11 — Toko Buku

1596 Words
Percayalah, sesuatu hal terjadi pasti ada alasannya. Seperti sebuah badai akan ada ketenangan ketika semua telah berlalu. Ketika sebuah hal buruk akan menjadikan sebuah ketenangan menjadi hal yang terbaik dari pada apapun. Dan sore ini, akhirnya Yara mendapatkannya, di kala hatinya dipenuhi kalut sejak sore dan kini, ia menemukan debarnya lagi. Debar yang seharusnya tidak terjadi, baik ia mau atau ia tidak mau. Jadi sore ini, ketika seharusnya Yara pulang cepat dan Daru yang sedang tidak syuting memutuskan untuk pergi ke toko buku. Ada beberapa buku yang Daru ingin beli, dan Yara tidak bisa menolak ajakan Daru. Ketika kaki Yara masuk ke dalam mobil Daru ia dibuat canggung karena untuk pertama kalinya ia satu mobil dengan artis. Pasti jok mobil ini menjadi idaman banyak perempuan bahkan Mita sekalipun. Daru yang merasa tidak ada masalah dengan suasana ini menyalakan mobil dengan biasa. Ia seperti tidak keberatan dan terganggu dengan adanya Yara yang merasa begitu kaku di sampingnya. Mengenal Daru menjadikan Yara kehilangan identitasnya, ia jadi cukup menutup dan tidak bisa seheboh dulu. Apalagi ketika ia berkomunikasi dengan Daru, Yara menjadi lebih banyak diam dan semuanya menjadi tidak jelas. "Kamu sering ke toko buku kan?" Daru menoleh ke arah Yara, menjadikan Yara yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya. "Ah, iya." "Syukurlah, soalnya aku memang enggak pernah ke toko buku." Yara hanya berdeham, membalas ucapan Daru yang bingung ia akan respon seperti apa. Hening lagi, siapa yang membuat suasana ini begitu hening? Kenapa jadi makin kaku, padahal untuk bareng Daru tanpa diomongin banyak orang kan langka banget. Tapi kini Yara yang malu sama Daru. Daru menjalankan mobilnya, keluar dari lokasi kampus dan mobilnya meluncur menuju jalanan yang cukup padat karena banyaknya mahasiswa yang pulang. Daru menggaruk-garuk tengkuknya karena mulai merasa ada suasana yang aneh, suasana canggung yang diam-diam Yara ciptakan. "Ra, kamu nggak papa kan?" banyak kekhawatiran di kepala Daru, dan yang pasti itu soal Yara. Daru bahkan tidak mengerti kenapa ia begitu ingin dekat dan perhatian dengan Yara, ia merasa bahwa sahabatnya ini memang patut dilindungi. "Eh?" "Kamu lagi sakit?" "Nggak kok, aku baik-baik aja." jawab Yara mencoba untuk biasa. Daru menepikan mobilnya di tepi jalan, kemudian ia menatap Yara dengan seksama. Daru mencari celah di manik matanya yang mencoba biasa saja, namun ketika Yara sudah bisa menatapnya pupil Yara membesar dan bergerak ke kiri dan ke kanan pelan. Itu adalah perasaan tidak nyaman dan Daru yakin pasti ada sesuatu. "Ra, kamu masih mikirin soal postingan itu?" Daru akhirnya menjelaskan ucapannya. Ia benar-benar khawatir kalau saja hubungan pertemanan ini menjadi meregang karena perasaan Yara yang menjadi begitu sungkan. "Nggak kok, tadi Seruni udah minta maaf." Bohong, jelas-jelas Seruni masih ngeyel buat bikin masalah semakin besar. Tapi memang Yara tidak ingin tahu yang sebenarnya. Tapi Daru tahu nggak ya, Seruni adalah dalang semuanya. Tapi, tadi kan teman-temannya udah pada nglabrak Seruni. Pikir Yara dalam benaknya. "Ra." Daru memegang lengan Yara. Ia benar-benar tidak mau Yara kenapa-napa, entah kenapa dan tidak tahu apa alasannya. "Apa temenan sama aku bikin kamu enggak nyaman?" Yara menggeleng. Mau semerepotkan apa, siapa yang tidak ingin berteman dengannya? Orang yang menjadi idaman banyak orang, tapi Yara tidak pernah memikirkan hal itu. Ia memilih berteman dengan Daru karena ia orang baik, Daru adalah orang yang benar-benar selalu membela temannya dan bisa diandalkan. Meski sebenarnya Yara ingin lebih dari ini, kekurangajaran yang benar-benar tidak pantas ia lakukan. "Aku udah anggap kamu orang terdekatku di kampus, aku percaya pada kamu melebihi Braga, kamu teman pertamaku yang mengerti siapa aku. Kamu satu-satunya teman perempuanku yang bisa menjadi profesional dan bisa diandalkan. Jadi aku mohon, jika ada masalah ngomong." Daru tetap menatap Yara, padahal di balik itu detak jantung Yara tidak karuan berisiknya. Telapak tangan yang menyentuh lengannya itu terasa sebuah aliran listrik, ia menjadikan Yara semakin kaku dan tidak bisa menggerakan lidahnya. Kenapa Daru pandai sekali membuat bius, bahkan sekarang ada sebuah ketenangan yang Daru ciptakan. Ketulusan yang muncul di tatap matanya nampak nyata menjadi sebuah kekuatan yang magis untuk memikat siapapun termasuk Yara. "Jadi, jangan pernah ngerasa kamu orang lain bagi aku. Oke." "Oke." Jawab Yara akhirnya membuat Daru cukup merasa lega. "Beneran ya?" "Iya," Yara tersenyum, ia ingin menyakinkan Daru bahwa masalah yang ia alami tidak akan mengubah apapun termasuk pertemanan yang mereka alami. Meski sebenarnya Yara mencoba untuk memendam perasaan yang tidak akan terealisasi. "Ayo Ru, ini udah jam setengah lima. Kan kamu pergi syuting habis magrib." sahut Yara yang melihat Daru masih dengan santainya memberhentikan mobilnya di tepi jalan. "Oh iyaa." Daru segera sadar kemudian menyalakan kembali mobilnya. Melesat bersama mobil lain di jalan. Yara tertawa ringan. Daru memang sulit bahkan tidak bisa dimiliki, namun menjadi teman dekat dengan Daru bukanlah sebuah kesalahan. Biar saja perasaannya berisik di antara semakin dekatnya mereka. ●●● Mobil itu berhenti di depan toko buku. Daru menghentikan mesin mobilnya. Kini kecanggungan itu mulai menguap bersama perasaan Yara yang mulai lega karena ia sudah merelakan apapun yang terjadi. Bisa berteman dengan seorang Daru adalah sebuah syukur yang luar biasa. Matahari juga sudah condong ke barat karena hari sudah mulai sore. "Kamu enggak bawa masker?" Yara menatap Daru heran, karena ia hanya mengenakan tudung jaketnya saja. "Kenapa harus?" "Toko buku kalau jam segini rame lho." "Nggak apa, pakai ini udah cukup kok. Nanti kalau ditutupin bener-bener orang malah pada curiga." sahut Daru santai. Yara tersenyum tipis, kenapa ia jadi yang khawatir sedangkan yang jadi artis kan Daru. Mereka keluar dari mobil. Yara melangkahkan kaki keluar dengan hati-hati, berharap banyak orang yang tidak menyadari mobil ini milik Daru Han. "Kamu juga pakai hoodie ya." sahut Daru ketika baru menyadari apa yang Yara kenakan. Hoodie yang warnanya hampir senada dengan Daru kenakan. Mereka jika diamati dari jauh malah mirip couple ala korea yang biasa Yara idamkan. Dan kini Yara merasakannya, bersama seorang artis, namun sayangnya Daru bukan pasangannya. "Hehe iya, tadi malu soalnya pergi ke kampus. Kan tahu aja, aku jadi artis dadakan." Yara benar-benar pulih, ia sudah bisa menjadikan ironi jadi sebuah humor. Daru juga tertawa melihat Yara mulai membaik. "Tuhkan, makanya temenan sama aku. Ntar siapa tahu ditawarin jadi model. Hahaha." "Tinggiku enggak genap 160 cm, mana bisa." "Bisa!" jawab Daru mantab. "Beneran?" tatap Yara tidak percaya. "Bisa ditolak." kemudian Daru tertawa, suara tawanya terdengar begitu renyah. "Iiiih! Jahat." "Becanda Ra, jangan masukin hati." Yara mengangguk dan tertawa. Ia tahu betul Daru hanyalah bercanda. Lagi pula memang Yara tidak mungkin jadi model dengan badannya seperti ini, suka tidur tengah malem, dan suka banget nyemil malem juga. Apalagi kalau dia nonton drama Korea terus lihat aktornya makan ramyeon, Yara auto lari ke dapur bikin mie instan. Kruyuk-kruyuk. Baru juga bahas makanan, perut Yara sekarang malah protes minta makan. Ia teringat bahwa hari ini ia menghabiskan banyak tenaga untuk memikirkan hal yang seharusnya tidak ia ingat. "Kamu laper?" Daru menoleh ke sumber suara. Yara nyengir kuda dan mengangguk pelan. "Dari tadi pagi belum makan." "Ayo, makan yuk." Daru menarik tangan Yara. "Tapi kan kita harus beli buku dulu." Yara menahan langkah Daru. "Iya itu bisa nanti. Ingat perut itu utama." Daru tetap ngotot untuk mengajak Yara makan. Kini Daru menyeret Yara menuju restoran kecil cepat saji di samping toko buku. Karena waktu mendekati magrib, tempat ini cukup sepi sehingga Daru bisa leluasa memesan makanan. "Aku aja yang beli, kamu tunggu di mobil aja." Yara takut jika nanti di dalam restoran ada orang yang mengenali Daru dan menganggap ini sebagai kencan. "Nggak papa. Aku sebagai cowok terluka nih harga dirinya." Daru menatap Yara dengan menggelengkan kepalanya. Yara menghela napas pasrah. Ia juga tidak bisa menolak ajakan Daru untuk makan karena perutnya tidak bisa diajak kerja sama. "Kamu mau pesan apa?" Daru menatap menu yang terpasang besar di atas kasir. Yara juga ikut menatap papan menu itu. "Samain aja sama kamu, yang penting pakai nasi." "Oke." Daru memberikan jempol ke arah Yara. "Mbak, saya pesan dua ayam pedas manis dua ya, pakai nasi semua." Pelayan langsung menoleh ke Daru dan kaget dengan adanya sosok Daru berdiri tegak di depan meja kasir. "Daru Han ya?" ucap pelayan dengan tatapan tidak percaya. Daru tersenyum manis dan mengangguk, seperti tidak ada perasaan takut. "Boleh minta foto nggak kak?" "Boleh kok." Jawab Daru hangat. Pelayan tersebut langsung histeris dan segera merogoh ponsel miliknya, ia cukup gemetar untuk membuka aplikasi camera dan nampak begitu riang. Daru meminta ponsel itu untuk menjadikannya di depan kamera, kemudian gadis yang menjadi pelayan itu langsung gaya dengan canggung di belakang Daru yang begitu santainya berfoto. "Makasih ya Kak Daru!" seru gadis itu dengan kebahagiaan di harinya yang pasti penat karena bekerja seharian. Yara yang sejak tadi hanya diam, tersenyum tipis melihat bagaimana Daru berperilaku dengan ramah. Yara pikir, Daru orang yang antisosial dan selalu menutup diri, namun sekarang lihatlah, ia tetap percaya diri di area umum. "Kenapa kamu kalo di kampus enggak pernah mau diajak foto?" tanya Yara. Mereka sudah duduk di salah satu bangku. "Bukan nggak mau, Cuma risih aja. Kan aku di kampus mau belajar, makanya enggak suka diganggu. Lagian, kalau ada yang minta, juga bakal aku kasih kok." Daru sejak tadi masih menampakan senyumnya, senyum yang bisa bikin diabetes lama-lama. "Tapi aku enggak pernah foto sama kamu tuh." Celetuk Yara. Sebenarnya ia juga pengen bisa foto dengan Daru. "Kata siapa? Pernah tuh." "Kapan?" sahut Yara cepat. "Itu dilaman komunitas kampus." "Ih, beda." Dengus Yara. Padahal sebelumnya Yara berharap bisa pernah foto sama Daru di suatu tempat, ternyata hanya foto paparazzi yang bikin Yara dongkol setengah hari. "Jadi gimana mau foto?" Daru mengangkat alis kanannya. "Dua ayam pedas manis!" teriak pelayan yang membuat Yara kehilangan moment terbaik. Harusnya ia segera bilang iya, biar bisa foto sama Daru. ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD