Naik turun perasaan memang hal yang wajar, jika sendirian Yara merasa minder dan insecure, namun jika bareng Daru di luar. Perasaan itu perlahan-lahan sirna. Seperti ketika kuliah dan ngobrol bareng Mita di luar. Kunci utamanya adalah kesibukan dan keramaian. Yara sendiri juga mahkluk sosial, dirinya bakal ngerasa tidak nyaman jika terlalu lama kesepian.
Pikiran-pikiran buruk itu perlahan-lahan sirna.
Seharusnya Yara juga harus bersyukur ketika sebentar lagi waktu sibuknya akan tiba. Sibuk dengan perkuliahannya dan mulai meredanya berita tentang yang tidak-tidak. respon orang-orang dengan pertambahan followers Yara yang meningkat tajam juga tidak menjadi perhatian besar bagi mereka, banyak orang yang tidak peduli dan berpikir mungkin memang itu rejekinya Yara menjadi teman dekat Daru.
Kini saatnya fokus mengerjakan apa yang menjadi kewajiban Yara salah satunya adalah menyicil tugas kuliah.
Ternyata, pilihan Daru dulu tidak salah. Bersatu dalam kelompok dengan Daru yang dulu Yara ingin hindari, malah menjadi sebuah anugrah. Ibarat kata, menyelam sambil minum air. Selalu ada unsur pacarannya di dalam tugas kelompok. Membuat Braga, selalu jadi obat nyamuk dalam tiap pertemuan mereka.
Waktu Ujian Tengah Semester sudah mulai dekat. Satu minggu dari hari ini. Membuat banyak mahasiswa mulai dibuat sibuk dengan tugas-tugas UTS yang sudah mulai menggunung, apalagi bagi mahasiswa yang sudah mengambil 24 sks dalam perkuliahannya. Makin dibuat kalang kabut dengan keterbatasan waktu yang serasa singkat.
Yara termasuk dalam kategori itu. Perkuliahan awalnya sudah diajak kerja rodi dengan mata kuliah yang banyak. Seminggu bisa ada perkuliahan tanpa libur dan kini ujiannya, seperti ujian hidup. Melelahkan sekali—tapi untung ada Daru. Pacar sekaligus rekan kelompoknya. Kalau nggak nanti nangis.
Yara nggak bisa bayangin jika harus satu kelompok dengan orang yang tidak bisa diatur dan otoriter bukan main, pasti Yara bakal frustasi ditambah rasa insecure dalam dirinya.
Bersyukurlah, ia memiliki kelompok yang bisa diajak bekerja sama dengan baik. Seperti Braga dan Daru. Karena tugas praktikum bersama Braga dan Daru harus membutuhkan banyak persiapan, sebagai mahasiswa baru yang ambisius mereka sudah menyiapkan konsep final tugas mereka.
Saking banyak persiapan yang harus dipersiapkan, mereka harus mengerjakan tugas di sela-sela perkuliahan agar semuanya bisa dikerjakan dengan baik. Mereka tidak punya banyak waktu jika hanya mengandalkan malam saja.
“Hei, ini kayaknya nggak bakal cukup deh jika dikerjain kalau Cuma kuliah doang. Gimana kalau kalian ikut ke lokasi syuting gue. Nggak papa?” Daru menyadari kekurangan waktunya.
“Iya, susah banget.” Braga juga berpendapat yang sama, rasanya memang harus membutuhkan waktu yang banyak.
“Tapi apa itu nggak ganggu kamu Ru?” bukannya mengkhawatirkan tugas, Yara malah khawatir jika itu mengganggu Daru. Kehidupan Daru sudah cukup sibuk.
“Ah nggak kok Ra, tenang aja. Aku malah kasian kalau kalian kecapekan ngerjain hanya karna terbebani dengan aku.”
“Kan anda memang beban.” Sahut Braga tak berperasaan. Tapi Cuma bercanda kok, Braga bukan orang sejahat itu.
“Apa sih lo, ganggu orang pacaran aja.” Daru ikut-ikutan sinis. Tak terima dengan pendapat Braga.
“Eh Daru omongannya, nanti kalau didengar banyak orang lho.” Setiap Daru menyebut kata pacar, Yara langsung was-was. Apalagi sekarang nyebut namanya di tempat umum, kan makin bikin was-was.
“Gila Ra, lo was-was banget dah.” Tegur Braga yang melihat sikap Yara terlalu berlebihan.
