"Inilaaaah idola kelas kitaaa!!!" seru Braga mengomando kelas untuk memberi Daru kejutan.
"Selamaaat Daru Han!" seru para gadis dengan melempari potongan kertas warna-warni kea rah Daru.
Daru tersenyum melihat antusias teman-temannya. Rasa lelahnya yang mendera setelah marathon syuting kini tidak terasa. Hanya ada rasa bangga dan senang telah mencapai sesuatu yang berharga baginya.
"Terima kasih, terima kasih..."
"Selamat ya Bro." Braga memeluk Daru. Kedua sahabat itu saling berpelukan dan membuat banyak gadis ingin mendapatkan pelukan yang sama juga.
"Ah, google! Cara menjadi Braga." Seru Brillia dengan iri.
Banyak gadis yang mengangguk. Seakan begitu setuju dengan ungkapan Brillia.
Pagi sekali, ketika Daru belum berangkat, teman-teman sekelasnya berisiatif untuk memberikan kejutan atas keberhasilannya menjadi actor papan atas. Meski mereka tidak mengikuti karir Daru sejak debut, namun mereka tetap bangga menjadi teman Daru.
Daru begitu menikmati kejutan itu, ia menyalami satu persatu temannya dan tidak menemukan Yara di gerombolan ini. Apa Yara belum berangkat kuliah?
Daru mengecek jam tangannya, lima menit lagi dosen akan memasuki kelas. Itu artinya, antara Yara telat atau dia nggak berangkat. Tapi perkiraan Daru salah, kini Yara sedang menelungkupkan wajahnya di meja kelas. Sepertinya tidur?
Daru menghampiri Yara. Ia duduk di bangku kosong di sampingnya.
"Ra, aku menang lho!" bangga Daru. Daru ingin sekali menceritakan kesenangannya.
Yara mengangkat wajahnya, sepertinya ia tidak tidur. Tapi kenapa ia sama sekali tidak tertarik dengan kejutannya? Padahal bagi Daru, Yara adalah orang yang paling dekat di antara teman sekelasnya.
"Selamat." Jawab Yara singkat. Kemudian ia menelungkupkan wajahnya.
"Kamu ngantuk ya?" Daru bertanya lagi. Yara sepertinya terlalu cuek pagi ini. Daru sedikit kecewa karena ia ingin mendapatkan ucapan selamat dari Yara.
Sebenarnya Yara tidak tidur bahkan sama sekali tidak ngantuk, ia hanya tidak ingin berinteraksi dengan Daru. Mengingat bagaimana ia menang dan yang pasti sekarang status Daru nggak jomblo lagi. Jika teringat itu, hati Yara rasanya nyeri dari yang paling nyeri. Beruntungnya gadis itu, mendapatkan sosok hangat seperti Daru.
"Aku pikir semalam kamu tidur cepet." Ucap Daru yang ternyata masih ada di belakang Yara.
Yara langsung membuka matanya. Kok Daru bisa tahu kalau aku tidur cepet semalem? Namun Yara tidak menjawabnya langsung. Ia kan sekarang lagi pura-pura tidur.
"Tapi kamu semalem lihat aku nyanyi kan... Itu pertama kali aku nyanyi di panggung lho." Daru masih tidak putus asa untuk cerita. Hasratnya untuk menceritakan kebahagiaannya terlalu tinggi di banding menyadari bahwa Yara tidak meresponnya.
"Kalau semalem kamu nggak lihat, aku bisa kok kirim videonya ke kamu."
Untuk apa mengirim video romantismu sama pacarmu? Mau pamer kalau kamu sekarang punya pacar. Desis Yara yang mulai kesal dengan Daru. Bisa-bisanya dia nggak sadar kalau Yara ini lagi bete.
"Lagu itu tuh, berisi perasaanku pada seseorang Ra." Kini Daru menatap rambut Yara yang tergerai. Tumben sekali Yara menggerai rambutnya di kampus.
"Dan aku semalem nyanyiinnya pake perasaan. Deg-degan sih, tapi aku senang. Bisa menyuarakan perasaanku lewat lagu." Daru bahkan kini tersenyum menceritakan itu. Namun senyumnya tidak akan bertahan lama ketika Yara mengangkat wajahnya.
Yara mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Daru dengan sengit. "Aku ngantuk. Jadi aku mohon jangan ganggu aku."
Ucapan Yara yang dingin membuat Daru langsung diam. Ia tidak menyangka respon Yara akan sedingin itu. Tapi ia juga menyadari kesalahannya terlalu banyak bercerita ketika Yara sedang tidur.
"Kamu bisa cerita apa aja, tapi jangan sekarang ya." Pinta Yara lagi. Kemudian ia kembali ke posisi semula, mengelungkupkan wajahnya di meja.
Yara mendengar bahwa Daru menggeser kursinya dan langkah kakinya terdengar melangkah menjauh. Yara diam-diam meneteskan air matanya, meski pelan namun dadanya seperti diikat.
Nyesek sekali.
•••
Tak ada yang ingin menjadi seperti ini.
Jika boleh meminta, aku tak ingin mencintaimu.
Perasaan timbul tenggelam.
Terkadang aku tak merasakan apapun.
Namun ketika cemburu, panasnya mengalahkan apapun.
Seperti ada bagian yang terjadi kebakaran.
Jika aku diperbolehkan, maka aku akan undur diri.
Menghilangkan perasaan-perasaan yang mirip belenggu.
Aku tak mampu bangkit namun pedih.
Menatapmu dari kaca mataku.
Seperti menjadi penonton asmaramu.
Aku tak bisa melarang apapun.
Seperti perasaanmu pada siapapun.
Karena? Aku juga tidak bisa merubah segalanya.
Jika aku tidak memiliki perasaan ini.
Mungkin akan seringan kapas berjalan denganmu.
Mengobrol riang bersamamu.
Tanpa rasa aku akan terkalahkan.
Padahal nyatanya, majupun aku tak pernah.
Aku bersembunyi karena perasaan ini.
Aku menjadi pemalu karena cinta bertepuk sebelah tanganku.
Jika aku diperbolehkan, ijinkan aku mencabut semuanya.
Harap-harap pedih menyandingimu.
Menyingkirkan sesosok pujaanmu.
Lalu menggantikan aku sebagai tempatmu.
Andai-andai jika diijinkan.
____
Podcast patah hati itu seakan mewakili perasaan Yara. Ia menjadi semakin melankolis dengan earphone yang tertancap di kedua lubang telinganya. Ia merasa begitu sepi di tengah kantin yang ramai.
Yara menatap nanar gelasnya yang sudah kosong. Ini adalah gelas limun ketika yang ia minum. Wajahnya memerah dan matanya bengkak karena terlalu banyak tidur. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seberantakan ini.
Yara hanya sendirian di kantin. Macam orang gila yang tidak tahu arahnya. Mita yang sejak tadi sudah Yara chat belum menampakan hidungnya sama sekali. Yara membenturkan jidatnya pelan ke arah meja, siapa tahu itu bisa mengurangi rasa kesalnya dan cemburu pada Daru.
Rambutnya yang tadi tergerai kini ia kucir seadanya dengan karet sisa pengikat nasi bungkus. Ia tidak peduli dengan penampilannya sekarang jika hatinya saja berantakan. Perasaannya campur aduk dan kini ia merasa bersalah juga pada Daru.
"Kenapa juga tadi aku ngomong kasar." Keluh Yara jika mengingat sikapnya yang berlebihan tadi.
"Pasti Daru ngerasa kalau aku cemburu sama dia. Aaaa kan malu."
"Nggak! Nggak! Mulai nanti aku nggak boleh cuek lagi. Aku harus menampakkan wajah senang kalau Daru menang."
Yara mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Kini wajahnya semakin mirip dengan pengemis yang merangkap orang gila. Wajahnya kusut padahal ia mandi tadi pagi, matanya bengkak padahal ia tidak tidur terlalu malam.
Tiba-tiba di Yara terbangun. Pupilnya membesar dan ia mengapit kedua pahanya dengan kencang. Mendadak kandung kemihnya penuh. Ia segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan hajatnya.
Melodramanya kini usai. Diganti dengan kencing yang meminta untuk lepas diri.
"Dasar limun k*****t! Kenapa juga aku pesen itu..." maki Yara pada dirinya sendiri. Ia lari terbirit-b***t ke dalam bilik kamar mandi.
"Lega banget..." Yara keluar dengan perasaan yang lega. Kini mendadak kesedihan dan melodrama hari ini hilang. Yara bahkan lupa kalau dia juga menunggu Mita tapi nggak nongol-nongol jugan
Yara kembali ke kantin, soalnya tadi dia meninggalkan kantin tanpa membayar tiga limunnya.
"Berapa bu?"
"15 ribu dek." Yara merogoh tasnya, mengambil dua lembar uang. Menyerahkan ke ibu kantin.
Setelah melakukan transaksi, ia ingin menuju kelas selanjutnya. Ia sedang halangan jadi tidak perlu mampir ke mushola. Makin gabut kan Yara.
Sesampai kelas, ia langsung duduk dan menyandarkan punggungnya. Kelas sedang sepi karena mayoritas dengan menikmati waktu istirahat mereka. Selain itu juga ini waktunya sholat duhur. Yara memejamkan matanya, mungkin tidur beberapa menit bisa merindukan kepalanya.
Namun seseorang memasuki kelas, langkahnya lembut sampai tidak didengar oleh Yara yang sedang memejamkan matanya.
"Belum puas tidurnya?" celetuk seseorang yang membuat Yara langsung membuka mata.
Itu Daru, kenapa ia bisa sholat secepat kilat dan memasuki kelas secepat itu juga. Kini Daru duduk di sampingnya.
"Nggak papa kalau mau tidur. Aku cuma duduk aja kok, nungguin kelas." ujar Daru halus. Ia seperti tidak merasa sakit hati dengan ucapan Yara tadi pagi.
Yara hanya diam, ia menjadi tidak ngantuk lagi ketika Daru datang ke sini. Maka dari pada menyakiti perasaan Daru lagi, ia ingin lebih ramah.
"Nggak kok, udah nggak ngantuk." jawab Yara ingin membuat hati Daru tidak merasa bersalah.
"Jadi aku boleh cerita nih?" Daru nampak senang mendapatkan izin bercerita.
Yara mengangguk. Nggak papa deh, dari pada nyakitin hati orang, nggak papa aku tersakiti. Getir Yara dalam hati.
"Jadi gimana perasaanmu setelah apa yang kamu idamkan berhasil?" tanya Yara. Ia mencoba memancing emosi bahagia dari Daru. Siapa tahu itu juga bisa membuat hatinya senang dan merasakan sedikit aura positif dari Daru.
Asal nggak cerita tentang gadis itu sih.
"Ra, selain aku seneng banget dengan semalam. Aku juga agak sedih si."
"Lho kenapa? Bukannya kamu udah berhasil?"
"Ada satu yang mengganjal hatiku sih." keluh Daru.
"Apa?" tanya Yara penasaran.
"Confession..." lirih Daru.
Haa? Jadi nggak jadi nembak cewek itu? Jadi Daru masih jomblo dong. Sorak Yara dalam hatinya.
"Kenapa?" tanya Yara sebisa mungkin dengan nada yang normal. Ia tidak boleh membuat perasaan bahagianya terlalu ketara. Nanti Daru malah mikir kalau dirinya jahat
"Semalem, nggak bisa."
Mendengar jawaban Daru selanjutnya. Hati Yara layu lagi. Pupus sudah harapan yang ia tanam baru saja. Ternyata bukan ditolak, tapi Darunya aja yang belum maju.
"Ya udah, mau kapan?"
"Sekarang." jawab Daru yang membuat Yara langsung mengerutkan keningnya.
"Kamu mau bolos?" tanya Yara.
Daru menggeleng. "Kenapa harus bolos kalau confess-nya mau di sini."
Yara menatap Daru tak mengerti. Mendadak otaknya begitu lemot mengolah data. "Ma-maksudnya?"
Tapi data otaknya menangkap bahwa orang yang Daru taksir satu kelas. Tapi siapa? Gadis mana yang beruntung dapetin Daru.
Namun ketika Yara sibuk dengan pikirannya, Daru malah mencoba berbicara. Namun berkali-kali ia seperti takut.
"Ra, i have crush on you." ucap Daru tanpa aba-aba. Ia sengaja mengucapkan dengan bahasa Inggris takut-takut ia menggunakan bahasanya sendiri, ia akan canggung, ini saja sudah bikin bibirnya bergetar hebat.
Yara bengong. Pupilnya bahkan membulat sempurna, bergerak ke sana kemari seperti kebingungan dengan dirinya sendiri.
"Ra, kamu dengerin aku kan?" tanya Daru, takut kalau Yara tidak mengerti bahasa Inggris dengan baik. Tapi itu tidak mungkin, Yara pasti memahami kalimatnya dengan baik dan jelas.
"Kamu tadi ngomong apa?" tanya Yara meyakinkan.
"I have crush on you... You are, Yara Airani." jawab Daru meyakinkan. Sorot matanya kini bahkan menatap lekat Yara.
"Kamu suka sama aku?"
Daru mengangguk, ia sama sekali tidak gemetar mengatakan itu. Namun kini dirinya malah dibuat senyum-senyum melihat wajah Yara yang kebingungan namun lucu.
"Iya, aku suka kamu."
"Jadi, jadi orang yang kamu maksud kemarin itu aku? Bukan Andira?" tanya Yara yang masih tidak percaya.
"Lah, kenapa jadi Andira?" kini Daru malah bertanya bingung ke Yara. Pengakuan itu sama sekali nggak ada manis-manisnya.
"Ya, kan kemarin kamu nyanyi sama Andira, aku pikir kamu naksir dia." jawab Yara yang nampak begitu konyol.
Daru tertawa dengan ucapan Yara. Ia benar-benar nggak pernah memikirkan hal semacam itu. Bagi Daru, nyanyi bareng Andira semalam hanyalah sebuah profesional dalam bekerja.
"Aku sukanya kamu, kenapa sampai Andira sih."
"Kok bisa kamu suka sama aku?" Yara tak henti-hentinya bertanya. Ia seperti krisis identitas dan masih bingung dengan perilaku Daru.
"Mau tau alasannya?"
Tanpa sadar Yara mengangguk.
"Kalo gitu, mau nggak jadi pacarku?"
"Mau lah!" sahut Yara cepat. Meskipun ia bingung dengan kondisi saat ini, kesempatan untuk jadi pacar Daru itu nggak banyak. Itu bisa juga seperti kesempatan emas yang hanya bisa digunakan dalam satu kali.
"Eh beneran?" Daru tak percaya dengan jawaban gesit Yara.
"I-iya." jawab Yara malu.
"Jadi kita sekarang pacaran?"
"Masak sih, kok aneh."
Mereka berdua tertawa. Bahkan Yara lupa hal-hal konyol yang ia lakukan semalam. Tapi kalau diingat-ingat dia juga malu. Kok bisa dia menggalau dengan begitu anehnya.
"Ru, bisa nggak minta ijin bentar." Yara kini bangkit. Wajahmu pucat pasi.
"Kemana?"
"Toilet." balas Yara kemudian ia lari terbirit-b***t keluar. Ia lagi-lagi terkena serangan kencing karena limun tadi.
"Aku kapok nggak mau minum limun lagi!" sumpah Yara di sepanjang koridor. "Kenapa juga aku harus tersiksa di depan Daru. Malu-maluin banget."
Ketika Yara sedang repot dengan kandung kemihnya yang selalu penuh, Daru nampak senyum-senyum sendiri. Ia seperti begitu riang mengingat bagaimana confession-nya berjalan lancar bahkan terlihat lucu dan sederhana.
Ia tidak perlu lilin dan makan malam yang mewah. Ia hanya perlu mengatakannya jujur di depan orang itu. Orang yang mengisi d**a Daru dengan begitu indah.
•••