15 — Porsi 3 Orang

1743 Words
Mita sejak tadi mengucapkan banyak bahasa binatang karena jalanan di sekitar kampus ramai dan cukup macet. Berkali-kali disalib orang tanpa aba-aba dan sering kali didempet motor. Jika ia tidak lebih sabar lagi, pasti motor yang melaju di sampingnya akan ditendang. Dengan kekuatan yang begitu dahsyat dari kaki kulinya. Sebenarnya juga bukan sebuah kesalahan. Keramaian jalan juga disebabkan oleh mahasiswa yang pulang dan memenuhi jalan. Mita aja yang jarang bergulat di jalanan ramai ini. Tempat tinggalnya dekat, indekos di belakang kampus. Hanya butuh beberapa langkah, kakinya sudah menginjak lantai kampus. Jadi ia tidak tahu betul bagaimana repotnya jalan ini. "Kita ke restoran Jepang atau Korea?" Yara menjongokkan wajahnya di bahu Mita. Bukan romantis, ini karena suara Yara akan sulit di dengar Mita karena jalanan yang ramai. "Katanya lo nggak doyan makanan mentah, ngapa nawarin ke restoran Jepang?" "Ya kan nawarin." "Restoran Prancis gimana?" Mita memberi rekomendasi. Lagi-lagi tidak tahu diri lagi, makanan di restoran Prancis enggak main-main mahalnya. Apalagi dresscode mereka yang gembel banget makin enggak cocok makan di sana. "Yaudah, nggak pake milih udah, kita ke restoran Korea aja! Siapa tahu ketemu Bang Ichang." jawab Yara dengan mantab. Ia menambah tawa yang lucunya hanya bisa dimengerti oleh Yara sendiri. Mita aja masih suka heran kalau Yara bertingkah seperti itu. Akhirnya sesuai dengan persetujuan Yara, Mita membawa Yara menuju restoran Korea yang jaraknya cukup jauh dari kampus. Yara mengerutkan dahinya, kenapa ia harus jauh-jauh ke sini? Namun kembali lagi ia memikirkan kemungkinan jika makanan di sini enak dan murah. Makanya terkadang seseorang rela datang dari jauh hanya untuk makanan enak. "Lo mau makan apa?" Yara turun dari motor, ia melepas helmnya. "Sesuka yang beliin, gue suka makan apa aja." Mita juga melepas helm, ia mencabut kunci motor kemudian diserahkan ke Yara. "Ya udah kimchi doang ye!" Yara menampakan wajah nakal ke arah Mita. Kemudian ia berlari masuk ke restoran. Meninggalkan Mita yang kaget dengan jawaban Yara. Bahkan masih cukup loading untuk beberapa saat atas jawaban itu. "Heh ikhlas kagak sih!" teriaknya. Parkiran sore ini cukup sepi, namun teriakan Mita cukup keras membuat Yara semakin meninggalkannya. Memalukan memang pergi sama Mita--wajar, kan dia terompet. Mita langsung mengejar Yara yang sudah masuk di dalam restoran. Meski keduanya sama-sama random dan suka berisik, mereka sama-sama mudah membaur dan akrab. Termasuk sesuatu yang langka untuk jadi teman dekat karena fakultas aja mereka udah beda, tapi mereka tetap meluangkan waktu untuk bareng-bareng di istirahat siang. Mita memilih tempat duduk yang nyaman, paling nyaman di restoran itu. Di bawah kanopi di samping restoran, tidak terlalu terlihat dari jalanan dan cukup terlihat privasi. Entah kenapa tempat yang tertutup seperti ini menjadi tempat favorit bagi Mita maupun Yara. "Kita pesen barbeque ya? Nanti pesen yang medium biar enggak kebanyakan." Yara membawa buku menu, ia sudah siap-siap menulis pesanan mereka. "Jangan yang medium, banyakin dikit biar bisa makan banyak. Minimal porsi tiga orang deh." request Mita, ia sepertinya ingin memeras Yara perlahan-lahan deh. Banyak maunya. Namun tidak apa, Yara baik hati, hanya untuk makanan seperti ini ia masih mau memberi. Beda konsep kalau minta giniannya setiap hari, kalau itu lebih tidak tahu diri banget. Yara mengangguk-angguk. "Oke deh." kemudian ia menyerahkan secarik kertas itu kepada pelayan yang sudah berdiri sejak tadi di sampingnya. Pelayan itu pergi, menyisakan Mita dan Yara yang bersiap diri untuk curcol. "Gimana? Gimana kemarin?" Mita membuka obrolan dengan perasaan yang begitu kepo. "Yang mana dulu?" "Kenapa lo bisa naik mobil Daru." "Ceritanya panjang dan sepertinya enggak cukup untuk sampai saat ini. Intinya aja ya, perasaan gue seneng banget bisa sedekat itu bahkan bisa seakrab itu sama dia. Selain itu, dia orangnya tuh perhatian banget. Tapi ada satu hal yang gue takutkan." ketika mengatakan kalimat terakhir Yara langsung memasang wajah yang berbeda. Mita mengerutkan keningnya. "Kenapa?" Yara tersenyum. "Gue enggak mau terbuai dengan sifat friendly dia dan menganggap ini sesuatu yang spesial. Bukan apa-apa, takutnya kalau ternyata dia friendly ke semua orang. Cuma kita sendiri yang baper, endingnya yang rugi kita." Mita terhenyak. "Tapi Daru beda." "Iya beda, dia artis, makin gue enggak boleh berharap." Yara menyandarkan lengannya di meja. Di wajahnya seperti ada kebahagiaan yang tidak boleh ia nikmati. Lagi-lagi karena persoalan satu 'andai saja dia bukan artis. ●●● "Syutingnya istirahat dulu sampai habis magrib ya. Kalian boleh istirahat." Sutradara memberi pengumuman di depan semua kru dan artis. Sudah pukul 16.30. Berarti sudah waktunya istirahat. Daru meninggalkan sorotan banyak yang menghadap ke arahnya sejak tadi. Ia menghela napas lega. Akhirnya ia bisa break meski hanya sebentar. Ia disambut asisten syuting yang membawa minum dan memberikannya kipas angin portabel. "Kamu mau makan?" Kak Hana duduk di samping Daru. Ia menggeleng, ia hanya meminta ponselnya. Entah kenapa sejak ia tidak jadi kuliah moodnya jadi kurang baik, namun Daru tetap mencoba profesional agar syutingnya tetap berjalan. Ya meskipun ada beberapa kali take ulang karena kesalahan yang ia buat. Daru membuka w******p, banyak pesan yang ia terima. Namun matanya tertuju pada pesan yang ada di antara pesan grup. Pesan yang sama sekali tidak Daru duga karena ia pikir tidak mungkin. Namun sore ini, di saat moodnya berantakan, pesan itu muncul. Paling bersinar di antara pesan lainnya. Hallo, Daru. Kamu sibuk nggak, aku di restoran korea deket tempat kamu syuting nih. Kalo kamu lagi break bisa ke sini kok. Daru menahan napasnya sejenak ketika membaca pesan itu. Pesan dari Yara menambah gula darah dan menjadikan pematik senyumnya. Ya, diam-diam Daru tersungging, senyum tipis itu memang tidak disadari oleh siapapun di sana, namun ia merasa ada kupu-kupu di dadanya. Padahal kan cuma pesan singkat. "Kak, Sasan boleh ijin pergi nggak?" "Kemana? Jauh nggak?" "Deket kok, di restoran korea deket sini. Bentaran sih. Mau nemuin temen." Daru sudah memakai topi, ia tidak bisa memakai hoodie karena itu akan merusak waredrobenya. "Magrib sudah di sini ya." wanti Kak Hana. "Oke siaaap." Daru meninggalkan lokasi syuting dengan jembolan di udara. Akhirnya ia bisa lega dan bertemu dengan temannya. Tapi kenapa tiba-tiba Yara ngajak ketemu? Apa kangen? Ah nggak mungkin sejelas itu, lagian mereka kan masih temenan. Daru yakin ia tidak akan sefrontal itu untuk menjelaskan perasaannya. Daru melangkah hampir seratus meter dari lokasi syuting. Banyak yang menyapanya, namun karena memang ini lokasi syuting banyak orang yang menganggap hal ini biasa saja. Kan tiap hari juga ketemu Daru di sini. Daru masuk ke restoran, bertanya ke pelayan yang menjaga meja kasir. "Mbak, meja atas nama Yara di mana?" Daru sedikit membuka topinya, baginya, itu salah satu kesopanan yang harus ia bawa ketika ngobrol dengan siapapun. "Yara ya mas?" Pelayan itu mengulang pertanyaan Daru. Daru mengangguk. "Untuk meja atasnama Yara, ada di meja nomor 16. Lokasinya ada di balik dinding kaca ini mas." pelayan itu menunjuk dinding kaca yang membatasi ruangan. Samar-samar di balik dinding kaca itu ada bayangan dua orang. Daru mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi. Ia berjalan pelan dengan perasaan degdegan. Entah kenapa ia menjadi sedikit gugup padahal juga ia sudah setiap hari ketemu Yara di kampus. Namun sore ini, hanya karena pesan panggilan itu dan menjadikan ada perasaan lain yang bersarang di d**a Daru. Daru melihat Yara bersama temannya. Dalam lubuk hatinya ia merasa sedikit kecewa karena ekspektasinya. Ternyata Yara tidak sendirian, itu artinya tidak ada kesan khusus di pesan itu. Namun ia mencoba untuk tetap baik-baik saja. Ia berdiri di samping Yara, langsung menyapa. "Ternyata kamu ke sini nggak sendirian ya." Yara menoleh, raut wajahnya kaget karena kedatangan Daru. Tangan kanannya yang sejak tadi memegang japitan untuk memanggang barbeque mendadak berhenti. Berbeda dengan gadis di sampingnya, Mita. Mita nampak begitu kaget namun juga senang, ia seperti tidak menyangka Daru Han yang sering ia lihat di tv ternyata lebih tampan jika dilihat dari dekat.Seperti dunia berhenti, namun Daru hanya tersenyum bingung. Ada apa dengan suasana ini? Bukannya tadi Yara yang mengirimi pesan. "Kamu ngapain ke sini?" masih dengan kekagetannya, namun Yara mencoba bertanya. Jika Yara bingung dengan kedatangan Daru, maka Daru semakin dibuat bingung dengan pertanyaan Yara. Maksudnya apa? Apa tadi Yara setengah sadar mengirimi pesan? "Bukannya tadi kamu chat aku, minta ke sini?" Daru mengambil bangku di samping Mita. Tanpa sadar hal itu membuat Mita cukup terkesiap. "Chat? Kapan?" Yara semakin bingung. Ia segera membuka w******p dan melihat ada pesan terkirim ke Daru. Sontak ia langsung kaget, makin kaget. Masalahnya ia tidak pernah merasa mengirim pesan ke Daru. "Gila, beneran." Mita mendesis tiba-tiba. Yara dan Daru langsung menoleh ke Mita. "Lo tadi bilang apa?" selidik Yara. "Nggak papa." Mita langsung menoleh cepat. "Mit? Ini ulah lo kan?" Yara masih tidak puas dengan jawaban Mita. Pasti ada sesuatu yang mencurigakan. Enggak mungkin banget Yara punya demensia di usia dini. "I-iya." Mita terbata-bata. Bahkan yang tadi jaraknya dengan Daru dekat, kini mencoba untuk menjauh karena ia takut pada Daru. "Maaf ya." "Daru, aku minta maaf ya." Mita memelas, ia merasa begitu bersalah. Bagaimana tidak, baru pertama kali ketemu Daru Han, ia sudah membuat kesalahan karena hal yang baginya tadi berguna--tapi malah menjadi bom petaka. Suasana mendadak jadi canggung. "Ru maafin temenku ya, maaf juga udah buat kamu buang-buang waktu." Yara ikut meminta maaf, ia juga ikut bertanggung jawab atas hal ini. Namanya juga dilibatkan dalam masalah ini. "Nggak papa kok, aku juga lagi break. Lagian aku seneng kok ada temen ngobrol di sini." ujar Daru tanpa merasa terbebani. "Beneran nggak papa?" Mita masih ragu dengan jawaban Daru. Daru mengangguk. "Kamu temennya Yara ya, kenalin aku Daru." Daru menyodorkan tangannya, mengajak kenalan. "Mita, jangan panggil aku kamu ya. Pake lo gue aja." Mita menyalami Daru. Darahnya langsung berdesir karena ini untuk pertama kalinya ia bersalaman dengan artis. "Sekali lagi gue minta maaf ya Ru." Mita masih merasa begitu bersalah. "Nggak papa, jangan kayak gitu." jawab Daru yakin. "Kalian sering ke sini?" Kini Daru menoleh ke Yara. "Baru pertama kali sih, ini nemenin Mita. Katanya dia ngfans sama kamu." jawab Yara, kini tangannya sudah sibuk dengan memanggang daging. "Jadi ini tujuan lo beli porsi 3 orang?" tukas Yara yang mulai menyadari hal ini. "Dan ini juga alasan lo milih lokasi yang tersembunyi di sini?" Mita mengangguk malu-malu. Mita memang sudah merencanakan ini sejak awal. Selain ia ingin bertemu dengan Daru, Mita juga ingin membantu Yara melancarkan aksi pendekatannya. Meski belum yakin ini disebut PDKT atau enggak. "Udah, jangan dimarahin terus Ra." Daru memotong introgasi antara Yara dan Mita. Kemudian ia menoleh ke Mita. "Makasih ya udah milih tempat yang privasi." Daru menoleh ke arah Mita. Ia begitu senang jika sampai Daru bisa berterima kasih juga. Paling tidak apa yang ia lakukan tadi tidak terlalu fatal dan malah menjadikan keberuntungan, seperti apa yang diniatkan.  •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD