27 — Nyeri

1773 Words
"Jadi, apa yang mau lo omongin ke Daru." Braga mengawali obrolan siang ini di kantin. Agak nyebelin sih, bisa-bisanya dia membuat Yara terpojokkan. Yara melirik tajam ke arah Braga. "Heh, kapan ye gue ngomong gitu." "Sebenernya ada hal apa yang pengen kalian sampein sih?" Daru ikut bersuara. Obrolan mereka nampak begitu mengasyikan sehingga membuat Daru penasaran. "Nggak papa kok Ru. Jangan didengerin apa kata Braga." sahut Yara cepat, takut Daru akan semakin penasaran. Untuk berjaga-jaga juga, Yara menginjak kaki Braga yang ada di bawah kolong meja, yang diinjak meringis. Setelah selesai kuliah yang hanya satu. Kini mereka bertiga ngobrol santai di kantin. Menikmati makan siang dan ngobrol seru setelah tiga hari tanpa ada obrolan yang berarti. Sebenarnya, Braga ingin sekali bertanya tentang alasan Daru diam, namun ia mengurungkan niatnya karena takut akan membuat suasana kembali canggung. Apalagi Yara yang dibuat semakin merasa dijauhi, pake nangis segala lagi! Pokoknya kalau inget kemarin-kemarin Yara jadi geli sendiri. Kok bisa jadi sedrama itu? "Lo akhir-akhir ini sibuk banget ya, sampe liatin naskah terus." celetuk Braga yang melihat jilidan kertas ada di meja kantin. "Eh sorry ya, gue malah lupa kalau kita lagi ngobrol." Daru memasukkan kembali jilidan itu di tasnya. Ia terbiasa sibuk sendiri dan selalu mengisinya dengan membaca naskah dan beberapa proposal untuk program barunya. "Nggak papa Ru. Braga aja yang kurang ajar bilang gitu." Yara menahan Daru. "Jadi gimana nih? Mau sibuk atau mau ngobrol sama kita?" Braga nimbrung lagi. "Gue masukin aja. Gue kangen ngobrol sama kalian." jawab Daru mantab. Jawaban yang membuat Braga dan Yara saling menoleh, bukan karena jijik dengan perkataan itu, namun karena ternyata Daru juga menyadari hal itu. Mengetahui bahwa intensitas percakapan mereka mulai berkurang. Yara tersenyum, tanpa disadari hatinya menghangat. Seperti ada sebuah ketenangan dan kebahagiaan yang menerpa dirinya. Ia merasa begitu berharga ketika tahu ada yang merindukannya. "Tapi nggak papa, kalau lo sibuk. Lanjutin aja nggak papa." Braga kini malah meminta Daru untuk kembali sibuk. Plinplan namun juga cukup perhatian. "Gue tahu, jadi artis tuh sibuk. Makanya gue nggak mau jadi artis." Jawaban Braga membuat Yara langsung melemparinya tisu bekas lap meja. Braga langsung berteriak. "Heh itu kotor!" masalahnya itu mengenai tepat di wajahnya. Yara malah semakin berani dan melempari banyak tisu kotor. "Yang ini bonus, sisa pilek." ujar Yara yang semakin membuat Braga mendelik. Daru sendiri hanya tertawa melihat tingkah kedua temannya yang begitu seru bertengkar. Seperti sebuah penyembuh jiwanya yang lelah berhari-hari. "Ohya guys. Gue mau kasih tahu sesuatu nih." Daru akhirnya melerai pertengkaran itu. Mereka berdua berhenti dan langsung menatap Daru bersamaan. "Apaan?" respon keduanya nyaris bersamaan. "Kalian pernah nonton tivi nggak?" "Ada apa emang? Lo minta kita nonton sinetron lo?" sahut Braga. "Nggak, nggak perlu ditonton sinetron gue. Ntar lo insecure ngelihat gue lebih ganteng dari pada lo." sahut Daru bercanda, bahkan dia juga bisa meledek Braga. "Heh sombong amat!" Braga mendelik. Kemudian ia menoleh ke arah Yara, "Ra, lemparin tisu kotor!" Bukannya melakukan sesuai perintah, Yara malah melempari Braga tisu kotor itu lagi. "Hei! Bukan ke muka guee! Ke muka Daru!" teriak Braga yang melihat ada yang salah dengan lemparan tissu itu. "Nggak bisa gue melukai wajah Daru. Soalnya wajahnya itu buat jualan, ntar dituntut gue." jawab Yara yang membuat Daru tertawa. Jawaban itu bisa disebut juga bahwa Yara mengakui Daru ganteng. Meski ganteng beneran, Yara nggak pernah ngomong hal itu di depan Daru. "Dahlah, males gue sama lo." rajuk Braga. Yara tertawa lepas. Baginya, semakin Braga marah, berarti kejailannya berhasil. Diam-diam, di kala Yara tertawa Daru menatapnya juga