“Lo sih nggak pernah ngerasain.” Sahut Yara.
“Eh pengen dong ngerasain…”
“Nanti kalau ke lokasi syuting, kenalin dong ke Prita. Pacar lo yang satunya.” Tambah Braga, menyebut nama Prita, membuat Yara langsung tersenyum getir. Nama yang cukup sensitif untuknya.
“Jangan Ru. Nanti malah diambil pacar.” Yara mencoba untuk bersikap biasa saja, dengan mencoba membanyol.
“Lah kenapa anda ngatur-ngatur. Kan yang mau kenalan saya.”
“Nggak. Lo nggak cocok. Prita terlalu tinggi buat lo,”
“Sok banget ya anda.”
“Emang kenapa? Nggak terima?!”
“NGGAK LAH!” seru Braga dengan teriakan. Membuat banyak orang langsung memandanginya. Pertengkaran murahan itu harus berhenti saat itu juga.
“Lo sih brisik.” Braga menyenggol Yara.
“Kok nyalain gue?!” Yara nggak terima disalahkan.
“Iya udah, gue yang salah….” Daru menyela percakapan mereka.
“Nah gitu dong.” Braga nyengir.
“Gue yang salah udah memilih kalian sebagai teman. Berisik banget jadi manusia.” Tambah Daru yang membuat langsung mendapatkan dua pukulan manusia-manusia berisik.
“DARU JAHAT!”
•••
Pertemanan mereka unik, sejauh apapun mereka bertengkar, tetap saja professional untuk menjalani aktivitas. Setelah pulang kuliah, mereka segera menuju lokasi syuting Daru dan mengerjakan tugas di sana. Sesuai rencana, meski dalam pengerjaaannya tidak semaksimal apa yang mereka rencanakan.
Namun kali ini Daru mengenakan mobil sehingga mereka tak perlu repot-repot menyusul Daru ke lokasi syuting. Sebenarnya, sama saja. Pulangnya mereka tetap naik ojek online karena jika nunggu Daru selesai syuting, keburu Yara sudah nggak kuat menahan kantuk. Bayangin aja dari pagi udah mulai aktivitas dan harus istirahat pagi lagi.
Status Yara sebagai pacar membuat ia semakin mudah membaur dengan Kak Hana dan mulai nyaman dengan Daru, ya meski banyak hal yang harus ia sembunyikan juga di depan banyak orang. Tapi paling tidak banyak orang terdekat mereka yang tahu dan membuat Yara tidak perlu takut.
Lokasi syuting yang ramai tidak membuat mereka kehilangan fokus, mereka tetap memiliki ruang untuk mengerjakan tugas dengan nyaman. Meski sesekali Daru harus kembali ke syuting di tengah-tengah mengerjakan tugas. Tapi itu bukan masalah yang besar, bukankah itu salah satu resiko belajar di lokasi syuting.
Daru sendiri, meski ia dibuat sibuk dengan membelah pikirannya, ia tetap senang dan bisa fokus. Itu berkat zat adiktif dari Yara yang selalu membuat Daru semangat, Yara yang membuat Daru tidak punya rasa lelah.
“Yara kalau laper bilang ya, nanti Kak Hana pesenin makanan,” tawar Kak Hana di sela Yara sibuk mengerjakan konsep. Braga dan Daru sendiri sedang sibuk memilih template power point yang akan mereka buat.
“Eh nggak papa kok Kak, belum laper juga.” Sahut Yara sungkan. Baru jadi pacar aja udah di notice dan care gini, gimana jadi istri. Ah, Yara pikirannya memang nggak jelas deh.
Daru yang mendengar percakapan mereka melirik sekilas, “Makan Ra, nanti kamu maagnya kumat loh.”
Meski itu dilakukan secara normal, tetap saja aura yang Daru keluarkan untuk ngobrol bareng Yara itu berbeda. Daru memang artis, tapi jatuh cinta memang tetap sama saja.
Braga yang lagi-lagi jadi obat nyamuk hanya berdeham, meski ia tahu betul itu adalah hal yang wajar. “Ra, kapan lagi coba diperhatiin artis. Sana makan, nanti asam lambungnya naik sampai ubun-ubun lho.”
Yara langsung menoleh ke arah Braga. “Mulut lo enak aja.”
Kak Hana tertawa pelan, “Dari pada kalian berantem, aku pesenin semuanya aja ya. Mau apa? Pizza? Atau mau makan nasi.”
