09 — Tunggu Dulu

1477 Words
Setelah berbicara dengan Mita di taman belakang perpustakaan, Yara sudah sedikit lega. Memang untuk masalahnya belum selesai, namun untuk perasaan Yara sudah bisa mengatur untuk tetap baik-baik saja. Kini ia berjalan dengan percaya diri menuju gedung kelasnya. Langkah kakinya sudah mantab dan ia berjalan tanpa menutupi wajahnya dengan masker maupun menutup kepalanya dengan tudung jaket. Karena ia tahu, ia memang menjadi bahan pembicaraan orang, namun ia tidak salah, ia tidak melakukan tindak kriminal dan apa salahnya dekat dengan artis, siapapun boleh berteman dengan siapapun. Termasuk Yara boleh berteman dengan Daru. "Lo harus lebih percaya diri Ra, lagian ya, pasti orang yang ngomongin lo itu biasanya karena iri. Karena mereka enggak bisa mendapatkan apa yang lo rasakan sekarang. Apalagi temen sekelas lo yang cepu itu, udah deh, mending lo biarin aja dia menggonggong." itu adalah kata-kata dari Mita yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Yara memang tidak salah bercerita kepada Mita, dia tahu cara menjadi teman yang baik seperti apa. "Gue harus bisa menjadi apa yang Mita katakan!" kini Yara mengatakan kata-kata itu pada dirinya, penuh dengan tekad dan kepercayaan diri yang sudah ia bangun. Ia mengepalkan tangan kanannya menuju udara. Di antara mobil-mobil yang terparkir ia tersembunyi sedang mengumpulkan niatnya. DUG! "Aduh!" saat itu juga, lengannya terbentur pintu mobil yang sedang mencoba membuka. Yara langsung mengelus-elus lengannya yang saat itu juga terasa nyeri. "Maaf." sepertinya, itu suara dari pelaku yang membuka pintu. Maaf doang, lain kali liat-liat dong Mas kalau buka pintu, dikata lengan saya ada gantinya. Gerutu Yara dalam hati, dia sudah bagus-bagus punya mood yang baik malah kini dibuat badmood lagi. "I-iya nggak papa, lain kali lihat-lihat ya mas kalau mau buka pintu." tapi itulah yang keluar dari mulut Yara, berbeda 180 derajat dari gerutu di hatinya. Masalahnya Yara enggak mungkin dong marah-marah cuma karena masalah lengannya kebentur. Ntar dikata berlebihan. Yara mendongak ke arah mas-mas itu dan mulai penasaran siapa orang kaya yang semena-mena melakukan ini, namun ia begitu kaget setelah tahu siapa orang itu. "Daru..." Yara langsung melongo, mulutnya membuka sedikit. "Yara..." Daru juga bereaksi sama dengannya, mereka tidak tahu bahwa tragedi ini terjadi oleh dua orang yang saling berada di pikiran masing-masing. Mereka berdua sama-sama membeku, seperti pertemuan ini tidak diinginkan sama sekali. Bukan tidak diinginkan, namun mereka berdua sama-sama ingin bertemu namun ada perasaan enggan untuk menyapa. Mereka memang sama-sama membeku, namun degup mereka begitu terdengar begitu keras sehingga Yara menahan dadanya untuk tidak berisik di saat ini. Apa yang terjadi dengannya sehingga kini suasana begitu canggung, lalu kenapa kini Daru sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Yara menatap Daru lekat, memandang kesempurnaan itu dengan perasaan pilu, mengapa hanya dekat denganmu membuatku repot. Apa yang terjadi dengan perasaan Yara Jika saja bisa berkata jujur, Yara ingin menceritakan apa yang terjadi hari ini, apa yang bersarang di dadanya dan kenapa suasana ini begitu terasa berbeda. Suasana ketika mereka saling berserobok dan ingin waktu berhenti sekarang saja. "Ehem," suara Daru memecahkan waktu yang membeku selama beberapa detik. Yara langsung gelagapan dan segera bangkit dari posisi duduknya. Daru juga sedikit kaget karena merasa begitu lancang menatap Yara begitu dalam. Baginya, ia juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi, bahkan Daru yakin, di balik sorot itu ada usaha untuk tetap baik-baik saja dikala banyak orang membicarakannya. "Mau ke kelas?" Yara langsung mencoba biasa saja. "I-iya, tadi tidur di mobil." jawab Daru kikuk. Kenapa gue harus jelasin hal ini, kan Yara cuma nanyain gue ke kelas. Daru menyesali perkataannya. "Ooooo." Yara membulatkan bibirnya seakan mengerti. "Iya." "Tadi dari mana?" Daru mencoba mencari topik baru. "Tadi dari perpustakaan." "Ooooh." jawaban kikuk Daru menjadi akhir obrolan mereka yang singkat dan kaku. Kemudian perasaan canggung itu mengisi kekosongan yang tiba-tiba terjadi di antara itu. Daru menggaruk-garuk kepalanya dan Yara hanya bisa menggosok-gosok sepatunya di lantai tempat parkir. "Ra?" Daru mencoba untuk berbicara, seketika ia ingat niatnya yang ingin ia tanyakan ke Yara. "Iya?" Yara menoleh ke arah Daru. Kamu enggak papa kan? Kamu enggak sakit hati? Sebenarnya pertanyaan itu sejak tadi mengisi di kepala Daru, apalagi ketika melihat Yara terlihat baik-baik saja tanpa menampakan sesuatu yang khusus, itu semakin membuat Daru semakin khawatir. Bisa saja itu menjadi bom waktu yang akan melukai. "Ke kelas yuk." akhirnya hanya itu yang terucap di mulut Daru. "Ayuk." Daru kemudian menutup kepalanya dengan kerudung hoodie-nya, jadi kini mereka sama-sama memakai hoodie yang menutupi kepalanya di antara mobil yang menutupi mereka berdua dari lingkungan luar. Mungkin enggak seharusnya gue mengatakan ini ke Yara. Gue harap Yara bisa menghadapi ini dengan bijak. Tatap Daru pada Yara yang menata jaketnya. Apakah Daru bisa berharap lebih untuk berteman dekat dengan Yara? ••• Sejak Daru memintanya untuk memberi tahu semuanya, Braga langsung stand by di dekat tangga, menunggu artis itu datang dan mendengar semua ini. Bagaimanapun, kabar soal ini begitu menggemparkan dan menjadikan orang banyak yang kaget. Maka ketika aura Daru dan derap langkahnya terdengar di tangga. Braga segera berdiri di ambang tangga dan segera berteriak tak sabar. "Daru! Gue tahu siapa orangnya." Namun Daru segera memelototkan matanya dan memberi kode ada orang lain di sampingnya. Diem aja, lo nggak kondusif banget jadi orang. Batin Daru pada Braga yang tiba-tiba berseloroh. Memang hal ini menyangkut soal Yara, namun bila dibahas di depan Yara. Daru merasa canggung. Akhirnya Braga yang menyadari kesalahannya segera menutup mulutnya, diam seribu bahasa dan menepuk-nepuk bibirnya. Yara sedikit bingung dengan apa yang terjadi namun tidak memikirkan sesuatu yang krusial tentang apa yang dua orang ini bahas. "Aku duluan ya." Yara meninggalkan tangga lebih dulu, ia segera menuju kelas. Sengaja memberi privasi untuk kedua temannya. "Okee!" jawab Braga dan Daru hampir bersamaan. "Lo bisa nggak! Nggak usah heboh!" Daru mengomel ke arah Braga yang sedang memandang Yara berlalu. "Ya maaf, gue keburus semangat." Braga nyengir, ia tahu salah tapi sama sekali tidak khawatir dengan masalah ini. Setelah Yara meninggalkan mereka berdua, Daru dan Braga segera mendekat. "Gimana? Siapa?" "Seseorang yang enggak akan kita duga." Braga menyandarkan sikunya di pembatas tangga. "Dia temen sekelas kita, Seruni." Braga mendekatkan wajahnya di telinga Daru. Daru langsung terkesiap, ia benar-benar tidak menduga akan ada fans fanatik di kelasnya, di kelas yang selalu Daru damba menjadi kelas awal melangkahnya dalam interaksi sosial normal. Namun hari ini, Daru menjadi ragu untuk membuka diri untuk siapapun, bagaimanapun image artis selalu melekat di dalam diri Daru. "Gue bakal ngomong sama Seruni buat hapus ini!" Daru hampir naik pitam, ia ingin sekali melabrak Seruni untuk menghapus postingan itu. "Bro! Kalem. Lo jangan buru-buru gitu, bagaimanapun lo publik figur, etika lo dipertaruhkan." Braga menahan Daru, perlahan-lahan pandangannya pada manusia di depannya berubah. Daru juga manusia dan memandangnya selalu kagum tidak selamanya baik. "Tapi. Ga. Lo tahu kan, gue enggak bisa meneruskan kesalahpahaman ini terjadi terus-menerus." Daru menghela napas kesal. "Percaya sama gue. Gue bakal ngomong sama Seruni soal ini." "Beneran?" Daru menatap manik mata Braga, Daru juga sudah mulai membuka diri pada Braga. Ketua kelasnya itu cukup menjadi orang yang adil, ia tidak begitu mengistimewakannya dan simpatik sebagai teman. "Kan gue ketua kelas, semuanya bisa dikontrol dengan baik. Gue juga nggak mau Yara kena." "Lo naksir Yara?" Daru mengerutkan keningnya. "Eng-enggaaak woy! Gue gini cuma simpatik. Gimana pun juga kan gue juga temenan sama Yara." Braga terbata-bata untuk melakukan alibi. "Emangnya lo sendiri nggak khawatir?" Daru tertawa, ia memukul Braga dan mengajaknya untuk sedikit rileks, "bercanda kali!" Braga langsung tertawa setelah menyadari hal ini cuma candaan. "Udah yok ke kelas. Sebelum kelas Pak Kuncoro mulai, gue harus cari tempat duduk di samping Seruni." Braga merangkul Daru, menyeretnya untuk masuk ke kelas. "Lepasin! Gue artis, masak dipeluk cowok!" tegas Daru, ia menyisihkan lengan Braga yang melingkar di pundaknya. "Dih! Gue cium nih, biar masuk infotainment." Braga semakin berani. "Ntar nangis di bully fans gue." "Nanti malah fans lo yang pindah haluan ke gue. Kan gue lebih ganteng." "Berani lo sama artis!!" Daru menyenggol tubuh Braga, ketua kelas itu sedikit terhuyung karena tanpa aba-aba. "Siapa takut!" Mereka malah sibuk berantem di samping tangga. Tanpa sadar koridor kelas sudah sepi lima menit. "Sudah-sudah gantengan saya. Sekarang ayo masuk ke kelas." suara bariton itu memecahkan persaingan tak jelas itu. Braga dan Daru menoleh ke asal suara. "Pak Kuncoro..." "Iyaa, ayo masuk." Pak Kuncoro mengatakan hal itu dengan jelas. "Kalian mahasiswa saya kan?" "Iya pak." Braga menyahut reflek. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kelas, dibuntuti oleh Pak Kuncoro yang masuk juga ke kelas. Namun pertengkaran itu belum berhenti. "Gara-gara berantem sama lo, kita telat!" Daru menatap sengit Braga. "Lo sih! Sombong." Braga tak mau kalah. Pertengkaran bisik-bisik itu tidak menampakan kekesalan, hanya ada perasaan ingin menang dan tidak mau disalahkan. "Gara-gara lo, gue kehilangan lokasi strategis di bawah AC!!!" Braga ikut menatap sengit Daru, nggak peduli mau artis papan atas. Daru tetaplah mahasiswa kampus ini! Sengit Braga dalam dadanya. "Sekali lagi kalian berantem, saya akan buka konser nih biar kalian bisa manggung"! Pak Kuncoro sepertinya mendengar pertengkaran itu, pertengkaran sepele yang mengganggu sejak tadi. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD