Daru mengangguk yakin. "Kenapa harus nggak nyaman. Aku rasa, ini malah menjadi hal yang baik." Ucap Daru penuh keyakinan. Dalam kata ini, banyal hal yang ia ingin sampaikan. Lewat deret-deret tanda yang sebenarnya menjadi arti yang indah. Mungkin inilah saatnya Daru membuka lebih lebar langkahnya, agar keraguannya dalam dilangkahi dengan baik.
Ketika ia merasa begitu ragu dengan perasaannya, begitu ragu dengan kondisinya, inilah saatnya ia mau membuka. Melangkah lebih maju. Sebenarnya, debar ini belum lama ia rasakan. Namun ia merasa begitu yakin untuk melangkah. Meski ia belum tahu jalan selanjutnya akan menjadi apa. Melihat gadis pelita untuk hidupnya yang monoton. Ia ingin memiliki tangan yang ia genggam, ia ingin punya telinga yang baik untuk cerita yang ia tidak yakin bisa dibagikan dengan sembarang orang lain.
Ketika ia melihatnya tersenyum, ketika melihatnya mengeluh dan segala perasaannya yang tidak pernah bisa ia tutupi. Handaru jatuh cinta. Tapi apakah seorang manusia yang tidak memiliki privasi layak untuk jatuh cinta. Ketika dirinya menjadi dambaan banyak gadis di luar sana? Apakah pantas ia menjadikan satu gadis special di hidupnya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya sejak ia merasakan debarnya. Debar pertama di mobil sore hari, ketika ia melihat tawa yang begitu menyenangkan.
“Dari pada kamu penuh dengan pertanyaan. Lebih baik ungkapkan. Bukankah seorang teman akan semakin dekat jika saling berbagi keresahan dan rahasia.” Daru tersenyum, binar matanya bahkan ikut memberi tahu bahwa saat ini ia sedang bahagia. Bahagia yang masih belum bisa dijelaskan dengan logikanya.
“Oke-oke.” Yara tersenyum tipis, merasa konyol dengan dirinya sendiri yang begitu dramatis di pagi hari. Ia memijit pelipisnya yang sempat berdenyut. Ia bahkan menguap sembari tersenyum. Rasa ngantuk yang tiba-tiba menderanya membuat Daru juga ikut tersenyum. Yara menaruh kepalanya di meja. Kepalanya memang harus disandarkan, mungkin butuh beberapa menit untuk membuatnya tidak terlalu berdenyut.
“Semalem ikut syuting?” tanya Daru. Ia bahkan ikut menaruh kepalanya di meja. Kini dua remaja itu saling menatap, kira-kira ada tiga jengkal untuk jarak mereka. Yara yang saat itu sedang mengantuk mendadak membuka matanya lebar. Jantungnya berdenyut, sakit kepalanya bahkan tidak terasa saat ini.
“Kayaknya bener deh ini lagi selesai syuting.” Daru yang tidak mendapatkan respon Yara secara verbal tertawa, bahkan suara tawa pelan itu seperti simfoni. Terdengar begitu indah dan mendebarkan hati.
Yara mengerjap-erjapkan matanya. Mungkin saja ini mimpi dan halusinasi di pagi harinya yang karena kurang tidur. Atau ini nyata? Tapi mengapa ini terlalu mustahil. Kesadarannya langsung pulih ketika ada benda dingin menyentuh pipinya. Yara terperanjat dan langsung bangkit.
“Nih es kopi, biar ngantuknya hilang. Nanti siang baru boleh tidur.” Sahut Daru dengan suara yang riang. Kejahilannya membuat Yara langsung mengelus-elus pipinya yang terasa begitu dingin, padahal kan ruangannya saja sudah pakai AC.
Yara menerima es kopi itu, di dalam kaleng berwarna hitam sedikit coklat. “Makasih.” Jawab Yara pelan.
Daru mengangguk. “Sama-sama.”
Yara meneguk minuman itu sembari tersenyum malu. Pipinya yang kedinginan tadi kini memerah, membuat Daru ingin mencubitnya. Jika saja diijinkan, Daru ingin menyentuh itu.
“Kamu nggak minum?” tanya Yara ketika melihat Daru hanya tersenyum melihatnya meneguk kopi kaleng itu. “Ini bisa kamu minum.” Yara menyerahkan kaleng itu kepada Daru.
Daru tertawa lagi. “Aku bawa sendiri kook. Nih.” Daru memperlihatkan kaleng yang sama dengan yang diminum Yara. Kini ia membuka segelnya, meneguknya dengan perlahan.
Pada pagi ini, tanpa persetujuan lewat suara bibir. Mereka seperti menyetujui langkah mereka. Untuk saling mendekat. Yara yang merasa mampu menerima perhatian itu dan Daru yang semakin merasa ingin lebih dekat. Dua perasaan murni itu ingin mereka rasakan tanpa memikirkan apa yang ada di depannya. Apa salahnya untuk jatuh cinta, apakah dua manusia ini harus menahan perasaannya karena orang lain?
●●●
Peristiwa itu membuat dua insan itu begitu ceria. Sejak tadi sama sekali tidak ada culas dibibirnya. Seperti mendapatkan lotre 10 juta. Kedua manusia itu seperti tanpa memiliki beban dalam hidupnya. Dua obrolan rahasia itu menjadi semangat, untuk mengawali hari yang akan panjang ini.
Meski duduk mereka berdua jauh, diam-diam mereka masih saling curi pandang. Memandang dengan diam-diam juga tersenyum. Perasaan itu terperangkap dalam hati mereka masing-masing. Saling menyuarakan rasa tanpa seorangpun dapat memahami. Daru memandang Yara yang sejak tadi menahan kantuknya di kelas pagi ini. Kopi sekaleng itu sama sekali tidak mempan untuk kantuknya. Namun manjur untuk awal kebahagiaan mereka.
Daru merogoh ponselnya yang ada di saku jaketnya. Jaketnya tersampir di mejanya. Ia membuka chat Yara dan mengirimi ia pesan.
Jika dalam lima menit kamu ngantuk. Aku bakal laporin kamu ke dosen.
Sent.
Pesan itu terkirim bebarengan dengan Yara yang hampir menuju alam mimpinya. Getaran itu cukup membuatnya sadar, lalu Yara merogoh ponselnya. Membuka pesan itu dan dalam hitungan detik, ia menoleh, kea rah Daru yang sudah menunggu ia marah.
Yara memberi bogem di bawah meja. Namun Daru dapat melihatnya dengan jelas. Senyumnya semakin lebar. Daru mengetik pesan baru.
Yaudah, kalau kamu ngantuk lagi. Kamu traktir aku kopi.
Daru memeletkan lidahnya kepada Yara yang masih menggelengkan kepalanya dengan senyum tidak percaya. Kenapa Daru repot-repot sekali membuatnya harus rugi. Padahal Daru sebenarnya juga kerap mengantuk di kelas. Bahkan intensitasnya lebih sering dari pada dosen menghela napas.
Yara membalas pesan ke Daru.
Kok artis minta traktir mulu!
Di sela dosen menjelaskan materi di depan. Kedua manusia itu malah saling mengirimi pesan. Penuh kelucuan yang sama sekali tidak diketahui oleh banyak orang. Jika orang mengategorikannya, ini bisa disebut proses PDKT. Masa penuh manis yang masih menjadi tanda tanya.
Aku hanyalah insan biasa yang juga pengen ditraktir.
Pesan itu menggelitiki Yara, manis dan benar-benar menghilangkan kantuknya. Di sela mereka mengirimi pesan, mereka juga saling pandang dan tersenyum. Kontak jauh yang begitu terasa dekat.
Oke nanti aku traktir ya.
Akhirnya pesan itu terkirim. Membuat mereka tidak sabar menunggu istirahat yang akan datang nanti. Waktu 40 menit terasa begitu lama untuk mereka berdua dan kini ia begitu gelisah menunggu dosen menutup kelas.
Waktu yang dinanti-nanti tiba. Dosen mengakhiri kelas dan semua mahasiswa berdiri untuk keluar dari kelas. Daru mengerling Yara yang saat itu bangkit juga. Seperti sebuah kata seperti ‘apakah kamu siap untuk traktir kopi’ dan dengan anggukan tanpa aba Daru menjawab ‘iya’.
“Daru! Katanya lo mau traktir gue bakso.” Seru Brillia tiba-tiba. Mendekati Daru yang mengenakan jaketnya.
Daru menoleh, ia mengingat sesuatu. Apakah ia pernah mengatakan hal aneh kepada Brillia. Kemudian ia teringat pada percakapannya beberapa hari lalu. Di mana Daru mengatakan hal itu dengan terpaksa agar bisa duduk di samping Yara.
“Harus sekarang?” tanya Daru getir. Ia benar-benar tidak mau waktu bersama dengan Yara terganggu.
“Mau kapan? Gue udah nahan untuk enggak makan nih.” Melas Brillia. Namun sedetik kemudian ia menampakan cengirannya. Seperti sudah siap mendapatkan traktir dari artis nomor satu di kelasnya.
“Ayooo.” Brillia ingin menarik tangan Daru, tapi karena alasan menjaga diri, ia hanya bisa menarik tasnya.
Daru terseret oleh Brilia menuju keluar. Membuat Daru sedih dan begitu kecewa karena gagal untuk ngobrol berdua di kantin. Bahkan Daru meninggalkan Yara dengan penuh tanda tanya.
Siang ini, acara mereka gagal lagi. Kali kedua Daru kecewa karena hal yang tidak ia duga. Dan itu karena ucapannya sendiri beberapa hari lalu. Berjanji pada hal yang sama sekali tidak ia ingat.