dengan senyum tipis. Hal yang sudah lama sekali tidak ia lihat dari dekat. "Eh, sebenernya apa yang mau lo sampaikan ke kita?" mood Braga terecovery dengan cepat. Baru juga tadi merajuk, kini sudah biasa saja. "Oh, iniii. Gue besok malem ada acara award gitu, nah gue masuk nominasi ada 2. Kalian tonton ya. Minimal support gue lah." jelas Daru dengan berseri-seri. Mengingat bagaimana ia akan ada di panggung itu, membuat dadanya berdebar. "Wah beneran? Hebat banget Ru." respon Yara positif. "Aku bakal nonton dari awal sampe akhiir." "Gue juga. Eh btw, gue nggak lo undang ke sananya? Kan gue juga kepoo." Braga ikut menyahut, namun kini nampak tidak tahu diri. "Sorry banget nih. Gue aja diundang di acara itu. Yang ada kalo gue ngajak lo, bakal dicegat satpam bro." "Yaaah..." keluh Braga kecewa. Tapi kenapa juga dia kecewa dan berharap besar? Itu namanya dia nggak tahu diri. "Tapi hebat banget loh. Temen sekelas gue jadi aktor berbobot dan masuk nominasi. Gue tahu perjuangan lo nggak gampang kok Ru. Gue juga sering lihat lo dulu jadi figuran, yang menonjol banget karena ganteng." puji Braga di sela kekecewaannya. "Thanks Ga, gue jadi malu lo puji gitu." sahut Daru dengan wajah bersemu. "Nanti kalau menang, kita harus ditraktir ya." Yara ikut menyahut. Meski baru mengenal Daru sebulan lebih sedikit, namun melihatnya berjuang merasa seperti ia teman seperjuangannya. "Pasti! Kalian kan temen deketku." Daru tersenyum manis ke arah Yara. Membuat Yara sejenak tidak bisa bernapas. Sikap Daru lama-lama bikin Yara makin bingung. Sebenernya ia hanya teman dekat atau ada yang lebih dari itu? "Lo ada janji apa sama diri lo sendiri ketika lo juara? Biasanya itu sering dilakuin biar menang." pertanyaan Braga membuat Yara sadar. Jujur ia juga ingin tahu apa janji Daru untuk kemenangannya ini. Yara menatap Daru, ia tersenyum. Sepertinya ia memang memiliki janji. Yara menunggu dengan sabar apa janji itu. "Sebenernya gue ada janji sih, sama diri gue. Tapi ini bersangkutan dengan orang lain juga. Nggak tahu mau dianggap janji diri sendiri atau nggak." jelas Daru, sepanjang mengatakan hal itu ia juga tersenyum. "Apa itu?" Bibir Yara bertanya tanpa diaba. "Merealisasikan kebahagiaan gue..." ucapan Daru terjeda, seakan tahu itu membuat penasaran. "Gue bakal nembak cewek yang gue suka. Malam itu juga." jawaban Daru mantab. Namun itu membuat lawan bicaranya menciut. Nembak cewek yang dia suka? Itu artinya, ada seseorang yang saat ini sedang ditaksir Daru. Siapa itu? Siapa gadis beruntung itu? Pasti sangat menyenangkan bisa dapat perhatian dan notice dari Daru. Karena perkataan Daru, nyali Yara semakin ciut meski hanya berharap saja. "Bagus! Gue dukung lo menang." Braga bersorak heboh, bahkan ia menepuk pundak Daru semangat. Berbeda dengan Braga yang antusias, Yara hanya bisa memberi respon seadanya. "Semangat ya! Semoga berhasil." kata Yara dengan memberikan senyum paling getir. Bohong sekali perasaannya. Mana bisa dia mendukung seseorang yang ia suka untuk nembak cewek lain. ••• Malam ini, harusnya malam ini Yara begitu senang karena Daru bakal ada di layar tvnya. Berdandan dengan setelan jas di acara bergengsi. Namun semua itu kini terasa gamang. Yara hanya bisa bersandar di kamarnya, menatap jaket Daru yang digantung di dekat pintu kamar Yara. Ia pikir, jaket itu bermakna lebih. Ia bahkan kerap membayangkan bagaimana bisa bertukar pesan manis dengan Daru. Tapi itu semua hanya mimpi, sudah tahu Daru itu nggak bisa digapai, masih aja berharap besar. Yara menghela napas panjang, mungkin tidur cepat bisa membuatnya lupa bahwa malam ini akan menjadi akhir dari harapannya. Namun sebelum itu, Yara bangkit menuju ke arah jaket itu tergantung. Yara membuang jaket itu ke dalam kotak cucian kotor, paling tidak ia nggak melihat barang itu di depan matanya. Semakin dilihat semakin menyakiti hati dan Yara nggak mau. "Ayo! Pasang baik-baik di otak, Yara. Daru itu cuma temen deket. Dia respect ke lo karena dulu bantu bersosialisasi. Care bukan berarti naksir!" Yara mengatakan doktrin itu kepada dirinya. Memberi mindset baru dan mencoba menanamnya di otak. Yara mengangguk, ketika dirinya sudah merasa lega. Ia siap tidur. Ia siap meninggalkan malam ini dengan perasaan rela dan ikhlas. Kling! Ponsel Yara berdering, ada pesan masuk. Yara segera berlari menuju kasur. Namun pesan itu seakan menghancurkan doktrin Yara. Pesan masuk dari Daru, dikirim di grup mereka bertiga. Grup yang awalnya bertujuan untuk tugas kelompok, malah dibuat jadi kelompok rumpi. Pict from Handaru. Yara yang penasaran langsung membuka grup. Di sana, ada foto selfie dengan setelan jas dan rambut ditata seganteng mungkin. Bahkan, kali ini Daru nampak begitu ganteng dan dewasa. Senyum manisnya seakan memberi tahu bahwa Daru adalah orang yang baik. Handaru: Jangan lupa nonton ya! Ohya gue ada segmen nyanyi, jangan disetel bagian itu. Suara gue jelek. Yara tersenyum tipis membaca pesan Daru, bisa-bisanya ia bercanda di suasananya yang sedang gelisah dan nervous. Ketika menyadari kenyataan, Yara segera menggelengkan kepalanya. Berharap dengan ia melakukan itu, pikiran ngaco itu bisa rontok. "Gue harus lupain Daru! Eh enggak, paling nggak gue harus bisa relain dia sama cewek lain!" Yara membuang ponselnya, lalu berbaring dan membenamkan dirinya di dalam selimut. "Yaraaa keluaaar!!!" Baru juga mencoba merem lima menit. Mamanya berteriak di depan kamarnya. Mendobrak-dobrak pintu layaknya kesetanan. "Ih, apaan sih Mama. Kan ini belom pagi juga." desis Yara di dalam selimut. Jangankan tidur, ngantuk aja dia belum bisa dapatkan. Ini mamanya malah nyari gara-gara. "Maaa nggak usah teriak-teriak! Kamar Yara nggak dikunci kok." sahut Yara sebal. Lagian ngapain juga gedor-gedor. Emang suka banget nyari gara-gara. Ceklek! Pintu di buka, kini terdengar Mama mendekati Yara yang kini hanya menyembulkan pucuk kepalanya. "Ra! Ayo nonton tv!" heboh Mama. "Ngapain sih. Mau tidur tauu!" tolak Yara dengan jelas. "Ngapain tidur jam segini. Ayo, nonton! Ada Daru di tv." ucapan Mama membuat Yara menghela napas. Jadi kebisingan tadi hanya karena satu alasan, Daru, lagi. "Nggak ah Ma, males." Yara masih menolak. "Heh, kamu itu gimana. Dia temen kamu kok nggak disupport. Katanya deket, tapi cuma nonton acaranya dia aja nggak mau." omel Mama. Ucapan Mama memang banyak benarnya, sebagai teman ia harus mendukung Daru. Tapi ada yang membuat Yara tidak kuat menonton Daru. Pikiran tentang bagaimana akhirnya nanti jika Daru menang. "Ayo nonton!" "Nggak ah, aku males bangun. Kan bisa nonton di hp juga." Yara masih keukeuh dengan pilihannya. Ia kini mengambil ponselnya untuk pura-pura streaming di ponselnya. "Halah ngabisin kuota aja! Ayo nonton di tv aja, sekalian bisa lihat Daru yang ganteng maksimal." Mama menarik paksa anak pertamanya. Yara langsung tersuruk diseret Mama. "Maa, apaan sih. Yara udah bosen liat Daru di kampus." Yara masih tidak menyerah untuk menolak, meski cengkraman Mama sangat kuat. Yara diseret ke ruang tv. Ia dipersilahkan duduk oleh mamanya dan melihat tv. "Nih gara-gara bujuk kamu. Mama ketinggalan banyak." omel Mama lagi. "Dih, yang nyari gara-gara siapa, yang disalahin siapa." sungut Yara tak mau kalah. Meski mulutnya aktif mengomentari kelakuan ibunya, sebenarnya hatinya menunggu dengan getir. Melihat Daru begitu gagah dan tampan di dalam layar membuat Yara semakin merasa sakit. Jika ini diperbolehkan, aku pengen Daru nggak menang aja. Paling nggak, dia nggak jadian dengan siapapun. Tiap mengingat itu, hatinya nyeri bukan main. Padahal, jika dilihat secara hak, Yara juga tidak diberi hak untuk menjelaskan bagaimana perasaannya setelah melihat Daru dengan perempuan lain. Padahal Yara sendiri nggak tahu wujud perempuan itu seperti apa. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD