Daru menghela napas, malam ini adalah malam pertama ia berada di acara besar. Ia yang awalnya hanya menjadi cameo dan hanya mendapatkan peran di acara kecil. Kini, namanya diperhitungkan di dalam kategori aktor besar. Ia dikenal banyak orang dan itu membuatnya berdebar tiap kali mengingat bagaimana ia melangkah sejauh ini.
Sejak kemarin, setelah menceritakan bagaimana perasaannya kepada kedua temannya. Daru semakin berdesir, ia kini tak henti-hentinya melebarkan senyumnya. Malam ini akan menjadi malam yang penuh dengan hal indah. Seperti perkataannya kemarin, ia akan mengutarakan perasaannya kepada gadis yang sudah menjadi dambaannya. Gadis yang telah memberi warna baru untuknya.
"Aaaa...rrrr...brrrrrrr...aaaaa..." Daru melakukan pemanasan untuk suaranya. Malam ini ia diminta untuk menyanyikan satu lagu dipertengahan acara. Untuk pertama kalinya juga ia nyanyi di depan umum. Tapi untungnya yang ia nyanyikan kini lagu cinta, jadi itu seperti menambah semangatnya dalam jatuh cinta. Lagu Rizky Febian dan Ziva Magnolya yang judulnya Terlukis Indah, lagu yang menggambarkan bagaimana perasaan Daru saat ini. Meski ia tidak yakin suaranya bagus atau tidak.
Ia tersenyum kepada dirinya sendiri.
Semangat! Katanya dalam hati.
Daru lagi-lagi memandangi jas warna silver yang ia pakai. Warna itu seakan memberi kilauan yang mewah dan membuat Daru semakin nampak begitu bersinar. Ia tak henti-hentinya mematut tubuhnya di depan kaca dandan. Narsismenya kini meningkat, lebih ke rasa tidak percaya dengan usaha diri yang sih.
"Udah siap kan?" Kak Hana datang menghampiri Daru yang kini sedang melihat gaya rambutnya. Ia harus begitu sempurna untuk acara besarnya pertama kali.
Daru mengecek jam di ponselnya, pukul delapan malam. Itu artinya, acara akan dimulai 30 menit dari sekarang.
"Udah kak." jawab Daru mantab. Sebelum ia meninggalkan tempatnya, ia mematut lagi di depan cermin untuk yang terakhir. Setelah merasa pasti, ia mengangguk dan berlalu pergi.
"Nanti di segmen 3 kamu nyanyi kan? Udah siap atau butuh latihan lagi? Kalau iya, nanti kakak hubungin Andira." tanya Kak Hana sebelum menutup pintu ruangan Daru.
Andira adalah pasangan bernyanyinya nanti. Melihat bagaimana sepak terjang Andira yang berkilau sejak kecil membuat Daru sedikit segan dengan artis itu. Meski usianya lebih tua Daru dua tahun sih.
"Aku udah siap kok, nanti pas persiapan aja." jawab Daru. Ia juga melangkah sejajar dengan kakaknya. Daru nampak percaya diri untuk menuju ke studio, menyambut tempat duduknya di salah satu bangku tamu undangan.
"Kalau untuk pembacaan nominasimu, ada di segmen empat. Jadi kamu rileks aja ya." saran Kak Hana. Ia mengatakan Daru untuk rileks, namun dirinya sendiri yang kaku. Ia nampak begitu gugup dan berdebar-debar adiknya bisa berdiri di sini.
Daru mengangguk setuju, ia manut dan tidak banyak komplain pada kakaknya, meski Kak Hana berkali-kali mengatakan hal itu dalam dua jam terakhir. Daru tahu, kakaknya lebih gugup dari pada dirinya.
Daru masuk ke dalam studio, staff menyapanya dan mempersilahkannya untuk duduk di kursi bernama Daru Han. Di kursi sudah ada snack yang akan menemaninya selama acara. Daru duduk dengan perlahan. Baginya itu adalah singgasana pertamanya. Seperti ada perasaan hebat yang mengisi rongga dadanya.
Banyak artis menyapanya, mayoritas adalah artis yang pernah bermain dengannya dan beberapa artis yang senior. Keramahan mereka membuat hati Daru hangat, bagaimana bisa ia yang baru sudah disapa banyak orang.
Tanpa terasa, dua segmen berlalu. Kini Daru meninggalkan bangkunya untuk bertemu Andira di backstage untuk persiapan tampil di segmen selanjutnya. Baru juga memasuki backstage, Andira sudah menyapa ramah Daru.
"Hallo Kak Daru!" sapa Andira. Ia nampak begitu elegan dan imut dengan dress putih dan sedikit warna pink di payet dressnya. Bahkan gadis berusia 18 tahun itu dengan sopan mengenakan dress yang menutupi bahunya.
"Hallo, Diraaa... aku mohon, jangan panggil aku Kak." pinta Daru. Kini sudah berdiri di hadapan Dira."
"Kenapa sih? Kan Kak Daru dua tahun di atasku."
"Tapi kan tuaan kamu debutnya."
"Please deh, kenapa sih? Lagian juga nggak ada bedanya. Kak Daru yang lebih lama menghirup napas di dunia ini." Andira tak mau kalah, tanpa sadar keduanya sudah cukup akrab hingga bisa mengobrolkan hal-hal ringan.
"Oke, okeeee..." Daru menyatakan kekalahannya.
"Yeeeee... Kak Daru Han." sorak Andira. Daru hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum lebar.
"Jadi gimana? Udah siap nih? Nyanyi lagu cinta bareng aku?" Daru mengalihkan pembicaraan, kini beralih ke tujuan mereka bertemu. Persiapan nyanyi.
Andira mengangguk mantab dan memberikan jempolnya yang mungil namun cantik. Pantas saja Andira selalu mendapatkan predikat artis imut, kelakuannya yang spontan saja nampak begitu lucu.
Staff mengajak Daru dan Andira di samping panggung. Ketika segmen tiga dimulai, maka saat itu juga Daru dan Andira naik ke atas panggung. d**a Daru berdebar lagi, semoga saja suaranya tidak mengkhianati usahanya. Kan malu juga ia maju ke panggung tapi suaranya malah fales. Citranya pasti bakal jadi bercandaan orang satu Indonesia. Daru nggak mau itu terjadi.
"Dalam hitungan ketika, segmen tiga di mulai." Staff mengaba-aba masuk segmen tiga, "Satu... dua... tiga!"
Ketika hitungan ketiga berakhir, musik mengalun lembut. Andira menggenggam tangan Daru menuju panggung, mereka nampak kedua pasangan muda yang nyata. Chemistry yang mereka bangun nampak begitu menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya.
"Semenjak pertama ku jumpa dengannya
Ada rasa yang berbeda"
Daru menyanyikan lirik pertama dengan suara terbaiknya. Ia bahkan menyanyikannya dengan senyum menghadap Andira. Membuat banyak penonton bersorak senang. Mereka merasakan perasaan jatuh cinta di antara keduanya meski baru di lirik pertama.
"Kutatap wajahmu tanpa ragu-ragu
Ku mulai tersipu, oh"
Andira meneruskan lagu, tak kalah romantis. Ia juga memperagakan tiap lirik yang ia nyanyikan dengan benar, mimik wajah mereka memang nampak orang yang sedang jatuh cinta.
"Oh, inilah
Cinta pertama bagi diri ini, wu-wu-uh
Takkan ada yang bisa mengganti
Semua rasa ini padamu
Ku mulai merasakan rasa cinta
Cinta yang tumbuh di setiap saat
Kulukis sebuah kisah yang nyata
Agar semua tak berakhir
Kini kita bersama dan mulai semuanya
Dan yakinkan hati kita berdua
Oh, inilah
Cinta pertama bagi diri ini, wu-uh-uh
Takkan ada yang bisa mengganti
Semua rasa ini padamu
Ku mulai merasakan rasa cinta
Cinta yang tumbuh di setiap saat
Kulukis sebuah kisah yang nyata
Agar semua tak berakhir"
Daru tersenyum dengan manis ke arah Andira. Seakan ia sedang jatuh cinta dengan Andira. Begitupun Andira, ia tersenyum lebar melihat bagaimana pandangan Daru seakan memikat gadis siapapun. Ia menggenggam tangan Daru. Kemudian mereka berdua menghadap ke arah penonton dan memberi penghormatan sebelum turun ke panggung.
Tepuk tangan riuh mengisi studio. Mereka begitu senang melihat penampilan mereka yang membuat hati mereka hangat. Lagu cinta itu menjadikan juga mereka ingin jatuh cinta juga.
