30 — Pacar Rahasia

2373 Words
Jika tadi Yara begitu melankolis dan nampak menyedihkan karena perasaan cemburu pada Daru. Kini ia berubah menjadi orang yang seperti kesurupan. Moodnya seakan diajak main roller coster hari ini. Berubah dalam sekejap, lebih sekejap dan sangat mengagetkan. Yara joget-joget di dalam kamar mandi karena terlalu gembira. Ia senyum-senyum sendiri di depan wastafel. Tiap mengingat Daru memandangnya dengan perasaan teduh Yara merinding. "Kok bisa ya dia naksir sama aku?" Yara mematut wajahnya di cermin. Seakan heran dengan penampilannya yang bisa memikat artis yang lagi naik daun. Seperti unbelievable tahu nggak. "Ah sial, malu banget gue! Kenapa coba gue pake ini." Yara melihat rambutnya yang berantakan di depan cermin. Mana ia pakai karet bekas sisa bungkus nasi lagi. Berarti tadi Daru tahu dong buruknya dia. Yara melepas karet gelang yang melilit rambutnya yang ketika ditarik, rasanya ketarik sampe akar-akar rambutnya. Yara membuang karet itu di tempat sampah. Bye-bye b***k. "Nggak lagi deh, gue pake karet ginian buat ngiket rambut." Yara merogoh-rogoh sakunya, mencari ikat rambutnya. Namun tidak ada. Yara melihat rambutnya yang tergerai dengan sembarang. Nampak berantakan dan langsung merasakan gerah pasti. Ini kan di siang bolong. "Apa gue gini aja ya? Lumayan cantik sih? Kan lumayan biar keliatan cantik di depan... pacar." Yara merinding lagi ketika menyebutkan kata pacar. Mana pacarnya Daru lagi, artis papan atas. Orang yang diidam-idamkan banyak gadis. Capek bermonolog di kamar mandi, Yara akhirnya keluar dengan rambut yang tergerai dan disambut terik matahari yang ganas. Ia berjalan di tepi-tepi yang teduh agar kulitnya tidak terbakar. Setelah pacaran dengan Daru beberapa menit yang lalu, mendadak Yara jadi perhatian dengan hal-hal yang kerap ia tidak pedulikan. Seperti rambut berantakan dan kini ia kena matahari aja nggak mau. Semakin manja kan. Yara masuk ke dalam kelas, yang tadinya hanya berisi Daru dengan dirinya kini sudah mulai banyak mahasiswa. Sepertinya waktu sholat telah berakhir. Yara melangkah masuk ke arah kelas, berjalan menuju Daru yang saat itu juga menatapnya. Tersenyum menyambut Yara dan mempersilahkan Yara untuk duduk di sampingnya. Yara yakin, senyum Daru yang terpancar itu hanya diberikan kepada dirinya. Yaitu pacarnya, pacar rahasianya. Lagi-lagi jika mengingatnya bulu Yara berdiri, seperti ada perasaan bahagia yang menghinggapi hatinya. Ribuan kupu-kupu mengisi rongga dadanya. "Kenapa di gerai?" tanya Daru yang melihat Yara nampak tidak nyaman dengan rambutnya. Yara hanya menoleh dan senyum tipis, Yara nggak mungkin bilang kalau ia ingin nampak cantik untuk cari perhatian. Sayangnya Daru malah tidak notice itu. "Kunciran aku putus." "Gerah ya?" tanya Daru perhatian. d**a Yara langsung diajak disko gara-gara suara Daru yang lembut banget. Meleleh banget Yara. Yara nggak menjawab, namun Daru langsung membuat tindakan. Ia menyingkap lengan kemeja panjangnya dan mengambil gelang karet berwarna hitam. "Sorry ya, aku cuma punya ini." "Kamu mau ngapain?" Yara langsung bertanya. Meski ia apa yang Daru lakukan. "Sana