“Nasi aja Kak.” Sahut Yara cepat.
“Katanya tadi nggak laper, giliran ditanyain makanan malah jawab nasi. Itu artinya Anda lapar sekali.” Sahut Braga dengan nada meledek.
Yara langsung memberi tatapan tajam ke arah Braga, kenapa ia sama sekali nggak mendukung kejaiman sahabatnya. Memang nggak sahabat sih, orang malah gitu.
“Nggak papa, kok Ga. Kalo kamu mau pesen apa?” tanya Kak Hana pada Braga. Braga juga sudah dikenal dekat sama Kak Hana, membuat Braga dengan mudah bisa membaur. Wajar saja orang-orang ekstrovert membaurnya tuh cepet banget.
“Samain aja sama Yara Kak. Braga mah apa saja dimakan.” Jawabnya tak ada malu-malunya.
“Kalau Sasan samain aja kak.” Daru ikut menyahut, mandiri tanpa ditanya.
“Okay.” Jawab Kak Hana selesai mencatat makanan. Lalu segera membuka ponsel untuk menghubungi pihak restoran dan dalam hitungan menit, makanan akan sampai dengan hangat.
Sore itu, Daru sedikit memiliki waktu luang karena adegan yang dilakukan banyak yang bukan dirinya, membuat ia bisa bernapas sedikit lega dan bisa fokus mengerjakan tugas kuliah. Sutradara juga memahami kesibukan Daru seorang mahasiswa membuat Daru makin sayang dan kagum dengan sosok sutradaranya, perhatian banget memang.
Dalam hitungan satu jam, mereka sudah selesai dalam pembuatan konsep dasar serta isi dari laporan yang akan mereka buat. Hanya final yang akan mereka isi untuk melengkapi laporan. Braga sendiri tangannya dengan gesit mengetik tulisan yang Yara tulis. Kerja sama yang maksimal.
“Hai, kalian rajin banget ya.” Celetuk seseorang dan duduk di samping Yara, sok akrab. Prita sendiri juga merangkul Yara dengan alasan sudah pernah ketemu dan jadi temannya Daru.
Yara menoleh dan mendapati Prita duduk di sampingnya. Perempuan yang menjadi pemeran utama itu sepertinya ingin membaur di dalam kelompok ini, meski mereka sebelumnya tidak pernah saling kenal.
Braga, yang notabene sebagai laki-laki normal dan jomblo, langsung berkilau matanya melihat ada Prita mendekatinya. Rasanya, seperti sebuah mimpi dan sebuah impian.
“Hai Prita,” sapa Braga dengan hangat. Tangannya sudah terlepas dari depan keyboard laptop. Ia malah menoleh dan terpesona dengan kecantikan Prita.
“Hai, nama lo siapa? Temennya Daru ya?” sahut Prita dengan ramah juga.
Yara mengamati pembicaraan mereka, namun tidak ingin nimbrung karena merasa tidak ada sesuatu yang harus dibahas. Perasaannya malah deg-degan saat melihat Prita duduk di sampingnya.
Orang yang menjadi sumber keminderan Yara, yang menjadi ketakutan Yara dalam bersanding bersama Daru dan semua hal yang menjadi kekalahannya dalam bersaing.
Bukankah tidak bersaing Yara tetap kalah?
“Nama gue Braga, gue temen sekelasnya Daru sama Yara.” Braga menunjuk Yara dan Braga. Di sini dia yang paling happy karena berkenalan dekat dengan Prita.
“Hai Yara, gue Prita.” Tanpa aba-aba, Prita sudah menyodorkan tangannya di depan Yara, mau tak mau Yara menerima salaman tersebut. Dengan malu-malu.
“Hai, iya tahu kok. Kan kamu terkenal banget.”
“Hehe, emang ya… gue jadi malu kalau semua orang tahu gue.” Ucapnya dengan nada pelan, tapi ekspresinya seperti pamer bahwa Prita memang seterkenal itu.
Sisi insecure Yara muncul. Seperti memang dibabat dan ditandas oleh kecantikan Prita.
Lagian siapa sih, yang nggak kenal dia. Artis nomor satu yang menjadi trending sejak sinetronnya melambung tinggi. Meski Braga nggak pernah nonton pun, dia juga tahu siapa Prita.
Andai saja Prita tahu bahwa dirinya menjadi sumber perasaan minder pertama Yara jika mengingat sempurnanya dirinya. Sejak tadi saja, Yara memandangi tangan Prita di sampingnya dan membandingkan dengan tangannya. Beda banget memang, tangan artis sama tangan orang yang suka banget naik motor.
“Eh berarti kalian temen deketnya Daru dong, soalnya tuh nama kalian di sebut tahu pas awards kemarin.” Prita langsung mendominasi percakapan. Daru sendiri belum mengucapkan sepatah katapun sejak kedatangan Prita.
“I-iya kah?” tanya Yara penasaran. Memang kemarin ia nggak nonton itu dan lebih memutuskan untuk tidur. Kan tahu sendiri kalau kemarin dia nggak mood banget dan sebel jika mengingat Daru pengen nembak cewek, eh ternyata ceweknya dia sendiri.
“Iya, Ra. Lo nggak nonton ya?” Braga menoleh ke arah Yara.
Yara tersenyum simpul. Hatinya menghangat. “Thanks lho Ru.”
Daru mengangkat wajahnya, sejak tadi ia sibuk menatap laptopnya. Saat menatap Yara, ia tak sengaja tersenyum malu. “Thanks buat apa?”
“Buat ketampanan gue yang nggak bisa mengalahkan lo, sekalipun lo artis.” Braga malah membengkokkan percakapan. Membuat Yara sedikit tertawa.
“Seriusan Ga? Buat apaan nih?”
“Nggak ada. Nggak jadi.” Jawab Yara malas menjelaskan lagi.
Daru menghela napas panjang, “Apa sih, bikin orang penasaran aja.”
“Kalian kok akrab banget. Kasih tahu dong Ra, cara gimana Daru bisa sebaik itu sama lo. Kayaknya kok, ramah banget.” Prita menoleh ke arah Yara.
“Eh…” mendengar ucapan Prita membuat Yara sedikit bingung harus membalas seperti apa. Soalnya memang nggak ada kiat khusus untuk bisa seakrab itu sama Daru. Lagi, Yara saja nggak tahu kenapa Daru bisa ramah dan akrab dengannya.
Seperti mimpi banget kan.
“Prita nggak tahu ya.” Di saat semua hening, Braga berceletuk.
“Tahu apa?” kerutnya, ia langsung menimpali degan cepat.
Yara dan Daru yang merasa ucapan Braga bisa berbahaya dan mematikan, segera mereka menggagalkan percakapan mereka. Prita memang orang yang sering bertemu degan Daru, tapi juga nggak harus tahu.
“Kalau Yara sama Daru… Aw!” desisnya saat kata terakhirnya dipotong oleh pijakan kaki Daru.
“Bantuin dong, malah cerita terus.” Tambahnya agar meyakinkan.
“Iya nih. Capek gue bikin teksnya. Dikata parafrase gampang apa.” Yara ikut-ikutan.
“Iya deh, maaf.” Braga akhirnya luluh dan mau diajak bekerja sama.
“Eh apa sih?” Prita yang kepo, langsung kecewa karena Braga tidak melanjutkan ceritanya. “Kan gue juga pengen deket juga sama kalian. Seru tahu punya temen banyak kayak gini.”
“Prita beneran mau temenan sama kita?” Braga yang tidak memahami makna pembicaraan Prita yang sebenarnya malah menimpali dengan semangat.
“Iya dong. Kan Braga baik.” Prita semakin menjadi-jadi.
Ucapan-ucapan Prita menjadi sumber kegetiran Daru dan Yara yang sejak tadi lebih banyak diam dari pada salah kata. Meski Prita sesame artis, namun Daru enggan memberi tahunya, takut juga itu merusak chemistry mereka berdua. Hal itu juga membuat Yara merasa tak enak jika harus lebih banyak lagi orang-orang mengetahui hubungannya.
Yara bukan artis yang harus menerima resiko untuk jadi dikenal banyak orang. Meski begitu, ia juga hanya ingin dikenal baik. Namun setelah bersama Daru, kekhawatira itu mengisi kepalanya.
Mengendap-endap di dalam dadanya bahwa tidak ada yang menenangkan, sekalipun itu menyenangkan. Semua menyiksa.
Di kala Prita masih mengeluarkan banyak kata-kata, Yara menatap getir ke arah Daru, ia benar-benar tidak nyaman dengan situasi yang bisa mematikannya.
Mendadak Yara lupa tugas apa yang akan ia kerjakan sore ini, semua karena perasaan getir dan rasa takut. Yara benar-benar tidak nyaman.
•••