Part 12: Belia

3032 Words

"Kayaknya sudah malam." Jessi mendongakkan wajahnya ke atas, menatap langit tanpa adanya bintang namun bulan purnama yang terang benderang yang tampak indah sekali. "Memang malam." Sahut Abra yang membenarkan lagi ucapan Jessi. "Eh maksudnya makin malam." Jessi menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan merasa sedikit malu karena seringnya mengucapkan kalimat yang salah. "Pulang gih!" Suruh Abra pada Jessi. "Sebenernya males tapi harus pulang." Jessi menggurutu kesal, kenapa waktu sangat cepat malam ini. "Besok hukuman gue sampai sore doang, setelah itu jangan ganggu gue," ujar Abra. "Emm iya deh." Jessi mengangguk malas. "Gue antar pulang." "Gak usah, gue bisa naik taksi." "Emang ada?" "Ada sih, taksi khusus." "Sampai ke perbatasan?" "Antar gue ke perbatasan kota deh, wak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD