12 — Sasan Life's

1771 Words
Jika ditanya bagaimana rasanya kerja hampir dua puluh empat jam, pasti capek. Aktivitas dimulai pukul tujuh di mana Daru harus sudah siap berangkat kuliah dan harus syuting setelahnya sampai pukul 12, atau jika sedang lembur akan molor sampai pukul dua subuh. Seperti sore ini, ketika teman-temannya pulang ke rumah untuk beristirahat, Daru harus pergi kerja. Mungkin orang-orang berfikir bahwa menjadi artis itu menyenangkan, memiliki banyak uang dan menjadi terkenal. Namun, dibalik semua hasil dari proses itu banyak hal yang harus dikorbankan, waktu dan kebebasan. Hal itulah yang terkadang membuat Daru merasa begitu tertutup. Namun setelah mengenal Yara, perlahan-lahan semuanya mulai bisa diubah, Daru mulai bisa berteman dengan baik, meski temannya hanya Yara, Braga dan teman barunya bertambah lagi, Kevin. Mobil Daru berhenti di parkiran tempat syuting. Matahari sudah terbenam 30 menit yang lalu. Setelah makan bareng di restoran samping toko buku, mereka berpisah di sana juga. Bukan karena Daru tidak mau mengantar sampai rumah, namun karena Yara tidak mau direpotkan dan waktu Daru yang terbatas. Jika diingat-ingat tadi sore adalah waktu yang begitu menyenangkan, meski hanya sebentar. Namun Daru begitu senang bisa bersama Yara setelah hal buruk terjadi hari ini. Daru juga sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum mengingat bagaimana mereka berkomunikasi. Untuk pertama kalinya, Daru berinteraksi dengan orang biasa dan itu benar-benar sangat menyenangkan. Kak Hana datang menjemput Daru yang sudah sampai, benar-benar manajer yang perhatian. "Kena macet tadi kamu?" Daru menggeleng, "Tadi mampir ke toko buku." "Beli buku?" Mengatakan toko buku, Daru kembali teringat bahwa tadi ia sama sekali tidak masuk ke toko buku. "Makan." Kak Hana mengerutkan dahinya, heran dengan maksud yang dikatakan oleh adiknya. Bagaimana bisa ia makan di toko buku? Dan tumben juga dia bisa pergi ke tempat umum sendirian. "Maksudnya tuh, aku mau ke toko buku, tapi karena lapar, aku jadinya makan, di samping restoran deket toko buku itu." Jelas Daru, membuat Hana menyunggingkan senyumnya. "Tumben kamu mau makan di tempat umum? Biasanya selalu pesan terus di makan di sini?" tukas Kak Hana heran. "Tadi sama temen." Jawab Daru dengan tersipu, entah ada apa tiba-tiba ia tersipu. Andai saja Daru bisa menceritakan tentang Yara, pasti akan menjadi semakin menyenangkan. Meski penutup, Daru juga ingin membagikan sesuatu yang menyenangkan ke orang terdekatnya. "Kamu punya temen? Tumben mau diajak pergi keluar." Kak Hana masih heran dengan apa yang dilakukan oleh adiknya, ia memang senang dengan perkembangan dengan adiknya yang sudah bisa bersosial, namun juga heran karena ini terlalu cepat. "Iya, aku punya. Diaa..." "Wah Daru udah dateng! Ayo-ayo segera ke sini." Ucapan Daru terpotong karena panggilan Pak Berto. Daru yang sejak tadi masih berdiri di samping mobil segera menoleh. "Baik pak." "Sana dipanggil Pak Berto tuh." Kak Hana menyenggol Daru. "Ceritanya nanti aja pas udah kelar syuting." Daru menghela napas, padahal ia ingin sekali menceritakan moment menyenangkan itu. Daru berjalan cepat menuju lokasi syuting. "Sudah sholat kan?" tanya Pak Berto. "Sudah pak, aman." Jawab Daru mantab. "Jam tujuh langsung syuting ya." "Oke pak." ••• Ketika Kak Hana bilang akan mendengarkan cerita tentang Daru ketika pulang syuting, maka itu tidak akan terjadi. Perempuan berusia 27 tahun itu sedang terlelap di jok penumpang, terlihat begitu lelah karena harus mengurus kontrak sana-sini. Malam ini, harusnya Daru yang istirahat, malah sibuk memegang kemudi, tersenyum ke arah kakaknya. Perempuan hebat yang sudah menjaganya sejak kematian sang ayah. Meski banyak hal yang ingin Daru ceritakan, namun ia tidak ingin mengganggu. Mungkin sekarang memang bukan waktunya, Kak Hana sudah cukup capek mengurusi kehidupan Daru bahkan sampai kuliah. Jadi hanya untuk meminta waktu untuk mendengarkan ceritanya terlalu egois. Daru menghela napas. Ia fokus menatap jalanan yang sudah lengang di pukul satu dini hari. Jarak dari lokasi syuting hingga ke rumah hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit. Tubuhnya saat ini mungkin lelah, namun ia tetap merasa biasa saja dan masih tersenyum sejak tadi. Ketika syuting tadi, Daru juga dengan mudah memerankan lakonnya dengan sedikit kesalahan. Tanpa disadari, semua itu berkat sore tadi, ketika Daru sedang kebingungan untuk mengisi waktu sebelum syuting akhirnya ia terpikir pergi ke toko buku. Bersama Yara yang akhirnya tidak jadi. Malah makan berdua di restoran cepat saji dan ketika teringat hal itu Daru suka senyum-senyum sendiri. "Lain kali, kalo aku manggil jangan ngehindar. Kamu tahu banyak orang yang pengen aku panggil namanya." Ejek Daru ketika sore tadi. Mereka sedang asyik menikmati ayam saus manis sembari mengobrol. Setelah mereka menyelesaikan masalah, mereka menjadi lebih leluasa untuk mengobrol, bahkan bercanda. "Jangan samain aku sama mereka ya." Sahut Yara tak mau kalah. Cara Yara bercanda selalu membuat Daru senang. "Kan sama-sama kaum hawa." "Beda, aku kaum hawa elite." "Elite global maksudnya?" Daru masih saja menggoda. Entah sejak kapan mereka bisa bercanda semudah itu, namun yang pasti sejak Daru datang ke rumah Yara, mereka mulai dekat dan akrab. Daru juga perlahan-lahan mau membuka diri. "Heh, Daru mulutnya." Sanggah Yara dengan cepat. Matanya melotot menatap Daru sebal. Daru tertawa keras, mengisi kesunyian tempat makan. Untung saja tempat ini sepi, pelayannya juga welcome dan tidak memandang Daru dengan aneh, pasti kalau enggak mereka tidak bisa seleluasa ini. Masih banyak moment yang terkadang membuat Daru menyadari satu hal, ada yang berbeda dengan dirinya. Daru memang tidak menggunakan narkotika, namun ia seperti memiliki suplai dopamin dalam dirinya. Dopamin itu membuat lelahnya tidak terasa dan segala hari-hari beratnya berlalu begitu saja. Candu yang begitu berat dan tiba-tiba Daru jatuh dalam buaian canda itu. Jika saja ia bukan artis, ia akan membanggakan pada orang jika Yara adalah orang yang berbeda dari orang lain, ia adalah warna cerah yang kini Daru miliki. Jika dunia memperbolehkan, ia ingin memamerkannya. Memamerkan perasaan baru yang ia miliki. Namun, di samping itu segala kekhawatiran menerpa dirinya, menjadi terkenal dan mendapatkan banyak job memang harapannya di bidang eintertaiment. Tapi itu juga mengikatnya tanpa sadar, menjadikan Daru boneka dan menjadi model untuk selalu terlihat sempurna. Mobil Daru berhenti di teras rumahnya, Daru memang hanya hidup berdua dengan kakaknya. Sebenarnya ada pembantu, namun datangnya ketika siang saja untuk membersihkan rumah dan tidak menginap. Daru meregangkan badannya, kemudian keluar membuka kunci pagarnya. Aktivitas ini ia lakukan hampir setiap hari ketika syuting. Tidak ada supir pribadi dan tidak ada asisten pribadi. Itu karena kekeraskepalaan Kak Hana untuk mengurus Daru 100 persen. Sampai lupa untuk hidup dalam asmara dan urusan pribadi lainnya. "Kak bangun, udah sampe." Daru membangunkan Kak Hana dengan perlahan. Kak Hana langsung menggeliat, ia membuka mata. "Udah sampe?" tanyanya memastikan. Daru mengangguk. "Iya." ••• Matahari belum menampakan dirinya namun alarm Daru yang berdering cukup keras, mengisi kekosongan ruang kamarnya temaram. Pemuda usia 20 tahun itu menggosok-gosok kakinya tanpa bahwa ia siap untuk sadar. Itu alarm sholat subuh, meski secapek apapun Daru harus sholat tepat waktu, itupun sudah lewat setengah jam dari adzan subuh kompleks. Daru membuka matanya, meraih alarm itu dan menekan tombol mati. Ia mengucek-ngucek matanya kemudian menguap. Entah kenapa hari ini ia menjadi bangun lebih awal dan merasakan ringan pada tubuhnya. Padahal ia bisa saja menunda alarm untuk tidur lebih lama dari biasanya. Daru membuka ponselnya, masih jam 05.15. Jarang sekali Daru sudah tersadar di jam segini, biasanya Kak Hana yang membangunkannya untuk pergi ke kampus. Namun sekarang, Daru sudah tidak ingin tidur lagi. Ia bangkit membuka tirai kamarnya, langit sudah mulai menguning di ufuk timur. Kemudian ia mematikan lampu kamar dan beranjak keluar. Lampu dapur dan ruang tamu masih menyala. Daru mengambil air wudu di kamar mandi kemudian melaksanakan sholat meski hanya membutuhkan 5 menit. Setelahnya, Daru duduk di kursi dapur, masih dengan keadaan bingung untuk beraktivitas apa di pagi buta begini, matanya juga sudah melek, dan yang pasti ia tidak akan bisa tidur. Kak Hana masih tertidur karena tahu Daru ada kuliah siang. Jadi disinilah Daru, duduk sendirian di dapur, dengan kebingungan. Ternyata Mbak Desi datang, ia menuju dapur untuk mengambil tas dan beberapa uang lembar yang ia simpan untuk keperluan belanja. Mbak Desi adalah pembantu paruh waktu yang Kak Hana kerjakan. Daru menyapa Mbak Desi yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke pasar. Memang cukup jarang Daru bertemu Mbak Desi karena ketika Mbak Desi datang, Daru masih terlelap di kamarnya. "Eh Mas Sasan udah bangun?" sapa Mbak Desi. Daru memang meminta Mbak Desi memanggilnya Sasan karena alasan akrab, Mbak Desi sudah bekerja lebih dari lima tahun di rumah Daru. Daru mengangguk dan tersenyum, "Iya mbak. Mbak Desi mau ke pasar?" "Iya, Mas, mau nitip apa?" Daru menggelengkan kepalanya, "Nggak nitip apa-apa sih Mbak. Pasarnya jauh atau deket?" "Deket sih, tapi harus naik angkot sebentar. Memangnya kenapa Mas?" "Boleh ikut?" Daru menatap Mbak Desi dengan wajah cukup melas. Ia memang bosan jika sepagi ini di rumah. "Beneran? Mas Daru nggak capek?" tanya Mbak Desi khawatir, ia tahu betul bahwa pekerjaan seorang artis itu cukup melelahkan. Daru menggeleng, "Sasan anterin pake mobil aja kalo gitu." Daru berdiri untuk mengambil kunci, namun berhenti karena Mbak Desi ngomong. "Beneran nih? Nanti Mbak Desi ngrepotin lagiii. Nanti kalau ada yang minta foto juga gimana Mas?" salah satu kekhawatiran Mbak Desi adalah karena pekerjaan Daru sebagai public figure. Mudah dikenali dan menjadikannya kerepotan kalau ditempat umum. Mendengar itu sebenarnya Daru sedikit berpikir, ia juga sebenarnya malas jika harus beraktivitas di luar, namun ia juga bosan jika harus di rumah sendirian. Toh apa salahnya untuk keluar di pagi-pagi begini, pasti udaranya seger banget. "Nggak papa deh Mbak, yok. Bentar yam au ambil jaket" Daru berlari menuju kamar, meraih jaketnya di kamar. Jaket Daru memang berlimpah, apalagi yang model hoodie, makin sering ia gunakan ketika pergi ke kampus. Mbak Desi masih berusia 35 tahun, ia bekerja karena menjadi ibu rumah tangga tanpa suami hingga ia bekerja. Namun itu tak membuat Daru memandang Mbak Desi sebelah mata, malah baginya, Mbak Desi adalah orang yang baik yang bisa membantu kehidupan Daru selain Kak Hana. "Mas Sasan udah sarapan belum? Nanti kita beli bubur ayam di depan pasar, enak banget mas." Mereka sudah berjalan menuju garasi, Daru mulai memanaskan mobilnya dan Mbak Desi membuka gerbang rumahnya. "Boleh tuh Mbak, nanti bungkusin sekalian buat Kak Hana." "Mas Sasan nanti juga bungkus lagi nggak? Mumpung Mbak Hana belum bangun" Mbak Desi menawarkan makanan plus. Memang Daru harus menjaga pola makannya agar berat badannya tidak nambah. Makanannya sebenarnya juga dijaga, namun untuk jenisnya Kak Hana tidak pernah memberi larangan, porsinya yang tidak boleh banyak-banyak. Daru tersenyum nakal, "Nanti bungkus makanan lain aja mbak, tapi dimakan dimobil ya." Mbak Desi tertawa, namun kemudian juga mengangguk, seperti setuju dengan kejahatan di pagi hari . "Nanti kita jajan yang banyaaak!" Daru cukup senang bisa memiliki aktivitas dipagi ini, seperti ada warna yang menjadikan ia lupa akan penatnya menjadi artis. Siapa bilang jadi artis nggak capek? Daru juga mensyukuri bisa hidup. Mungkin ia harus lebih bisa terbuka untuk bisa menikmati kehidupan yang sebenarnya lebih menyenangkan dari ia kira. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD