"DARUU! GUE TAHU PELAKUNYA!" Teriakan Braga kali itu membuat Yara cukup tersentak dan merasakan sesuatu yang mencurigakan. Yara merasa bahwa apa yang Braga lakukan adalah untuk membahas tentang masalah Yara. Yara meyakininya karena pada saat setelah itu, Braga terlihat kikuk ketika melihat sosoknya berdiri di belakang Daru.
Apa yang mereka lakukan?
Apa mereka akan menyelesaikan masalah ini?
Apa mereka tahu bahwa Seruni adalah orang di balik rumor itu?
Sejak tadi perasaan itu berkecamuk di dalam d**a Yara. Maka ketika Yara melangkah masuk ke dalam kelas, ia ingin tahu apa yng terjadi nanti. Apakah Daru dan Braga dengan jiwa pahlawan di siang bolong ini melabrak Seruni? Dan lebih dengan dramatis lagi, agensi Daru datang untuk menggugat Seruni? Tapi itu tidak masuk akal dan cukup berlebihan. Maka yang Yara hanya bisa lakukan adalah menunggu di kelas.
Yara menoleh ke arah Seruni yang sedang sibuk mengobrol dengan kedua teman gengnya, mereka seperti asik dalam obrolan itu. Saat Yara terlalu lama memandang Seruni, Seruni menoleh ke arah Yara dan memberi tatapan sinis, tatapan yang sama sekali tidak bersahabat untuk teman satu kelas.
Apa mungkin, Seruni akan menjadi lebih tunduk padanya karena Daru membelaku?
Sesegara mungkin Yara menggelengkan kepalanya, pikiran nakal ini kenapa bisa tiba-tiba menyelinap. Bukankah beberapa waktu sebelumnya Yara memutuskan untuk menganggap Daru hanyalah teman biasa. Jadi berhentilah menganggap bahwa hubungan mereka spesial.
Yara segera berpaling, ia kemudian menatap pintu kelas dengan harap-harap menunggu moment itu terjadi, moment yang diam-diam Yara inginkan.
"Ra, gue duduk di sini ya, mau ngadem di bawah AC nih." Kevin menarik bangku di samping Yara, menaruh tas selempangnya di sandaran duduk. Bangku samping Yara memang lokasi yang strategis untuk mencari kesejukan, pasalnya hembusan dari AC mengarah ke sana, di sudut 225 derajat.
"Iya gapapa Vin." jawab Yara. Sebenarnya Yara cukup tidak ikhlas, itu adalah bangku milik Daru. Meski tidak ada label khusus hak milik, Daru sering duduk di sana. Lalu kapan artis itu muncul?
"Eh masuk! Masuk! Pak Kuncoro datang." Gufron salah satu teman kelas Yara yang suka merokok di depan kelas segera masuk, diikuti koloninya yaitu Yoga, Kukuh dan Alex.
Beberapa menit kemudian Pak Kuncoro masuk kelas, mengisi kuliah siang ini. Yara menoleh ke belakang arah Pak Kuncoro, berjalan ringan dan kemudian mengambil tempat duduk di belakang sendiri. Mereka duduk berdua dan segera menyenderkan bahu mereka di sandaran.
Kenapa mereka enggak mengambil posisi duduk di samping Seruni?
Yara mengerutkan alisnya. Mereka juga terlihat sedang santai dan tidak merencanakan apa-apa. Jadi, jika bukan membahas Yara dan Seruni, apa yang mereka lakukan tadi? Apa Yara terlalu percaya diri?
Kenapa ya Daru sama sekali enggak merasakan sesuatu yang terjadi? Apa karena dia artis da menganggap hal ini sesuatu yang lumrah?
●●●
Mungkin rasa sakit sebenarnya tidak muncul dibuat oleh orang lain, melainkan kita sendiri. Tapi beberapa orang mengatakan orang lain yang menggoreskannya, namun jika kita sendiri yang tidak membuka lapisan penutup kulit itu, kita juga tidak akan terluka. Itu terjadi antara seberapa tipis penutupmu atau kamu sendiri yang membukanya.
Hal itu terjadi dalam Yara, mendadak tanpa aba-aba, Yara merasakan sesak dan dongkol dalam dadanya. Jika awalnya ia malu karena gosip, maka kini ia jatuh karena harapan. Yes, harapan itu ia buat sendiri, harapan yang membumbungkannya, yaitu harapan bahwa Daru akan membantunya.
Lihatlah sekarang, postingan itu tetap bertengger di website mahasiswa kampus meski sudah cukup tenggelam. Dan Seruni juga sama saja, ia tetap angkuh dan seperti tidak diterpa badai apapun—ketidakadilan itu membuat Yara cukup sebal.
Apa Yara hanya angin lewat bagi Daru?
"AKHHHH! TAU AH." Yara mengerang, ia seakan membenci dirinya sendiri dan kini ia mengacak-acak rambutnya yang sudah cukup berantakan, ini waktunya pulang, wajar saja ia sudah buluk. Ia bahkan sudah tidak peduli liptin-nya hilang dan wajahnya kembali seperti ia bangun tidur. Ia sudah cukup stress.
Kini Yara terduduk, lagi-lagi ia menghela napas kasar, ia sejak tadi hanya duduk di lantai. Rencana memang Yara ingin segera sholat ashar, namun ia malah sedang marah dengan dirinya sendiri di sini, di pelataran masjid.
"Gimana? Rasanya jadi terkenal?" seseorang duduk di sampingnya, tanpa permisi.
Yara menoleh, dan langsung mengernyitkan dahinya. Orang yang membuat petaka di hidupnya hari ini berdiri di sini, duduk di sampingnya tanpa dosa.
"Lo pake apaan sih? Sampe seorang Braga dan orang sekelas bela lo. Seneng lo jadi pusat perhatian banyak orang?"
Jadi banyak orang yang enggak percaya rumor itu. Seru Yara dalam hati, namun ia tidak tersenyum, takutnya Seruni semakin menindasnya.
Yara mencoba bergeming, ia kini fokus melepas kedua sepatunya dan segera bangkit.
"Mau kemana lo?"
Yara tetap bergeming, ia berjalan santai menuju ruang kamar mandi.
Seruni yang merasa diabaikan langsung geram."Heh! Lo kok pede banget mentang-mentang kenal sama Daru."
Yara diam, membiarkan Seruni berbicara lewat angin.
"LO MAU SESUATU YANG LEBIH HEBAT? NGGAK CUKUP MALU LO DIBICARAIN SATU FAKULTAS?!" nada Seruni cukup keras, itu membuat orang di sekitar masjid langsung menoleh.
Bisik-bisik langsung mengisi sela-sela beranda masjid. "Ooooh, jadi dia yang ngupload foto Yara."
"Tujuan dia upload apaan?"
"Toh apa salahnya sih, naksir sama Daru. Gue juga naksir kali."
"Tidak etis teriak-teriak di masjid."
Banyak bisik-bisik negatif yang menuju Seruni. Mendadak Seruni langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Ia menyumpahi Yara yang memang sengaja memancing emosinya.
Yara bergeming namun hatinya tersenyum, ia kini paham makna diam bukan berarti tidak mampu bersuara, diam juga masuk dalam sebuah balasan, dan kini ia bisa membalas dendam dengan sebuah diam. Lebih mantab daripada harus saling cakar di depan masjid.
"YARAA AWAS YA LO!" Seruni masih berteriak, namun kemudian ia pergi meninggalkan mesjid. Seruni sudah cukup malu menjadi pandangan banyak orang.
Yara bisa sholat dengan tenang sore ini berkat Seruni sendiri yang melempar bom dan mengenainya. Yara tidak perlu turun tangan dan mengotori tangannya dengan rumor ini. Kebenaran tetaplah kebenaran, mau ditutupin kayak apa, yang busuk juga bakal kalah.
Yara kini tidak lagi menjadi perhatian orang, apalagi orang-orang di masjid menjadi lebih ramah ketika menyapanya. Itu membuat Yara menjadi lebih nyaman.
Yara merapikan rambutnya yang sudah cukup berantakan. Ia tersenyum mematut dirinya di depan cermin, saatnya pulang dengan perasaan bahagia! Lega tepatnya.
