Ketika melihat Ayah terbaring tak bernyawa, tangis Hana yang paling pecah. Satu-satunya, pegangan dalam hidupnya kini tumbang, meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia menangis melihat ayahnya sudah mulai mendingin, menyatu dengan dinginnya lantai kamar mandi. Daru yang di sana kini menatap Hana dan Topan secara bergantian, kemudian ia tersenyum miring. Ternyata ini yang membuat ayahnya semalaman tak bisa tidur.
Banyak orang mulai berdatangan untuk membantu evakuasi jenazah. Daru dan Hana menepi, mereka sudah tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Daru menangis begitu deras melihat ayah ditaruh di atas karpet. Bajunya dilepas dan ditutupi jarik warna cokelat. Hana sendiri juga semakin menangis melihat betapa orang tersabar dunia itu tiada. Meninggalkan Hana dengan tanggung jawab besar, adiknya Sasan.
Matahari seperti prihatin dengan keadaan yang mereka rasakan, meski sudah mulai terang, sang surya itu sembunyi di balik mendung abu. Seakan memberi tahu bahwa hari itu adalah hari yang menyakitkan untuk keluarga Mahatma. Kehilangan sosok berharga nomor satu di kehidupan dua remaja itu. Daru dan Hana.
Waktu seakan berlalu tanpa disadari, banyak tetangga yang melayat memberi dukungan kepada Hana dan Daru. Tiba-tiba saja, ayahnya sudah terbalut kain kafan dan siap diantar ke pemakaman. Perasaan Hana hancur hingga rasanya menjadi begitu hampa. Topan masih duduk menemani Hana dari awal hingga akhir, namun Hana sama sekali tidak peduli dengan pemuda 24 tahun itu. Ia sibuk dengan sedih dan perasaan sesalnya.
Setelah dikuburkan, satu persatu melayat meninggalkan rumah keluarga Mahatma. Hanya ada Daru, Hana, Topan dan kerabat dekat, seperti Tante Nonik.
"Sasan nanti kalau butuh apa-apa bilang sama tante ya." Tante Nonik, adik dari ayah yang sejak tadi pagi menemaninya kini mencoba membesarkan hati remaja usia 15 tahun itu.
"Hana juga. Nanti kalau butuh apa-apa jangan sungkan ya." tambahnya lagi, Hana hanya mengangguk pelan.
"Kamu pacarnya Hana ya?" kini Tante Nonik menoleh ke arah Topan. Pemuda yang sejak tadi mengekori Hana, sampai ke pemakaman pun tetap ada di sana, dengan bajunya yang lusuh sisa semalam.
"Iya tant..." jawaban Topan belum usai, suara Hana langsung menyusul.
"Bukan tante." potong Hana.
Tante Nonik hanya mengangguk, tidak mau bertanya lebih panjang kepada dua pemuda itu. Sepertinya ada perang dingin di antara keduanya.
"Kok Kak Hana nggak pernah cerita ke kita kalau Kak Hana punya pacar..." celetuk Daru yang membuat semua orang menoleh ke arah Daru.
Hana menatap manik mata Daru cukup lama. Ada sebuah perseteruan di antara keduanya. "Kalian sibuk. Kakak nggak pernah ada diberi waktu buat ngobrol." jawab Hana dingin.
Daru masih menatap Hana dengan amarah yang tak bisa dijelaskan. Kepergiaan ayahnya seakan tidak membuat mereka berdua merasa untuk akur. Hana yang merasa bahwa semua terfokus ke Daru, dan Daru yang selalu merasa kakaknya selalu sibuk hingga membuat ayahnya khawatir.
"Kakak yang nggak pernah pulang. Bukan kita yang nggak pernah ada waktu." Daru bangkit, meninggalkan Hana yang lagi-lagi mendengus kesal.
"Ayah udah nggak ada! Kamu jangan manja terus!" Hana tak mau kalah.
•••
"Kamu beneran nggak mau tante temenin? Tante bisa kok temenin kamu." tanya Tante Nonik pada Hana. Matahari tanpa disadari sudah tergelincir ke barat. Menjadikan rumah Hana semakin sepi. Orang-orang yang mengaji juga sudah mulai meninggalkan rumah.
Hana mengangguk, "Nggak papa kok tante, tante istirahat aja."
"Bener?" Tante Nonik masih khawatir. Ponakannya menggeleng, menolak tawaran tantenya. Daru pun juga ikut menolak karena memang itu akan membuatnya asing di rumah sendiri. Itulah kebiasaan orang yang introvert, selalu merasa harus punya privasi untuk kehidupannya.
Akhirnya, Tante Nonik meninggalkan pelataran rumah. Setelah semuanya terasa semakin sepi, Hana menoleh ke arah Topan yang sejak tadi pagi nampak seperti cecunguk yang hanya mengekori Hana kemanapun ia melangkah.
"Kamu nggak pulang?" sindir Hana.
"Aku mau nemenin kamu..." jawabnya halus.
"Kakak mending pulang aja. Nggak baik, apa kata orang kalau gitu." Daru ikut menimpali, nada suaranya benar-benar seperti orang mengusir.
Hana menatap Topan cukup lama, memberi tanda agar ia sebaiknya pulang. "Aku capek, mau istirahat." Ucap Hana kemudian menarik Daru untuk masuk ke dalam rumah. Namun tangannya segera diraih Topan.
"Tunggu..."
"Ada apa lagi?"
"Izinin aku ngomong sama kamu." Lirihnya, menatap Hana dengan tatapan serius.
Hana akhirnya melunak, ia meminta Daru untuk masuk terlebih dahulu. Akhirnya kini mereka hanya berdua, duduk di kursi teras dengan begitu dingin. Angina malam seperti mendukung mereka yang mulai semakin kaku.
"Kamu kenapa jadi berubah?" Topan mengawali obrolan itu dengan pertanyaan langsung.
"Berubah gimana?" Hana tidak menatap Topan, ia menatap lurus jalanan yang mulai sepi. Di pagar sana, bendera kuning masih terkibar, dengan lusuh.
"Kamu jadi dingin, dan sejak tadi pagi nggak nganggep aku ada. Kamu berubah Na."
"Terus, kamu yang kayak gimana dari aku?" Hana menoleh, ia sedikit meninggikan suaranya.
"Yaaa, kamu minimal care kek, ada aku di samping kamu. Kamu terlalu sibuk tau." Topan masih mengeluarkan segala uneg-unegnya.
Hana menatap Topan tajam, wajahnya sedikit bergetar, namun ia segera membalas perkataan dari kekasihnya. "Apa yang kamu mau dari aku? Apa yang kamu mau dari orang yang sedang berduka? Apa yang kamu tuntut dari orang yang lagi kehilangan kepala keluarganya?" Hana menghela napas, untuk melanjutkan perkataannya.
"Kamu egois tahu nggak! Otak kamu tuh, pake! Bisa-bisanya kamu ngatain orang yang lagi berduka berubah! Kamu pikir dengan ayah aku meninggal, aku harus biasa aja. Haha-hihi seperti biasa? PIKIR PAKE OTAK." Oktaf suara Hana mendadak meninggi di akhir. Hana memijit pelipisnya, air matanya sudah kering dan kini emosinya ikut dikuras karena menghadapi manusia ini.
Topan langsung bungkam, bukan karena perkataannya yang tadi salah, tapi karena kaget Hana bisa sekasar itu dengannya.
"Mendingan kita putus aja deh! Capek lama-lama ngertiin kamu." Hana bangkit. Mungkin ini adalah pilihan yang tepat, memutuskan hubungan dengan seseorang yang menyita banyak waktunya. Ia melupakan keluarganya dan bahkan ia lupa kapan terakhir kali mengerjakan skripsinya. Bersama Topan memang menjadi toxic pertama dan diharap menjadi yang terakhir dalam kehidupan Hana.
"Na, kamu nggak bisa mutusin aku begitu aja." Topan ikut berdiri, lagi-lagi menahan Hana untuk tidak meninggalkannya.
"Emang kenapa?" kernyit Hana.
"Karena kita udah pernah ngelakuin itu, dan bisa aja nanti kamu hamil anak aku." Topan mengatakan itu dengan lantang. Bahkan ia tidak peduli jika perkataannya akan didengar oleh orang yang lewat. Itu jalan terakhir untuk membuat Hana kembali pada pelukannya.
Hana tersenyum tipis, meski sebenarnya hatinya juga sedikit bergetar. "Hamil? Punya bukti apa kamu? Kamu aja ngelakuin itu nggak becus!"
Kata Hana langsung membuat Topan terbelalak.
"Jadi jangan pernah harapkan anak kamu lahir dari rahimku." Kata-kata Hana semakin melukai harga diri Topan. Hana meninggalkan Topan yang berdiri kaku di teras rumah, kini ia sama sekali tidak menahan Hana.
Daru mendengarkan semuanya, ia tersenyum lebar ketika kakaknya bisa memutuskan sesuatu yang merugikannya. Maka ketika Hana masuk ke dalam rumah, ia langsung memberikan jempolnya.
"Kak Hana hebat!" puji Daru.
Hana tersenyum getir melihat adiknya, sesaat kemudian ia menangis karena itu adalah pilihan besar yang ia pilih untuk pertama kalinya. Daru memeluk kakaknya.
"Saaaan... maafin kakak." Lirih Hana dalam dekapan adiknya. Kini tubuh Daru lebih tinggi lima centi meter dari dirinya, memeluk Hana dengan tubuhnya yang kurus.
"Kak Hana hebat kok. Nggak usah nangis lagi yaaa..." Daru masih membesarkan hati kakaknya.
Malam itu, menjadi awal Hana untuk jadi lebih baik. Ia mencoba fokus pada skripsinya agar bisa lekas bekerja. Bagaimanapun juga ia sudah menjadi tulang punggung keluarga untuk adiknya yang ingin meraih cita-citanya.
Hanya butuh enam bulan, Hana mampu meraih gelar sarjana. Kesehariannya yang sibuk menjadikannya sedikit lupa tentang kematian ayahnya. Daru juga lebih fokus di dunia peran dan kini mulai mencoba casting, siapa tahu ia bisa masuk dunia industri hiburan dan menghasilkan uang sendiri.
Hana bekerja di kantor yang menjadi tempat magangnya dulu. Ia bekerja dengan giat dan memanfaatkan jam lembur semaksimal mungkin. Daru kini juga sudah naik kelas dua, ia menyelesaikan mata pelajaran dengan cepat di homescooling.
Kehebatan dua manusia itu membawa mereka ke kesuksesan hingga sekarang. Menjadi artis dan manajer. Mereka berdua selalu berusaha untuk selalu bisa berdiri sendiri dengan usaha mereka. Hana yang selalu bisa menghandle pekerjaannya jadi manager dan Daru yang selalu bisa mengatur waktunya untuk kuliah dan syuting.
Tiap mengingat semua itu, air mata Hana menetes deras. Luka-luka itu takkan pernah dilupakan, meski sudah lima tahun berlalu. Di dalam lubuk hati Hana yang kuat, ada sebuah ketakutan.
Ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan.
•••