Saat Randy tahu sebuah kenyataan kalau Mawar adalah adik kandungnya Melati, hal itu cukup membuatnya terkejut. Meski menyandang nama yang nyaris serupa, Randy tidak pernah mempunyai pikiran kalau ternyata Mawar dan Melati adalah sedarah.
Randy tidak ingin terus tenggelam dalam semua pertanyaannya. Malam ini, Randy sengaja mengajak Mawar untuk dinner di sebuah restoran yang cukup terbilang mewah.
Lain dari pada sebelumnya, kini sikap Randy ke Mawar jauh dari k********r. Randy bersikap lebih lembut ke Mawar. Bahkan, saat mereka sampai di restoran tadi, Randy tak segan menggandeng tangan Mawar dengan mesra.
"Jadi, elo itu adik kandungnya Melati?" Setelah Mawar menceritakan lagi sepenggal cerita dirinya ke Randy, lagi-lagi cowok itu selalu dibuat membelalak tak percaya.
"Tapi, ya, gitu deh. Kak Melati nggak pernah mau bilang-bilang soal hubungan itu. Dia orangnya nggak banyak omong."
Beberapa detik Randy tengah memikirkan sesuatu. "Apa hubungan lo sama Melati nggak terlalu baik?"
Mawar membisu. Dengan otomatis, pertanyaan itu membuat bibirnya terkunci rapat.
"Hei ...." Randy melambaikan telapak tangannya di depan wajah Mawar yang tiba-tiba berubah menjadi muram.
"Enggak, kok. Gue sama Kak Melati baik-baik aja. Di rumah kita selalu akrab. Dan Kak Melati sayang banget sama gue." Mawar mengangguk seraya dengan mengganti ekspresi wajahnya menjadi semangat. Padahal, apa yang dia ucapkan sangat berbeda jauh dari kenyataan yang ada.
Randy manggut-manggut. "Oke-oke."
Mawar kembali menyantap makan malam yang sedaritadi sudah diangguri. Yang membuat Randy tidak mengerjapkan matanya, cara Mawar makan sangat berbeda dari cara makan Melati yang ia tahu sebelumnya. Pikiran Randy mulai menjalar ke mana-mana. Entah apa pastinya yang tengah Randy pikirkan.
"Oiya." Randy selesai dengan aktifitas makannya. "Tentang kesepakatan kita, sebaiknya enggak usah dilanjutin deh kayaknya."
Dengan cepat Mawar memindahkan pandangan dari steak miliknya ke wajah Randy.
"Dibatalin maksudnya?" tanyanya dengan nada yang agak tinggi.
Masih ada makanan di dalam mulut Mawar, sehingga hampir saja gadis itu tersedak. Randy langsung mencari air mineral, memberikannya ke Mawar.
"Iya dibatalin," ulang Randy menegaskan.
"Berarti lo udah nerima gue jadi pacar? Gitu maksudnya?" Mawar melebarkan matanya. Nyaris saja bola mata coklat itu keluar dari tempatnya.
"Nggak gitu juga sih." Randy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menjadi salah tingkah sendiri dengan ucapannya barusan.
"Terus gimana maksudnya?" Mawar mengelap sisa noda makanan di sudut bibirnya.
Ia tidak lagi ingin menghabiskan makanannya yang masih tersisa setengah. Mawar lebih tertarik dengan pembicaraan Randy barusan.
Randy menghela napasnya perlahan. "Apa nggak sebaiknya, kita berteman aja?"
Mawar mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia meneguk salivannya lantaran merasa kalimat itu adalah kalimat yang menyeramkan untuk dilontarkan dari bibir Randy.
"Enggak." Mawar menggelengkan kepalanya cepat.
"Pokoknya gue akan terus ikut kegiatan mendaki itu. Gue selfie di Puncak, dan setelah itu lo nerima gue jadi pacar lo."
Mawar meraih gelas, lalu meneguk airnya sampai tak tersisa. Belum merasa cukup, Mawar menyerobot air mineral milik Randy untuk ia teguk juga sampai habis.
"Tapi gue sukanya sama Melati, Kakak lo."
Saat Randy mengajaknya makan malam, sesungguhnya hati Mawar bagaikan ditumbuhi bunga-bunga yang indah. Namun, detik ini juga seketika bunga-bunga itu mati hingga tak tersisa setangkai pun di atas tanah.
"Gue bisa jelasin ke lo," sergah Randy hendak menjelaskan.
Terlambat. Mawar sudah berlari meninggalkan posisinya. Gadis itu terlalu rapuh untuk bisa melanjutkan pembicaraan yang membuatnya enggan untuk kembali tersenyum.
*****
Selama perjalanan di dalam taksi, Mawar tak hentinya menangis. Ia sudah menahan sangat kuat untuk tidak menjatuhkan airmatanya di depan Randy.
"Neng, sudah dong nangisnya. Nanti cantiknya hilang," ucap supir taksi yang sesekali melirik ke kaca spion di atas kepalanya.
Mawar tidak menggubris. Ia tetap menangis dan menangis. Pasalnya Mawar jarang mengeluarkan airmatanya seperti ini kalau bukan karena hal yang paling menyakitkan untuknya. Terakhir kali Mawar menangis seperti ini, saat ia melihat jasad ayahnya yang terbujur kaku di rumah sakit ketika usianya baru lima tahun.
"Bapak juga punya anak perempuan seperti neng. Namanya Mila, dia cantik seperti ibunya. Usianya baru sepuluh tahun." Mendengar supir taksi yang entah kenapa jadi menceritakan kehidupannya, Mawar tertarik untuk mendengarkannya. Mawar mulai menghapus airmatanya yang sudah membasahi seluruh pipinya.
"Saat Mila pulang sekolah siang itu, dia menangis seperti neng cantik kayak sekarang ini." Sang supir taksi tersenyum simpul saat melihat Mawar yang sudah menghapus airmatanya.
"Bapak tanya, Mila ndak mau menjawab. Masih saja menangis."
"Lalu?" Mawar sudah bisa mengeluarkan suaranya. Sekalipun ia masih sesenggukan karena sehabis menangis tadi.
"Mila berlari ke ibunya. Dan Istri Bapak itu memeluk Mila cukup lama." Supir taksi itu memutar setirnya ke arah kanan, sudah mulai memasuki area komplek rumah Mawar.
"Mila berhenti menangis. Mila berubah menjadi sangat tenang karena habis dipeluk sama ibunya. Seterusnya Mila menceritakan kenapa dia bisa menangis."
"Kenapa Mila menangis?" tanya Mawar dengan suara parau sehabis menangis.
"Biasa neng, diisengin sama teman-teman sekolahnya. Katanya diledekin punya seorang Ayah yang profesinya cuma supir taksi."
Sesaat keadaan hening. Sampai taksi itu berhenti di depan gerbang rumah Mawar. "Ini kan neng rumahnya?"
"Iya, Pak." Mawar mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Yang Bapak mau katakan ke neng, dengan pelukan seorang Ibu, hati neng akan jadi tenang setelah menangis seperti tadi."
Mawar menghentikan apapun pergerakannya. Bukannya membuatnya terhibur, Bapak supir taksi itu justru membuat hatinya semakin teriris.
"Salam untuk Mila ya, Pak. Mila harus bangga punya ayah seperti Bapak," ucap Mawar tersenyum dan memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
Setelah menghitung uang itu, supir taksi membalikkan tubuhnya ke belakang. Menghadap ke Mawar.
"Neng, maaf. Ini uangnya terlalu banyak," ujar supir taksi itu merasa segan.
"Enggak apa-apa, Pak. Ambil aja. Selebihnya untuk keperluan sekolah Mila. Dan ...." Mawar menghentikkan kalimatnya.
"Kenapa, Neng?"
"Saya nggak punya ibu." Mawar keluar dari taksi.
Sumpah demi apapun, saat ini Sang supir taksi sedang dilanda rasa bersalah yang besar. Tidak ingin berlama-lama, supir taksi itu keluar dari dalam mobil.
"Neng," panggil supir taksi, sehingga menghentikan Mawar yang baru saja dibukakan gerbang oleh penjaga gerbang di sana.
Mawar berbalik, memenuhi panggilan supir taksi. "Maaf, Neng. Bapak nggak bermaksud menyinggung neng karena ucapan bapak tadi." Supir taksi itu menghampiri Mawar.
"Enggak apa-apa, Pak. Saya nggak tersinggung sama sekali kok." Mawar tersenyum. Setidaknya berusaha membuat pria berusia 45 tahunan itu tidak harus merasa bersalah.
Ketika Mawar baru akan berbalik lagi, Bapak itu memanggilnya. "Neng!"
Mawar menghadap ke supir taksi lagi.
"Yang perlu neng lakukan adalah bersyukur dan terus semangat. Kalau neng terjatuh, yang perlu neng lakukan adalah bangkit lagi." Bapak itu mengepalkan tangannya, lalu diacungkan ke udara seperti sedang memberi semangat ke Mawar.
Seiring langkah Mawar memasuki rumah, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman segaris.
Entah kenapa, apa yang diucapkan Bapak supir tadi berhasil membuat hatinya tenang. Padahal itu adalah kalimat yang biasa saja.
Selain Fahri sebagai adik dari ibunya, Bapak supir taksi itulah yang memberikan Mawar sebuah nasehat berharga.
Langkah Mawar terhenti ketika melewati pintu kamar Melati, kakaknya. Pintu itu tidak tertutup sempurna. Mawar mengintip dari celah kecil itu, lalu ia memutuskan untuk membuka lebar pintu dan masuk jauh lebih dalam ke kamar Melati.
Sejenak Mawar menatap Melati yang tengah tertidur pulas di ranjangnya. Kemudian, Mawar menarik selimut yang terdampar asal untuk menyelimuti Melati sampai atas dadanya. Tidak lupa juga, Mawar merapikan beberapa buku tebal yang ada di sekitar Melati. Sepertinya, kakaknya itu sedang sibuk belajar sampai tertidur dan tidak sempat lagi membereskan buku yang berserakan di kasur.
Selesai dari aktivitasnya, Mawar mencoba mendekati wajah Melati. Mawar ingin sekali mengecup kening kakaknya dengan kasih sayang. Namun, wajahnya kembali menjauh. Mawar belum berani melakukan sesuatu yang bisa-bisa membuat kakaknya marah kalau sampai tahu nanti.
Mawar melangkah keluar kamar. Sebelum menutup pintu secara pasti, Mawar kembali melihat Melati sambil tersenyum.
"Mawar sayang sama Kak Melati," ucapnya pelan.
******
Hari berganti seperti biasa. Selalu begitu dan selalu sama untuk Mawar. Tidak ada hari yang lebih menyenangkan saat Mawar pergi ke Kampus. Meskipun tidak ada seorang pun yang menunggu gadis itu, setidaknya Mawar bisa menyegarkan pandangannya untuk melihat keramaian di sekitarnya.
Mawar bergegas keluar dari kamarnya. Berlari kecil menuruni satu per satu anak tangga yang terbuat dari kayu Jati itu. Bibirnya membuat senyum karena melihat Kakak-nya sudah berada di meja makan.
"Pagi, Kak," sapa Mawar dengan ceria. Yang tidak disahuti oleh Melati, seperti biasanya.
Meski begitu, Mawar tetap melempar senyum tulusnya ke kakak yang sangat dicintainya. Lalu, Mawar mengambil dua potong roti tawar, mengolesinya dengan selai strowberry, dan menyantapnya dengan lahap. Tidak lupa meneguk s**u vanila setelahnya.
"Oiya, Kak."
Melati terus berkutat ke buku tebal yang ia pegang sedaritadi. Sambil sesekali menggigit roti tawarnya dengan cara yang anggun. Berbeda dari cara makan adiknya.
"Kakak kenal sama Randy?" tanya Mawar.
Masih tidak ada jawaban.
"Itu lho Kak, yang kemaren duduk sama Mawar di kantin. Kan kakak liat juga."
Hening. Mawar menghela napasnya pelan, menggigit bibir bawahnya.
"Soalnya kata Randy, dia kenal kakak gitu," lanjutnya.
Mawar menggigit roti tawar berkali-kali. Alhasil mulut mungilnya penuh dengan roti.
"Sebenernya Mawar suka sama Randy."
Kalimat itu berhasil membuat Melati menoleh ke Mawar. Hanya sesaat. Berpindah lagi pandangannya ke buku.
"Randy minta Mawar untuk daftar di klub pendaki, dan ikut kegiatan mendaki di bulan ini. Abis itu, Mawar disuruh Selfie di Puncak. Baru deh, Randy mau jadi pacar Mawar," cerocos Mawar tak henti-henti.
Melati terdiam. Telinganya mendengar jelas apa yang diucapkan Mawar. Namun, ia berpura-pura tidak memperdulikan apa yang semua Mawar ceritakan.
"Tapi, semalem Randy bilang kalo dia sukanya sama Kakak." Setelah apa yang dialami Mawar tadi malam, ucapannya barusan terlalu santai untuk ia keluarkan dari pita suaranya.
Melati menutup buku yang ia baca, lalu meneguk air mineralnya, dan meninggalkan meja makan.
Mawar menyandarkan punggungnya di kursi dengan roti tawar yang ia pegang dan masih sambil memakannya. Mawar pikir, dengan ia menceritakan hal ini, Kakaknya bisa membalas ucapannya. Paling tidak sekadar kata "iya atau tidak".
*****
Randy bersama ketiga temannya sedang bersendau gurau di salah satu bangku yang ada di koridor. Gelakan tawa itu seketika berhenti saat seorang gadis berdiri di antara mereka.
Randy mengibaskan tangannya lantaran memberi kode ke teman-temannya untuk pergi meninggalkan dirinya hanya berdua dengan gadis berambut sebahu itu.
"Ada apa? Sini duduk." Randy menepuk-nepukan tangan di bangku yang juga ia duduki. Memberikan intruksi kepada gadis itu supaya ikut duduk bersamanya.
"Dari mana kamu kenal sama Mawar?" tanyanya dengan nada yang sangat tidak bersahabat.
"Oh, Mawar." Randy meletakan salah satu kakinya di atas pangkal pahanya. Pada akhirnya Randy sudah menebak kalau cepat atau lambat, Melati pasti bertanya kepadanya tentang hal ini.
"Jawab," suruhnya dengan ketus.
"Aku juga nggak tau awalnya. Mawar yang selalu ngikutin aku ke mana-mana. Dan tiba-tibanya lagi dia nyatain cinta ke aku. Terus ...."
"Terus kamu minta dia untuk ikut di kegiatan mendaki?" Melati memotong ucapan Randy.
Randy mendongak ke Melati yang sedaritadi masih berdiri di depannya.
"Iya. Tapi itu sebelum aku tau kalo ternyata Mawar adik kamu. Aku cuma iseng aja tadinya. Dan setelah aku tau, aku ngebatalin kesepakatan itu," jelas Randy yang terlihat memang menyesal dengan apa yang ia lakukan.
"Aku nggak peduli apa yang akan kamu lakuin ke dia. Lanjutin aja apa yang sudah kamu mulai." Melati berbalik dan berlalu dari posisinya.
Randy tertegun. Mengerutkan alisnya lantaran merasa bingung dan dipenuhi rasa curiga.
Ada apa sama Mawar dan Melati?
To Be Continued