•••
Ternyata nggak semua orang jatuh cinta dengan nyanyian Daru dan Andira. Ada hati yang sedang bersungut-sungut melihat kemesraan itu di layar kaca. Perasaan sakit dan nyesek. Itulah perasaan Yara malam ini. Karena paksaan Mamanya ia harus menonton nyanyian yang menyakiti mata dan hatinya.
Nyanyian itu juga membuat spekulasi baru untuk Yara bahwa sebenarnya, orang yang dimaksud Daru kemarin adalah Andira. Gadis cantik yang selalu mendapatkan predikat imut di dunia hiburan. Kenyataan itu membuat Yara semakin cuit diri.
Modelan yang suka begadang, yang suka sekali ngambekan dan tidak jelas ini mengharapkan sosok seperti Daru dan bisa jadian. Wah mustahilnya kebangetan kan. Makanya, sebenarnya Yara ingin move on, tapi Mamanya malah menariknya menonton tv.
"Ternyata suara Daru bagus banget ya. Duh, nggak salah kamu temenan sama Daru." Mama nampak begitu menikmati nyanyian Daru di layar televise.
“Emang apa untungnya juga kalau suara dia bagus. Nggak ada dampak apapun tuh buat Yara.” Jawab Yara sinis. Entah kenapa ia berubah jadi orang yang tidak minat melihat temannya Nampak sempurna.
“Kok kamu gitu?” Mama menoleh, ia merasa ucapan Yara terlalu kasar. Meskipun Yara dan Mama akrab, bukan berarti ia bisa selancang itu.
“Maksud aku gini Ma, Daru terkenal dan dapat duit pun, juga nggak ngefek ke Yara.” Yara mencoba mengatakan lebih halus. Ternyata Mamanya salah menangkap maksudnya.
“Tapi kenapa kamu jadi cuek banget sama Daru. Kamu berantem?” sepertinya Mama menyadari poin utama yang terjadi.
Yara diam. Ia tidak menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, ia dan Daru juga tidak ada perselisihan, tapi mala mini Yara sedikit sebal melihat Daru di tv.
“Kamu cemburu?” tanya Mama dengan jelas. Membuat Yara langsung menyanggahnya.
“Nggak kok Ma!” sahutnya cepat.
Jawaban Yara semakin membuat Mamanya curiga. Gimana nggak curiga, wajah Yara Nampak jelas bahwa ia begitu cemburu melihat betapa sempurnanya penampilan Daru malam ini. bahkan, mereka bergandengan tangan dan saling pandang lama. Yara jadi temennya nggak pernah tuh diperlakukan kayak gitu.
“Itu kan Cuma acting, kamu kenapa cemburu gitu?” Ia tahu, bahwa itu semua hanya untuk keperluan panggung. Namun, Yara teringat perkataan Daru beberapa hari lalu bahwa ia akan mengungkapkan perasaannya pada gadis misterius itu.
Semuanya seperti memberikan kode bahwa gadis misterius yang dimaksud Daru adalah Andira. Gadis manis yang ia genggam tangannya di panggung malam ini. gadis manis yang ia ajak bernyanyi lagu romansa yang membuat hati Yara terbakar.
“Ini penampilan Daru udah kelar kan? Yara mau tidur ya.” Yara hendak pamit menuju kamarnya. Rasanya ia ingin nangis melihat keromantisan itu.
“Mau kemana? Kan Daru masih ada dua nominasi. Siapa tahu Daru ntar nyanyi lagi. Kan banyak yang suka, pasti ada lagu lagi.” Mama masih ingin menahan Yara.
“Tapi Yara ngantuk.”
“Mama minta Junet bikini kopi gimana?”
“Buat apa bikin kopi Ma, lagian juga nggak ada sesuatu yang penting. Kan Yara bisa nonton siaran ulangnya besok.” Elak Yara tak ada habisnya.
“Tapi pasti Daru bakal kecewa kalau kamu nggak nonton. Cuma nonton di depan tivi doang sih. Masih nggak mau nonton.”
Untuk apa? Daru bakal kecewa kalau aku nggak lihat dia mesra-mesraan? Mau ngasih tahu kalau dia bakal berhasil? Mau bikin aku sakit hati abis-abisan? Cibir Yara dalam hatinya.
“Kakak kenapa sih, nggak menghargai banget. Padahal Kak Daru dulu kan bawain makanan banyak buat kita.” Junet yang sejak tadi sibuk dengan gamenya ikut menyahut. Yara langsung menoleh kea rah Junet.
“Nggak usah ikut campur kamu.”
“Kamu kenapa sih Ra? Ada masalah?” Mama ikut nimbrung. Jujur, untuk pertama kalinya Mama melihat Yara tidak begitu antusias dengan topik yang bernama Daru.
“Nggak ada yang perlu dijadiin masalah kok Ma. Yara Cuma ngantuk aja.” Kini Yara benar-benar meninggalkan ruang tamu.
Sesampai kamar, Yara membanting tubuhnya di Kasur. Sorot matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Ia masih tidak paham dengan dirinya sendiri kenapa bisa seperti ini. Apa yang membuatnya begitu sensitif.
Apa yang dikatakan Mama benar? Bahwa sebenarnya Yara itu cemburu? Dan sekarang Yara uring-uringan sendiri takut Daru menang nominasi sehingga bisa menyatakan perasaannya dan itu artinya tertutup kesempatannya.
“Apa gue doa aja biar Daru kalah ya.” Gumam Yara sebelum ia menggelengkan kepalanya dan menyadari pikirannya sudah kelewat gila.
“Nggak! Gue nggak boleh egois. Emangnya gue siapa doain Daru yang jelek-jelek.”
“Tapi gue cemburuuuuu.” Teriaknya pada diri sendiri. Monolog itu sama sekali tidak menemukan jawaban. Yara tetap gelisah hingga akhirnya tertidur.
•••
“Pemenang pendatang baru terfavorit adalaaaah….” Pembaca nominasi sengaja mengulur waktu agar membuat orang-orang penasaran.
Daru yang duduk di bangkunya Nampak gemetar menunggu pengumuman itu. Wajahnya yang gugup terpampang begitu besar di layar panggung bersama ke lima nominator lainnya.
“Pemenangnya adalaaaah… Daru Han dari series Untuk Kamu!” seru pembaca nominasi. Seruannya sontak mendapat tepuk tangan banyak dan kini kamera sempurna menyorot Daru yang kaget.
Namun sesegera mungkin ia untuk kembali sadar. Banyak orang yang menyalami Daru dan mengucapkan terima kasih, tak terkecuali Andira yang juga tersenyum lebar ke arahnya dan Prita yang duduk tak jauh dari dirinya.
“Selamat ya Ru.” Ucap Prita ketika mereka berjabatan tangan.
“Makasih ya Ta, udah jadi lawan main yang bagus.” Jawab Daru tak lupa memuji lawan mainnya.
Daru kemudian naik ke atas panggung dengan perasaan yang campur aduk. Ketika ia memegang piala itu, ia masih tidak percaya dan begitu bangga pada dirinya. Kak Hana yang ada di sekitar staff melambai ke arah Daru. Wajahnya Nampak begitu bangga melihat Daru tersenyum salah tingkah di atas.
“Terima kasih untuk semua orang yang selalu mendukung saya…” Daru membuka pidato singkatnya. Ia takkan lupa menyebutkan satu persatu orang penting dalam hidupnya. Waktunya hanya satu menit di sini. Ia akan berusaha mengucapkan banyak hal untuk pertama kalinya.
“Kepada Kak Hana, kakak tercinta sekaligus manajer. Terima kasih banyaaak… untuk Ayah di surga yang selalu mendukung mimpi Daru. Selanjutnya kepada Pak Berto dan seluruh staff ‘Untuk Kamu’ yang bantu Daru bisa sampai sekarang dan kedua sahabatku Braga dan Yara, thanks ya udah ngajarin gimana nikmatnya jadi maba…”
Setelah selesai mengucapkan kata pendek itu. Daru turun dari panggung. Ia memeluk piala itu di dekapannya, seperti barang yang paling berharga di dunia ini. kak Hana menyambutnya dengan pelukan.
“Selamat ya sayang. Kakak bangga sama kamu.” Ucap Kak Hana yang menahan tangisnya. Bagaimana tidak, baginya ini adalah sebuah pencapaian besar untuknya. Adik kecilnya sudah bisa meraih mimpinya sedari kecil.
“Makasih ya Kak.” Jawab Daru lembut. Kini ia melepas pelukan dan menyerahkan piala itu ke Kak Hana.
“Kak, sepulang syuting bisa kan temenin Sasan?” tanya Daru.
“Mau kemana?”
“Ada urusan bentar, masalah hati.” Ketika mengatakan itu, Daru sedikit tersipu. Meskipun kakaknya sudah merestui apapun pilihan Daru terkait perasaan, ia juga malu jika harus menjelaskannya.
“Siap deh.” Sahut Kak Hana tanpa merasa terbebani.
Perasaan Daru seusai itu semakin berdebar. Ia membayangkan kata-kata apa yang akan ia ungkapkan ketika nanti. Apakah puitis atau hanya sekedar kata-kata singkat. Namun harapan Daru, ia ingin mengatakan kata itu dengan perasaan hangat dan kata yang tulus. Sehingga menyentuh.
•••
Malam itu, seusai acara. Daru benar-benar pergi ke tempat yang ingin ia kunjungi. Meski badannya sudah cukup lelah, namun perasaannya seakan tidak mau diajak istirahat, ia tetap berdebar-debar seakan hari ini akan terjadi sesuatu yang indah. Daru bersiap-siap untuk menyatakan perasaannya dan membawa piala itu. Namun sepertinya Daru lupa, bahwa tidak semua orang masih terjaga sekarang.
Pukul satu malam, mobil Daru terparkir di tepi jalan. Di depan rumah sederhana yang kini lampu rumahnya sudah padam dan hanya menyisakan lampu teras yang temaram.
Daru keluar dari mobil, melangkah pelan menuju pagar rumah Yara. Daru memicingkan mata melihat pekarangan rumah. Siapa tahu Yara masih terjaga di antara keluarganya yang sudah terlelap. Bukankah Yara sering bilang kalau dia sering begadang untuk marathon drakor. Makanya Daru berani datang selarut ini, karena Yara masih melek.
“Kayaknya udah tidur deh San. Kenapa nggak besok aja?” celetuk Kak Hana yang melihat suasana jalanan sudah sepi.
“Coba kamu chat, dia masih bangun atau nggak.”
Daru mengeluarkan ponselnya di saku jas. Membuka pesannya dan menelpon nomor yang bernama Yara. “Oke kak.”
Namun tak ada jawaban. Berkali-kali Daru menelpon namun hanya tertulis memanggil yang artinya ponsel Yara tidak aktif. Apa benar Yara sudah tertidur sejak tadi.
Tapi Daru harus menepati janjinya, janji yang sudah ia katakan dengan tersirat kepada Yara. Bahwa ia akan menyatakan perasaannya ketika ia memenangkan nominasi, malam itu juga.
Ketika tidak mendapatkan respon, akhirnya Daru menyerah. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya. Namun ia juga berharap jika panggilan itu terjawab, meski kemungkinannya kecil. Daru kini menatap kakaknya yang bersandar di mobil.
“Gimana?”
Daru menggeleng. “Kayaknya dia tidur deh Kak.”
“Ya udah pulang yuk.”
“Sebentar lagi, aku telepon dia.” Daru masih meminta satu kali kesempatan. Siapa tahu Yara yang tertidur bisa mendengar teleponnya.
“Besok kamu mau libur kuliah? Buat istirahat?” tanya Kak Hana di sela Daru yang mencoba menelpon Yara.
Daru menggeleng pelan. “Besok Sasan tetep kuliah.”
“Tapi kamu nggak bisa ngeforsir tubuhmu. Dosenmu bakal ngasih ijin kok.” Kak Hana tak mau kalah.
“Tapi Sasan harus ngomongin ini sesegera mungkin, Kak.” Sorot mata Daru memelas. Ia juga memandangi rumah Yara dengan perasaan sedikit kecewa.
“Ya udah kalau besok mau kuliah, ayok pulang.”
Daru masih berdiri, di samping pagar tralis yang dingin. Enggan untuk pulang.
“San, ayo pulang.” Kak Hana melembutkan suaranya. “Masih ada hari esok. Kakak yakin, Yara bakal nerima kamu kok. Kan kalian saling suka.”
Daru merenungkan kata-kata kakaknya, apa benar Yara juga naksir dirinya. Maka setelah memikirkan hal positif itu Daru mengangguk. “Oke, pulang.”
Daru akhirnya mengalah dan mengikuti perintah kakaknya. Ia masuk ke dalam mobil dan pulang. Sedikit kecewa karena malam ini batal untuk melakukan pengakuan.
•••