Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Randy tidak pernah berhenti merasa geli pada Mawar. Menurutnya, gadis itu sangat lucu dan terlalu polos. Randy merasa puas ketika ia berhasil menjahilinya.
"Nggak usah senyam-senyum mulu, emangnya ada yang lucu apa?" Baru kali ini Mawar merasa kesal dengan cowok yang disukainya itu. Pasalnya, Randy adalah orang yang selalu diagung-agungkannya sejak Mawar baru memasuki masa kuliah.
Randy terkikik geli. Cara Mawar marah entah kenapa justru membuat ia merasa gemas. "Pengen banget dicium apa lo," cibirnya.
Mawar mencebikkan bibirnya kesal. Ia lebih memilih menatap keluar kaca mobil yang menampilkan hamparan hitam terang.
"Mau kemana sih ini?" tanya Mawar masih agak ketus.
"Kan gue bilang, kita mau ke Bumi Perkemahan."
"Ngapain malem-malem ke sana?" Mawar menoleh ke Randy.
"Ada acara reuni SMA," sahutnya datar menyurutkan ekspresi gelinya.
"Reuni kok di hutan, orang mah di Cafe kali," gumamnya, dan tidak digubris oleh Randy.
Sesampai di tempat tujuan, Randy menggandeng Mawar saat gadis itu baru saja keluar dari mobil. Tentu saja itu membuat Mawar merasa berbunga-bunga.
Suasana reuni pada umumnya, ramai, bercahaya, dan berisik, tidak terasa di tengah-tengah pepohonan seperti ini. Justru keadaan yang terlihat seperti sebuah perkemahan. Kegiatan yang memang harus dilakukan di Bumi Perkemahan ini.
"Reuni apaan sih ini?" Mawar mengedarkan pandangannya ke sekitar. Benar-benar sepi keadaan di sini. Hanya ada suara gemercik api yang terdengar samar. Dan sedikit suara obrolan dari orang-orang yang duduk mengitari api unggun.
"Wei, Randy. Dateng juga lo, kirain nggak bakalan dateng." Seorang cowok bertubuh bongsor menghampiri Randy. Cowok itu menepuk pundak Randy sebagai tanda sebuah sapaan seorang laki-laki pada umumnya.
"Datenglah gue," singkatnya.
"Ini?" Cowok itu menunjuk ke arah Mawar yang pandangannya masih saja beredar.
"Kenalin, ini cewek gue."
Mawar tersentak. Dengan spontan ia memutar kepalanya menghadap ke Randy, mengerutkan keningnya seolah bertanya maksud dari pernyataan Randy barusan.
"Wedeew ... Gokil, keren-keren." Kehebohan cowok itu membuat beberapa orang di belakang sana merasa terundang untuk melihat ke arah Mawar.
"Sini, yuk. Gabung." Sebelum Randy mengikuti langkah cowok itu, Randy mendekatkan bibirnya di telinga cowok itu. Seperti sedang membisikkan sesuatu.
"Ada, tuh." Menanggapi bisikkan Randy, cowok itu menunjuk ke satu sisi. Ke seseorang yang ternyata dipertanyakan Randy dalam bisikannya.
"Eh, kenalin. Nama gue Rado." Cowok itu menjulurkan tangan lantaran ingin memperkenalkan diri ke Mawar. Baru saja Mawar ingin menjabatnya, Randy sudah lebih dulu menepis tangan Rado yang besar.
"Pelit lo."
Randy berlalu dari posisinya, menggandeng Mawar ke tempat di mana orang-orang berkerumun.
Satu per satu Randy menyapa orang-orang yang menjadi teman-teman SMA-nya dahulu. Banyak juga yang menyambut Randy dengan heboh. Namun, ada seseorang di belakang sana yang tidak Randy sapa. Randy dan orang itu hanya saling menatap dengan sinis.
"Da-un?" ucap Mawar tapi tidak bersuara. Hanya bibirnya saja yang bergerak. Ia cukup terkejut telah dipertemukan lagi dengan cowok itu. Kenapa akhir-akhir ini selalu cowok bernama Daun itu?
Sudah lebih dari dua jam Randy terlalu asik dengan teman-temannya. Mawar di sisi lain hanya seorang diri tengah terduduk di batang pohon besar yang tertidur. Mawar memberengut, nyamuk-nyamuk itu selalu menganggunya.
Mawar mulai merasa ada sesuatu yang harus ia keluarkan. Rasanya sudah di ujung. Ini semua gara-gara teh manis yang Mawar teguk cukup banyak. Mawar menghampiri Randy di kerumunan itu.
"Ran, anterin gue ke toilet yuk." Mawar menarik-narik ujung baju Randy.
"Ran, Randy,"
Randy menepis tangan Mawar dari bajunya. "Apaan, sih?"
"Kebelet, mau pipis," rengeknya.
"Sendiri aja, sih."
"Gelap, takut." Mawar semakin merengek.
Randy menarik tangan Mawar menjauh ke sisi lain. "Buktiin kalo lo bukan cewek childish kayak yang anak-anak bilang." Randy terkekeh.
"Tapi ...."
"Jangan manja," geram Randy tapi merendahkan suaranya. Ia tidak mau teman-temannya tahu kalau cewek yang dibawanya ini mempunyai sifat kekanak-kanakan yang akut. "Kamar mandinya di sana." Randy menunjuk ke sebuah tempat yang cukup jauh dari posisi acara reuni ini.
Randy kembali ke teman-temannya, meninggalkan Mawar. Mau tidak mau akhirnya Mawar memberanikan diri, sekalipun bulu kuduknya mulai berdiri. Kalau ia tidak mengesampingkan rasa takutnya, bisa-bisa Mawar akan mengompol di sini.
Untung saja ada beberapa orang lain yang juga baru akan memasuki kamar mandi bersama Mawar, rasanya sedikit lega. Tapi, Mawar merasa jijik dan enggan ketika ia melangkah masuk ke salah satu pintu untuk menuntaskan keinginannya tadi.
"Isshhh ...." Mawar merasa "geli" dengan kamar mandi yang terbilang kotor itu.
Dengan ekespresi yang sangat terpaksa, akhirnya Mawar keluar dari dalam pintu itu. Mawar menuju wastafle untuk mencuci tangan. Namun, Mawar panik. Kenapa tiba-tiba sepi? Kemana perginya orang-orang tadi?
Mawar mempercepat aktifitasnya, halusinasinya mulai mengarah kemana-mana. Dan seluruh tubuhnya terasa bergetar karena saking merindingnya. Rasanya Mawar ingin menangis saja, ia berlari keluar area kamar mandi.
Mawar memekik sejadi-jadinya. Teriakannya yang sangat keras membuat seseorang yang ditabraknya merasa risih. Sontak Mawar memeluk orang itu dengan refleks. Siapapun orang itu, Mawar hanya ingin memeluknya. Mawar sangat takut saat ini. Sebulir bening itupun mengalir deras dari mata Mawar.
Daun tidak heran dengan ketakutan cewek manja seperti Mawar, ia sengaja membiarkan Mawar berada dipelukannya.
"Gue takut," lirihnya, masih sesenggukan karena menangis.
Daun tidak ingin berlama-lama dalam posisi ini, ia mendorong bahu Mawar untuk menjauh dengan tenaga yang cukup kuat. Hampir saja Mawar terjungkai ke belakang.
Mawar hanya bisa menunduk dan terus menangis. Daun tidak peduli, ia melenggang pergi memasuki kamar mandi. Mawar berlari menghampiri area acara reuni.
Daun yang belum benar-benar memasuki kamar mandi, berbalik, menatap punggung Mawar dengan ekspresi iba.
*****
Di ruang klub pendaki.
Dero tengah memilah-milah formulir yang sudah dikumpulkan dari para calon peserta pendaki yang mendaftar beberapa hari kemarin.
"Kayaknya bulan ini, peminat pendaki menurun deh, Bang." Dero masih berkutat di kertas-kertas itu. Tangan kanan dan kirinya secara bergantian mengambil dan menaruh dengan rapi urutan kertas sesuai abjad nama calon peserta.
Sedaritadi memang di ruangan ini ada dua orang di dalamnya, tapi hanya Dero yang mengeluarkan suara seorang diri tanpa ada sahutan dari Daun yang hanya melipat tangan di atas dadanya sembari duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat Dero duduk.
"Menurut lo, kita harus seleksi berapa tahapan?" Dero mengangkat wajahnya mencari wajah Daun yang datar.
Cowok itu hanya mengangkat alisnya tanpa mengelurkan suara. Dero mengembuskan napasnya kesal. "Kayak ngomong sama kursi sih gue jadinya."
Daun mengambil sesuatu dari saku belakang celananya, sebuah kertas yang ia lipat menjadi beberapa bagian. Dibukanya lipatan kertas itu, lalu Daun meletakkannya di meja depan Dero.
"Gue saranin, jangan diterima nih cewek," ucapnya lalu bangkit dan berlalu dari posisinya saat ini.
Sesaat Dero meneliti kertas formulir itu dengan kening yang berkerut.
"Woi, Bang! Tunggu dulu, gimana ini," teriaknya ke Daun yang punggungnya semakin hilang ditelan pintu. "Kebiasaan sih tuh orang atu," gerutu Dero. Kemudian, Dero mengambil kertas yang Daun letakkan tadi. "Kalo emang nyuruh gue nggak nerima nih cewek, ngapain dia kasihin formulirnya? Kan bisa dia buang," tanya Dero entah pada siapa.
Sekali lagi Daun melangkah, pasti tubuhnya yang tinggi sudah menubruk badan mungil milik Mawar. Untung saja cowok itu pandai dalam berhadapan dengan situasi seperti apapun.
"Hai, Bang Daun," sapa Mawar dengan ceria sambil melambaikan tangannya. Yang disapa justru melengos. Daun berusaha untuk cepat pergi dari hadapan Mawar, tapi sayangnya Mawar langsung menghadangnya dengan cepat.
Daun melangkah ke kiri, Mawar sudah lebih dulu di depannya. Saat Daun berpindah ke kanan, Mawar pun terus mengikutinya.
"Minggir," ketusnya.
"Nggak mau."
Daun mengembuskan napasnya kesal.
"Jawab pertanyaan gue dulu."
Daun memijat keningnya. "Nanya apaan?"
"Semalem itu, lo kok bisa ada di acara reuni SMA-nya Randy? Lo satu SMA, ya, sama Randy?"
"Tanya ke orangnya aja."
"Dari pagi gue belum ngeliat batang idung Randy, jadi berhubung sekarang gue ketemuan sama elo, yaudah gue nanyanya sama elo aja," cerocos Mawar, seperti biasa.
"Minggir dulu, deh."
"Tapi lo jawab ya,"
"Minggir." Daun mendorong bahu Mawar ke samping. Kemudian, cowok itu berjalan cepat melewati Mawar. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Mawar yang menurutnya, tidak penting.
Mawar mendesis sebal. Ia memajukan wajahnya seraya dengan bibirnya yang mengerucut ke depan.
"Permisi." Mawar memasuki ruang klub pendaki. Dilihatnya Dero yang sepertinya sudah akan bergegas dari bangku.
"Hai, Kak."
"Eh, Kamu. Ada apa? Formulirnya kurang?" tanya Dero kembali duduk. Diikuti Mawar yang juga duduk di depan Dero.
"Enggak, Kak. Saya mau nanya, formulir saya udah masuk ke sini belum?" Mawar terlihat agak cemas dengan pertanyaannya.
"Nama kamu siapa?"
"Mawar. Mawar Fradella," jawabnya lantang.
"Oke, sebentar, ya." Dero mengecek kembali susunan kertas yang sudah ia susun sedemikian rupa. Sekiranya ada 15 kertas yang tertumpuk di sana. "Nama kamu udah ada di sini, kok," ucap Dero tersenyum ke Mawar.
Mawar menghela napas lega. Tangannya mengelus d**a dengan bibirnya yang mengembang.
"Ada apa emangnya?"
"Kemaren itu pas saya lagi isi formulirnya, tiba-tiba abang-abang yang jutek itu main ambil formulir saya. Saya pikir kertasnya dibuang, tapi syukur deh kalo emang formulirnya udah di sini," papar Mawar dengan cara yang heboh.
"Daun maksudnya?"
Mawar mengangguk cepat. "Iya."
Oh, jadi tadi itu formulirnya cewek ini.
Dalam hati Dero mulai menuai sebuah pertanyaan, ada hubungan apa Daun dengan cewek bernama Mawar ini?
"Jadi gimana, Kak?" Pertanyaan Mawar membuat Dero membuyarkan lamunannya.
"Apanya yang gimana?"
"Saya keterima apa enggak?
"Belum diputusin. Kemungkinan besok atau lusa. Sabar, ya."
Bahunya Mawar melorot. Padahal dia berharap saat memasuki ruangan ini, dia bisa mendapatkan informasi langsung mengenai calon peserta yang berhasil lolos.
*****
Seselesainya Mawar dari ruang klub, ia mulai membuka matanya lebar-lebar. Mencari di mana keberadaan pujaan hatinya, Randy.
Ketika Mawar menginjakkan kakinya di rerumputan hijau taman kampus, dari kejauhan Mawar melihat Randy dalam posisi menyamping. Tapi sama siapa? Ada seseorang gadis yang hanya punggungnya saja bisa dilihat jelas oleh Mawar. Sepertinya familiar untuk Mawar, tapi tetap saja Mawar merasa tidak mengenal siapa gadis itu.
Dari pada terus digandrungi rasa penasaran yang tidak jelas, Mawar bergegas ingin menghampiri Randy. Namun, seseorang menabraknya.
"Duh." Mawar mengaduh di bagian bahunya yang tertabrak oleh salah seorang mahasiswi berbadan besar.
"Sorry-sorry," ucap gadis itu lalu pergi. Sejujurnya Mawar agak kesal.
Baru saja Mawar ingin melanjutkan langkahnya yang tertunda, dari kejauhan ia tidak melihat gadis yang bersama Randy tadi.
"Hai, Randy," sapa Mawar dengan ceria. "Tadi itu siapa?"
"Bukan siapa-siapa," jawabnya datar dan terlihat sangar.
"Mantan lo, ya? Atau cewek yang mengatakan cinta juga sama lo? Kayak gue ini." Mawar meringis dengan bangga.
Randy menatap Mawar secara terang-terangan. "Bisa nggak sih lo, sehari aja nggak ganggu gue!?
Mawar berjengit. Dia memang sering diabaikan oleh Randy. Dia juga mengerti kalau Randy tidak menyukainya sampai dia harus terus berjuang demi mendapatkan cinta Randy, makanya Mawar rela mendaftarkan dirinya di klub pendaki itu. Semua itu tidak masalah untuk Mawar, yang gadis itu perlu lakukan hanya terus mencoba dan berjuang.
Akan tetapi, mendengar bentakan dari Randy barusan, seketika hati Mawar serasa ditikam oleh ribuan belati yang tak kasat mata. Menyakitkan untuknya.
Mawar menunduk. "Maaf," lirihnya dan berkaca-kaca.
_To Be Continued_