Tak lupa Yara mengirimi Mita pesan, bagaimanapun sahabat baiknya itu menjadi tameng pertama ketika Yara terluka dan Yara benar-benar menghargai itu.
Mit, kapan-kapan gue traktir ya!
Dengan cepat Mita menjawab.
Pas tanggal tua ya! Gue tunggu.
Jawaban Mita membuat Yara tersenyum, benar-benar teman tidak tahu diri. Mentang-mentang anak perantauan, ia memanfaatkan kebaikan dengan sebaik-baiknya. Tapi karena Mita orang baik, Yara tidak masalah dengan itu.
•••
Yara memakai sepatunya, di posisi semula di mana Seruni memberikan bom yang menyenangkan. Yara tersenyum. Saatnya pulang.
Namun, takdir membuatnya tidak langsung pulang cepat. Kini perasaannya yang sudah cukup lega, mendadak membuat adrenalin baru untuknya. Jantung Yara diajak ikut terpacu. Sore ini, benar-benar sore yang mengagetkan bagi Yara.
Kini sosok membuat adrenalin duduk di samping Yara, yaitu Daru. Iya Handaru, yang jadi temen Yara.
"Ra, bantu aku nyari buku yuk."
Kata Daru ketika Yara selesai sholat, bahkan rambut Yara yang terkena wudu juga belum kering.
Yara kaget, ia langsung menjaga jarak dari Daru. Ia takut rumor itu tersebar lagi, kan baru aja dia bernapas lega.
"Kamu kenapa?"
"Ini kan tempat umum, nanti kalo banyak yang tahu gimana?"
"Kenapa harus khawatir? Kan kita enggak pacaran?" Daru dengan polos menjawab itu.
Namun jawaban itu menjadi sebuah paku untuk hati Yara. Menusuk tajam hati yang sudah terlelap tenang.
Yara mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, ia mencoba biasa saja dan akrab ke arah Daru. Karena kan memang mereka cuma temenan, apa salahnya ngobrol di tempat umum.
"Jadi gimana Ra? Jadi temenin aku kan?"
"Kenapa nggak ngajak Braga?" Yara menanyakan Braga, karena ia juga cukup dengan Daru.
"Braga mah nggak asik kalau diajak nyari buku."
Yara mengangguk, namun ia mencoba mencari alibi lain agar tidak menemani Daru sore ini.
"Kamu enggak syuting?"
"Nanti jam setengah tujuh. Aku cuma ada adegan malam doang."
"Beneran?" Yara masih ragu. Ia sudah kehilangan alibi.
"Iyaa, ayo. Mumpung aku bawa mobil." Daru tersenyum, memamerkan pesonanya pada Yara. Pesona yang Yara sadari sebagai kebahagiaan dan petaka.
"Nanti kalo ada rumor lagi gimana?" Yara mengatakan kekhawatirannya, namun sedetik kemudian ia langsung menutup rapat bibirnya. Daru kan enggak tahu apa-apa.
"Rumor apa?" Daru menaikkan alis kanannya.
"Nggak jadi deh, lupain." Yara langsung membenarkan ucapannya.
Daru tertawa renyah. "Oh yang rumor itu." Daru memberikan tanda kutip dalam kata itu.
"Maafin aku ya Ru, gara-gara aku kamu jadi kena." Yara menundukkan kepalanya, ia cukup malu ketika ternyata Daru tahu semuanya.
"Justru aku yang minta maaf sama kamu. Kan yang artis aku."
"Oh iya ya?" jawab Yara polos.
"Kok iya ya siiih?" Daru langsung kaget dengan respon Yara yang cukup cengo.
Namun kemudian mereka berdua tertawa.
"Yooook!" Daru menarik tangan Yara, hal itu menjadikan jantungnya menjadi terpacu hebat.
Daru memang orang yang sulit digapai, namun perlakuan-perlakuan yang ia berikan selalu membuat Yara menjadi terlalu percaya diri untuk menjadikan sosok artis itu menjadi lebih dari teman.
Andai saja, perempuan bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya dan tidak ada istilah ia artis. Maka Yara akan menjadi orang yang akan menjadikan Daru kekasih yang hanya dimilikinya satu sampai seumur hidup.
•••