“Ziel!” seruku sambil memeluk tubuhku sendiri. Aku mundur ke arah ceruk yang tersusun dari akar-akar pepohonan. Menjauhi dirinya. “Apa yang kau maksud dengan melihat semuanya?”
Ziel maju, mendekat padaku. Dia berjongkok.
“Luka alergimu. Bintil-bintil gatal itu sudah hilang,” balasnya kemudian. “Lihat, kulitmu sudah bersih. Apa ya yang kubilang. Kolam air panas ini memang manjur untuk membasuk liur siluman ular.”
Aku mengamati Ziel selama beberapa saat. Balasannya sangat di luar dugaanku.
“Kau membicarakan bintil-bintil di kulitku?” ulangku.
Ziel langsung mengangguk. “Memangnya apa yang sedang kau pikirkan Lily?” balasnya.
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pepohonan di seberang yang tampak berbuah. Buahnya berwarna oranye. Tampak gelap sebenarnya tapi aku yakin warnanya oranye seperti jeruk.
“Kau pikir aku sedang membicarakan dirimu? Tidak ada yang bisa kulihat omong-omong. Kau tidak punya ada pun yang menonjol,” balas Ziel.
“Ziel!” seruku lalu mencipratinya dengan air.
Ziel tertawa ringan, dan membuat terpana selama sesaat. Betapa tampannya dia. Garis wajahnya, dan rambutnya yang hitam dan panjang itu. Ziel tampan, sekaligus cantik.
“Dengar ya, karena sekarang aku masih lima belas tahun, jadi apa pun yang ada diriku belum tumbuh,” balasku tidak mau kalah.
“Begitu? Kau yakin?” Ziel menatapku dengan raut wajah ragu. Benar-benar hantu satu ini. Bagaimana bisa aku mendapatkan penghinaan darinya. Oke, semua orang memang menghinaku di sekolah. Tapi masa sih, hantu juga?
“Yakin lah, semua orang kan berubah tahu. Dan aku juga. Tunggu saja─” kalimatku terpotong. Mendadak terdengar suara batuk bercampur geraman.
“Grokk,” suara itu menggaung dan keras, sampai menggetarkan jantungku. Mendadak akar-akar yang sedang kujadikan sandaran bergerak pelan.
“Ah! Ziel!” Spontan aku langsung menghentakkan kakiku di lumpur menuju ke arah Ziel yang dengan sigap meraih tubuhku ke luar dari kolam. Sayap mendadak muncul dari punggungnya lalu sayap itu melengkung ke depan untuk menyelimuti tubuhku yang tidak mengenakan sehelai benang pun.
Omong-omong, Ziel belum memberitahuku kenapa dia memiliki sayap. Tidak ada hantu yang memiliki sayap bukan? Atau apa sih definisi hantu, setan dan semacamnya itu?
Suara batuk dan geraman itu muncul lagi. Kali ini lebih keras seperti orang tua yang baru saja terbangun dari tidurnya karena tersedak ludahnya sendiri. Dan pohon yang menjadi sandaranku tadi mendadak bergerak pelan seperti orang yang sedang menggeliat, bersama dengan akarnya.
Lalu dari bawah air, segumpal akar meluncur menuju ke arahku dan Ziel. Dengan sigap, Ziel melompat mundur, dan menepis akar itu dengan salah satu sayapnya dengan keras. Membuat gumpalan akar itu berbelok arah, dan meluncur kembali ke dalam air. Disusul dengan gumpalan akar lain yang siap menghantap muka Ziel seperti genggaman tinju.
Aku memejamkan mata dan berlindung di balik sayap Ziel yang selembut bulu angsa. Bersiap menerima pukulan.
“Hentikan Dentro! Ini aku Ziel,” ucap Ziel kemudian.
Aku membuka mata, tepat ketika gumpalan akar itu mendadak berhenti meluncur tepat di depan muka Ziel.
“Ziel!” suara dalam itu muncul lagi. Suaranya menggaung menggetarkan permukaan air. “Kau ternyata. Kupikir kau para makhluk b******k itu. Tapi…” sebatang akar, lancip dan kecil mendadak menusuk ke dalam d**a Ziel tepat di depan mataku. Akar itu bergerak-gerak, dan wajah Ziel tampak kesakitan. “Kenapa kau memiliki detak jantung? Tunggu. Tapi kenapa rongga dadamu kosong, wahai makhluk campuran b******k?”
Makhluk campuran? Apa itu?
“Aku bilang hentikan!” sergah Ziel dengan mata berkilat. Tangannya menyambar akar yang sedang mengaduk-aduk dadanya itu lalu mengeluarkannya dari dadanya. Di sekitar tusukan akar itu tampak bulatan-bulatan seperti cincin yang terbuat dari asap. Cincin lubang itu bergoyang seperti gerbang dimensi. Lalu ketika akar berhasil ZIel keluarkan, cincin lubang itu menghilang, dan pakaian Ziel utuh tidak berlubang.
“Ah, ternyata bukan detak jantungmu. Siapa di balik sayapmu itu? Manusia? Kenapa baunya seperti raja iblis?” kata suara dalam itu. Akar kembali bergerak ke arahku.
“Ziel!” seruku dengan ketakutan. Jika d**a Ziel setelah diobok-obok tetap utuh, aku sama sekali sangsi jika itu juga terjadi padaku.
“Dentro! Berhenti atau ku patahkan seluruh akarmu!” seru Ziel. Dia menyambar akar. Bersiap mematahkannya.
“Oke-oke, baiklah,” kata suara dalam itu. Akar pun kembali meluncur ke air dan pohon yang bicara itu pun bergetar seperti anjing yang mengeringkan tubuhnya. Dedaunan berbentuk hati berjatuhan di kolam dan di atasku. Warnanya kuning kemerahan seperti daun maple.
Lantas, dari batangnya yang besar, muncul dua lubang seperti mata, hidung dari patahan dahan kering, dan sebuah lubang besar lagi membentuk sebuah mulut.
“Hih!” seruku. Aku meremas jubah lembut Ziel. “Dia hidup, Ziel!” seruku.
“Tenang saja, itu Dentro. Si pohon tua yang malas,” balas Ziel. “Dia b******k tapi tidak berbahaya.”
Setelah bertemu dengan siluman ular berwajah rusak dan hendak mengulum tubuhku mentah-mentah, mana mungkin aku percaya dengan pohon yang bisa bicara.
“Aku mendengarmu, Ziel. Kau sama sekali tidak sopan dengan pohon tua sepertiku,” balas Dentro. Suaranya masih menggaung dan menggetarkan jantungku seperti bunyi speaker dengan mode full bass. “Siapa gadis itu? Kenapa kau bersama dengan manusia beraroma iblis? Dia sedang bertransisi?”
Apa itu? Apa maksudnya transisi?
“Ada apa denganmu? Kenapa kau terusik dengan kehadiranku? Kau tidak pernah bangun selama 20 tahun terakhir ini. Bahkan ketika seorang anjing mengencingimu,” balas Ziel tanpa menjawab pertanyaan pohon yang sedang bicara itu.
“Akhir-akhir ini semua makhluk gelisah. Bahkan yang sedang berada di dalam tanah. Mereka muncul ke permukaan dan berusaha menemukan jantung iblis. Mereka mengganggu tidurku, hanya untuk menanyaiku di mana jantung iblis berada,” balas Dentro. Permukaan air kembali bergetar karena suara yang muncul dari mulut yang berupa lubang gelap itu.
Aku menatap Ziel dan dia balas menatapku. Kurasakan sayap miliknya lebih erat memelukku. Tubuhku yang mulai kedinginan terasa hangat.
“Kau belum menjawabku, Ziel. Siapa yang sedang bersamamu itu?” tanya Dentro lagi.
Ziel tampak tidak mendengarkan. Dia berbicara padaku.
“Kau harus kembali masuk ke dalam kolam. Racun itu perlu waktu untuk hilang.”
Mataku membulat. “Yang benar saja. Aku tidak mau kembali ke kolam lagi,” balasku.
“Tapi kau harus melakukannya,” Ziel menatap tanganku. Bintil-bintil sialan itu mulai ke luar lagi dan rasanya gatal. “Jangan takut. Dentro tidak akan melukaimu. Aku akan menjagamu,” Ziel mencoba menenangkanmu.
Aku menggeleng kuat. “Aku akan membeli salep.”
“Tidak akan mempan. Aku akan menemani masuk ke dalam kolam.”
Sepertinya itu ide bagus. Jadi, kemudian aku menyutujuinya. Membiarkan Ziel membawaku masuk kembali ke dalam air. Kulitku terasa kembali perih seperti awal aku masuk ke dalam air.
“Hei apa yang kau lakukan Ziel? Kau mencemari kolam suci?” tanya Dentro.
“Diamlah pohon tua,” balas Ziel.
Sayap Ziel menghilang dan aku menenggelamkan diriku sampai sebatas leher sambil mengamati Dentro yang sedang mengamatiku dengan mata lubangnya. Sementara Ziel berdiri di sampingku. Jubahnya basah sebatas d**a.
“Dia manusia,” celetuk Dentro. “Tapi jantungnya ada dua. Aku merasakan detaknya dengan akar-akarku yang berada di bawah air.”
Buru-buru aku bersembunyi di balik tubuh Ziel. Menghindar dari pandangan pohon tua yang tampak sedang mendelik padaku.
“Jadi, itu benar? Aku merasakan jantung iblis sekarang. Gadis ini yang memakan jantung iblis? Kau gadis kecil! Bagaimana bisa? Kau mencuri milik sahabatku yang paling berharga. Ziel, terangkan padaku!” Suara Dentro meninggi dan menggetarkan pepohonan lain.
“Dentro rendahkan suaramu!” seru Ziel. “Mereka akan mendengarmu! Mereka akan menyerang Lily. Berhenti berteri─”
Benar saja, sebelum Ziel selesai bicara. Terdengar bunyi ceburan sesuatu yang besar dari arah seberang sungai.
Aku terkejut setengah mati. Jantungku berdebar dengan cepat. Secepat tangan Ziel kembali meraih tubuhku dan membawaku terbang ke luar dari kolam.
Apa pun itu, pasti berbahaya.
Dan apa pun itu, ada yang lebih mendesak dan berbahaya.
“Ziel! Di mana tanganmu menyentuhku!” seruku di langit. Dia memegang tepat di kedua dadaku.