26 — Memperbaiki

2570 Words
Jakarta, 2021. Obrolan semalam ternyata tidak membuahkan hasil, meski keduanya telah menjelaskan maksud dari keduanya. Mereka tetap tidak bisa akur dan mengakhiri malam dengan melanjutkan perang dingin. Sifat asli mereka yang tersembunyi muncul lagi, Daru yang manja dan tidak mau mengalah serta Hana yang egois. Mungkin, jika ayah mereka masih di sini, ia akan tertawa. Melihat anak-anaknya tidak berubah meski sudah beranjak dewasa. Paginya, ketika di meja sarapan, mereka tetap sarapan meski keduanya saling membisu. Membuat Mbak Desi menjadi semakin bingung dengan pertengkaran yang jarang bahkan hampir tidak pernah terjadi. Keduanya makan dan sibuk dengan kebisuan mereka, tanpa peduli ada seseorang di sekitar mereka. Mbak Desi, yang merasa semakin canggung mencoba memulai percakapan. "Ada kuliah Mas?" tanya Mbak Desi yang mencoba mencairkan suasana. Sudah tiga hari perang dingin di mulai, dan sudah tiga hari juga Mbak Desi merasa kikuk di meja makan. "Ada mbak," jawab Daru yang sedang meneguk s**u. "Jam berapa mas?" Mbak Desi masih melanjutkan ucapannya, mencoba bertanya lebih panjang. "Jam 10 Mbak. Cuma satu mata kuliah." Daru menoleh ke arah Mbak Desi, kemudian fokus ke makanannya. Mbak Desi mengangguk-angguk. Kemudian ia menoleh ke arah Hana yang sejak tadi diam, seakan tidak peduli dengan obrolan mereka. "Mbak Hana hari ini nggak ada acara?" tanya Mbak Desi. "Ada mbak, tapi cuma syuting. Sampai nanti siang masih free." jawab Hana mencoba sedikit lebih ramah. Ia tersenyum lebih lebar dari pada Daru. “Jadi bisa nih, nganterin Mas Sasan ke kampus…” ucap Mbak Desi santai. Bahkan tak kaget jika keduanya saling pandang. Sifat keduanya memang sudah begitu. Mbak Desi mengenal mereka tepat ketika ayah mereka tiada lima tahun lalu. “Mbak Desi.” teriak Hana dan Daru bersamaan. Mereka menatap Mbak Desi tidak percaya. “Bukannya sejak dulu Mbak Hana pengen nganterin Sasan kuliah? Kan belum kesampaian sampai sekarang. Nah, mumpung ada kesempatan kan?” tambah Mbak Desi. Daru menatap sekilas kakaknya, sebenarnya ia juga lelah jika harus berdiam-diaman dengan kakaknya. Meski kakaknya egois, tapi Hana adalah separuh dari hidup dan aktivitasnya. Begitupun dengan Hana, ia ingin sekali mengantar Daru ke kampus. Mengobrol sepanjang jalan dengan cerita-cerita antusias adiknya. Namun sekarang keadaannya berbeda, ia terlalu gengsi untuk mengajak baikan, yang artinya ia juga mengalah. “Nggak usah mikir panjang-panjang. Mbak Desi tahu kalau kalian itu sebenarnya juga pengen akur. Sepi tahu kalau kalian diem-dieman.” Mbak Desi masih tidak berhenti berbicara. Jika di dalam sebuah cerita, maka Mbak Desi adalah penengah untuk mereka, merawat dan selalu menjadi jembatan untuk berbaikan. Itu sudah menjadi pekerjaannya selama ini untuk Daru dan Hana. “Yaudah deh nggak papa.” jawab Daru akhirnya, ia bangkit meninggalkan ruang makan dengan menyembunyikan senyum tipis. Di baliknya, ada Hana yang juga tersenyum. Mbak Desi memegang bahu Hana, “Jadi kakak, harus lebih ekstra sabar… Sasan emang manja, tapi itu sudah lebih baik dari pada lima tahun yang lalu.” ucap Mbak Desi seperti kakak. Hana mengangguk, ia merespon ucapan Mbak Desi dengan senyum yang begitu lebar. “Makasih ya Mbak, udah mau ngertiin kita.” ••• Tidak semudah itu ferguso. Itu adalah istilah yang tepat untuk kedua kakak adik itu. Meski sudah mengibarkan bendera akur, mereka masih sama-sama kikuk. Di dalam mobil, lebih dari sepuluh menit mereka masih saling membisu. Suara radio pagi ini yang mengisi kekosongan mobil. “Haloo selamat pagi untuk temen-temen gapos! Gimana kabarnya nih? Gimana suasana hatinya? Udah baik? Aku harap begitu…” suara sang voice actor yang ceria terdengar. Daru dan Hana masih sibuk menatap lurus jalanan yang ada di depannya, sedikit macet. “Kalau yang nggak baik gimana? Duh, Rhea harap sih ya, harus diperbaiki ya, karena awal yang baik itu kunci untuk mengawali hari yang akhirnya akan menjadi baik. Nah, gimana biar baikan…” Keempat telinga itu seakan membuka lebih lebar ingin mendengar penjelasan lebih lanjut, namun juga merasa tersindir dengan kata-kata voice actor yang nampak begitu related dengan kondisi mereka berdua. Sama-sama mengawali hari yang enggak baik. “…Akur dengan diri lebih dulu, kita memahami apa yang salah dengan diri kita. Itu juga berfungsi untuk semuanya. Mau berantem sama orang, berantem sama diri sendiri. Untuk mengawali damai itu, ya damai sama diri sendiri dulu. Kalau misalnya, kita mau akur sama orang, tapi kita nggak tahu kesalahan kita, ya mana bisa? Endingnya apa? Kita yang selalu ngerasa bener.” tamparan pagi yang nyata. Keduanya langsung saling membuang pandang, sebisa mungkin tidak bisa melihat satu sama lain. Kenapa bisa mendengarkan kata-kata yang begitu related sepagi ini. Mana bareng orang yang bersangkutan lagi. Hana mengubah kanal radio, kini lagu-lagu barat terdengar mengalun. Hana menarik napas tipis, sebisa mungkin perasaannya tidak diketahui oleh adiknya. Mbak Desi sepertinya tidak berhasil untuk membuat keduanya akur. Mereka hanya berdua secara raga, hati dan pikiran mereka masih berkecamuk dengan keegoisan masing-masing. Akhirnya, waktu tegang itu berakhir. Mobil Hana berhenti di depan kampus Daru. Daru tanpa diaba-aba sudah melepas sabuk pengamannya, meninggalkan kakaknya yang hanya bisa menatapnya diam-diam. Namun ada satu yang membuat Hana merasa janggal, yaitu bagaimana bisa adiknya tersenyum begitu ceria. Daru keluar dari mobil, langsung berlari ke arah perempuan yang Hana kenal dengan baik, Yara. Perempuan yang menjadi awal pertengkaran mereka. Daru nampak begitu riang menyapa gadis itu, mereka terlihat sedang mengobrol meski Hana tidak tahu apa yang mereka obrolkan. “Apa aku selama ini hanya berlebihan?” lirih Hana menatap Daru dari dalam mobil. Sebenarnya, sejak semalam setelah pertengkaran kemarin, Hana merasa bersalah pada dirinya sendiri. Larangan-larangan tak masuk akal itu sebenarnya karena rasa ketakutannya di masa lalu. Bagaimana ia kehilangan segala yang berharga baginya, kesalahan yang membuatnya tidak ingin mengulangi apapun. Melihat adiknya begitu bahagia di depan Yara, Hana semakin merasa bersalah. Bagaimana bisa ia menyamaratakan trauma masa lalunya kepada siapapun, termasuk adiknya. Jika Hana takut untuk memulai asmara, maka itu berbeda untuk adiknya. Harusnya ia mendukung, memberi semangat dan merasa bersyukur karena di sela kesibukan adiknya yang menyita masa muda, ada seseorang yang memberikan semangat. Tanpa sadar, air mata Hana merembes, membasahi pipinya pagi ini. Ia menelpon adiknya. Mungkin perkataan penyiar radio itu ada benarnya, untuk akur dari pertengkaran, hal pertama yang ia lakukan adalah berdamai dengan dirinya sendiri. Telepon Daru berdering, tanpa menunggu lama, telepon itu tersambung. “Halo…” suara dingin Daru terdengar dari seberang. “Halo…” jawab Hana. “Ada apa?” “Kakak cuma mau ngomong…” terjeda, Hana menghela napas panjang. “Kakak minta maaf.” Tak ada jawaban, namun Hana bisa mendengar deru napas Daru yang terdengar kencang. “Kakak pikir, kakak terlalu posesif dan menganggap semuanya sebuah kesalahan. Kakak salah udah berpikir negatif dan menganggap itu seperti masa lalu kakak.” Hana masih melanjutkan ucapannya, meski Daru masih tidak memberi respon secara lisan. “Setelah kakak tahu, bahwa kamu berbeda. Kakak minta maaf…” suara Hana semakin serak, matanya memerah. Ia menatap langit untuk menahan air matanya keluar lagi. Namun usahanya sia-sia, matanya basah lagi. “San?” setelah beberapa detik tidak ada jawaban, Hana melanjutkan ucapannya. “Nggak papa kok, kalau kamu nggak bisa maafin kakak. Kamu berhak memilih bagaimana kamu memberi keputusan. Kakak nggak maksa…” Telepon itu mati, dimatikan oleh Daru. Melihat itu terjadi, Hana semakin menangis. Ia menyadari bahwa Daru tidak akan memaafkannya. Hana menaruh wajahnya di atas kemudi. Pertengkaran dingin itu terlalu melelahkan untuknya. Clek! Seseorang membuka pintu mobil, kemudian duduk di samping kemudi tanpa diperintah. Hana yang menyadari ada seseorang di sampingnya langsung mengangkat wajahnya. Menatap seseorang itu dengan kaget, itu Daru. Bagaimana bisa dia masuk lagi ke dalam mobil. Hana mengusap air matanya, ia tidak mau melihat adiknya melihatnya cengeng. Dirinya adalah pegangan untuk adiknya, gimana bisa jadi pegangan kalau dirinya tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Daru hanya menatapnya dengan diam, namun sorot matanya merindukan kakaknya. Kerinduan untuk menjadi adik yang manja dan selalu menceritakan keluh kesahnya pada Hana. Kemudian ia membuka tangannya, menawarkan pelukan. Saat itu juga, tangis Hana tak bisa dibendun. Hana menerima pelukan Daru dan menangis di bahu adiknya yang kini sudah semakin lebar. Bahu yang pernah ia sandari juga lima tahun lalu. Ketika Hana tidak sanggup menjadi yang terbaik, Daru ada untuk memberinya semangat dengan pelukan. Pelukan yang mengingatkannya pada masa lalunya, pelukan yang sama dari orang yang sama. Pelukan yang kini semakin menjadikan ia hanyalah seorang gadis yang berusaha menjadi dewasa. “Maafin Sasan ya Kak, soal ucapan dan perlakuan Sasan.” ucap Daru dengan sedikit terbata. Suaranya kini nampak lebih berat. Air matanya juga mengalir, tanpa kakaknya sadari. “Nggak papa, Kakak yang salah udah bikin kamu jadi kayak gitu.” Hana tak mau kalah. Ia juga mengakui kesalahannya. Daru mengelus pucuk kepala kakaknya, kakak terhebatnya yang selalu jadi yang terbaik untuknya. Kakak yang meski kadang sedikit otoriter, tapi tetap yang bisa menjaga Daru. Daru tahu, kakaknya hanya takut, takut jika adiknya terluka. “Kakak restuin kamu pacaran sama Yara.” ucap Hana yang membuat Daru melepas pelukannya. Wajah Daru nampak berseri-seri, meski matanya sedikit basah namun kini sorot matanya ceria. Hana mengangguk, “asal kamu bisa bikin janji.” “Apa?” respon Daru cepat. “Jaga diri.” jawab Hana singkat. Ia tersenyum menatap adiknya yang kini nampak lebih tampan dari biasanya. Namun, bagi Hana, Daru hanyalah anak kecil, anak kecil yang berada di tubuh pemuda 20 tahun. “Sasan janji, Sasan nggak bakal merugikan siapapun. Apalagi Kak Hana juga udah bantu karir Sasan sampai sekarang, nggak mungkin Sasan akan merusaknya.” “Itu artinya? Kamu mau backstreet sama Yara?” Hana menatap Daru dengan penasaran. “Yaaa bisa dibilang gitu sih, paling nggak sampai acara award selesai.” “Beneran? Kamu kuat?” Hana masih sangsi. Jatuh cinta kan pasti menggebu-gebu, mana asyik disembunyikan kayak gitu. “Iya Kak, demi aku, Kak Hana, dan Yara. Aku juga nggak mau nanti Yara jadi begitu terekspos.” Daru tersenyum. “Janji?” tanya Hana lagi. Ia memberikan kelingkingnya di depan Daru. “Janji!” Daru mengaitkan kelingkingnya di kelingking Hana, tanda perjanjian mereka mulai terikat. “Yaudah, sana ke kelas! Ngapain juga kamu nyamperin kakak ke mobil.” Hana melepaskan tautan itu dan mengusir adiknya. “Nggak disamperin ntar nangeees…” ledek Daru. Hana terbelalak, ia kaget ketika adiknya bisa meledeknya. Namun ia juga segera mengelap air matanya. “Dih, siapa juga yang nangis.” elak Hana. “Halah, ngeles aja terus.” “Nggak papa, sekali-kali nangis!” bela Hana. Ia mengakui tangisannya namun tetap tak mau mengalah. “Jangan nangis terus, liat tuh mata udah item. Tidur udah kurang, mana ditambah nangis lagi. Kapan cantiknya cobaa.” Daru tak henti-hentinya meledek kakaknya. Ia juga memberikan senyum yang nakal. Senyum yang membuat Hana langsung menatap kaca mobilnya. “Mana ada lah, mata kakak item!” “Adaa lah. Tuh, pupilnya item.” jawab Daru akhirnya, membuat Hana langsung berteriak emosi. “SASAAAAN!” Ketika Hana berteriak, Daru ternyata sudah minggat sejak dia mengatakan kata terakhirnya. Ia tahu bahwa kakaknya akan menyemburnya. Itu sudah menjadi kebiasaan Daru ketika meledek kakaknya, pasti setelah itu ia kabur. Kan tahu, cewek kalau emosi bisa mengambrukkan gedung tingkat 100. Tapi beberapa detik kemudian, Hana tersenyum, bahkan sampai tertawa. Ia merasa lega dengan ini semua, ia menatap Daru yang lari dengan bahagia. Kini perasaannya mulai membaik, dan semuanya akan seperti semula. Persaudaraan mereka akan akur kembali. “Makasih ya Mbak Desi…” lirih Hana dengan senyum terukir di bibirnya. ••• Keajaiban apa ini? Kenapa tiba-tiba pagi tadi Daru mengajak Yara berbicara. Mana dia ceria banget lagi nyapa Yara. Kan dirinya yang tadinya menganggap mereka hanya teman biasa jadi mulai berharap lebih. Tapi apakah ini tidak terlalu timpang? Sifat Daru secepat itu berubah. Pikirannya masih belum bisa mengerti dengan sifat Daru yang sebenarnya. Apa sebenarnya dia menghindari Yara karena larangan agensinya ya? Gara-gara kemarin Daru mengajaknya ke lokasi syuting, jadi mereka nggak boleh main bareng lagi. Membayangkan itu, Yara langsung menggelengkan wajahnya. Itu tidak masuk akal sekali. Bisa-bisanya dia berpikiran seperti kekanak-kanakan. Ini kan dunia nyata, bukan drama. Akhirnya, dari pada bertanya-tanya dengan otaknya yang mulai tidak waras, ia lebih bertanya dengan Braga. “Ga, gue mau ngomong deh sama lo.” tanya Yara pada Braga yang duduk di sampingnya. Saat ini sedang persiapan kelas dan dosen belum mengisi kelas. Mereka berdua tak sengaja duduk bersampingan. “Apa?” Braga sedang sibuk memainkan gamenya. “Lo udah diajak ngobrol sama Daru belum?” ketika menanyakan itu, sorot matanya menatap Daru lekar. Di sana, di bangku depan dekat pintu, Daru sedang sibuk membaca naskah. “Emang kapan gue nggak ngobrol sama Daru.” jawab Braga tanpa mengalihkan pandangannya. “Iiiih, nggak gitu maksudnya Ga!” amuk Yara. Ia langsung menjadi tidak bersemangat untuk menceritakan apa yang menjadi tanda tanyanya pagi ini. Braga cekikikan, ia keluar dari game dan menatap Yara. “Ngapain sih lo? Keki banget? Kelas belum mulai tau.” Yara memukul bahu Braga. “Ngapain-ngapain! Kata lo kemarin gue harus cerita kalau ada apa-apa soal Daru. Sekarang, giliran gue tanya, lo malah cuekin gue.” “Iya ada apa ibunda ratu.” jawab Braga dengan wajah malas. Namun Yara tak peduli. “Gue tadi pagi diajak ngobrol Daru.” ucapnya tepat di samping telinga Braga. “Bagus dong.” sahut Braga. “Kok baguuus?” Yara menjauhi Braga, kini menatapnya heran. “Yaa terus gimana? Lo sebel dijauhin dia, sekarang pas diajak ngobrol malah bilang aneh. Mau lo apaaa Yara?” sahut Braga, lalu ia menoyor kepala Yara. Yara kini bersungut-sungut, sebenarnya Braga bisa diajak jadi temen curhat nggak sih? “Ga, lo gituin lagi gue pindah nih.” ancam Yara. Braga hanya mengangkat bahunya tak peduli, wajahnya aja sekarang nyebelin banget. Kalau bisa nih ya, Yara pengen nonjok muka Braga sekarang. “Lo tahu kan, dua hari kemarin gue sama Daru nggak ngobrol apa-apa. Dia juga cuek banget kan sama gue. Tapi tadi pagi, nggak ada angin, nggak ada hujan Daru ngajak ngobrol gue.” “Mana Daru bertingkah kek nggak ada apa-apa lagi sama gue. Sebenarnya ini yang salah siapa sih? Atau ternyata, Daru emang lagi sibuk aja?” Yara akhirnya mengatakan apa yang ada di kepalanya. Tak peduli jika akhirnya Braga mau menyahuti kayak orang nggak punya kewarasan. “Udah deh, dari pada kita penasaran. Mendingan sekarang kita panggil Daru.” “Buat apa?” Yara mendelik. “Ya, buat menjelaskan apa yang terjadi sama kita akhir-akhir ini.” “Ga! Lo gila!” hardik Yara. “Dari pada lo mati penasaran? Apa salahnya coba nanya.” Braga sepertinya tidak takut dengan perkataan Yara. “Tapi Daru kan sibuk. Lihat dia lagi baca naskah.” alibi Yara agar Braga tidak berdiri. “Nggak papa, sekali-kali.” Braga bangkit. Mampus dah. Bisik Yara dalam hatinya. Braga ternyata nggak bercanda dengan ucapannya. Ketika Braga mendekati Daru dan mereka terlibat obrolan, Daru bangkit. Mereka berdua menuju ke arah Yara. “Nih, lo mau ngomong apa sama Daru?” Braga sepertinya minta diajar deh. Kenapa bisa dia malah memancing perkara. “Ngomong apa?” ucap Yara lirih. Ia menggaru-garuk kepalanya. “Lah malah nanya gue. Kan yang mau nanya lu.” Braga lagi-lagi tidak bisa melihat kondisi. Yara kan jadi malu. Braga! Awas aja lo! Abis riwayat looo. “Raaa ngomong dong, kok diem aja?” Braga masih tak henti-hentinya memanggil namanya. “Mau ngomong apa Ra?” kini Daru ikut menyahut. Sepertinya Yara emang nggak bisa sih, harus diem-diem terus. “Ginii…” Yara mengatakan sepatah kata, namun ia langsung terhenti ketika melihat dosen masuk kelasnya. “SELAMAT PAGI ANAK-ANAK!” Yara menghela napas lega. Akhirnya, dia nggak perlu mengatakan hal-hal konyol yang diminta Braga. •••  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD