16 — Itu Artinya?

1746 Words
Perasaan senang dan bangga Mita karena mempertemukan Yara dan Daru hanyalah ketika sampai Daru pulang. Setelahnya, sidang dimulai. Di depan indekos Mita, dirinya di sidang. Duduk di bangku kecil di samping pagar. "Mit, gue tahu kita temenan dan gue mengakui bahwa kita deket, banget malah. Tapi gue mohon, jangan kayak gini." penuh dengan keseriusan. Yara mengatakan ini pelan namun sama sekali tidak ada senyum di wajahnya. Berbanding terbalik ketika di restoran tadi. Entah kenapa suasana sore ini mendadak begitu kaku. Ketika matahari sudah mulai terbenam dan Yara yang saat ini berubah berbeda. Itu mengisi kekakuan yang tanpa mereka sadari ciptakan. "Tapi, gue cuma bantuin lo Ra." Mita mengatakan niatnya. "Iya gue tahu. Tapi, ini terlalu riskan Mit. Gimana kalau fansnya Daru tahu kita? Gimana kalau kita bakal jadi bulan-bulanannya? Lo tahu kan? Gue jalan bareng aja di kampus kena, apalagi kalau di tempat umum? Gue juga enggak mau lo kena Mit." "Tapi Daru nggak marah kok." Mita masih mengatakan alibinya. "Bukan itu masalah utamanya. Ini masalah orang lain, masalah yang akan menyangkut karir dan keprivasian orang. Gue enggak mau ini terjadi. Daru Han itu artis, dia dikenal banyak orang dan gue yakin enggak semua orang suka sama dia. Jadi, untuk berjaga-jaga, tetap jaga diri. Kita enggak pernah tahu hati orang lain." ujar Yara. Matanya menyorot ke wajah Mita yang tidak melihatnya sejak tadi. Mita memang sama sekali nggak sanggup menatap Yara. Bukan karena ia takut, tapi ia tidak mau melihat kebohongan yang Yara katakan. "Mit. Lo dengerin gue kan?" Mita mendenguskan napas kesal. "Lo mau gue dengerin?" kini ia menoleh ke Yara. Ekspresi Mita juga ikut berubah, ia seperti mencari kesalahan pada diri Yara. Yara kaget, ia mengernyitkan dahinya. Seperti ada algoritma yang salah. Harusnya, setelah mengatakan ini, Mita meminta maaf. Namun kali ini berbeda, Mita sama sekali tidak menampakan kesan sesuai harapan Yara. "Gue bukannya mau jahat sama lo ya Ra, tapi ada satu hal yang mengganjal di hati gue. Lo tahu kan, gue seperti apa orangnya." Mita masih berbelit. Semakin membuat Yara tidak mengerti. "Maksud lo apa sih Mit? Kenapa sekarang lo malah yang seperti mengintimidasi. Gue kan cuma bilang ke elo untuk selalu hati-hati." “Lo mau gue dengerin tapi lo sendiri nggak mau dengerin hati lo sendiri.” Ujar Mita dingin. Matanya menatapnya tajam, penuh penyelaman yang tidak bisa Yara tolak. "Oke, untuk selalu waspada itu perlu. Tapi, untuk selalu menjaga orang tanpa memahami apa hati kita mau itu juga nggak bisa. Lo mencoba mengerti apa yang orang mau? Sampai kapanpun nggak bisa." Mita berdiri, menatap manik Yara yang kini menciut. "Kalaupun bisa..." ucapannya berhenti. Mita menarik napas, untuk melanjutkan ucapannya. "Lo yang bakal terluka." Kini Yara membeku, ia seperti terkena bumerang yang ia lemparkan. Pembelaan-pembelaan tak tersurat mendadak menjadikan ia merasa menyadari satu hal. Ucapannya tadi tidak benar, ia hanya ingin bersembunyi untuk tetap baik-baik saja. "Lo bilang Daru artis.. tapi ingat juga, dia manusia. Dia sama kayak kita." Mita masih melanjutkan ucapannya. Tak peduli Yara semakin merasa kasihan pada dirinya sendiri. "Daru juga punya sosial, punya perasaan dan gue yakin apa yang Daru lakukan ke lo itu beda. Lo sadar Ra." tangan Mita memukul bahu Yara pelan. Seperti memberi tahu bahwa ia harus sadar. “Kalau Daru nggak nganggep lo beda, dia nggak bakal nyamperin lo di saat dia harusnya istirahat karena syuting. Kalau Daru nggak nganggep lo beda, dia nggak bakal berkali-kali minta satu kelompok sama lo karena alasan temen. Ya memang itu sesuatu hal normal bagi banyak orang. Tapi gue yakin, di balik itu semua. Ada hal lain yang membuat Daru mampu ngelakuin itu. Perasaan suka!” “Kalau lo nggak percaya, lo bisa lihat sendiri. Daru orang baik, dia memang artis, tapi dia juga enggak pernah kena skandal yang membuat image dia jelek.” Mita mengakhiri ucapan panjang itu dengan helaan napas. Sikap optimisme itu memang harus ditumbuhkan, meski banyak juga hal-hal yang terkadang bisa mematikan itu. Tapi percayalah, tidak apa-apa sesekali mengikuti apa kata hati. "Ya udah, lo mending buruan balik. Gue mau masuk dulu." Mita masih menepuk pundak Yara. Yara mengangguk pelan. Mita memang k*****t, Mita memang seperti terompet. Tapi Mita adalah Mita, ia tegas dan selalu yakin dengan kata hatinya. Meski terkadang banyak sifatnya yang sembrono tapi Mita tetap tidak pernah berhenti untuk mencoba lagi. Selagi tidak menyimpang jalur, apa salahnya berjalan meski jalannya sedikit berbatu. ••• Yara memang tidak bisa menafikan apa yang ia rasakan saat ini. Meski mulutnya berkali-kali mengatakan tidak dan menganggapnya bukan masalah yang besar. Malamnya ia tidak bisa tidur. Jika biasanya ketika ia tidak bisa tidur melampiaskan pada drama Korea, namun malam ini ia sama sekali tidak ingin menonton. Sama sekali. Kegelisahan yang menjadikannya terjaga hampir semalam, ia bahkan tidak sabar untuk menunggu pagi karena ingin memastikan semua itu. Hal-hal yang menurut Mita harus disadari Yara. Kepalanya masih berdenyut sampai pagi karena ia tidak bisa tidur nyenyak. Tapi ia tetap memaksa untuk berangkat ke kampus paling pagi, tepat sekali ada jam mata kuliah pagi. Dunia seakan memberi Yara untuk mengetahui apa yang dimaksud hatinya. Jika memang Yara merasakan sesuatu yang berbeda, apakah Daru juga menganggapnya spesial. Ia ingin tahu sendiri bagaimana Daru memandangnya. Apakah sama seperti Yara katakan? Ia masuk di kelas yang masih sepi. Bahkan cleaning service baru selesai mengepel lantai kampus. Terlalu pagi hingga hanya motornya yang terparkir di sana. Yara menghela napas, selain ia tidak mengerti pada apa yang terjadi, ia juga tidak mengerti mengapa ia bisa sejauh ini. Yara menaruh kepalanya di meja tempat ia duduk. Memejamkan matanya untuk mencoba meredakan sakit kepalanya. Sakit yang disebabkan karena kekurangan tidur. Yara menarik napas pelan. Mencoba menenangkan gemuruh yang sama sekali ia tidak mengerti. “Kalau Daru nggak nganggep lo beda, dia nggak bakal nyamperin lo di saat dia harusnya istirahat karena syuting. Kalau Daru nggak nganggep lo beda, dia nggak bakal berkali-kali minta satu kelompok sama lo karena alasan temen. Ya memang itu sesuatu hal normal bagi banyak orang. Tapi gue yakin, di balik itu semua. Ada hal lain yang membuat Daru mampu ngelakuin itu. Perasaan suka!” Yara tiba-tiba tersentak dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa ucapan Mita kemarin terlintas di otaknya. Membuat matanya kembali terbuka dan ia terduduk tegak. Yara menghela napas panjang. “Gue kenapa siih?” rintihnya. “Kamu sakit Ra?” tiba-tiba dari arah pintu. Seseorang yang benar-benar tidak ia duga datang. Sosok dengan hoodie warna olive. Daru Han. Datang mendekati Yara dengan perasaan yang lembut, bahkan ketika ia mengatakan itu Yara dapat merasakannya. Yara menggeleng. “Aku baik-baik aja kok.” Daru mengambil posisi duduk tepat di samping Yara, tersenyum dengan wajah sumpringah. Wajah yang siap menyambut hari. Bahkan rambutnya masih sedikit basah. Daru melepas hoodienya. Peraturan di kelas memang dilarang memakai jaket dan kaos di dalam kelas—lebih tepatnya ketika perkuliahan sedang berlangsung. Saat hoodie itu terlepas, kemeja dengan jenis kain katun, Nampak begitu sederhana namun indah, bahkan begitu cocok dengan kulit Daru yang halus. Warnanya yang biru membuat Yara menyadari satu hal. Ia juga sedang mengenakan baju biru, dress dengan pita menjuntai di leher itu memiliki warna yang sama persis dengan yang dipakai daru. Biru muda. “Tumben kamu ke kelas pagi-pagi banget.” Daru mencoba memecahkan keheningan. “Nggak tahu, kepagian.” Jawab Yara seadanya. Ia memang tidak tahu harus mengatakan apa. Kan nggak mungkin juga dia bilang kalau datang ke sini pagi-pagi karena mau ketemu Daru. “Ohya, makasih ya traktirannya kemarin. Jujur enak sih. Aku yang sering syuting di situ malah nggak pernah ke sana.” Daru menaruh tangannya menghadap Yara, menjadikan tubuh Daru juga condong ke arah Yara. “Iya, sama-sama. Anggap aja ucapan terima kasihku karena kamu kemarin juga traktir aku.” “Haha, kan aku Cuma pesenin kamu ayam. Sedangkan kemarin aku kamu beliin daging. Jadi aku rasa, kamu enggak perlu berterima kasih.” Daru tertawa dengan suaranya yang renyah. Seperti merasa asyik dengan obrolan yang sederhana ini. “Ru, aku boleh nanya sesuatu nggak?” Yara yang sejak tadi pikirannya kemana-mana. Harus mengeluarkan uneg-unegnya. “Iya apa?” ucap Daru seakan siap menjawab semua pertanyaan yang Yara berikan. “Kamu dulu pas kecil tinggal di mana?” “Jakarta.” Jawab Daru. Namun ia juga mengernyitkan dahinya. Kenapa tiba-tiba Yara menanyakan ini? “Jadi kamu sejak kecil sampai gede, tinggal di Jakarta?” Yara masih menanyakannya lagi, seakan masih ingin menyakinkan. “Iya, kan sama kayak kamu juga. Kamu tinggal di Jakarta sejak kecil kan?” Daru berbalik nanya. Yara mengangguk. “Terus apa permasalahannya?” Yara diam cukup lama. Apakah ia harus mengatakan ini? Gimana kalau nanti Daru bakal berpikir Yara terlalu agresif dan menjadikannya ilfeel. Bagaimanapun kan, ia sudah menjadi teman dekat Daru. Seperti pegangan di kehidupan sosialnya di kampus. “Kamu ngerasa aneh kalau kita manggil aku kamu?” tanpa aba-aba. Suara itu muncul dari mulut Daru. Pertanyaan yang sejak tadi berdengung di kepala Yara. Namun malah dikatakan oleh Daru sendiri. Yara mengangguk pelan. “Kamu ngerasa nyaman nggak sih manggil aku kamu ke aku.” Daru tersenyum lebar, bahkan giginya Nampak berderet rapi dan putih. “Kenapa harus nggak nyaman? Memangnya kamu nggak nyaman?” “Kamu beneran nggak papa dengan hal ini?” Yara mengangkat wajahnya, menatap wajah Daru dengan seksama. Mencari celah ketidaknyamanan yang mungkin Daru sembunyikan. Namun sama sekali tidak ada, hanya ada wajah dengan ketulusan dan kejujuran bahwa ia begitu tidak masalah. Daru mengangguk yakin. “Kenapa harus nggak nyaman. Aku rasa, ini malah menjadi hal yang baik.” Ucap Daru yang menjadi tanda tanya di kepala Yara. Ia menafsirkan tiap kata yang ia ucapkan. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Yara. Namun ia tidak mungkin menanyakan lebih banyak. Jantungnya sudah tidak aman untuk melanjutkan ini semua. Segala perkataan Daru dari kata perkata membuatnya merasa begitu aneh. Ada perasaan riang, dan perasaan takut yang hinggap. Seperti ketidakjelasan yang nikmat. Daru sendiri juga tidak merasakan ketidaknyamanan itu. Jadi apakah benar apa yang dikatakan Mita? Apakah iya jika ternyata Daru juga menyukainya? Tapi kenapa ia masih takut? Ada satu hal yang menjadi ketakutannya, kegagalan. Ia sama sekali tidak mahir dalam jatuh cinta. Ya, meski memang jatuh cinta berkali-kali. Tapi ini beda, kenapa ia bisa jatuh cinta pada seseorang yang sulit. Dan apakah benar yang dirasakan Yara ini cinta? Bagaimana jika hanya perasaan senang karena diperhatikan? Daru, yang masih duduk di sampingnya dengan senyum manis. Masih menjadi seribu pertanyaan di kepala Yara. Apa yang harus dilakukan jika memang ini terjadi? Kenapa Yara bisa melangkah sejauh ini? Apakah doanya pada Tuhan ingin mendapatkan kisah asmara yang menarik di kampus dikabulkan? •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD