13 — Antusias

1776 Words
Jika dunia dikumpulkan siapa yang akan bangun siang, nomor satu adalah Yara. Ia akan maju paling depan jika memang ada kategorinya. Mentang-mentang hari ini ada kuliah pukul sepuluh, sampai jam delapan ini ia masih di atas Kasur, memeluk guling dengan nyaman dan merasa bahwa dunia sedang meninabobokannya sampai hari kembali gelap lagi. Alarmnya bahkan sengaja dimatikan agar ia tidak terganggu di pagi hari, pintu kamar dikunci rapat untuk berjaga-jaga Mama datang dengan membawa seember air. Sungguh perawan yang tidak memiliki keahlian seperti perawan. Semalam Yara tidak bisa tidur, ia terlalu bahagia mebayangkan moment sore tadi di mana adalah hari terindahnya selama ia hidup. Bagaimana bisa sosok Yara bisa makan bareng Daru Cuma berdua doang. Maka untuk mengobati kebahagiaannya yang sudah tidak normal itu, ia menonton drama sampai subuh, drama romantic yang semakin membuatnya menghalu dan mumpung ada waktu ia bisa menonton drama bersambung yang tertinggal kemarin. Yara memang begitu, terlalu kecanduan nonton drama sampai subuh, lalu bangun di siang bolong. Persis yang ia lakukan di awal masuk kuliahnya, bangun kesiangan karena keasyikan nonton drama. Tapi karena hal itu juga, menjadi tonggak awal ia mengenal Daru Han. "Raaaa bangun!" Mama berteriak dengan heboh dibalik pintu. Yara yang merasa terusik menutup wajahnya dengan bantal, mencoba untuk menutupi telingannya agar kembali terlelap. "Heh anak perawan! Malah dikunci pintunya." Sepertinya Mama ingin membuka pintu, namun tidak bisa karena dikunci dari dalam. Itulah yang Yara inginkan. "Ada Daru Han dataaang!" teriak Mama lagi. Mendengar nama Daru disebutkan, Yara langsung membuka matanya. Nama itu terdengar sensitif untuk Yara. Yara segera bangkit dan mengerjap-erjapkan matanya. Ia langsung mengelap ilernya dan mengucek matanya, barangkali ada belek yang membuatnya terlihat jelek di depan Daru. Ada apa Daru datang jam segini? Atau jangan-jangan dia merasa tidak enak karena tidak bisa mengantarnya sampai rumah tadi sore? Apa Daru datang dengan mobil ke sini? Menjemputnya berangkat kuliah. Tapi? Ini masih terlalu dini untuk pergi ke kampus? "Buruaaan cepet, dia udah nungguin kamuu!" Mama semakin menjadi kompor di pagi hari. Selain rempong, Mama juga orang yang ribet. Yara langsung berdiri, mengambil handuk untuk bersiap mandi. Saat ia membuka pintu kamarnya ia langsung menatap Mama khawatir. "Udah dari tadi Ma?" Mama mengangguk wajahnya tersenyum manis. "Dia di mana?" tanya Yara lagi, takut-takut ia ke-gap karena wajahnya bangun tidur. "Di ruang tamu." Mama menunjuk ke arah ruang tamu yang tertutupi almari. Yara berjingkat-jingkat menuju ruang tamu, mengintip lewat celah almari besar yang sengaja dipasang untuk menutupi ruang tamunya dan ruang keluarga. Yara melihat ruang tamu itu kosong. Loh? "Kena juga." Mama tertawa. Yara menatap tajam ke arah Mama. Ia mulai menyadari bahwa Mama berbohong. "Mama kenapa siiiih!" Yara mencak-mencak, entah kenapa ia merasa begitu kesal karena ditipu oleh Mamanya. Yara melempar handuk di meja dekat lemari, segera kembali menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur. "Heh anak gadis! Malah tidur lagi!" teriak Mama yang ditinggalkan Yara lagi. Kini Yara membanting pintunya dan menguncinya kembali. Mama geleng-geleng melihat tingkah Yara yang susah dibilangin. Sudah suka bangun siang, jarang banget lagi bantuin pekerjaan rumah. Memang anak gadis jaman sekarang sukanya pengen hidup kayak pensiun, Cuma leha-leha doang aja kerjaannya. "Awas aja kalo Daru dateng ke sini! Bakal Mama ceritain gimana kelakuan kamu di rumah." "BODO AMAAAT!" bisa-bisanya Yara menyahuti dengan teriakan super kencang. ●●● Di pagi yang sama, hanya tempat yang berbeda. Ada aura positif yang dirasakan Daru. Berbeda dengan Yara yang masih saja bersembunyi di balik selimut, seorang Handaru malah sedang berkeliling di pasar, menemani Mbak Desi berbelanja untuk bekal Daru ketika syuting. Sebenarnya untuk belanja sudah setengah jam yang lalu. Namun sesuai permintaan Daru, Mbak Desi mengajak Daru untuk sarapan di lapak bubur ayam di samping pintu masuk. Matahari sudah menampakan dirinya sehingga mayoritas lampu jalanan sudah mati dan semua aktivitas di pasar terlihat lebih jelas. "Mas Daru, nanti bisa ya minta tanda tangannya." celetuk Kang Mul. Penjual bubur ayam yang memang sudah mengenal Mbak Desi. "Mau foto juga boleh kok Pak." jawab Daru ramah. "Panggil Kang saja, biar ngerasa akrab." kemudian Kang Mul mesem-mesem sendiri. Ketika mereka baru datang, Kang Mul sumpringah sekali. Baru melihat Mbak Desi datang bersama artis dari kejauan saja, Kang Mul salting. Artis itu adalah Daru Han. Artis yang sedang menjadi perbincangan ibu-ibu karena akting Daru di sinetron terkenal. Banyak pembeli bubur ayam Kang Mul juga menoleh ke arah sumber sinar di pagi itu. Di sana, yang menjadi pusat perhatian adalah Daru Han yang tersenyum kikuk. "Mimpi apa aku semalam, Mbak Desi datang bawa Mario." sahut Kang Mul. Nama Daru di sinetron adalah Mario. Sebelum dikoreksi oleh Mbak Desi bahwa nama sebenarnya itu Daru. Mario hanya lakon. Daru tidak seperti biasanya, pandangan para orang dewasa terhadapnya berbeda. Mereka lebih merasa kagum dengan aktingnya dari pada ketampanan yang sebenarnya hanya relatif. Di sepanjang kios pasar, banyak ibu-ibu yang riang menyapanya—kadang minta foto juga. Daru merasa diterima dengan baik di sini. Maka ia dengan santai meladeni orang-orang di pasar. "Enak kan Mas?" Kang Mul kepo dengan respon Daru. Daru memberikan jempolnya, kemudian tersenyum malu. Kang Mul sumringah. "Apa Mbak Desi bilang, enakkan." Mbak Desi yang merasa ikut merekomendasikan, ikut puas. "Lain kali kalo lagi senggang, bisa ke sini Mas. Kang Mul bisa tambahin suwiran ayam yang banyak deh." "Artis sibuk Kang, ini aja seperti keajaiban alam bisa ikut ke pasar." Mbak Desi menimpali. Kang Mul dan Daru tertawa. Faktanya memang begitu, Daru sibuk sekali sampai pagi ini menjadi hal yang terlihat mustahil. Setelah mereka selesai makan, mereka bangkit meninggalkan meja makan. Sudah pukul 07.00, di mana sinar matahari mulai menyirami sempurna. Bahkan warna terang itu cukup menyilaukan bagi yang menghadap ke arah timur. "Mau beli jajanan pasar?" tanya Mbak Desi ketika sudah menjauh dari kios bubur ayam. "Mbak Desi traktir deh!" tambah Mbak Desi. Daru berbinar. Tanpa menunggu aba-aba ia langsung mengangguk. Mereka berjalan menuju penjual jajanan pasar di dekat gerbang masuk pasar. Ibu-ibu tua dengan tampah super besar. Di sana ditata makanan pasar seperti onde-onde, nagasari, getuk, arem-arem dan banyak makanan pasar lainnya. "Selamat pagi Mas, mai beli apa." penjual yang kira-kira berusia 65 tahun mempersilahkan Daru. Ia garuk-garuk kepala, bingung dengan banyak makanan yang menggugah selera. Semangkuk bubur belum membuatnya puas. Ia bahkan sudah tidak peduli jika Kak Hana akan mengomel seberapa banyak kalori yang ia konsumsi dalam satu pagi. "Beli semuanya bu. Maksud saya, semua jenisnya bisa diisi dua-dua." sahut Daru antusias. Ia melupakan bahwa yang memberikan Mbak Desi. "Eh, Mbak Desi, biar Sasan aja yang bayar." sanggah Daru ketika menyadari bahwa ia tidak mungkin merepotkan Mbak Desi. "Heh! Dikata aku ini nggak mampu bayarin kamu." tolak Mbak Desi keras. "Tapi ini banyak lho Mbak." Daru masih saja tidak enak. Bubur ayam tadi sebenarnya juga dibelikan sama Mbak Desi, dan sekarang mau dibelakang lagi. Daru persis seperti anak SD yang membuntuti emaknya ke pasar. "Bilang gitu lagi nggak Mbak ajak ke pasar lagi, lho." seperti punya kekuasa. Mbak Desi mengancam Daru. Akhirnya Daru kalah. Ia harus manut agar tidak diomeli Mbak Desi ditempat umum. ••• Pulang Dari pasar, Daru segera mandi. Bukan karena merasa jijik dengan pasar, namun karena ia akan pergi ke kampus pukul sembilan. Ada kelas pukul 9.30. Kelas satu-satunya di hari ini. "Kak Hana jangan dihabisin ya!" ujar Daru ketika Kak Hana membuka jajanan pasar yang dibawa Daru dari pasar. "Dikit doang ah! Pelit banget." tukas Kak Hana. Kak Hana sendiri merasa senang ketika ia terbangun sudah ada makanan yang mengisi perutnya. Setelah kelelahan semalam dan langsung tidur, ia langsung kelaparan. "Memangnya mau kamu habisin sendiri?" tanya Mbak Desi sedang memasukkan belanjaannya di kulkas dapur. "Kan mau Sasan bawa buat bekal ke kampus." Daru lewat, ia sudah melingkarkan handuk di lehernya. Bersiap mandi. "Yah mana ada artis ke kampus bekal jajanan pasar." ejek Kak Hana. Adiknya langsung menoleh dan bersungut. "Pokoknya jangan dihabisin! Apalagi kue pukisnya!" teriak Daru sebelum menutup pintu kamar mandi. Setelah teriakan itu, Kak Hana dan Mbak Desi tertawa. Daru memang jadi artis dan begitu terpandang sempurna oleh tiap pasang mata yang memandang. Namun ketika di rumah, Daru hanyalah adik yang manja, ia selalu jadi yang kalah karena kedua kakaknya. Kak Hana dan Mbak Desi yang sudah dianggap seperti kakak tertua mereka. Sebenarnya, ada alasan kenapa Daru begitu niat membawa bekal ke kampus. Meski hanya satu jam kuliah, ia ingin bertemu Yara. Punya waktu yang berkualitas meski hanya bertemu untuk makan jajanan pasar. Daru bahkan ingin bercerita bahwa ia bangun subuh-subuh sekali lalu jalan-jalan di pasar bersama Mbak Desi. Daru entah kenapa ingin menceritakan hal-hal sederhana yang menurutnya manis. Maka ketika ia mandi, tak henti-hentinya ia berguna menyanyikan lagu riang. Ia benar-benar tersuplai endorfin banyak sekali. Meski sudah tidur dan berganti hari, bertemu dengan Yara sore kemarin tetap membekas di hatinya. Baginya, bertemu Yara seperti sebuah semangat untuk mengawali syutingnya yang dimulai pukul 12 nanti. Benar kata Mbak Desi, Daru adalah orang yang sibuk. "San, hari ini kamu mau bawa mobil lagi?" tawar Kak Hana. Daru yang masih sibuk di kamar mandi menyahuti dengan lantang. "Iyaaaaaa!" Kemarin, ketika diberi kunci mobil, ia seperti kesal dan merasa direpotkan. Namun kini, ia begitu ingin ke kampus pakai mobil. Membawa Yara naik bersamanya dan mengobrol tanpa takut didengar orang banyak. Daru keluar kamar mandi dengan wajah sumpringah. Ia tersenyum dan begitu bersemangat. Apakah Daru mulai menyadari sesuatu yang berbeda dengan dirinya? "Nanti syutingnya jam satu ya. Diundur satu jam." tutur Kak Hana. Kini ia sedang sarapan bubur ayam yang dibelakang Mbak Desi. Daru semakin sumringah. Itu artinya, ia bisa bertemu Yara lebih lama. "Ohya, dari tadi hp kamu berisik banget." Kak Hana menunjuk ponsel Daru yang tergeletak di samping kulkas. Daru menghampiri ponsel itu, melihat bar chat. "Dari siapa?" "Grup." sahut Daru. Itu grup kelasnya, ia memang sengaja tidak meng-hidden notifikasi agar ia bisa update dalam pesan apapun. Daru membuka grup kelasnya yang sudah berkicau sejak tadi dan membaca pesan dari atas. Braga hallo, selamat pagi! Kelas bahasa Indonesia pagi ini libur. Dosennya lagi ada seminar di bandung. Kevin Asiiik libuuur. Rudi *mengirim stiker gambar bahagia* Brillia Mari kita party!! Yara akhirnya bisa tidur lagi. Banyak teman-temannya bahagia dengan kabar itu, namun berbeda dengan Daru. Ia menghembuskan napas kasar. Semangat dan senyum yang terpancar ketika keluar dari kamar mandi luntur. Ia menatap nanar jajanan pasar yang sudah ia sisihkan. Ia juga menatap nanar handuk yang masih basah di tangannya. Tanpa sadar ia kecewa dengan pembatalan kelas. "Makan Kak Hana semua nggak papa, aku mau tidur." Daru meninggalkan dapur dengan lemas. "Lho kamu nggak kuliah!" "Libuuur." jawabnya tak berdaya. Ia seperti kehilangan semangatnya pagi ini. Ia bahkan tidak habis pikir Yara dengan senang menikmati libur kelas pagi ini. Apa dia nggak kangen dan nggak pengen ketemu aku? Kenapa sih dunia gini amat. Di saat aku males kuliah, masuk terus. Di saat semangat gini, malah dibikin libuuur. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD