Sebagai gadis berusia delapanbelas tahun, yang Mawar inginkan hanyalah merasakan segala sesuatu pada umumnya bagaimana gadis remaja ingin lakukan.
Misalnya, saat sedang jatuh cinta pada seseorang. Mawar ingin menceritakan segala yang ada di hatinya pada seorang sahabat. Tapi, Mawar tidak memilikinya. Setiap kali Mawar dekat dengan seorang teman, tidak lebih dari satu minggu mereka semua menjauh darinya.
Atau hal mudah lainnya, Mawar memiliki seorang Kakak perempuan dengan jarak usia yang tidak begitu jauh. Seharusnya Mawar bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan dengan Sang Kakak. Namun, sejak Mawar kecil, ia tidak pernah melakukan obrolan dengan Kakak-nya lebih dari sepuluh menit.
Dan yang lebih menyakitkannya lagi, ketika Mawar menginginkan berada di posisi yang sama dengan semua anak di dunia ini. Di mana ada sambutan hangat saat pulang kuliah, sarapan dan makan malam bersama, termasuk merasakan terlelap dalam pangkuan seorang ibu atau ayah, semua hal yang tidak pernah Mawar dapatkan sejak ia lahir.
Pernah sekalinya saat Mawar ber-usia lima tahun, ayahnya menggendong Mawar dari ruang keluarga ke kamar tidurnya. Itupun tanpa Mawar sadari.
Entah sejak kapan untuk lebih tepatnya, Mawar selalu menceritakan keluh kesahnya hanya pada sebuah bingkai foto sederhana, yang di dalamnya terdapat lembar foto ayah dan ibu yang tidak pernah Mawar rasakan air susunya.
"Yah, Bu, hari ini Mawar kesel sama yang namanya Randy. Mawar dibentak sama Randy, Mawar sedih."
Wajah Mawar tampak murung ketika menceritakan kisahnya di hari ini. Ia tengah berada di posisi telungkup sambil memegangi kedua sisi bingkai foto. Sudah hampir setengah jam Mawar berada pada posisi itu.
"Tapi, Yah, Bu. Kemarin itu, Mawar diajak ke acara reuni SMA-nya Randy. Dan Ayah sama Ibu tau nggak Mawar ketemu sama siapa?"
Pertanyaan yang dilontarkan Mawar, sama persis seperti seseorang yang memang sedang bercakap-cakap dengan orang lain secara langsung. Mungkin Mawar sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini, alhasil apa yang ingin ia utarakan, selalu menghasilkan raut wajah yang sesuai dengan kalimatnya.
"Ada cowok yang namanya Daun juga ada di acara reuni SMA-nya Randy. Apa mereka temen SMA ya, Yah? Tapi pas Mawar tanya ke Daun, dia nggak mau jawab gitu, Bu. Mukanya serem banget setiap Mawar ketemu sama dia," lanjutnya terus bercerita dengan gaya yang cukup heboh.
Tok tok tok tok
Mawar menoleh ke arah pintu. "Siapa? Masuk aja, nggak dikunci kok pintunya," teriak Mawar.
Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria dengan badan tegap dengan senyum yang penuh kebijaksanaan. Pria itu berjalan menghampiri Mawar yang masih telungkup.
"Eh, Om Fahri. Kapan dateng, Om?" Mawar mengubah posisinya menjadi duduk bersila di tepi kasur. Tangannya masih setia memegang bingkai foto.
"Baru aja. Kamu lagi ngapain?" Fahri yang memiliki wajah yang mirip dengan Ibunya Mawar-Anggrek, juga duduk di tepi kasur di sebelah Mawar. Fahri melirik ke bingkai foto yang Mawar pegang. "Lagi curhat sama Ayah dan Ibu kamu, ya?" tanya Fahri yang memang sudah tahu kebiasaan keponakannya ini.
Mawar mengangguk. "Iya, Om. Sama siapa lagi Mawar curhat kalo bukan sama mereka?" Mawar membawa matanya ke gambar Ayah dan Ibunya. Nada bicara Mawar terdengar biasa saja, bahkan rasanya Mawar begitu mudah mengucapkan kalimat itu. Namun, entah mengapa Fahri merasa miris mendengarnya.
"Kamu juga bisa cerita ke Om, tentang apa yang terjadi sama kamu setiap harinya." Fahri mengusap rambut panjang Mawar yang agak ikal.
"Om Fahri sibuk." Mawar mencebikkan bibirnya ke atas.
"Kan bisa lewat telpon, kapan aja Om siap kok, mendengar apa yang akan kamu ceritakan," ucapnya tersenyum. Dan itu sangat menenangkan bagi Mawar. Karena Fahri sudah seperti Ayah kandung bagi Mawar dan Kakaknya.
"Kakak kamu kemana?"
Mawar menggeleng. "Nggak tau, Om. Mawar jarang ngeliat Kak .... " Belum sempat Mawar melanjutkan ucapannya, ponsel pria berusia 30 tahun itu berdering cukup nyaring.
Fahri merogoh ponsel di saku celana berbahan hitam itu. Sebelum mengangkat panggilan, Fahri melihat layar ponsel untuk beberapa detik. "Sebentar, ya. Om angkat telpon dulu."
Mawar mengangguk. Lalu Fahri keluar dari kamar Mawar dengan langkah cepat.
"Gimana mau curhat, baru ngobrol sebentar aja udah ditelpon. Pasti soal kerjaan lagi deh." Mawar mendumal.
Detik berikutnya, Mawar menatap ke arah bingkai foto. Tersenyum, kemudian mencium gambar itu, dan mendekap di dadanya.
"Mawar kangen sama Ayah dan Ibu,"
*****
Pagi-pagi buta Mawar sudah berangkat ke kampusnya. Ia ingin menjadi orang pertama yang mendatangi mading dan berharap akan ada pengunguman mengenai peserta yang lolos di klub pendaki. Sejak semalam Mawar selalu menantikan hal itu.
Akan tetapi, saat Mawar sampai tepat di depan mading. Sesuatu yang Mawar tuju tidak ada di sana. Seketika bahunya melorot, semangatnya yang membara tadi hilang di telan angin.
Mawar mengambil posisi duduk di lantai di depan mading berdiri. Punggungnya menyandar di pilar besar itu. Pokoknya Mawar harus menuggu di sini sampai pengunguman itu tertempel di mading. Untung saja keadaan kampus masih sepi. Hanya ada petugas kebersihan yang masih sibuk berlalu-lalang.
Sekian menit berikutnya.
"Hei, bangun." Seseorang menepuk pundak Mawar dengan lembut, berusah membangunkan gadis itu pelan-pelan.
Kening Mawar mulai berkerut pertanda ia mulai sadar dari tidurnya. Matanya agak menyipit lantaran cahaya terang yang menerobos ke retinanya. Mawar mengucek kedua matanya seperti anak kecil yang baru bangun tidur.
Mawar tersentak. "Eh, Kak Dero." Mawar bangkit. Tubuhnya masih agak sempoyongan karena nyawanya belum sepenuhnya siap.
"Eh ... Eh .... " Dero bersiap menangkap Mawar yang hampir saja jatuh. Mawar hanya meringis senyum. Pandangannya berpindah ke Daun yang ada di sebelah Dero dengan jengkel. Dan tanpa dosa, Mawar menjulurkan lidahnya ke arah Daun.
"Kak Dero ngapain di sini?" Gradasi blur di Mata Mawar semakin hilang.
"Tuh." Dero memutar kepalanya ke belakang, menunjuk mading dengan ujung dagunya.
Seketika Mawar melebarkan matanya. Ia langsung berlari sampai menabrak Dero demi menghampiri mading, bahkan Mawar menerobos beberapa orang yang juga sedang berada di depan mading.
"Minggir, minggir," sergahnya seraya dengan kedua tangannya yang terbentang, menghadang orang-orang yang berada di sekitarnya.
Telunjuknya menempel di kertas pengunguman yang baru saja di pasang oleh Dero dan Daun. Lalu, jari mungilnya itu bergerak turun dan Mawar berteriak sangat kencang. Ia bersorak bahagia karena namanya tercantum di urutan terakhir. Pertanda bahwa Mawar lolos ke tahap berikutnya untuk menjadi peserta pendaki. Ada 10 nama yang terdaftar di sana.
"Yeay! Gue lolos! Yes, yes, yes!" pekik Mawar diikuti dengan tepuk tangannya yang heboh. Kakinya juga melompat ke udara karena saking bahagianya Mawar.
"Berisik banget, sih."
"Tau, siapa sih?"
"Biasa aja kali."
Seperti itulah tanggapan orang-orang yang masih berada di dekat mading. Termasuk Dero yang berada tidak jauh dari sana pun ikut menggelengkan kepalanya merasa geli. Berbeda dengan Daun yang berlalu begitu saja.
"Yey, sirik." Mawar menjulurkan lidahnya ke orang-orang yang mencemoohnya barusan.
Mawar berjalan menjauh dari kerumunan itu. "Pokoknya gue harus kasih tau kabar bahagia ini ke Randy," ucapnya dengan semringah. Kakinya mengambil langkah seribu dan siap mencari ke setiap sudut kampus, demi menemukan seorang Randy.
*****
Setiap tempat yang sering Randy datangi di area kampus, Mawar sudah mencarinya. Namun, masih saja cowok itu tidak terlihat seujung rambutnya pun.
Mawar terus berlari ke penjuru kampus. Bahkan sampai ke gedung sebelah, dan sebelahnya lagi. Di salah satu koridor, Mawar berhenti sejenak. Mengatur napasnya yang tersengal sehabis berlari. Ada satu tempat yang belum Mawar datangi, Kantin.
Dan benar adanya, Randy tengah terlihat seorang diri di salah satu tempat duduk. Langsung saja Mawar menghampirinya.
"Akhirnya ketemu juga," ucapnya dengan masih berupaya mengatur napasnya yang tersendat.
Randy yang sedang memakan seporsi somay, menoleh ke Mawar di sampingnya. Kemudian, berpindah lagi pandangannya ke piring di hadapannya.
Semakin sering Randy bertemu dengan Mawar, semakin tahu pula Randy akan karakter seorang Mawar seperti apa. Gadis ini benar-benar unik. Padahal baru kemarin ia membentaknya, tapi masih saja Mawar mendatanginya. Bahkan sebelumnya ia sudah berulang kali menolak hadirnya Mawar.
Gadis itu memutari meja, mengambil posisi duduk di depan Randy. Mawar jarang mau duduk di sebelah Randy. Karena baginya, posisi itu menyulitkan dia untuk menatap wajah Randy yang cool.
"Gue keterima di klub pendaki." Mawar sudah bisa mendapatkan pasokan napas yang normal.
Randy mengangkat wajahnya. "Elo yakin bener-bener keterima?"
Mawar mengangguk dengan semangat. "Kalo nggak percaya, liat aja sendiri di mading." sahutnya penuh keyakinan.
"Oke gue percaya." Randy manggut-manggut.
Detik berikutnya.
"Rand ...."
"Ehm," jawab Randy seadanya.
"Kenapa sih kita nggak pacaran aja dulu, kan gue udah keterima di klub pendaki. Tinggal nunggu kapan waktu mendakinya." Mawar menopang dagu dengan tangannya yang bertumpu di atas meja.
"Elo lupa kesepakatan kita?" Randy mengerutkan alisnya.
Mawar menghela napasnya keras seraya dengan kedua tangannya yang jatuh ke bawah meja. "Inget kok gue kesepakatannya."
"Yaudah jalanin aja dulu kegiatan mendakinya, terus lo Selfie deh, di Puncak. Baru kita jadian," ujar Randy terlalu santai.
Mawar memberengut. Menjatuhkan kepalanya di antara lipatan tangannya.
"Lagian kenapa sih lo, pengen banget jadi pacar gue?" Randy menyingkirkan piringnya yang sudah tidak tersisa apapun.
Mawar mengangkat kepalanya. Sesaat Mawar terdiam. Ia bingung harus menjawab seperti apa.
Randy mengangkat satu alisnya. Ada keheranan yang Randy rasakan saat Mawar yang biasanya cerocos, seketika diam mematung karena dilontarkan pertanyaan seperti itu.
"Karena lo baik." Akhirnya Mawar membuka suara.
"Hah? Baik?" Randy cukup terkejut. Sebelumnya Randy tidak pernah mengenal siapa Mawar. Yang Randy tahu, gadis itu selalu ada di mana dia berada, meskipun hanya dari kejauhan. Namun, Randy tahu kalau ia selalu diperhatikan. Di lapangan basket, di ruang olahraga, di kantin, dan hampir di setiap sudut kampus.
Lalu pada akhirnya, Mawar mendatangi Randy saat ia baru keluar dari kamar mandi. Mengatakan cintanya dengan satu kalimat singkat yang sampai sekarang masih Randy ingat jelas.
"Gue mau lo jadi pacar gue."
Kalimat yang membuat Randy selalu merasa geli dan beranggapan kalau Mawar hanyalah seorang fangirl yang tidak mengenal betul siapa idolanya.
"Iya, elo baik."
Randy menahan tawanya. Di detik berikutnya pandangan Randy beralih ke seseroang yang baru saja lewat di sisi kanannya. Ada raut wajah yang memang disengaja Randy untuk membuat gadis itu cemburu.
Mawar juga melihat gadis yang lewat tadi. Ia tersenyum ke gadis itu, dan Randy berhasil menangkap ekspresi Mawar yang membuatnya heran setengah mati.
"Elo kenal sama Melati?" tanya Randy tegas.
Mawar memajukan wajahnya mendekat ke Randy. "Tapi lo jangan bilang-bilang, ya," bisik Mawar meletakkan kedua telapak tangannya yang terbuka di ujung bibirnya.
"Cewek tadi itu, kakak gue."
To Be Continued