hadap sana." bukannya mengindahkan pertanyaan Yara, Daru malah memerintahkan Yara untuk menoleh membelakangi Daru. "Ru, ini kan di kelas." Yara panik. "Temen sekelas nggak akan nyangka kalau kita ada apa-apa. Lagian kan juga mereka tahu kalo kita temen akrab." Yara akhirnya menoleh. Meskipun perkataan Daru benar, ia juga cukup deg-degan jika ternyata ada yang mencurigai mereka. Tapi pikirannya mendadak luruh ketika tangan Daru menyentuh rambut Yara. Tubuh Yara membeku ketika tangan Daru menyisir rambut Yara dengan tangan. Sentuhan lembutnya membuat Yara seperti pindah dari bumi. Rasa gerah yang sejak tadi hinggap di tubuhnya kini hilang entah kemana. Puncak degup Yara yang kencang adalah ketika Daru mengingat rambut Yara dengan gelang karet itu. "Udah selesai." Yara menoleh ke arah Daru. Ia menyentuh perlahan kepalanya yang sudah terkuncir, meski sebenarnya ikatannya hampir sama dengan karet gelang tadi, tapi ini ada feeling yang berbeda. Apa karena Daru yang mengikatnya. "Nahkan, semuanya bodo amat. Lagian kamu jangan terlalu parno." ucap Daru dengan tawa ringan. Seperti gulali. "Iya ya." jawab Yara malu-malu. Di kelas yang ramai, ada dua manusia yang sedang kasmaran. Mereka tersenyum saling pandang dan bertukar canda. Sorot mata Daru kini memandangi Yara dengan berbeda, begitupun sebaliknya, seperti ada keberuntungan hebat yang ia dapatkan. ••• Hal yang pertama kali ketika pacaran dengan artis adalah party. Kini di kamar Yara sudah ada dua gelas sirup, satu untuk dirinya, satu untuk photocard Ji Chang Wook dengan tanda tangan basah—tanda tangan yang asli dari pulpen si aktor—di belakangnya. Mereka melakukan dinner di atas meja kecil untuk laptop milik Yara. Malam ini ia siap curhat habis-habisan dengan pujaan mayanya. Bang Ichang. Meskipun nampak gila, Yara senang melakukannya. Photocard yang ia dewakan itu diajak ngobrol bahkan curhat tiap kali Yara sedang di kamar. "Bang! Aku jadian sama artis loh!" seru Yara di depan foto itu. Diam. Tak ada respon. "Bang Ichang nggak cemburu kan kalo aku sama Daru?" Diam. Hanya diberi senyum lebar oleh foto. "Bang Ichang nggak boleh cemburu. Bang Ichang kan udah sering kissing tuh sama orang cakep, masak Yara pengen pacaran nggak boleh. Jadi kita adil ya." Yara menyodorkan tangannya di depan photocard. Tidak di respon Yara segera menarik tangannya kembali. "Oiya, kan nggak bisa salaman." cengir Yara. Semakin gila. Gila kuadrat. Yara meminum air sirupnya, penuh drama ala-ala minum anggur mahal. Untuk jaga aman, ia pakai sirup. Party boleh, minum anggur jangan. Stay halal bro. Hahaha. Untung saja Daru tidak tahu kelakuan Yara yang random seperti ini. Pasti dia langsung minta putus. Paling nggak Daru bakal meminta hubungan mereka disembunyikan terus sampai putus. Eh, ya jangan putus dong, kan baru jadian tadi siang. Yara teringat mereka mengobrol sebentar di dalam mobil Daru. Tadi siang Yara emang dianterin Daru pulang ke rumah, padahal dia harusnya segera berangkat ke lokasi syuting. "Kita backstreet aja ya." pinta Yara saat mereka berdua masuk ke dalam mobil. "Kamu nggak cemburu ntar kalau aku digoda cewek-cewek. Kan tahu kalau aku jomblo, aku bisa makin banyak digoda." Daru menatap Yara dengan terang-terangan, kini wajahnya manyun dengan imut. Yara tidak tahu siapa yang mengajari Daru ini tapi ini lucu sekali, gemess. Daru nampak begitu leluasa manja di depan Yara. Bahkan tak ada rasa takut karena kini mereka sedang ada di mobil. Hanya ada mereka berdua saja. Yara tersenyum sejak tadi melihat tingkah Daru yang berbeda. Nampak manja dan tak henti-hentinya menampakan senyum. "Kamu lucu ya." celetuk Yara. "Emang aku lucu. Makanya aku banyak yang naksir." banyol Daru. Ia terlihat begitu percaya diri. "Iiih, diluarnya aja keren. Dalemnya mah sama aja, manja." Daru tertawa. "Jadi gimana? Kamu cemburu nggak?" "Kalau karena cemburu, aku udah cemburu sejak dulu kali." jawab Yara jujur. Gimana nggak cemburu, kerjaan Daru aja mesra-mesraan. Dia dituntut untuk menghibur bahkan untuk membuat siapapun hal termasuk Yara sendiri, sih. "Kan aku kerja. Aku termasuk orang yang cuek lho." "Bercanda iiiih. Aku nggak cemburu kok kalau kamu sama orang-orang kayak gitu. Hmm, paling nggak aku usahakan untuk nggak cemburu deh. Kan aku pacarnya Daru Han." kini Yara mulai leluasa untuk bercanda juga. "Pacar pinter." Daru tersenyum tipis namun dalam memandangi Yara. Daru mengacak-acak rambut Yara. Ia bangga punya pacar yang bijaksana. "Ru, kita beneran kan jadi backstreet?" tanya Yara lirih. Kini ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, menghadap Daru yang sedang menyalakan mesin mobil. "Emangnya kamu siap kalau kita go public?" Yara menggeleng pelan. "Aku nggak siap. Lagian, kamu kan lagi menang award, pasti infotainment lagi gencar-gencarnya bahas kamu. Nggak mau aku jadi terkenal mendadak." Yara membayangkan jika namanya terpampang jelas di headline berita sebagai pacar Daru. Pasti nggak tenang banget. "Yaudah, kamu jadi pacar rahasia aku ya." Yara membuka matanya. Jadi pacar rahasia. Kedengarannya lucu. Tapi ia berasa kayak jadi simpanan. "Biar romantisnya kita aja yang simpan. Ya kan? Orang mah taunya nggak ada apa-apa " tambah Daru lagi. Yara mengangguk setuju. "Tapi boleh kan, aku cerita ke orang terdekat?" "Boleeeh, aku aja udah cerita ke Kak Hana." "Loh, kok udah duluan?" "Ya kamu telat ngasih taunya sih." "Kalau Mita boleh kan?" Yara mengingat Mita. "Temenmu yang nyomblangin kita di restoran Korea kemarin?" Yara mengangguk. "Tapi pasti dia bakal kesetanan pas denger kita jadian." "Tapi kan dia tetep temen deket kamu. Lagian dia juga tahu kita kan." "Iya sih..." "Terus siapa lagi yang mau tahu?" Daru bertanya lagi. Mendadak hal ini menjadi bahan diskusi mereka. "Eh agensimu berhak tau nggak sih kalau kita pacaran? Soalnya aku liat di drama korea, mereka ribet banget. Takutnya aku malah dituntut gimana?" Yara kalut kalau soal beginian. Kan nggak seru juga kalau baru pacaran kena skandal. Daru berpikir sejenak, kemudian menoleh ke arah Yara. "Setahuku, nggak ada aturan khusus soal pacaran sih di Indonesia. Bahkan banyak lo artis yang mengekspos hubungan mereka supaya semakin terkenal. Tapi itu kembali ke masing-masing pasangan. Nyamannya gimana." jelas Daru. "Teruuus..." potong Yara. "Kalau Braga, berhak tahu nggak sih? Soal kita?" Yara teringat sahabat dekatnya. Mereka layaknya trio sahabat jika bersama Daru. "Kamu maunya gimana? Dia berhak tahu atau nggak." "Aku nggak enak sama dia. Kan dia juga deket. Kalau nggak bilang, ntar dia ngerasa dikhianati lagi." pikir Yara. "Yaudah kasih tahu." "Tapi Braga kan temen sekelas kita." pikiran kontra menyerang. "Kasih tau pelan-pelan aja. Jangan di kelas biar Braganya nggak syok." jawab Daru dengan telaten. "Jadii... Udahlah semuanya? Jadi kita siap melangkah lebih jauh. Siap jadi pacar rahasiaku?" ulang Daru meyakinkan. "Siap! Saya siap jadi pacar rahasia Daru Han." jawab Yara mantab. Misi pacar rahasia dimulai dari sekarang. Merajut kisah manis yang disembunyikan. Kembali ke dunia nyata. Tapi masih di fase halu, Yara histeris tiap mengingat kejadian romantis di awal hubungannya. Ternyata gini punya kisah asmara dengan orang spesial. Pacaran diam-diam dan rasanya mantab sekali. Daru yang kelihatan cool, kini nampak menara dan berbeda. Kehidupan Yara langsung berwarna cerah ketika mereka resmi pacaran. ••• Akhir pekan tiba! Liburan dan date pertama mereka di depan mata. Yara sudah menceritakan hubungan mereka di depan teman dekatnya. Braga dengan senang mendukung hubungan mereka, bahkan ia merasa bangga bisa memiliki teman yang bisa saling jatuh cinta. Mita, respon terbar-bar. Bahkan ia mewakilkan emosi para fans Daru. Mita marah-marah karena bisa dapetin Daru semudah itu, tapi disatu sisi ia juga bahagia karena temannya sudah nggak galau-galau lagi. Mama, orang yang paling riang melebihi Mita. Tahukan bahwa Mama orang yang paling berharap punya mantu artis. Sekarang keturutan, sama Daru. Tapi satu hal yang membuat respon Mama lucu. "Ra, kalau sekarang kamu pacaran sama Daru. Itu artinya, Daru nggak bisa main film sama Prita lagi dong. Nanti nggak bisa syuting lagi dong. Padahal Mama kan seneng liat Mario sama Sabrina pacaran." Yara tertawa hebat mendengar itu. Bahkan Daru yang Yara ceritakan juga merespon dengan tawa yang sama. Bisa-bisanya Mama memikirkan hal sepolos itu. Kan pacaran sama pekerjaan juga beda. Itu artinya nggak ada dampak apa-apa untuk series mereka. Hal-hal menyenangkan sudah mereka lalui, hingga kini di akhir pekan. Yara diajak ke rumah Daru. Dikenalkan lebih dekat dengan Kak Hana dan ingin tahu juga rumah Daru seperti apa. "Hallo mbak. Pacarnya Mas Sasan ya." sapa Mbak Desi ketika Yara membuka pintu rumah Daru. Sasan? Perasaan nama pacarnya Daru. Tapi Yara mencoba mengingat soal nama lain Daru adalah Sasan. Tapi kok Mbak Desi tahu, pasti Daru udah cerita semua. "Eh iya. Sasannya ada?" respon Yara. Ia nggak mungkin cuek dengan orang rumah Daru. "Ada, dia lagi mandi. Yuk masuk. Untuk Mbak Hananya lagi tidur. Maklum, dia selalu tidur subuh untuk ngurusin jadwalnya Mas Sasan." Mbak Desi mempersilahkan Yara. Hari ini libur kuliah dan syuting Daru dilakukan sore. Maka inilah saatnya untuk date pertama mereka, di rumah Daru. "Duduk aja. Nanti kalau udah selesai mandi. Mas Sasan saya minta ke sini." Kemudian Mbak Desi berlalu. Yara hanya manut saja. Yara memandangi rumah Daru yang nampak minimalis namun indah. Yara pasti bakal ngerasa nyaman kalau hidup di sini. Rumah ini benar-benar bentuk nyata dari kata rumah adalah tempat pulang, sebaik-sebaiknya tempat pulang adalah tempat yang nyaman. Mbak Desi datang membawa nampan berisi es limun dan biskuit di dalam toples. "Dimakan ya. Maaf adanya ini." "Nggak papa kok Mbak." Jawab Yara halus. "Kata Mas Sasan, Mbak Yara diminta masuk aja ke ruang keluarga. Nanti kalau Mas Sasan udah selesai mandi, tinggal nemuin." sepertinya Mbak Desi sudah ngobrol dengan Daru di dalam. "Nggak papa kok Mbak, saya di sini aja." "Ya udah saya permisi ya Mbak." Mbak Desi undur diri. Yara mengangguk. Ia menikmati lagi kesendirian di ruang tamu. Duduk dengan nyaman menunggu pacarnya yang selesai mandi. Bisa dibayangkan seganteng apa dia. Drtt drttt... Suara getar mengganggu Yara yang sedang sibuk memandangi ornamen rumah Daru. Itu bukan ponselnya, suara getaran itu berasal dari sofa yang ia duduki. Yara menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara. Ia menemukan ponsel Daru tergeletak di sana. "Ah, hpnya Daru." Melihat walpaper Daru yang menarik, walpaper gambar tangan mereka yang berpegangan di mobil beberapa hari yang lalu. Yara meraih ponsel itu. Suara getar tak ada habisnya mengisi ponselnya. Itu berasal dari notifikasi i********:. "Keren juga ya pacarku. Fotonya yang ngelike ribuan. Bandingin aku, bisa lebih dari seratus aja syukur." desis Yara melihat notifikasi tidak ada henti sejak tadi. Kling. Ada pesan masuk. Prita: jangan lupa nanti kalo ke lokasi syuting bawain jaketku ya. Pesan itu seakan menyentak hati Yara. Meski sederhana, tapi pasti ada hal dibalik itu. Napas Yara tidak teratur. Ekspresi yang tadi bahagia kini berubah menjadi perasaan getir yang tidak bisa dijelaskan. Yara mencoba membuka pesan itu, namun ia lupa password ponsel Daru. Yara memiliki terlalu banyak password yang harus ia ingat hingga ia melupakan password milik Daru. "Tapi percuma juga, aku nggak sopan kalau kayak gini." Akhirnya Yara menyerah. Ia mencoba untuk menghapuskan pikiran buruk dari otaknya. Hari ini adalah hari kencan mereka. Nggak boleh dirusak kan? "Udah dadi tadi kamu?" sambut Daru yang datang dari arah belakang. Ia mengenakan handuk untuk mengeringkan rambut. Yara langsung membuang ponsel itu, takut kalau ia dianggap lancang membuka ponsel Daru diam-diam. "U-udah." jawab Yara terbata. "Kok kamu gugup?" "Ngg. Itu aku nggak bisa lihat kamu abis mandi, soalnya ganteng banget." Improvisasi Yara. Untung ia bisa ngeles, gimana kalau dia sadar. "Kamu udah makan belum? Yuk makan, Mbak Desi masak siang ini." "Iya, ntar aku makan." ucapan Yara kini sudah mulai membaik, namun ia masih nampak gemetar mengatakan itu. Pikiran Yara kembali berserobok dengan pesan di ponsel Daru. Kenapa Prita harus seperti itu. Apa nggak ada kata lain? Atau jangan-jangan semuanya nggak ada apa-apa dan Yara aja yang cemburuan? Ah kenapa sih susah banget jadi pacar artis. Memang sih, Yara pacar rahasia. Tapi apakah iya ia harus dirahasiakan dari segalanya termasuk kepercayaannya. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD