinta dengan orang seterkenal dia.
Pikiran Yara sejak tadi bermain-main. Ketika melihat Daru selesai dandan, ketika melihat ia sedang syuting dan segala aktivitasnya yang membuat dirinya semakin sulit digapai. Berkali-kali Yara mengoreksi dirinya, apakah pantas untuk melanjutkan semua ini. Namun pikiran-pikiran itu luruh sejak Daru mendekatinya, break syuting telah datang. Daru datang ke arahnya dengan senyum yang berbeda. Senyum yang menjelaskan bahwa ia senang ada Yara di sini. Senyum yang membuat Yara kembali ragu dengan dirinya sendiri.
“Udah makan?” tanyanya dengan lembut.
“Udah kok tadi pas kamu syuting.” jawab Yara malu.
“Yaudah, sholat dulu terus kita nugas ya. Maaf bikin kamu nunggu.” ucapan itu seperti kupu-kupu yang berjalan pelan masuk ke telinganya, kemudian terbang ke dadanya. Darahnya berdesir hebat dan jantungnya berdetak hebat. Kenapa kata-kata Daru begitu manis dan itu membuat Yara merasa dijunjung ke langit.
•••